Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 31


__ADS_3

Masih terngiang di telingaku perkataan ibu tadi. Betapa bahagianya dia mendengar aku hamil. Aku tidak mampu mengiyakan ataupun berkata kalau itu tidak benar. Aku hanya meminta doa terbaik dari ibu untukku. Aku juga mewanti-wanti ibu agar tidak perlu datang mengunjungiku.


Yang aku tidak habis pikir, tega sekali Mas Han membohongi ibu. Apa dia tidak berpikir sekali berbohong akan ada kebohongan-kebohongan selanjutnya.


Mas Han sedang rebahan dalam kamar ketika aku sampai di rumah.


"Kamu tega sekali mas," semburku, aku tidak bisa menahan lagi bahkan untuk sedetik pun.


Mas Han menatapku dingin, kehangatan yang selalu bisa aku temukan di netra indahnya entah kemana.


"Aku harus melakukannya Rum, akhir-akhir ini kamu mulai berani membantah perkataan ku. Aku selalu mencintaimu tapi aku tak suka dibantah."


Pandanganku nanar, siapa yang berdiri di depanku sekarang, dia bukan lagi Mas Han yang aku kenal selama delapan tahun ini.


"Selama ini aku selalu menuruti semua keinginanmu, seharusnya kamu melakukan hal yang sama untukku, bukan begitu, Rum?"


Aku tak bisa berkata-kata, semua yang ingin aku ucapkan tersendat di ujung tenggorokan, lidahku kelu. Aku memaksakan kakiku melangkah dan duduk di sofa.


Mas Han turun dari tempat tidur dan berjalan mendekatiku. Dia genggam tanganku, direbahkan kepalanya diatas pangkuanku. Sedangkan tubuhnya dalam posisi duduk dengan tumpuan dua lututnya.


"Kamu tahu kan Rum, kalau aku mencintaimu, semua yang aku lakukan ini demi kebaikan kita," suaranya lembut, "ikuti rencanaku Rum, aku yakin ibu pasti bahagia sekarang karena mengira kamu hamil."


Pandanganku kosong, otakku kosong. Suara bahagia ibu kembali terdengar. Aku melihat kebawah memandang mata Mas Han, mencari sunar yang kukenal disana.


Ketika aku menemukan mata teduh itu lagi, aku menyadari kalau aku tak bisa kehilangan suamiku, apalagi suara bahagia ibu terus terngiang di telingaku.


"Ibu tidak akan tahu Rum, kalaupun ibu tahu, kita bisa jelaskan pelan-pelan ibu pasti ngerti, hmm..."


Aku hanya diam ketika Mas Han mengangkat tubuhnya dan memelukku.


Bukannya aku ingin mengikuti, tapi karena terlalu kecewa aku enggan membalas ucapannya ataupun membalas pelukannya. Maafkan aku ibu, aku benar-benar tidak ingin membohongi ibu, tapi untuk saat ini aku tidak akan melakukan apa-apa dulu.


"Aku mau mandi dulu dan ganti baju," tubuh Mas Han kudorong menjauh.


Dibawah shower aku biarkan air mataku jatuh. Apa yang harus aku lakukan ibu, mengapa semu jadi seperti ini? Maafkan anakmu ini.


Setelah mandi aku duduk dibawah jendela besar yang terbuka, melihat keluar terpampang pemandangan indah kebun mawarku yang beberapa Minggu ini belum aku kunjungi.


"Aku harus pergi Rum, Juna mengajakku bertemu,"


Mas Juna mengajak ketemu? "Aku ikut," kali ini aku tidak akan membiarkan kamu pergi sendiri, kecuali kalau kamu pergi untuk bekerja.


"Tidak Rum, kamu sebaiknya di rumah saja."


Dan kau dengan seenaknya bertemu dengan Sekar? tidak akan! Aku ganti bajuku dengan sesuatu yang kasual.


"Aku siap," celana jins, sweater dan sepatu kets menempel di tubuhku.


"Kamu di rumah saja Rum, buat apa ikut, aku akan pulang malam."


"Pulang malam? tidak masalah buatku."

__ADS_1


Kali ini aku tidak akan membiarkan kamu mengkhianati aku dengan mudah mas. Bukan karena aku ingin mempertahankan rumah tangga kita—yah...itu juga sih, sebisa mungkin—tapi lebih karena aku tidak ingin wanita itu menguasaimu semaunya.


Aku keluar mendahului Mas Han dan langsung masuk dalam mobil.


"Kamu yakin mau ikut Rum?"


"Iya."


Mataku melirik Mas Han, pasang wajah heranmu mas, itu tidak akan mengendurkan niatku untuk ikut. Lagi pula kalau benar kamu akan bertemu Arjuna, aku khawatir kalian akan bersitegang.


"Baik," Mas Han masuk mobil.


Aku menunggu dia memasangkan sabuk pengaman padaku seperti yang biasa dia lakukan.


"Pasang sabuk pengamannya Rum," ucapnya, bahkan kebiasaan yang sudah kamu lakukan selama delapan tahun ini bisa hilang begitu saja.


Mas Han memasuki sebuah kafe yang ada ditengah kota. Kafe yang biasanya dipakai para muda untuk bersosialisasi. Tempatnya lumayan keren sih memang.


Di salah satu meja, Mas Juna melambaikan tangannya memberi tanda dimana dia duduk.


"Ada apa kamu ngajakin ketemuan? tumben bener, perasaan kemarin urusan kerjaan kita sudah kelas kita rundingkan."


Bukannya menjawab, Mas Juna malah memandangi aku tak berkedip, "ketemu lagi kita Rum."


Aku lihat Mas Han menatap kami tidak suka, "aku bilang apa, kamu harusnya di rumah saja!" ucap Mas Han dengan suara ditekan.


"Jun, tunggu sebentar, sekarang kamu ikut aku," tanganku ditarik menuju salah satu meja yang cukup jauh dari meja mereka. Mas Han duduk menghadap ke arahku sedang Mas Juna membelakangi ku.


Dari raut wajah mereka yang tegang aku tahu keduanya sedang membicarakan sesuatu yang serius, bahkan mungkin ada pertikaian. Sayang tempatku duduk terlalu jauh untuk mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.


"Apa yang kalian lakukan!" seruku.


"Jangan ikut campur Rum!" refleks mata keduanya memelototiku sambil berteriak bersamaan.


Aku memandang sekeliling melihat orang-orang yang sedang memandang kami.


"Oh mbaknya toh yang sedang dibicarakan," kata salah satu pengunjung.


Dibicarakan, aku?


"Iya mbak, mereka tadi saling ngotot, beruntungnya...mbaknya jadi rebutan dua pria," kata yang lain.


Ganti aku yang memelototi keduanya. Apa-apaan mereka, tidak sadar diri apa, memalukan, sudah pada tua kelakuan masih seperti anak-anak.


"Suaminya selingkuh ya mbak?" lanjut pengunjung yang tadi, "istrinya sudah cantik begini kok masih selingkuh."


Aku membungkuk, "maaf sudah mengganggu kenyamanannya," ucapku sambil tersenyum, kalian benar-benar memalukan.


"Keluar," seruku.


"Tapi Rum..." jawab keduanya, lagi-lagi hampir bersamaan.

__ADS_1


Tanpa banyak kata lagi, aku mendekat, kuraih telinga keduanya, dan kuseret keluar.


"Rum, sakit..." teriak Mas Han, berjalan mengikuti dengan tubuh menunduk. Mas Juna diam saja meskipun tubuhnya juga ikut terseret.


Di depan Kafe baru kulepaskan tanganku, "tidak tahu malu kalian, membicarakan masalah pribadi ditempat umum."


"Dia yang membuat masalah lebih dulu," tunjuk Mas Han dengan jarinya.


"Aku hanya bertanya! apa aku tadi bilang kamu selingkuh? aku hanya tanya, apa kamu punya perempuan lain?" aku melihat keduanya yang terus berdebat bergantian.


"Itu bukan urusanmu, itu urusanku dan Rumi."


Mata Mas Juna menyala, dia berjalan mendekat, "itu akan menjadi urusanku, kalau berurusan dengan Rumi."


Ya Tuhan, mereka masih melanjutkannya disini.


"Mas Han? kalian kesini juga?" kami bertiga menengok ke arah datangnya suara.


Betapa terkejutnya aku, Sekar sedang berdiri disana, dibelakangnya ada Siti mengikuti, menundukkan kepala kepadaku sebagai tanda memberi salam.


"Kamu kenapa malam-malam keluar rumah?" tanyaku, aku bergegas mendekat, menyentuh perutnya yang belum pernah kusentuh sama sekali.


"Kapan kamu keluar dari rumah sakit, kenapa tidak memberi tahu aku?"


Sekar hanya diam, aku mengikuti arah matanya. Mas Han dan maduku saling pandang.


"Aku boleh pulang tadi sore mbak," menjawab dengan gagap.


"Oh...jadi ini wanita hamil yang kamu rawat Rum?"


"Tolong mas, ini masalah keluarga kami, jangan ikut campur," nadaku memohon agar Mas Juna membiarkan kami dan tidak ikut campur.


"Kamu pulang sekarang, jangan suka keluar malam, Siti bawa Bu Sekar pulang," aku mendorong tubuh Sekar.


Sekar bertahan tidak mau bergerak, "ini badanku, ini anakku, aku tahu yang terbaik buat dia," matanya menatapku tajam.


Aku melihat Mas Han untuk meminta bantuan, tapi dia hanya diam tak bergeming. Tolong mas, dia pasti mau pulang kalau kamu yang bilang. Inginnya aku bicara untuk mengingatkan tapi disini ada Mas Juna yang sedang berusaha memuaskan rasa keingintahuannya.


"Baik! kalau kamu tidak mau pulang, aku akan telepon ibu."


"Mbak."


"Rum." akhirnya Mas Han membuka suara hampir persamaan dengan Sekar.


"Baik, aku pulang," dia berjalan menjauh dengan menghentakkan kaki.


Aku lega, gila benar wanita itu, baru keluar dari rumah sakit sudah keluyuran malam-malam.


Aku menarik Mas Han menjauh agar pembicaraan kami tidak didengar Mas Juna, "ikuti dia, jangan biarkan dia keluar rumah lagi," kalau aku minta Mas Han mengikuti wanita itu, mereka akan berdua, "tidak-tidak antarkan aku ke rumah Sekar, aku akan menemaninya."


Ya begitu saja, aku tidak mau hanya jadi penonton, aku akan berperan menjadi sutradara dalam kehidupan kami. Aku yang akan jadi penentu kemana cerita ini berjalan dan berakhir meskipun tak mudah dan pasti melelahkan.

__ADS_1


"Lain kali kita lanjutkan pembicaraan kita!" teriak Mas Juna ketika mobil kami mulai bergerak menjauh.


...***...


__ADS_2