Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 80


__ADS_3

Nehan POV


Pagi ini aku pulang, setelah menginap dua malam di rumah ibu di kampung. Wah, rasanya luar biasa, berkumpul sama anak lelakiku dan bundanya. Aku berharap banyak akan membaiknya hubungan kami.


"Aku pulang ya Rum," istriku itu mengangguk dan tersenyum. Hatiku tentram luar biasa. Sepertinya dia berusaha untuk memperbaiki hubungan kami, meskipun dia masih menolak ketika aku berusaha untuk membicarakan tentang Lala.


"Hati-hati di jalan ya mas, setelah ini hiduplah dengan baik dan bahagia, jangan punya pikiran buruk tentang apapun atau siapapun," hmm...kalimatnya agak aneh, tapi ya sudah lah, aku anggap itu merupakan bentuk sebuah perhatian.


Jadi aku juga menanggapinya dengan santai, "heem, jangan khawatir, aku akan jaga diri dengan baik, kamu juga begitu disini sama Ken, sampai nanti kamu siap untuk pulang," dia tidak menjawab, tapi senyumnya menunjukkan kalau suatu saat dia akan pulang, aku yakin akan hal itu.


Selama perjalanan pulang sepi menyergapku. Bayangan Rumi yang duduk di sebelahku sambil memangku Ken membuatku rindu. Padahal masih baru beberapa menit aku meninggalkan mereka.


Rasanya ingin putar balik saja kembali ke rumah ibu. Tapi sayangnya aku terlanjur berjanji pada Lala untuk mengunjunginya minggu ini.


Aku harus mempersiapkan banyak hal sebelum pergi karena Lala memesan beberapa makanan yang hanya bisa di dapat di Indonesia dan ibu berjanji untuk menyiapkannya.


Sampai di rumah ibu menyambutku, "kamu dari mana, dua hari tidak pulang?!" ibu melihatku penuh selidik.


"Mengunjungi Rumi Bu."


"Kamu masih saja mengunjungi wanita itu. Dia istri yang tidak bertanggung jawab, Han. Dia meninggalkan rumah, dia tidak peduli sama kamu, buat apa kamu datang kesana?" seperti biasa ibu ngomong yang enggak-enggak tentang Rumi.


Aku tak menggubris apapun yang diucapkan ibu, tapi aku juga tak punya keinginan untuk membantah jadi aku masuk kamar dan kututup pintu rapat-rapat.


"Kamu harusnya lebih memperhatikan Sekar. Menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak itu. Biar dia bisa segera hamil, Sekar lebih pantas jadi istrimu," kenapa sih ibu, apa tidak capek teriak-teriak terus seperti itu.


"Kapan kamu berangkat, Sekar sudah menghubungi ibu, dia bilang kamu tidak bisa dihubungi beberapa hari ini."


Aku merebahkan diriku di tempat tidur, membiarkan ibu berbicara sendiri di depan kamar. Pasti sekarang ibu sedang duduk di kursi kayu yang aku letakkan di sebelah pintu kamarku.


"Semua yang Sekar pesan sudah ibu siapkan kamu tinggal bawa."


Ah...aku rindu rumah ibu mertuaku di kampung, disana jauh lebih tenang, ibu tak pernah turut campur urusan kami kecuali keadaan mendesak. Aku rindu Rumi, Mbok Nah, dan Ken. Sedang apa anakku itu sekarang.


"Kapan kamu berangkat Han, lebih baik segera biar kamu bisa agak lama di sana."


Aku menghela napas, kuarahkan pandanganku ke pintu, bagaimana ibu bisa bicara tanpa henti seperti itu. Aku angkat tanganku dan kujadikan alas kepala. Sebenarnya untuk siapa aku pulang kemari. Kamar ini pun rasanya mati.


"Ibu sudah tidak sabar ingin punya cucu lagi Han."


Ibu sudah punya cucu bu. Dia bayi yang lucu namanya Keandra Nisham, tapi aku yakin ibu tak ingin melihatnya karena kesombongan dan keegoisan ibu. Sekarang kalau aku pikir-pikir ibu lah penyebab hancurnya rumah tanggaku.


"Jangan lagi kau datangi wanita miskin itu Han, aku tak pernah menganggapnya menantu."


Aku turun dari tempat tidur kemudian mengambil langkah cepat menuju pintu. Aku buka pintu lebar-lebar dan berdiri dengan bersendekap di depan ibu.


"Kalau ibu mengucapkan satu kata lagi tentang Rumi, jangan lagi ibu bicara dengan Nehan. Rumi adalah istri ku Bu. Dia juga memberikan seorang anak untukku. Aku tidak suka ibu bicara seperti itu tentang Rumi," setiap kali ibu bicara memang selalu keterlaluan, tapi sekarang beda, aku tidak mau Ken dihina, dia anakku, darah dagingku. Aku membanting pintu di depan wajah ibu.

__ADS_1


"Kurang ajar kamu Han, dasar anak tidak tahu diri, tidak tahu diuntung, dibesarkan mulai kecil sekarang berani menentangku, kalau bukan karena aku kamu sudah__."


Aku kembali membuka pintu, "sudah apa Bu?" ibu menghentikan kalimatnya, kelihatan sekali kalau terkejut dari caranya menatapku dan menutup mulutnya.


Ibu mengambil tasnya, memasang wajah kesal dan pergi meninggalkanku sambil menggerutu, "ibu mulih, dasar bocah, ora duwe sopan santun, ora ngerti bales Budi, ngelawan wong tuwo."


[Ibu pulang, dasar anak-anak, tidak punya sopan santun, tidak tahu balas Budi, melawan orang tua]


Setelah kepergian ibu aku kembali masuk kamar, rebahan lagi melanjutkan lamunanku yang tadi terputus. Karena kangennya luar biasa, aku keluarkan Hp ku. Aku buka lagi foto-foto yang kemarin aku ambil.


O...lucu sekali anakku. Jariku menyentuh gambar wajah anakku yang membuat aku senyum-senyum sendiri, lalu aku beralih pada wajah Rumi, cantik, lebih cantik daripada ketika dia tinggal disini. Wajahnya terlihat muda, segar dan banyak tertawa. Dulu waktu disini dia sering sedih dan kelihatan layu.


Aku sentuh aplikasi video call. Lebih baik aku telepon saja Rumi, kalau jam segini Ken pasti sudah bangun dan siap-siap untuk mandi sore.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Rum, mana Ken?"


"Lagi siap-siap buat mandi nih anaknya."


Rumi membawa ponselnya mendekati Ken.


"Hahaha...sudah telanjang anak ayah."


"Iya lah, kan mau mandi, ayahnya sudah mandi belum?"


"Belum, ayahnya baru sampe rumah, ini masih istirahat."


"Hai ayah, lihat ini aku mandi sama si mbok."


Rumi mengarahkan kamera videonya pada anakku. Ocehannya yang lucu mirip dengan suara kucing, tawanya yang khas memenuhi hatiku.


"Anak ayah, pinternya."


"au...au...au."


Lagi-lagi aku tertawa, "hahaha, nanti kalau sudah ganteng ditelepon ayah lagi ya anaknya ayah."


"Iya, ayah, assalamualaikum."


Rumi mematikan kameranya. Selama beberapa detik aku terdiam, bagaimana aku bisa menyakiti Rumi dengan semua kebohonganku yang lalu. Apakah sepadan apa yang aku miliki sekarang dengan kehilangan yang akan aku terima?


Rasanya malam ini aku tidak akan bisa tidur. Bayangan Rumi dan Ken memenuhi kepalaku. Apakah besok aku harus tetap berangkat menemui Lala. Apakah aku siap kehilangan Rumi dan Ken?


Setelah aku menghabiskan waktu selama beberapa hari dengan anak istri yang sempat kuabaikan, aku jadi ingin berpikir ulang dengan keputusanku mempertahankan Lala.


Kalau sekali lagi saja Rumi memintaku untuk memilih, aku yakin aku akan memilih Rumi dan anaknya. Apakah semua sudah terlambat untukku? Aku harap Rumi mau berubah pikiran setelah beberapa hari ini kami menghabiskan waktu bersama.

__ADS_1


...***...


Pagi ini aku sudah mantap menunda keberangkatan ku. Aku bekerja dengan perasaan yakin untuk berpikir ulang tentang hubunganku dengan Lala.


Baru saja aku akan masuk ke dalam mobil, petugas keamanan di rumahku menghadang ku dengan membawa sebuah amplop.


"Maaf Ndoro Kakung, ini kemarin datang surat."


"Hah, kapan datangnya kok saya tidak tahu?" perasaan kemarin aku datang masih siang, kenapa aku tidak tahu ada surat datang.


"Kemarin agak sore Ndoro, maaf tidak langsung saya sampaikan, saya pikir Ndoro butuh istirahat setelah keluar kota selama dua hari."


Aku terima surat itu dan aku lemparkan dalam jok mobil, "nggak apa-apa, terimaksih ya."


Nanti saja aku lihat kalau sempat, kugeletakkan begitu saja surat itu di dashboard mobil. Aku meliriknya beberapa kali, kira-kira itu surat dari siapa ya, tentang apa, tumbenan ada yang kirim surat ke alamat rumah. Biasanya semua perihal surat menyurat diarahkan ke kantor.


Selama perjalanan ke kantor Lala mengubungi aku beberapa kali, tapi teleponnya aku abaikan. Kali ini aku ingin berpikir dengan tenang tanpa pengaruh siapapun.


Ketika sampai di kantor, aku hampir saja meninggalkan surat yang aku terima tadi di mobil, aku sampai harus berjalan balik untuk mengambilnya.


Setelah duduk di meja kerjaku dan meletakkan tas, baru aku membuka surat tadi. Aku menimang amplop surat ini beberapa kali, membolak-balik sampai akhirnya kukeluarkan surat yang ada di dalamnya.


Di bagian atas surat ada kop besar bertuliskan Pengadilan Agama...hatiku tak enak. Pengadilan agama? Untuk apa pengadilan agama mengirimi aku surat?


Aku lihat bagian bawah, dengan cepat mataku membaca sampai pada bagian, diharapkan kehadiran saudara Nehan Nawang Nugroho untuk menghadiri sidang dan seterusnya, atas gugatan cerai oleh istri saudara...


Pandanganku gelap, aku hentikan membaca. Kuremas surat sialan ini dalam kepalan tanganku. Aku tak mau pulang lagi ke kampung ibu kalau hanya untuk menghadiri sidang perceraian. Aku banting buntalan kertas itu ke atas meja bersama dengan genggamanku. Kaca yang melapisi meja hancur berkeping. Aku sambar kunci mobil kemudian berlari menuju tempat parkir.


Aku hampir tak mendengar ketika sekretaris ku berteriak, "pak, tangannya berdarah...pak," aku meninggalkan dia yang berlari berusaha mengejarku dan mengingatkan tanganku yang berdarah. Peduli setan, aku harus kembali menemui Rumi. Kamu tidak boleh melakukan ini padaku Rum, tak akan aku ijinkan kamu seenaknya begini!!


...***...


Nah lo gimana rasanya itu


Ditinggal pas sayang-sayangnya


Sakit kan Han...


Terimakasih buat kalian yang tetap setia menanti kisah Rumi ya


Jan lupa like, komen dan vote


Memberi hadiah juga boleh.


Terimakasih bagi yang sudah bersedia memberi hadiah, bagi yang belum aku akan setia menunggu hadiahnya, seperti kalian yang setia menanti kelanjutan cerita ini.


lope you all🥰😘❤️

__ADS_1


__ADS_2