
Sekar POV
Siang ini aku seperti menang lotre. Aku sampai jingkrak-jingkrak waktu menerima pesan dari mas suami. Biar saja aku menyebutnya dengan suami, aku belum ingin melepasnya jadi aku masih menganggap dia suamiku.
Aku ambil ponselku kemudian aku genggam dan kuletakkan di atas dada sambil tertawa, kemudian aku lihat lagi dan tertawa lagi, begitu terus sampai beberapa kali.
Kalau ada orang lain yang lihat pasti aku dipikir sudah gila. Peduli amat, mereka tidak tahu betapa senangnya hatiku. Mereka tidak memahami bagaimana rasanya selalu ditinggalkan orang yang kita sayangi. Jadi kalau sekarang suamiku menghubungi aku lagi, itu seperti pintu surga terbuka untukku.
Tapi...aku diam sebentar. Kok rasanya jadi aneh, kenapa tiba-tiba lelaki itu menghubungi aku lagi? Apa dia sudah bertemu mantan istrinya? Apa dia mencurigai sesuatu? Apa suster Eny bilang ke mbak Rumi kalau aku punya rencana untuk anaknya, terus mbak Rumi bilang sama Mas Han? Nggak mungkin lah, mana berani suster itu melawanku. Dia kan mata duitan, di otaknya pasti hanya ada gambar uang. Tidak ada gambar hati nurani.
Sebaiknya aku jawab apa ya, pesan ini?! Jual mahal! ya...sebaiknya aku jual mahal dulu, biar dia nunggu beberapa saat sebelum aku menjawab pesan yang dia kirim.
Aku ketuk-ketuk layar ponsel sambil berpikir, sebaiknya kapan aku kirim pesan balasan. Terus balasan apa yang musti aku berikan? Balik bertanya apa tujuan dia mengirim pesan atau langsung saja mengajaknya bertemu.
Otak cerdasku sama sekali tidak membantu. Aku jadi bodoh kalau berhubungan dengan lelaki yang satu ini. Dia adalah cinta pertamaku, tempat aku menggantungkan kisah waktu itu dan orang yang merenggut kegadisanku. Bagaimana aku bisa melepasnya begitu saja.
Kuletakkan ponsel diatas meja, memandangnya dari ranjang sambil tengkurap. Kupadukan tanganku sebagai alas dagu. Aku akan menunggu sampai senja menyapa baru aku akan mengirim balasan padanya.
Sejenak aku terlelap, ketika membuka mata semburat jingga menerobos menerangi kamar dari engsel jendela yang memiliki rongga. Setengah hati aku menahan diri agar tidak terlalu bersemangat. Lebih baik aku mandi untuk meredam gelora hati.
Aku mematut diri di depan kaca. Entah mengapa meskipun kami tidak akan saling melihat apalagi bertemu, aku ingin tetap tampil cantik.
Langit mulai gelap waktu aku mengambil ponselku dan membuka aplikasi berkirim pesan.
Baik bagaimana kab...
Aku hapus pesan yang belum selesai aku ketik itu. Terlalu bertele-tele. Lebih baik aku langsung tangkap saja. Salah sendiri dia memasang umpan.
Baik. Kenapa, mas rindu ingin bertemu?
Tidak ingin membuang waktu, langsung aku sentuh ikon kirim. Biar saja, toh memang aku ingin bertemu dengannya. Kalau memungkinkan, bertemu sekarang makin bagus.
Aku senyum sendiri karena membayangkan hari ini langsung ketemuan, betapa bahagianya hati ini. Kami harus apa ya nanti kalau sudah bertatap muka.
Otakku sudah kemana-mana. Bagaimana nanti kalau lelaki lemah itu tak bisa menahan dirinya waktu melihatku? Wah malah kebetulan kalau seperti itu. Kalau dia mau itu bagaimana, aku tidak membawa lingerie ku sama sekali.
Aku memukul kepalaku berkali-kali. Bodoh...bodoh! harusnya aku siap dalam segala situasi. Tapi kan aku nggak kepikiran kalau dia akan menghubungi aku lagi.
Bunyi notifikasi pesan terdengar. Aku lihat ada pop up pesan, dari mas Han. Tidak menunggu lagi langsung kubuka.
Tahu saja, tapi sayang aku sedang luar kota.
Luar kota...luar kota? mungkinkah dia sedang berada di kota ini? mengunjungi anaknya dari Mak Rumi? Lebih aku bertanya.
Sedang dimana?
Dengan tidak sabar aku menunggu jawabannya. Jariku kembali mengetuk-ketuk layar ponsel tidak sabar. Semoga dia sedang ada di sini.
Sedang mengunjungi Ken, anaknya Rumi. Entah mengapa aku tiba-tiba ingin menghubungimu.
__ADS_1
Aku tertawa kegirangan, sampai tanpa sadar kakiku jingkrak-jingkrak lagi. Aku tahu kamu tidak bisa lari dariku—aku sudah menebak hal ini sejak awal sih.
Aku juga sedang ada disini.
Kali ini Mas Han langsung menjawab pesanku.
Disini? sedang apa? ada urusan apa kamu disini.
Aduh, bodoh sekali aku ini. Bisa-bisa Mas Han curiga padaku. Harusnya aku berpikir panjang sebelum menjawab.
Ya...ada teman disini. Aku ingin menyegarkan otakku. Mumpung kita sedang ada di kota yang sama, bagaimana kalau kita ketemuan?
Semoga pikirannya bisa teralihkan. Tidak terlalu panjang mencari tahu sedang ada urusan apa aku disini.
Aku memang mengharapkan itu (emoticon love dan senyum)
Aku membelalak membaca jawabannya. What! semudah ini mengajaknya bertemu. Tahu begini, aku memberanikan diri mengajaknya sejak kapan hari.
Sejenak aku kembali diam. Mencurigakan nggak sih? Kok tiba-tiba dia jadi baik begini? aku patut curiga nggak ya?! Ah, ya sudah lah, mungkin hanya pikiranku saja. Aku yakin dia memang rindu padaku—seperti aku rindu padanya.
Beberapa saat kemudian masuk lagi pesan dari Mas Han.
Kamu menginap dimana, aku akan ke motel tempat kamu menginap.
Aaa....aku melompat kegirangan. Kalau kamu baik, aku akan membatalkan rencana balas dendam ku mas. Asal kamu mau kembali denganku.
Aku membongkar tas tempat aku menyimpan baju. Melihat satu persatu model pakaian yang aku bawa. Semua pakaian memang berpotongan seksi. Aku sempat sakit hati dan berniat menggoda semua pria yang melihatku. Melampiaskan amarah karena aku ditinggalkan.
Nada dering notifikasi pesan kembali berbunyi. Ponsel yang tergeletak diatas tempat tidur bergetar membuat gerakan berputar. Kuambil ponselku dan kubaca pesan selanjutnya.
Kamu menginap di motel mana? bagikan lokasinya ya...see U soon. I Will be there in an hour.
Oh, manis sekali. Ah iya, berbagi lokasi. Aku ketik nama motel tempat aku menginap kemudian aku bagikan lokasinya.
Sejam lagi. Aku menyemprotkan minyak wangi biar segar. Aroma bunga yang lembut menguar memenuhi kamar. Aku melihat kembali tampilanku di depan pantulan cermin. Tidak terlalu murahan meskipun aku memakai pakaian berpotongan dada rendah dengan panjang dress diatas lutut. Rias wajah aku pakai yang natural. Sempurna, harusnya dia langsung tertarik untuk memasuki kamarku.
Aku berencana lima belas menit sebelum waktu janji kami bertemu tiba aku sudah menunggu di lobi, biar cepat dan tidak membuang waktu. Tapi ternyata laki-laki itu sudah duduk di sana, di salah satu sofa.
Kupercepat langkah. Tidak sabar rasanya untuk mendekat. Ketika langkahku semakin dekat aku berhenti. Apa-apaan dia, Mas Han hanya memakai kaos tanpa kerah berbahan katun yang ditutup dengan sebuah jaket dengan bahan yang sama. Bagian bawah dia memakai celana training dengan pola garis di sisinya, dipadankan dengan sepatu kets yang biasa dipakai untuk olah raga.
Aku memandang bajuku dari atas sampai bawah. Tidak cocok, sama sekali tidak cocok. Harusnya dia berdandan rapi, kami kan lama tidak bertemu. Apa yang dipikirkan laki-laki itu sampai dia memakai baju untuk olah raga. Memangnya dia mau ngajak aku lari malam apa?!
Hati yang dongkol dan rasa malu dipandang orang-orang yang ada di lobi, membuat aku memutar badan.
"La...."
Suara Mas Han memanggilku. Terlambat, keberadaanku sudah diketahui lelaki itu. Niat hati ingin melanjutkan langkah, tapi sebuah tangan kekar menahanku.
"Mau kemana?"
__ADS_1
Aku memutar badan, melihat Mas Han kikuk. Mengayunkan tanganku kaku dan pasti aneh.
"Hmm...hahaha, mau ganti. Iya mau ganti dulu."
"Kenapa musti ganti, kamu cantik kok."
"Tapi mas, dandanan kita nggak cocok tahu."
Dia menarik tanganku untuk mengikutinya. meskipun aku malu setengah mati, tapi aku tak bisa menolak.
"Nggak usah ganti, ikut saja."
"Tapi...."
Mas Han tidak berhenti ataupun melepas tanganku. Dia terus menarikku sampai akhirnya kami masuk dalam mobil. Tanpa banyak kata Mas Han melajukan mobilnya membelah jalanan yang diterangi lampu jalan dengan cahaya temaram.
Perjalan kami diselimuti sepi. Aku bingung mau bicara apa, sedangkan Mas Han juga seperti sedang konsentrasi memikirkan sesuatu.
Mobil berhenti di salah satu sudut kota setelah beberapa saat berkendara. Kami berhenti di depan sebuah tempat yang tampilannya mirip sebuah warung, lebih tepatnya sebuah angkringan tempat muda mudi menghabiskan malam.
Hatiku tambah dongkol, baru kali ini aku merasa dandananku memalukan. Baru masuk saja semua mata yang ada disitu melihat kami dengan tatapan aneh.
Sial benar, kenapa Mas Han tidak bilang kalau dia mau mengajakku ke tempat seperti ini. Kalau tahu, aku bisa berdandan lebih santai. Lagi pula tempat ini duduknya lesehan. Pahaku terlihat kemana-mana. Argh...sialan!
...***...
Epilog
Nehan memandang serius ponselnya. Senyumnya mengembang tapi kemudian menghilang ditelan tatap matanya yang menyala.
Kamu sudah memakan umpanku. Mari kita sedikit bermain-main.
Malam ini Nehan sengaja memakai baju yang tidak akan diprediksi oleh mantan istri sirinya itu.
Sebuah kaos oblong dengan jaket berbahan katun. Celana training, sepatu kets dan sebuah topi bertengger di kepalanya.
Benar saja, tawa Han hampir meledak melihat dandanan Sekar dari jauh. Sebuah dress yang panjangnya diatas lutut, berlengan pendek—yang pasti akan mempertontonkan lipatan lengannya, dengan potongan dada rendah. Gaya berdandan Sekar yang dulu sangat disukai Nehan.
Han pura-pura tidak melihat. Biar wanita itu mendekat lebih dulu. Tapi Han mengubah sikap cueknya ketika melihat Sekar memutar langkah.
"La..."
Nehan berlari mencegah wanita itu untuk berbalik dan pergi. Dia meraih tangan wanita itu kemudian bercakap sebentar untuk meyakinkan dandanannya baik-baik saja, baru mengajaknya keluar.
Lucu juga kalau aku membawa wanita ini ke angkringan, padahal dandanannya pantas untuk pergi ke sebuah pesta.
Setelah sampai di tempat yang dituju, Nehan terus menahan senyumnya. Semua laki-laki muda yang duduk lesehan memandang heran pada wanita yang dia bawa, siapa yang tahu apa yang mereka pikirkan. Apalagi ketika Sekar harus duduk di bawah. Nehan yakin wanita itu kewalahan menutupi tubuhnya yang terekspos kemana-mana.
Ini baru awal! Tatap Nehan penuh amarah pada wanita yang sedang bingung menutupi bagian tubuhnya yang terlihat.
__ADS_1
...***...