Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 128


__ADS_3

"apa yang terjadi, Rum?" Nehan memandang anaknya dari balik kaca dengan tatapan sedih. Sementara Ken sedang tertidur.


"Aku tidak tahu, mas. Tiba-tiba saja badannya panas lagi, kemudian kejangnya datang lagi sepeninggal kamu tadi pagi," ucap Rumi yang duduk di bangku panjang ruang tunggu NICU.


"Apa kata dokter?" tanya Nehan memutar kepala melihat mantan istrinya. Dia memperhatikan wajah dan badan Rumi yang kusut karena lelah.


"Masih dicari sebabnya. Semoga bukan sesuatu yang serius, mas."


"Tidurlah Rum, kamu pasti lelah."


Bagaimana bisa aku tidur, Rumi menggeleng, "Aku tidak mengantuk."


"Tidurlah, biar aku yang menjaga Ken malam ini. Kamu pasti lelah menunggu seperti ini sedari pagi," lagi-lagi Rumi menggeleng.


"Ah, iya. Bagaimana kondisi Sekar?" tanya Rumi saking penasaran.


"Dia akan baik-baik saja. Lek Broto untuk sementara ditunda prosesnya. Semua sudah aku selesaikan. Mulai sekarang Lek Broto yang akan menjadi wali dari Sekar. Pihak Rumah Sakit juga sudah aku beritahu untuk tidak menghubungi aku lagi jika terjadi sesuatu. Aku pasrahkan semuanya. Tugasku hanya menyediakan biaya perawatan. Jadi jangan minta aku untuk menemui Sekar lagi."


Nehan berjalan mendekati Rumi. Dia duduk di bangku panjang di sebelah Rumi. Matanya melirik tas plastik yang masih dalam pelukan mantan istrinya.


"Kenapa makanannya tidak dimakan?" diambilnya tas plastik itu dan dikeluarkannya makanan yang ada di dalamnya.


"Ini dibeli untuk dimakan, bukan hanya untuk dipeluk-peluk," kalau kamu peluk tas plastik itu seperti tadi, otakku jadi berkelana tahu, Rum. Aku membayangkan kamu memeluk orang yang membelikan makanan dalam tas plastik itu.


"Juna menemani kamu sejak pagi, Rum?"


"Hem," Rumi mengangguk.


Benar kan, "apa saja yang kalian lakukan?"


"Maksudmu?!" sempat-sempatnya mantan suaminya ini menanyakan hal yang seperti itu dalam situasi seperti ini.


"Ah...emm...maksudku, ya apa dia menyentuhmu?"


Jangan bercanda kamu mas, "kalau kamu hanya ingin mencari bahan pembicaraan, cari topik yang lebih penting," Rumi memutar posisi duduknya lalu membanting pantatnya membelakangi Nehan.


Jadi dia pasti menyentuhmu, "dimana bujang lapuk itu menyentuhmu," Nehan berpindah tempat dan duduk di depan Rumi.


"Disini?" menyentuh pipi, "disini?" menyentuh lengan, "atau begini?" kali ini memeluk Rumi erat membuat Rumi terkejut dan reflek memukul punggung mantan suaminya.


"Dasar gila!"


"Ya, aku gila. Gila karena kamu Rum!" tanpa melepaskan pelukan.


Rumi menarik tubuhnya, "gak boleh peluk, bukan makhrom!"

__ADS_1


"Cih, bukan makhrom tapi gandeng tangan bujang lapuk itu kenceng banget," Nehan melirik.


Rumi berdiri, melihat putra semata wayangnya. Perawat bilang dokter akan kemari esok pagi. Jika semua baik, maka semua alat akan dilepas. Untuk menjelaskan penyebab demam dan bagaimana mengatasinya jika kejang datang lagi, dokter yang akan melakukan.


"Bundanya sudah bisa tenang, istirahat dulu, tidur dulu," seorang perawat berhenti sebentar setelah memeriksa Ken.


"Itu dengarkan, kamu ke kamar Ken, tidur disana, aku akan menjaga anak kita."


"Nggak, aku disini saja."


Dasar wanita keras kepala, "dari dulu kamu memang nggak pernah nurut sama suami, lebih banyak aku yang nurut sama kamu."


"Sampai kita terjebak dalam kehidupan yang rumit, itu juga karena aku menuruti permintaan kamu."


"Ya, aku juga salah sih, sampai tergoda wanita lain. Tapi itu sesuatu yang nggak bisa aku hindari. Maksudku waktu itu hanya melakukannya sekali, tapi..."


Tiba-tiba kepala Rumi jatuh di bahunya, "Rum...?"


Nehan menghentikan bicaranya. Ternyata dia bermonolog sedari tadi, "tidurlah Rum, kamu pasti lelah."


Kepala di bahunya ini bergerak-gerak kecil. Mencari posisi ternyaman. Nehan menahan debaran di hatinya yang menggila.


Bagaimana aku bisa jauh darimu, Rum... Membayangkan kamu dekat dengan laki-laki lain saja membuatku gila, apalagi melihatmu dimiliki lelaki lain. Kamu akan disentuh, dipeluk, dicium, dan...hiii, jangan sampai...jangan sampai—mengetuk kepala berkali-kali. Sampai keduanya tertidur dalam posisi duduk dan memberikan kenyamanan satu sama lain.


"Tidak ada yang salah dengan adek Ken ayah, bunda. Hal seperti ini umum terjadi pada bayi dan balita usia dibawah lima tahun."


Ya Allah, rasanya plong hati ini, "Alhamdulillah, terimakasih dokter," senyum Rumi merekah, akhirnya dia bisa bernapas lega.


"Terimaksih dokter," Nehan menjabat tangan dokter yang bertanggung jawab dengan hangat.


"Omong-omong, yang mana ya ayahnya adek Ken?...yang ini atau yang kemarin siang menemani bundanya?"


Kan, gara-gara bujang lapuk itu, status ku sebagai ayah Ken diragukan. Nehan melirik Rumi yang pura-pura tidak mendengar dan melihat ke arah lain.


Akhirnya Ken dikembalikan dalam kamarnya. Sudah dipastikan tidak ada kerusakan atau kelainan pada syarafnya. Sesuai penjelasan dokter, kejang yang dialami Ken karena dia mengalami demam tinggi.


"Ayah..."


"Hai, jagoan ayah."


"Ken mau ditunggu, Ken cape," si kecil mulai mengoceh sesaat setelah kembali ke kamar perawatan.


"Sini ayah pijit," maafkan ayah ya nak, kemarin ayah harus pergi.


"Mana Nehan, Rum?" suara B Narmi memenuhi ruangan, padahal orangnya baru sampai di depan pintu. Dibelakangnya Juna berjalan mengikuti.

__ADS_1


"Ibu," Rumi menyentuh lengan ibunya berusaha membuat singa betina itu tenang.


Setelah dekat Bu Narmi melihat Nehan tajam, "ikut aku."


Nehan pasrah tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menerima kemarahan mantan ibu mertuanya, "ayah ikut uti dulu ya, nak." Nehan berjalan keluar sambil menundukkan kepala.


"Uti, jangan malah sama ayah," teriak si kecil dengan suara lucunya. Dia tahu betul kalau utinya sedang marah.


"Nggak," jawab Bu Narmi singkat.


Sampai di depan pintu, Bu Narmi menarik telinga mantan menantunya, "kurang ajar kamu, anak sakit bukannya ditunggu malah ditinggal pergi. Kamu masih membela perempuan edan itu, Han?!"


"Kamu masih ada rasa sama wanita itu?!"


"Bu ini rumah sakit, jangan teriak-teriak," beberapa orang yang lalu lalang melirik keributan yang dibuat Bu Narmi.


"Biar, mulut-mulut ibu..."


"Saya sudah tidak ada rasa lagi sama Sekar, Bu, dengarkan saya dulu..."


"Bu, saya ikhlas menerima semua kemarahan ibu. Saya rela kalau ibu mau pukul saya, asal jangan bunuh saya saja Bu. Kasihan Ken nanti punya nenek pembunuh..."


"Apa kamu bilang, apa?!' tangan Bu Narmi melayang dan menyentuh punggung Nehan beberapa kali.


"Bhug...bhug...bhug," suaranya keras, pasti sakit itu. Jadi ingat insiden penggaris panjang untuk menjahit.


Nehan berlutut sambil memegang tangan mantan ibu mertuanya, kepalanya mendongak, matanya memohon belas kasihan, "Bu, marahnya nanti saja, ya..., sekarang Rumi hanya berdua dengan bujang lapuk itu di dalam kamar."


"Dasar bocah gendeng," Bu Narmi melihat keatas menghembuskan napasnya keras-keras, sambil menghentakkan tangan Nehan sampai terlepas.


"Masuk dulu ya Bu. saya nggak tenang ninggalin Rumi sama Juna berdua," masih berlutut.


"Mereka di kamar bertiga sama Ken," berkata sambil melengos. Kasihan sebenarnya, tapi B Narmi benar-benar emosi melihat kelabilan mantan menantunya ini.


"Masuk dulu ya Bu, marahnya nanti,kalau nggak, pukul saja saya sekarang yang keras, tapi jangan lama-lama di luarnya, ya...Bu."


"Cih..., kalau Rumi mau, aku lebih suka kalau dia menikah laginya sama Juna" Bu Narmi pergi meninggalkan Nehan yang masih berlutut dan masuk dalam kamar.


Nehan berdiri sambil berusaha menggerakkan punggungnya yang nyeri, rasanya senut-senut setelah kena pukulan tadi, "usia boleh setengah abad lebih, tapi pukulannya bisa meremukkan badanku."


"Menikahkan Rumi sama Juna, coba saja kalau bisa, sekarang saja aku yakin Rumi masih mencintaiku," menggerutu dan mengikuti Bu Narmi masuk ke dalam kamar.


Tapi lagi-lagi pemandangan seperti ini yang dia lihat. Rumi dan anaknya tertawa bersama dengan sahabatnya.


"Jangan lihat laki-laki dengan cara seperti itu, Rum. Itu adalah tatapan sayang yang sering kau berikan padaku," menggumam sambil berdiri kaku di sisi pintu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2