Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 24


__ADS_3

Ibu merangsek masuk menerobos mbak Siti dan Pak Dul. Terus terang aku sedikit berdebar, bukan takut, hanya akan membuatku kesal kalau ibu sampai menyalahkan aku lagi. Hari ini aku tidak melakukan apapun kecuali menolong Sekar yang sedang dalam kondisi drop.


Waktu ibu masuk dan melewatiku begitu saja, aku agak terkejut dibuatnya.


"Kamu...bagaimana kamu bisa sampai sakit begini, harusnya kamu tahu bagaimana menjaga kesehatan, orang hamil itu harus hati-hati!" ibu langsung mendekati Sekar dan memberi kata-kata yang menurutku cukup pedas.


Tentu saja ibu melirikku, meskipun sekilas, tapi hebatnya kali ini ibu tidak menceramahi aku seperti biasanya.


"Maafkan Sekar Bu," anak itu ketakutan, aku tahu. Dia biasa melihatku dimaki ibu, mungkin sekarang dia takut akan mengalami hal yang sama.


"Apa kata dokter, bagaimana keadaan bayimu. kalau ada apa-apa sama cucuku, kamu harus tanggung jawab, karena cucuku ada dalam perutmu, ngerti kamu!"


Kasihan Sekar, wajah anak itu lebih pucat dari pertama tadi dia pingsan. Matanya menatapku lemah, kalau mata itu bisa bicara pasti akan terdengar jeritan minta tolong.


"Ibu, bayinya baik-baik saja, kata dokter ibu hamil pada usia awal begini wajar jika lemah, apalagi ini kehamilan pertama Sekar," maafkan aku, hanya ini yang bisa aku lakukan. Ini juga belum tentu mendapat tanggapan yang baik dari ibu.


"Sok tahu kamu, memang kamu pernah hamil?" suaranya pelan hampir berbisik, tapi lagi-lagi kalimatnya membuatku merasa gagal menjadi seorang wanita.


"Apa ibu, mmm...akan menemani saya?" suara Sekar terdengar ragu dan terbata ketika mengucapkannya.


Kenapa suaramu terbata? Bukannya itu yang kamu inginkan, mengambil hati ibu, agar ibu memperhatikanmu?


"Menemanimu?" ibu berdiri, memperbaiki letak kebaya yang menjadi busana wajib ketika keluar rumah, merapikan kain jarit yang tadi sedikit kusut karena dipakai duduk, "mungkin lain kali, ibu sedang ada jadwal kegiatan sosial mengunjungi panti wreda yang ada di pusat kota, sekarang saja ibu pasti sudah ditunggu."


Aku menangkap ekspresi lega di wajah Sekar. Ternyata kamu juga tidak sesuka itu pada ibu mertua kita.


"Rum, kamu jaga Sekar, penuhi semua kebutuhannya, perhatikan kesehatannya, jangan sampai cucuku yang masih ada dalam perut itu ada apa-apa, ibu pergi dulu," ibu mengulurkan tangannya untuk kucium sebagai bentuk salam sebelum pergi.


Berbarengan dengan menghilangnya tubuh ibu dibalik pintu, masuk mbak Siti dan Pak Dul. Mbak Siti langsung mendekati Sekar, memijit kakinya perlahan, beruntung sekali Sekar, memiliki abdi yang sepertinya akan setia seperti Mbok Nah, hal itu sedikit mengurangi kekuatiran ku.


"Ndoro Putri, maafkan saya, gara-gara saya Ndoro Sepuh jadi ikut kesini. Tadi waktu Siti menyiapkan keperluan Ndoro Sekar, Ndoro sepuh melihat kami, terpaksa saya bercerita, saya tidak berani bohong."


"Iya, tidak apa-apa Pak Dul," sudah sejak lama kemunculan ibu yang selalu tiba-tiba pada saat tidak terduga berhenti mengagetkanku.


Sebenarnya sejak tadi aku menunggu kabar dari Mas Han. Harusnya dia sudah membaca pesanku, karena sebentar tadi kulihat notifikasi warna pada pesanku berubah, menunjukkan kalau pesan sudah terbaca.


Tapi mengapa pesanku tidak dibalas, dia juga tidak bertanya di rumah sakit mana Sekar dirawat. Jangan-jangan Mas Han masih marah dan malas berurusan dengan Sekar, tapi aku juga tak seberani itu untuk menghubungi Mas Han lebih dulu.


Ting


Nada notifikasi pesan pada ponselku berbunyi. Ah...orang yang aku pikirkan mengirim pesan.


Apa aku harus datang kesana?


Gimana sih, yang didalam perut Sekar kan anaknya, anak kami, harus diberi pencerahan suamiku ini.

__ADS_1


Aku putuskan untuk menghubungi Mas Han, ini bukan tentang Sekar atau Lek Broto, atau keserakahan keduanya yang membuat dia marah. Tapi ini tentang bayi yang ada dalam kandungan Sekar.


"Halo, assalamualaikum mas."


Waalaikumsalam.


"Kamu sudah membaca pesanku kan mas."


Hmmm.


"Jangan hanya hmmm...mas, kamu harus datang kesini."


Sudah ada kamu kan Rum.


"Iya...memang sudah ada aku, tapi kamu bapak dari bayi yang dikandung Sekar, bapak dari bayi yang akan menjadi anak kita."


Tck...terus buat apa aku ada disana Rum, tidak akan ada bedanya, paling aku hanya duduk dan tidak melakukan apa-apa.


"Kehadiran kamu akan menjadi dukungan moral buat Sekar, mas. Aku nggak mau tahu mas, aku tidak akan pulang kalau kamu tidak datang."


Baik...baik, aku akan datang tapi demi kamu dan demi bayi yang ada dalam kandungan wanita itu.


"Namanya Sekar mas...Sekar, wanita yang mengandung anak kita adalah Sekar."


"Jangan dipaksa kalau Mas Han tidak mau datang mbak," aku terkejut, aku sama sekali tidak menyadari kalau pembicaraanku dengan Mas Han jelas didengar oleh Sekar.


"Kamu tenang saja, Mas Han pasti datang, lihat saja sebentar lagi pasti dia akan muncul."


"Iya, dia akan muncul...karena mbak yang minta," suara Sekar terdengar menyedihkan di telingaku.


"Hai...jangan seperti ini, seperti yang aku bilang, aku tidak suka bertarung dengan wanita lemah. Mana kesombongan dan rasa percaya diri yang biasanya kamu pamerkan padaku."


"Huh, jangan memancingku mbak, Mbak tidak tahu apa yang bisa aku lakukan untuk mengambil seluruh perhatian Mas Han dari mbak kalau aku mau."


"Kalau begitu buktikan, jangan menjadi lemah seperti ini, kamu menyedihkan...lihat ibu mertuamu tadi. Lihat bagaimana dia menginjak harga diriku setiap hari, kalau kamu mau melahirkan anak yang sekarang kamu kandung dalam keadaan sehat, kamu harus sekuat baja."


"Kenapa mbak bertahan dengan semua perlakuan Bu Ajeng? Aku saja yang melihat muak, apa mbak tidak punya harga diri?"


"Harga diri? butuh kekuatan yang lebih dari sekedar harga diri untuk menghadapi ibu."


"Rum..." pintu kamar terbuka, aku bisa melihat kepala Mas Han muncul dari balik pintu.


"Masuk mas, aku disini," tapi dia baru mau masuk ketika mendengar suaraku menjawab. Cepat juga suamiku sampai.


Mas Han berjalan lambat, dia menghampiriku dan mengulurkan tangannya. Wajahnya kusut, tidak tampak senyum menghiasi bibirnya.

__ADS_1


Aku menolak menerima uluran tangannya. Aku tidak mau Sekar merasa diacuhkan. Sesekali aku melirik ke arah Sekar, ingin tahu bagaimana ekspresinya. Tapi aku bukan cenayang yang bisa mengira-ngira perasaan seseorang karena ekspresinya tak terbaca.


"Aku keluar dulu," pamitku.


Memberi kesempatan pada Mas Han dan Sekar untuk berbincang, aku rasa akan menjadi pilihan yang bijaksana. Aku percaya Mas Han tidak akan mengkhianati aku dan tergoda untuk melakukan hal-hal yang akan membuatku kecewa. Ya...aku percaya padanya.


"Kamu mau kemana?" kali ini Mas Han meraih tanganku dan tidak mau melepaskan, tatapan matanya memohon padaku untuk tinggal.


"Aku hanya ingin mencari kudapan mas," ucapku, "kamu tunggu disini selama aku keluar, bisa kan?"


Mas Han mengangguk, "jangan lama-lama Rum," ujarnya.


Aku mengangguk, kemudian meninggalkan Mas Han dan Sekar menuju kantin, Mbak Siti aku ajak keluar bersamaku. Perutku memang lapar, beberapa kue basah mungkin bisa mengganjal perutku. Untuk makan makanan berat mungkin nanti aku bisa meminta tolong Mas Han untuk beli.


Pak Dul juga kuhubungi untuk menyusul ke kantin rumah sakit. Aku yakin ini akan menjadi hari yang panjang bagi kami.


"Aku mungkin tidak bisa ikut tinggal di sini, nanti Siti...boleh saya panggil Siti saja?"


"Boleh Bu, kalau ada embel-embel mbak, saya jadi ngerasa tua, apa wajah saya boros Bu?"


"Hahaha...tidak, sama sekali tidak."


"Pak Dul kita nanti pulang, kalau bapak, kita tanya dulu mau pulang bareng atau mau tinggal disini dulu dan pulang nanti-nanti."


"Iya, Ndoro Putri."


"Sekarang, makan yang banyak, ini waktunya jam makan siang, saya mau ke mushola dulu untuk sholat dhuhur."


"Maaf Bu, kita bareng saja, kalau boleh."


"Oh, boleh...boleh, Pak Dul juga mau sekalian bareng?" tanyaku, biar nanti sekalian Pak Dul yang menjadi imam sholat.


"Iya, Ndoro Putri sekalian."


Setelah selesai sholat, kami kembali menuju kamar perawatan, aku berjalan di depan, Siti dan Pak Dul berjalan mengikuti dibelakang ku. Harapanku semoga Mas Han dan Sekar bisa menemukan kata sepakat untuk berdamai selama aku tinggal.


Ketika sampai di depan kamar, pintu terbuka sedikit, mungkin tadi waktu aku keluar pintu tidak tertutup sempurna.


Tanpa curiga aku langsung membuka pintu, baru setengah badanku masuk, aku melihat pemandangan yang mengejutkan.


Mulutku menganga, hatiku berdentum lebih keras dari bunyi meriam di medan perang, kakiku kehilangan kekuatannya, ini lebih menyakitkan dari pada menanti Mas Han melewati malam pertama dengan Sekar waktu itu.


Ketika mata Sekar akhirnya terbuka, kami saling pandang tanpa diketahui Mas Han yang duduk membelakangi tempat ku berdiri. Tuhan...aku ingin menghilang sekarang juga, aku tidak ingin air mataku keluar dihadapan maduku.


...***...

__ADS_1


__ADS_2