Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 92


__ADS_3

Ngelamun Rum, jangan suka ngelamun nanti dimasuki setan badannya tahu rasa kamu!"


Ibu ada-ada saja, "mana ada setan masuk ke dalam tubuh orang yang lagi ngelamun Bu."


"Bagaimana proses ceraimu dengan Nehan, Rum?"


"Itu yang sedang aku pikirin Bu."


Rasanya aneh, hampir setahun aku hidup terpisah dari Mas Han tapi di saat-saat tertentu aku masih merasa kehilangan.


"Tinggal menunggu putusan kan?"


"Iya, ada lega dalam hati sih Bu, tapi masih ada rasa mengganjal juga."


"Dari pada ngelamun mending kamu hubungi Yuni, keluar sana jalan-jalan mumpung sedang libur. Ajak Pak Dul, Mbok Nah juga."


"Boleh juga, ibu nggak mau ikut?" loh, ibu kemana, "Bu...?"


"Apa? ibu mau ganti baju dulu."


"Kan belum menghubungi Yuni Bu."


"Bilang ibu yang minta, anak itu nggak mungkin menolak."


Benar kata ibu anak itu langsung oke. Mumpung belum kembali ke kantor pusat, begitu katanya.


Sekalian dia aku suruh menjemput suster Eny dengan anaknya, kasihan mereka nggak pernah pergi kemana-mana. Meskipun sudah ada beberapa penghuni di panti, tapi rasanya masih bisa di handle yang lain.


Yuni datang sejam kemudian, bersama suster Eny. Sedangkan Pak Dul membawa mobil panti.


"Selamat pagi Bu," suster Eny selalu bersikap sangat sopan, bahkan kadang menurutku terlalu sopan.


"Selamat pagi," jawabku tersenyum.


"Sudah siap belum?" biasa si kaleng rombeng serba nggak sabaran.


"Selamat pagi, Ndoro Putri," sapa Pak Dul yang keluar dari mobil. Eh, dibelakangnya ada siapa itu?


"Selamat pagi Rum," ikut juga ternyata Mas Juna.


"Selamat pagi Pak Dul."


"Eh, sedang ada disini Mas?"


"Iya Ndoro Putri, datangnya tadi malam, minta tidur sama saya pula. Jadi sempit tempat tidur saya."


Aku tertawa, "kenapa nggak pakai ruangan yang itu saja mas."


"Nggak, aku pengen ada teman tidur."


"Makanya kawin," sambar Yuni.


"Kamu juga waktunya kawin Yun," sindirku.


"Sesama jomblo tidak boleh saling menikung," bisa saja Yuni ngejawab.


"Ya, kalian berdua saja nikah sana, kan sama jomblonya," jawabku asal.


"Waduh, membicarakan tentang perjombloan, hampir semua dari kita yang ada disini punya label jomblo," sambar ibu, "ayo berangkat, keburu siang."


Lah, benar juga apa kata ibu. Yang nggak jomblo cuman aku, tapi sebentar lagi bakal jadi janda. Ya jomblo juga.


Yuni yang mengatur siapa akan naik mobil siapa. Dia akan membawa aku, Ken dan ibu. Sedangkan Pak Dul akan membawa Mas Juna, mbok Nah, Suster Eny dan anaknya.

__ADS_1


Tapi Mas Juna nggak semudah itu menerima, dengan alasan selama ada laki-laki, wanita harus duduk manis, dia minta kunci mobil milik Yuni. Akhirnya Mas Juna yang mengendarai mobil, sementara aku, Yuni, Ken dan ibu duduk manis sebagai penumpang.


Untuk menyingkat perjalanan, kami mendatangi tempat wisata yang waktu itu aku kunjungi bersama Mas Han karena jaraknya dekat. Seperti sebuah ujian kesabaran bagiku, apakah aku akan mengingatnya sebagai kenangan dan merasa melow nanti atau hanya akan merasa biasa saja.


Mungkin kalau orang yang belum begitu kenal tidak akan mengetahui perubahan ekspresi wajahku. Tapi orang yang sedang bepergian dengan ku saat ini adalah orang-orang terdekat dalam hidupku.


"Pernah kesini sama Raden mas edanmu?" bisik Yuni.


"Apaan sih?" sungutku.


"Wajahmu nggak bisa bohong tahu, jadi melow gitu, tahu gitu tadi kita nggak kesini," terus saja menggerutu.


"Anggap aja aku lagi dapat shock terapi, biar pengaruhnya cepat hilang."


"Pernah kesini dia sama Nehan?" maunya sih bisik-bisik sama Yuni, tapi Mas Juna melakukannya di depanku, jadinya aku dengar dengan jelas.


"Anggap sebagai shock terapi katanya, biar nantinya nggak terpengaruh lagi."


Dua sahabat bia_dab ku itu kompak tertawa.


"Maaf Rum, cuman bercanda," dari mereka berdua sepertinya hanya Mas Juna yang merasa bersalah.


"Aku jadi ngerasa sudah jomblo tahu," aku menunjuk Pak Dul, Mbok Nah, dan ibu yang berkeliling sambil mendorong Ken.


"Mending kita poto-poto bertiga," usul Yuni.


"Boleh-boleh," jadi mereka berdua yang semangat.


Dengan alasan aku yang perlu penguatan jadinya aku di apit oleh Yuni dan Mas Juna.


"Kita wefie aja ya, jadi nggak perlu minta tolong orang lain buat motoin," kata Yuni.


Mas Juna setuju dan aku tinggal iya saja.


"Deketan dong duduknya nggak kelihatan ini," kali ini Yuni yang pegang ponselnya.


"Ini sudah senyum tahu Yun," jawabku.


"Yang lebar, begini nih," pas banget ketika bunyi jepret kamera ponsel, Mas Juna sedang mencubit pipiku, karena kaget aku menghadap ke wajah Mas Juna.


"Apaan sih kamu, Yun, belum siap tahu akunya," protesku.


"Bagus kok, kelihatan alami."


Yuni menunjukkan padaku hasil jepretan pertamanya, aku kayak yang lihat-lihatan gitu sama Mas Juna.


"Ayo lagi," teriak Yuni.


Kali ini Mas Juna yang pegang ponsel, "ayo agak dekat, Yuni cuman kelihatan kupingnya doang ini," kali ini Mas Juna sok menjadi pengatur gaya.


Sama seperti yang tadi, kami foto berdekatan. Kalau ada yang lihat dan nggak tahu tentang persahabatan kami, pasti akan ada opini macam-macam.


Kami juga mengambil foto berdua. Aku berdua dengan Yuni dan beberapa aku berdua dengan Mas Juna. Aku sih menganggapnya lucu-lucuan saja. Tapi rupanya ada yang tidak menganggap seperti itu.


"Ting" ponselku berbunyi tanda ada pesan masuk.


Dari Mas Han,


Cepet banget sudah move on


Sebuah pesan dengan foto kami bertiga, sebuah foto waktu aku dan Mas Juna saling pandang.


Aku berpaling ke Yuni, "Yun, kamu post dimana foto kita?" tanyaku.

__ADS_1


"Di aplikasi berbagi foto lah, emang kenapa?" memasang wajah tak bersalah.


"Ada yang kirim pesan ke kamu?" Yuni tertawa terpingkal, "aku sengaja tag nama Raden mas edan mu, biar dia lihat."


"Yuni...gimana sih, dia kan bisa salah paham."


"Mana aku lihat!" aku ambil ponsel milik Yuni, nasib aku yang gak punya sosmed.


"Nih," Yuni menunjukkan sebuah foto dengan caption, 'yang dua fix jomblo, yang satu calon jomblo, mustinya cuman mereka berdua sih yang foto' dengan ditambahkan emoticon hati dan tertawa lebar.


"Kamu apaan, caption-nya begini amat."


"Kalau orang lihat pasti pikiran mereka macam-macam deh, apalagi kita berdekatan gini fotonya."


"Biarkan saja, yang penting kita nggak melakukan apa-apa," Mas Juna menjawab dengan santainya.


"Ting," terdengar lagi notifikasi pesan, lagi-lagi dari Mas Han.


Mana Ken, jangan bilang kalian hanya pergi bertiga.


Haduh kalian berdua cari masalah. Tak lama terdengar nada dering sambungan telepon berbunyi.


"Yun, kamu cari masalah, nih lihat Mas Han jadi neleponin kan, jadi nggak tenang gini liburan."


"Jawab aja," sahut satu-satunya lelaki yang ada dalam foto.


"Halo, assalamualaikum."


Lama bener angkatnya, nggak niat angkat telepon dari aku?


"Nggak kok, ini tadi mau diangkat."


Kalian pergi bertiga?


"Nggak lah, kami pergi bareng-bareng."


Kalau begitu, mana Ken?


"Ada sama Mbok Nah, Pak Dul, ada ibu juga."


Ooo...jadi mereka yang ngajak Ken jalan-jalan, terus kamu menikmati waktu kamu sendiri?


"Ya kan, kamu tahu kalau uti-uti nya Ken nggak bisa jauh dari Ken."


"Sambil dimakan rotinya Rum," ih Mas Juna pakai ngomong, aku takut terdengar disana.


Tuh diingetin buat makan roti, perhatian banget sama istri orang.


Harus dihentikan ini, sebelum pembicaraannya makin kemana-mana.


"Sudah ya mas, itu Ken nangis minta susu," harus main drama kan jadinya.


Jangan menyusui dekat Juna, nggak boleh! Rum...Rum!


Aku memutus sambungan telepon dan mematikan ponselku sekalian, biar aman.


Maaf ya mas, aku memang masih istri kamu, tapi kan tinggal tunggu putusan, terus jomblo juga.


...***...


Terimakasih ya readers sudah mau nunggu otornya up.


Terimakasih juga buat yang sudah kasih like, komen dan vote cerita ini.

__ADS_1


Bagi yang belum, silahkan memberi like, komen dan vote, share juga boleh.


Lope-lope segunung lah buat kalian semua ❤️🥰😘


__ADS_2