Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 38


__ADS_3

Jangan ditanya betapa aku bahagia selama tinggal di rumah ibu. Semua memperhatikan kesehatanku. Kalau di rumahku sendiri aku akan ke dokter ketika badanku terasa lemas, tapi kalau disini, bidan desa cukup membuatku semangat lagi tiap kali badanku terasa tidak enak.


Ternyata bagi ibu hamil, menjauhi faktor yang mengakibatkan stress menjadi kebutuhan utama, tanpa mengesampingkan kebutuhan akan vitamin dan makanan sehat yang harus dikonsumsi. Apalagi aku ditemani abdi terbaikku.


Ibu juga pintar memanfaatkan situasi. Karena selama aku tinggal, Pak Dul selalu standby dengan paijo nya, ibu sering minta untuk diantar jalan-jalan. Meskipun bukan mall besar, tapi ada beberapa swalayan yang bisa ibu kunjungi untuk sekedar cuci mata dan belanja sesuatu yang tidak perlu, hal itu membuatku senang bisa melihat tawa ceria ibu karena hal-hal remeh.


Mas Han rutin meneleponku, tapi setiap video call aku akan mengarahkan kamera ke wajah Mbok Nah, Pak Dul, atau terkadang wajah ibu, jadi selama aku tinggal bersama ibu disini, dia belum pernah berhasil melihat wajahku sama sekali.


Sekar dan keluarga mas Han? aku mengusirnya jauh-jauh setiap kali terlintas keingintahuan bagaimana keadaan mereka selama kutinggal. Tapi aku tetap membayangkan anakku yang sekarang dikandung Sekar, semoga dia sehat selalu dalam rahim ibunya. Meskipun sekarang aku juga sedang hamil, aku tetap ikhlas untuk merawatnya kalau suatu saat nanti Sekar menyerahkannya padaku sesuai perjanjian. Membayangkan merawat dua anak yang lucu-lucu membuat hatiku hangat.


Hanya bapak yang terkadang masih aku hubungi. Sekedar mengucap salam dan bertanya tentang kesehatan beliau, atau tentang mawar-mawar bapak yang selalu berbunga. Aku masih sering penasaran dengan warna-warna baru hasil persilangan yang dilakukan bapak. Bapak juga bilang sering ke rumahku hanya sekedar untuk menengok mawar-mawar milikku.


Acara tujuh bulan Sekar tinggal seminggu lagi dan Mas Han pulang hari ini. Beberapa kali dia merayuku dan memintaku untuk pulang, tapi aku tetap pada keputusanku untuk tetap tinggal disini.


"Kamu harus pulang Rum, ini acara tujuh bulan anak kita," suatu kali kata Mas Han dalam sambungan telepon.


"Tanpa aku acara itu tetap akan jalan kan mas?"


"Ya, tapi bagiku rasanya akan berbeda kalau tidak ada kamu disampingku, aku jadi merasa seperti menjadi orang tua tunggal tahu Rum."


Bercanda kamu mas, jangan membuatku tertawa, "kenapa merasa seperti itu? Ada Sekar disana, aku malah merasa kalau aku hadir, itu akan mengganggu kemesraan antara kamu dan istri mudamu itu."


"Atau kamu ingin aku melihat kemesraan kalian secara langsung?"


"Siapa yang mesra Rum, dengan siapa?"


"Kamu lama-lama menyebalkan ya mas, kita berputar terus, kapan sih kamu mau jujur, aku tahu lo mas, aku nggak bodoh, aku cuman berusaha memberi kamu kesempatan buat jujur, apa susahnya sih mas!" karena terlalu keras berteriak akhirnya perutku terasa seperti ditarik.


Aku mengernyit, menahan sakit, "lebih baik kita tidak bicara dulu mas, aku mau istirahat, aku sedang hamil, ingat!"


"Jangan membuatku tertawa Rum, kamu hamil aku yang atur."


Mana bisa aku tertawa, kalau kamu yang bicara seperti itu mas. Aku menyentuh ikon warna merah di ponselku, dan panggilan kami berakhir.


Sekarang tinggal aku sendiri berusaha meredakan perutku yang kram, "jangan nakal ya sayang, maafkan bunda kalau bunda tadi marah sama ayah."

__ADS_1


Aku kembali merebahkan diri dan menghadap dinding, posisi favoritku.


"Ndoro, Ibu nyonya mau mengajak Ndoro Putri jalan-jalan."


Mbok Nah mendekatiku, aku terus memejamkan mata, kenapa kramnya belum juga hilang.


"Ndoro Putri tidak apa-apa?" mbok Nah menyentuh dahiku yang mulai basah oleh keringat, kenapa kamu tidak membiarkan aku hidup tenang mas, sejak kapan kepercayaanmu padaku mulai luntur. Padahal aku tadi berusaha untuk jujur dan bilang kalau aku sedang hamil.


"Ndoro putri...Ndoro putri, Ibu nyonya..." Mbok Nah bergegas keluar kamar, karena rumah kami yang tak begitu besar aku bisa mendengar jelas apa yang dikatakan Mbok Nah, " Ibu Nyonya, Ndoro Putri sepertinya tidak baik-baik saja."


"Ha...kenapa Rumi mbok?"


"Saya tidak tahu, tapi keringatnya keluar banyak."


"Rum...kamu kenapa?" ibu menyentuh dahi dan perutku.


"Perutku kram Bu," jawabku lemah.


"Mbok, tolong siapkan air hangat buat kompres perut si Rumi."


"Nggih Ibu Nyonya siap," mbok Nah bergegas menuju dapur.


"Ini Ibu nyonya air hangatnya," Mbok Nah memberikan botol kaca yang sudah terisi air hangat. Ibu mengambil sapu tangan handuk dari almari untuk membungkus botol kaca agar tidak terlalu panas ketika digunakan untuk mengompres.


Ibu meletakkan botol kaca di perutku, "aku pegangi sendiri Bu botolnya."


"Ndak usah, kamu tiduran saja."


"Biar saya yang pegangi botolnya, Ibu Nyonya."


"Boleh," ibu memberikan tempat dan duduk menepi.


"Mbok."


"Iya ibu nyonya," Mbok Nah menjawab tanpa melihat wajah ibu, dia terus mengamati wajahku.

__ADS_1


Aku melirik wajah ibu yang tampak kesal, "pilih salah satu kalau mau panggil, jangan panggil saya ibu nyonya, kalau ada yang dengar akan jadi bahan tertawaan tahu, mbok..."


"Iya Ndoro Nyonya."


"Waduh kenapa malah jadi Ndoro nyonya sih," ujar ibu kesal, "Rum..."


"Biar saja Bu, suka-suka mbok mau panggil apa."


"Ya sudah, nyerah aku, mending aku dipanggil ibu nyonya saja, kamu kalau masih sakit perutnya, kita pergi ke Bu bidan, biar Pak Dul siapkan si paijo."


"Nggak perlu, sudah mendingan, obatnya ibu memang mujarab."


"Ya wes kalau gitu aku mau melanjutkan jahit, kita nggak usah jadi jalan-jalannya."


"Akunya ditinggal gak papa Bu."


"Ngawur, ngomong seenaknya," ibu keluar kamar, tak lama kemudian terdengar suara mesin jahit kembali meramaikan rumah.


"Ndoro Kakung habis telepon Ndoro?"


"Iya, mbok."


"Ndoro putri sama ndoro Kakung berdebat lagi?"


Aku mengangguk, "aku sebal mendengar kata-katanya."


"Lain kali yang menjawab telepon dari Ndoro Kakung biar saya saja."


"Terimakasih mbok."


Suasana yang membaik dan perutku yang mulai tenang sedikit terganggu setelah muncul pop up pesan di ponselku.


Aku hari ini pulang, tunggu aku tiga hari lagi, kamu akan aku jemput.


Tenang Rum...tenang, "Mas Han akan datang menjemput empat hari lagi mbok, saya harus bagaimana, beberapa bulan terakhir ini dia banyak berubah, saya takut dia nekat dan melakukan apapun untuk membawa saya pulang, saya ndak mau ibu jadi sedih."

__ADS_1


Mbok Nah diam, tapi menatapku lekat, "biar saya yang menjawab kalau Ndoro Kakung memang datang menjemput, Ndoro putri cukup diam. Kalaupun nanti kita terpaksa kembali, saya mau Ndoro putri tetap tenang dan kuat demi jabang bayi yang ada dalam perut, ada saya Ndoro...Ndoro putri tidak perlu takut."


...***...


__ADS_2