Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 51


__ADS_3

Aku memandang buku rekening dan ATM yang sudah berpindah tempat keatas meja rias.


Aku mengelus perutku, "apa yang harus bunda lakukan nak," rasanya dadaku sesak penuh beban.


Setumpuk berkas yang aku siapkan berjajar rapi bersanding dengan buku tabungan. Mas Han benar, anakku berhak yang terbaik. Tapi keputusanku sudah bulat, aku akan tetap bekerja dan aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk anakku.


Aku kembali menata berkas yang akan aku pakai untuk melamar pekerjaan, rencanaku tidak akan berubah. Aku selipkan kartu ATM dalam buku rekening dan aku simpan dalam laci.


Apa lagi yang harus kusiapkan? dulu seusai kuliah aku tak punya kesempatan untuk berpikir seperti ini. Ah, baju...aku harus punya pakaian yang pantas dan sesuai untuk melamar pekerjaan.


Aku membuka almari, wajahku jadi kusut melihat koleksi bajuku, di dalamnya hanya ada beberapa pakaian formal, kebanyakan pakaian semi formal untuk kuliah dan baju santai, lagi pula dengan perut menonjol, bajuku pasti banyak yang tidak muat, bagaimana ini?


"Kamu mencari apa?" aku tidak sadar kalau tingkahku tertangkap basah oleh ibu.


"Baju," mataku masih fokus pada semua barang yang ada dalam almari.


"Untuk melamar kerja?" aku menoleh melihat ibu dan mengangguk.


"Iya," jawabku.


Ibu tersenyum, berjalan mendekat dan meraih bahuku kemudian mendorongku perlahan, "sekarang kamu mandi," terus mendorongku ke arah kamar mandi, "setelah itu pakai baju yang paling nyaman," ucap ibu sambil menyahut handuk di gantungan dan menyerahkannya padaku.


Sebenarnya aku bingung tapi aku menurut saja. Dari dalam kamar mandi aku berteriak, "kenapa aku disuruh mandi lagi Bu, tadi aku sudah mandi."


Aku tidak mendengar jawaban dari luar. Ya sudahlah, mandi lagi juga tidak masalah, biar badanku makin segar.


Selesai mandi aku lihat ibu juga sudah berganti dengan pakaian yang lebih rapi.


"Ibu juga ganti baju? memang kita mau kemana?" aku membuka almari, memilih satu baju yang paling nyaman untuk kupakai.


"Kita belanja, ibu yang bayar, nanti kalau kamu sudah kerja, kamu boleh ganti uang ibu."


Aku berjalan mendekati singaku ini, memeluknya erat, "ibu adalah ibu yang paling baik di dunia," bisikku.


"Iya lah...memangnya kamu punya ibu lain untuk dibandingkan?"


"Ayo," ibu menarik tanganku keluar kamar, "kamu tunggu di halaman," kemudian meninggalkan aku sendiri.


Ternyata ibu mengambil motor yang terparkir di samping rumah dan menuntunnya keluar , "kali ini ibu yang bonceng."


Untungnya pilihan bajuku tepat, setelan kulot dan atasan longgar. Aku tadi sempat lupa kalau sekarang aku tidak lagi diantar menggunakan mobil, tetapi harus naik motor dibonceng ibu.


Motor matic yang usianya tak lagi muda menemani kami menyusuri jalan. Matahari tidak lagi terlalu garang karena mendekati waktunya pulang dibalik cakrawala. Desir angin mengiringi perjalanan kami membelah senja.


Ibu menuju sebuah mall yang tidak terlalu besar.


"Kita beli tiga potong baju resmi yang modelnya nyaman buat ibu hamil, terus kita langsung cek kesehatan ke rumah sakit tempat kamu kemarin terakhir diperiksa."

__ADS_1


Bisa apa aku selain memeluk lengan ibu erat, "terimakasih Bu, tapi rumah sakitnya kan agak jauh dari sini."


"Sekalian, mumpung kita keluar."


Karena ibu ahli dalam model pakaian, jadi kami tidak terlalu lama memilih.


"Lain kali ibu jahitkan sendiri buat kamu," masih sempat bicara seperti itu ketika kami sudah menentukan pilihan, "kalau beli jadi mahal," bisik ibu sambil tengok kanan kiri khawatir ada yang mendengar, kan malu, sudah niat ke mall kok cari baju murah.


Aku tertawa kecil, aku baru menyadari kebersamaan ku dengan ibu jauh berkurang sejak aku kuliah, "maafkan Rumi ya Bu, selama ini Rumi jarang memperhatikan ibu."


"Hush...stop minta maaf!" bisik ibu memukul punggung tanganku.


Perjalanan menuju rumah sakit ternyata tidak selama yang aku bayangkan. Tapi memang kami harus melakukan sholat Maghrib di lokasi rumah sakit. Yang lama adalah antrian untuk periksa. Tahulah sepanjang apa antrian dokter spesialis kandungan.


Setelah melewati beberapa pemeriksaan, Alhamdulillah hasilnya bagus. Aku dan anakku sehat, tidak ditemukan adanya kelainan atau masalah.


Sepulang periksa sampai rumah cukup malam, aku baru tahu kalau ibuku adalah wonder woman yang bisa mengendarai motor sejauh jarak yang kami tempuh tadi tanpa mengeluh. Hanya punggungku yang terasa pegal karena terlalu lama duduk.


Setelah membasuh kaki, muka dan mengganti baju, aku memilih untuk rebahan menghilangkan ketegangan di area punggung. Ibu menemani sambil mengelus dan menggosok punggungku perlahan, rasanya luar biasa melegakan.


"Besok kamu mau ngelamar kerja dimana?" tanya ibu.


"Di SD madrasah di ujung gang bu, siapa tahu membutuhkan seorang guru."


"Apa ibu perlu membantumu mendatangi pemiliknya?"


"Kalau misalnya Rumi tidak bisa mendapatkan pekerjaan, untuk kebutuhan bayi Rumi bisa pakai uang bapaknya."


Hening, ibu tidak menjawab. Aku tahu sekeras apa singaku ini. Pasti dalam hati dia tidak setuju dengan niatku.


Ibu menepuk punggungku pelan, "sudah ah...ibu juga capek tahu, enaknya saja minta dielus-elus begini terus, tidur sana, istirahat yang baik, besok ibu doakan semua usahamu lancar."


Aku mengangguk sambil tersenyum, "aamiin."


Seperti kebiasaan yang dilakukan ibu, aku menepuk bantal beberapa kali dan meletakkannya lagi dengan posisi dibalik. Ah...nyaman rasanya. Mataku makin lama makin sipit, mengantuk dan pandanganku makin kabur. Baru akan berhasil tidur, aku dikagetkan dengan suara dering nada pesan dan lampu layar ponsel yang menyala terang.


Siapa sih...malam-malam kirim pesan?


Aku melihat pop up pesan yang muncul di bagian atas layar, dari Mbok Nah.


Mbok Nah? ada apa ini?


Aku segera membuka aplikasi pesan.


Assalamualaikum Ndoro putri, Ndoro Sekar sudah melahirkan, anaknya perempuan tapi meninggal.


Kepalaku seperti dihantam palu gada, meninggal? anak Sekar meninggal? aku membayangkan Mas Han dengan wajah sedihnya.

__ADS_1


Apa yang terjadi, kenapa anaknya meninggal, bagaimana bisa Mas Han meninggalkan Sekar yang akan melahirkan untuk kesini siang tadi. Ada amarah yang timbul dalam hatiku, ayah macam apa sih kamu mas?


Bagaimana dengan Mas Han Mbok?


Ndoro Kakung baru datang, sepertinya tidak tahu kalau Ndoro Sekar melahirkan.


Apa?


Bagaimana Mas Han bisa tidak tahu, mbok?


Ndoro Sekar melahirkan dadakan, operasi katanya.


Operasi? Mbok angkat telepon saya.


Aku alihkan aplikasi pesan menjadi sambungan telepon, beberapa kali nada dering berbunyi Mbok Nah belum juga mengangkat telepon. Cukup lama sebelum akhirnya diangkat, aku langsung menyerbu mbok Nah dengan rentetan pertanyaan.


"Apa yang terjadi mbok?" pertanyaan pertamaku meluncur tanpa basa-basi, bahkan salam pun lupa aku ucapkan.


Saya sendiri tidak paham Ndoro, tapi dari yang saya dengar sebenarnya bayi nya itu awalnya masih hidup


"Terus?" kalau awalnya masih hidup, terus apa yang terjadi?


Ndoro Sekar memaksa pindah ke rumah sakit lebih kecil, Ndak tahu kenapa, Ndoro Kakung baru datang tadi pukul delapan malam, bayinya sudah meninggal.


Aku mengingat lagi, jam berapa tadi mas Han pulang dari sini, kurang lebih memang benar dia akan sampai sekitar pukul tujuh atau delapan malam.


"Bagaimana dengan bapak dan ibu?"


Masalahnya Ndoro Sekar tidak memberi tahu siapapun kalau mau lahiran. Siti saja tidak tahu, Ndoro Sekar pamit sama Siti keluar sebentar begitu. Eee...ternyata operasi.


"Sekarang bagaimana kondisi rumah utama Mbok?"


Geger Ndoro, Ndoro sepuh Ajeng ngamuk-ngamuk, Ndoro sepuh Kakung diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


"Mas Han?"


Ndoro Kakung Nehan, lemes dari tadi, tatapan matanya kosong, ditanya tidak mau jawab.


"Baik Mbok terimakasih, besok akan saya telepon lagi."


Iya Ndoro, Assalamualaikum


"Waalaikumsalam."


Tubuhku lemas, aku letakkan ponselku diatas kasur. Aku yakin aku tidak akan bisa tidur dengan adanya kesedihan yang sangat dalam terjadi disana, bagaimanapun mereka pernah menjadi keluargaku, bagian dari hidupku.


Yang membuatku makin lemas, bayi Sekar yang meninggal adalah seorang perempuan. Sedangkan tadi sore ketika USG meskipun masih belum begitu jelas, bayiku adalah seorang laki-laki. Tatapan gadis kecil yang memegang erat tanganku dalam mimpi hari itu kembali terbayang. Maafkan bunda gadis kecil, andai bunda tidak egois...

__ADS_1


...***...


__ADS_2