Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 44


__ADS_3

Ah, leganya hatiku, akhirnya aku kembali ke rumah. Aku janji akan menjaga kandunganku baik-baik, kata dokter menjauhi faktor penyebab stress adalah yang paling penting. Jadi aku belum ingin bertemu Mas Han dan keluarganya.


"Kamu mau jalan-jalan Rum? mumpung masih sore, dua Minggu ibu ndak ngemall, gatel ini kaki," aku mencebik mendengar kalimat ibu.


"Kakinya apa tangannya yang gatal?" godaku.


"Kakinya Pengan jalan-jalan, tangannya pengen ngambil barang-barang nggak penting, hihihi...," ibu terkikik sambil memperagakan tangannya mencomot sesuatu di udara.


"Nanti yang dorong kamu biar mbok Nah, mau kan mbok?" todong ibu, mana bisa nolak kalau ditodong begitu, aku jadi ingin tertawa.


"Wah...kalau saya buat Ndoro putri siap selalu mbak yu," akhirnya memanggil ibu dengan sebutan yang sama seperti Pak Dul meski harus diancam dulu.


"Mbok Nah," ibu pindah posisi, yang semula duduk di sebelahku sekarang duduk mendekati mbok Nah, "memang panggilnya harus pakai Ndoro...Ndoro begitu ya?"


"Lah iya, panggilan itu menunjukkan strata, kalau sama Ndoro putri saya ndak mau merubah panggilan mbak yu, nanti jadi terbiasa, kalau Ndoro sepuh dengar bisa dipenggal kepala saya."


"Cih...lebay," ibu kembali melihat padaku, "jaman sekarang masih mikir strata, abdi, wes gak masuk akal, kenapa dulu kamu mau sih Rum sama si Nehan."


"Karena cinta Bu," jawabku enteng.


"Nah...sekarang, sudah gak cinta lagi kamu sama Nehan, kok melarikan diri?"


Aku menghela napas, "siapa bilang Rumi gak cinta Bu? menghilangkan rasa yang sudah terlanjur ada itu tidak semudah menghapus tulisan diatas pasir."


"Ada seribu satu alasan buat Rumi untuk tetap mempertahankan rumah tangga ini, tapi sekarang Rumi mau ambil jeda dulu, istirahat panjang dari masalah yang melilit leher."


"Ibu tahu kan, bagaimana sikap Mas Han sejak menikah lagi dengan istri keduanya—itu pun karena aku yang minta."


"Kalau Rumi marah karena sesuatu yang memang Rumi sendiri yang mengawali, Rumi nggak adil dong Bu."


"Sampai sekarang pun Rumi masih menunggu itikad baik dari Mas Han, kalau dia berjanji bisa berbuat jujur dan adil sama Rumi dan Sekar kenapa nggak?!"


"Lagi pula, sebentar lagi Sekar akan ke luar negeri meninggalkan bayinya dan bayi itu awalnya Rumi yang menginginkan, jadi Rumi harus tanggung jawab kan Bu..."


Aku terus saja bicara, pura-pura tidak tahu perubahan ekspresi pada wajah ibu, makin lama mendengarkan omonganku alis ibu makin berkerut.


"Sebentar Rum, berhenti...stop. Apa kamu bilang? anak dari madumu itu kamu yang akan merawat?"


"Kamu masih tetap anak yang aku lahiran kan Rum?" ibu memegang daguku dan menggerakkannya ke kanan dan ke kiri, "perasaan masih sama," ibu mendekatkan hidungnya ke arah lipatan lenganku, "bau kecutnya kalau belum mandi juga sama."


"Apa ibu yang salah didik ya?" kalimat ibu yang makin ngawur membuatku tidak enak hati, ""apa ibu memang mendidik kamu sebaik ini Rum?"


"Tapi kalau dipikir kamu ini bukan baik Rum, kamu ini naif, kamu tahu apa bedanya lugu dan naif?"


Aku menggeleng.


"Kalau lugu itu sifat jujur yang dimiliki seseorang karena masih muda dan kurang pengalaman, kalau naif sifat jujur dari orang yang sudah dewasa dan berpengalaman tapi cenderung bodoh dan tidak masuk akal."


"Ibu kok tahu semua itu, aku saja yang pernah kuliah nggak begitu faham."


Ibu menggoyangkan benda pipih yang ada di genggaman tangannya, "brosing Rum...brosing."


Aku melengos, "gaya, barusan bisa brosing aja, sedikit-sedikit brosing."

__ADS_1


"Kamu ngapain ngurusin anak orang lain?"


"Makanya ibu kalau dengerin jangan setengah-setengah..."


"Ibu masih sakit hati kalau ingat kamu dimadu. Kamu juga sama saja, suami menikah lagi tidak bilang ibu, sampai sekarang kalau ingat itu ibu masih sakit hati Rum...sakit..." ada setetes air mata mengalir di sudut-sudut mata ibu.


"Maafkan Rumi Bu, semua demi keutuhan rumah tangga Rumi. Ibu Mas Han selalu menginginkan cucu, dia mengancam akan menceraikan Rumi sama Mas Han kalau gak nurut."


"Kalau misalnya anak itu lahir, Rumi tidak keberatan merawat anak itu dengan syarat."


"Tidak...tidak, ibu tidak mengijinkan, kamu sekarang hamil. Kehamilan kamu bukan kehamilan yang mudah. Kamu milih anak orang dari pada anak kamu sendiri? Kalau kamu merawat anak itu, otomatis kamu harus balik ke rumahmu, dirinya sendiri segala sesuatu masih dibantu orang lain, pakai ngerawat anak orang!"


"Ibu..."


"Gak Rum, kalau kamu sayang sama ibu dan cucu ibu yang sekarang masih segede cicak itu, kamu harus tetap disini," aku diam, sebenarnya mau aku jelaskan kalau aku punya banyak abdi di rumah, jadi tidak akan menyusahkan aku sedikit pun.


"Ibu nggak nanya syaratnya apa kalau aku mau pulang balik lagi ke rumah Mas Han?"


"Gak, lebih baik anak ibu hidup susah disini bareng ibu, daripada kamu hidup dimadu."


Aku kembali menutup mulutku. Aku tidak mau lagi membuat ibu sedih apalagi kalau sampai harus kehilangan anak dalam perutku ini.


"Assalamualaikum," suara seorang lelaki mengucap salam dari luar membuat obrolan kami berhenti.


"Biar saya saja yang keluar," mbok Nah segera keluar untuk melihat siapa yang bertamu.


Sebenarnya aku tahu siapa yang datang, aku sangat mengenali suara itu, tapi aku memilih untuk diam.


"Itu pasti Arjuna, kamu mau keluar?"


"Gak ah Bu, aku capek, tolong bantu Rumi rebahan ya Bu."


"Ayo," ibu membantuku berdiri dan memapahku ke arah tempat tidur kamudian membantuku berbaring setelah menata bantal agar nyaman.


"Saya cuman mampir mbok, tadi saya besuk ke rumah sakit kata perawatnya sudah pulang, makanya saya kesini."


"Eh si Jerry datang makanya Tom marah-marah."


Aku tertawa kecil mendengar pembicaraan mereka yang terdengar jelas dari dalam kamar.


"Mbok temani Rumi gih."


"Iya mbakyu," tak lama kemudian mbok Nah muncul di kamarku.


"Terimakasih mbok karena sudah menjaga saya dengan baik."


"Assalamualaikum," aku kembali mendengar suara laki-laki lain mengucap salam, aku kembali terdiam.


"Ndoro Putri, itu seperti suara...Ndoro Kakung?"


Aku mengangguk, "iya mbok," hatiku berdebar, aku tidak ingin ada keributan untuk yang kesekian kalinya diantara mereka.


"Mbok intip, terus cerita ke saya ya," aku berusaha duduk di atas tempat tidur. Mbok Nah yang paham, membantu menata bantalku agak tinggi agar aku nyaman.

__ADS_1


Mbok nah berjalan mendekati pintu kamar mengintip ke ruang tamu, agak susah memang tapi kaca besar yang diletakkan ibu dekat mesin jahit untuk ngepas baju membantu memantulkan bayangan orang dari ruang tamu.


"Rumi mana Bu?" ini suara suamiku, aku mendengar jelas siapa yang bicara dan apa yang diucapkan.


"Ndoro Kakung duduk di sebelah den Arjuna Ndoro, tangannya mengepal."


"Mas Juna gimana mbok?"


"Dia lebih santai Ndoro Putri."


"Dia ada dalam kamar, baru pulang rawat inap," itu suara Mas Juna.


"Boleh saya masuk Bu?" giliran Mas Han yang bicara.


"Rumi tidak boleh diganggu, dia harus istirahat." masih Mas Juna yang menjawab.


"Mbok, ibu kemana kok dari tadi mereka berdua yang ngobrol?" aku takut lama-lama keduanya jadi bertengkar.


"Saya bawakan semua kebutuhan Rumi, Bu," kali ini suara Mas Han yang kudengar.


"Rumi gak butuh apa-apa kata ibu, dia cuman tidak boleh stress," ibu mana ibu, aku mulai memejamkan mata. Gak tahu ah, kalau mau bertengkar...bertengkar saja sana. Toh disitu sudah ada singa yang pasti lebih ganas dari dua laki-laki itu.


"Ndoro, sekarang Ndoro Kakung menghadap ke den Arjuna, matanya melotot."


"Gak tahu mbok, terserah kalau mereka mau bertengkar, toh disitu ada ibu."


"Ndoro, keduanya saling melotot sekarang."


"Aku suaminya, aku tahu apa yang dibutuhkan istriku, kamu tidak perlu ikut campur, lagi pula ngapain kamu ada disini."


"Hahaha...laki-laki abai yang membiarkan istrinya kesakitan, bahkan istrinya hamil pun tidak tahu."


"Jangan sok tahu kamu."


"Ndoro Putri, mereka akan bertengkar ini..."


Aku menutup mata dan telingaku, "gak tahu mbok...gak tahu."


"Sudah?!!" kali ini suara singaku yang terdengar dan menggelegar di telingaku.


"Kalau sudah, kalian berdua keluar dari rumah ini. Kamu suami pembohong yang menyakiti anakku, dan kamu laki-laki bukan muhrim nya Rumi yang datang dari antah berantah."


"Tapi Bu..." kali ini suara keduanya terdengar hampir bersamaan.


"Keluar! kalian akan aku hubungi kalau Rumi sudah bisa menemui kalian."


"Mbok...," aku berbisik pada mbok Nah.


"Dua-duanya keluar dengan badan lemes Ndoro."


Aku menghela napas, menyentuh perutku dan berbisik pada anakku, "maafkan bunda ya sayang, suatu saat bunda janji kamu akan ketemu lagi sama ayah."


...***...

__ADS_1


__ADS_2