
"Ngapain kamu pengen punya sosmed?" Yuni duduk di kursi meja rias sedangkan aku duduk bersandar di tempat tidur.
"Kamu mengikuti suamiku kan Yun melalui salah satu aplikasi sosial media?" tanyaku langsung pada pokok permasalahan. Aku tahu sejak dulu Yuni sudah aktif bermedia sosial, dan kami saling kenal sudah sejak lama.
"Hmmm, iya sih," alis Yuni bertaut, "emang kenapa?"
"Kamu pasti tahu kan dia sekarang ada dimana?"
"Ya...kurang lebih, kamu kenapa sih? kamu masih mikirin Raden mas edanmu itu?!" mata Yuni menunjukkan ketidaksukaannya.
"Bukan, bukan begitu," aku hampir melunak karena ucapan Yuni, "sekarang kamu buka sosmed mu," tapi kemudian aku ingat kalau aku penasaran dimana mereka sekarang dan sedang melakukan apa.
"Buat apa?!"
"Aku cuman ingin tahu," suaraku kubuat sedatar mungkin.
"Okay," Yuni mengeluarkan ponselnya. Dia menyentuh salah satu aplikasi berbagi foto yang terkenal dan membuka foto-foto milik suamiku, "Nih!"
Aku mengambil ponsel Yuni, menggerakkan jariku keatas dan kebawah. Aku membuka foto pada tanggal sebelum Mas Han menikah. Hampir tidak ada foto diri yang diunggah. Hanya ada foto kegiatan karyawan kantor, itu pun tidak banyak.
Kemudian aku melihat foto-foto terakhir, awalnya aku kira masih sama, tidak ada foto diri atau keluarga, ternyata aku salah. Ada satu foto yang memperlihatkan empat orang berdiri sejajar, aku pikir itu bapak, mas Han, Sekar dan ibu. Setelah aku amati lelaki yang satunya bukanlah bapak tapi Lek Broto kalau tiga yang lain penglihatan ku benar.
Ada satu foto lagi, foto ketika aku sedang berdiri di halaman rumah. Ini fotoku beberapa hari yang lalu. Aku yakin karena baju yang aku pakai baru dibelikan oleh ibu. Siapa yang mengambil fotoku, kalau Mas Han rasanya tidak mungkin, dia pasti sudah pergi.
"Kenapa Rum?"
Aku menggeleng, "entah Yun, aku aneh saja dengan foto ini."
"Foto apa? yang mana?" tanya Yuni bertubi.
"Ini," aku tunjuk foto yang kumaksud, "ini bajunya baru, dan aku yakin aku baru memakainya beberapa hari yang lalu."
"Yakin Rum?"
"Hmmm," berarti ada salah satu keluarga yang ada disekitar rumah, "apa mungkin...bapak?"
"Rum, mau kemana?!" teriak Yuni, aku sudah berjalan cepat keluar rumah.
Dalam kepalaku hanya ada bayangan satu orang. Kalau keluarga tidak menyuruh orang lain untuk mengintai aku, hanya bapak satu-satunya orang yang tinggal dan tidak ikut pergi.
Langkahku berujung di depan pagar. Yuni berhenti disebelahku. Kami melihat kanan kiri jalan barangkali ada mobil yang berhenti dan mencurigakan.
"Kamu pikir bapaknya Raden mas edanmu ada di daerah sini?" tanya Yuni setengah mencibir.
Aku melirik, "nggak usah begitu bibirnya," aku pukul bibir Yuni pelan, "kamu tidak kenal siapa bapak, jangan anggap semua orang di rumah itu sama saja."
"Heleh, kalaupun beda, pasti perbedaannya tipis Rum, orang mereka bapak anak."
Aku tidak membalas perkataan Yuni, "sudah sana, mendingan kamu pulang, nanti kemalaman."
"Aku beberapa hari ke depan masih ada disini, begitu juga dengan Juna, khawatir sama kamu, kalau kamu tiba-tiba melahirkan, ntar nggak ada yang bantuin ibu."
Aku tersenyum, memeluk bahu Yuni erat, "makasih ya, hehehe."
"Malam ini aku tidur disini ya, males aku balik lagi ke hotel, jauh."
"Iya."
Kami berjalan kembali masuk rumah. Ternyata perkiraan ku salah, tidak ada siapapun di depan rumah. Sepanjang malam aku masih memikirkan foto yang ada di laman medsos milik Mas Han. Aku yakin kalau foto itu diambil belum lama ini.
Entah mengapa malam ini tidurku tidak nyenyak. Berkali-kali aku merasakan ingin buang air besar atau kecil. Sampai aku harus bertukar tempat dengan Yuni, aku tidur di pinggir dan Yuni tidur di pojok menghadap dinding.
__ADS_1
Karena takut terjadi apa-apa, tepat pukul tiga dini hari aku membangunkan sahabatku yang sedang lelap.
"Yun, bangun..." aku goyang tubuhnya pelan. Aku khawatir akan membangunkan ibu.
Mata Yuni hanya terbuka sedikit kemudian menutup lagi, "Yun...bangun," aku coba lagi, tapi gagal juga, Yuni melakukan hal yang sama seperti tadi. Ingin aku bekap saja dengan bantal mulutnya yang menganga itu.
Aduh...masa iya aku harus membangunkan ibu. Kalau Yuni tidurnya seperti mayat begini, satu-satunya jalan memang harus membangunkan ibu.
Tidak...jangan...biar aku coba sekali lagi, kasihan ibu, aku dekatkan bibirku pada bagian telinga, bukan dengan bisikan tapi dengan suara yang jelas dan tegas, "Yun bangun," sambil aku gigit sedikit telinganya.
"Apaan sih ah...sakit tahu..." haduh Yuni malah teriak.
"Ssttt...diam, kasihan ibu," aku meletakkan jariku di depan bibirku.
"Kamu sih, apa?! sakit tahu telingaku."
"Yun, perutku sakit..." aku meringis menahan sakit, keringat mulai muncul di dahi.
Yuni langsung mengambil posisi duduk, merambat turun dari ranjang dan bergegas keluar kamar.
"Kamu mau kemana?!" ucapku melotot.
"Membangunkan ibu," jawabnya datar.
"Jangan dulu, aku cuman pengen ditemani."
"Gila...!! kamu pikir aku berani menemani kamu sendirian, itu anak mau brojol," tanpa mempedulikan aku lagi Yuni mengetuk kamar ibu.
"Bu..., Bu...," hanya butuh dua kali memanggil dan mengetuk pintu ibu sudah menjawab.
"Hmmm..."
"Hmmm, minta keluar kemana?" jawab ibu konyol, mungkin nyawanya masih belum terkumpul sempurna.
"Ya minta keluar dari perut ibunya lah Bu, emang anaknya Rumi sekarang sedang ada dimana?" aku memukul lengan Yuni.
"Apa!! anaknya Rumi," jebrak...suara keras benturan terdengar.
"Hua...hua...."
"Rum...kamu gak apa-apa?"
"Rumi, nggak papa Bu."
"Lah yang nangis siapa?!"
"Itu," aku menunjuk ke arah Yuni yang terjengkang di belakang ibu karena pintu kamar ibu yang tiba-tiba terbuka.
"Walah Yun, maafkan ibu ya," aku tertawa kecil. Ibu membantu Yuni yang sedang menutup erat hidungnya berdiri.
Tiba-tiba ada cairan merah menetes, ibu makin heboh di pagi buta, "Yun hidungmu kenapa Nduk?!"
Yuni meringis sambil menahan tangis.
"Lah ini darah siapa yang ada dilantai, perasaan darahmu kan cuman netes Yun..."
Aku melihat kebawah, "bu, aku berdarah."
"Walah Gusti, kamu gak pakai dalaman to Rum."
Aku menggeleng, "Lah iki piye sapa sing ditulung sik."
__ADS_1
[Lah bagaimana ini, siapa yang harus ditolong dulu]
Tangan Yuni menunjuk padaku, "Hidung saya tidak apa-apa Bu, kita bawa Rumi ke Rumah sakit dulu, saya mual lihat darahnya Rumi yang netes begitu, huekkk..."
Yuni berlari ke kamar, mengambil tas dan kunci mobil. Ibu juga berlari ke kamar mengambil tas yang sudah kami siapkan tadi. Aku yang pusing lihat ibu dan Yuni mondar-mandir memilih duduk sambil terus tarik dan buang napas.
"Yun, kamu siapkan mobil."
"Siap Bu," Yuni bergegas keluar sambil menutup hidungnya dengan sapu tangan.
Ibu mendekati aku, "ayo Rum jalan pelan-pelan, sakitnya sudah sering apa masih jarang?" tanya ibu.
"Cukup sering, semalam berkali-kali mulas Rumi buat ke kamar mandi, Rumi pikir Rumi pengen buang air besar."
"Ngawur kamu, bagaimana kalau bayimu keluar di WC, haduh amit-amit."
Yuni sudah siap dengan pintu mobil yang terbuka, aku melirik jam sudah pukul empat pagi. Aku terus berdoa kalaupun hari ini aku melahirkan, agar diberi kelancaran dan keselamatan.
"Masuk kamu," ibu memintaku masuk lebih dulu, setelah itu ibu yang masuk. Baru akan memasukkan satu kaki ada seseorang mendekati kami."
"Jeng, mau kemana?" aku ikut melihat kearah asal suara. Ibu tidak bisa menutupi keterkejutannya.
"Kang mas...kenapa disini?" ternyata bapak yang mendekati kami.
"Ceritanya panjang, ini mau kemana?"
"Kang mas ikut saja, ayo...Ini Rumi mau melahirkan."
"Sebentar," bapak menjauhi mobil kami.
Di temaramnya cahaya malam aku melihat sosok wanita tengah baya tergopoh-gopoh mendekati mobil kami.
"Ndoro Putri.." teriak mbok Nah.
"Ayo mbok langsung masuk," pinta ibu.
Setelah semua di dalam mobil. Yuni segera melajukan mobilnya dengan cepat.
"Yun, hati-hati," teriak ibu berkali-kali.
"Yuni nggak mau anaknya Rumi lahir di mobil Bu," teriak Yuni kencang.
"Kalau mobilmu dipakai orang melahirkan, itu namanya rejeki tahu Yun."
"Rejeki sih rejeki Bu, tapi saya nggak sanggup lihat darah, huekkk," mobil pun membelah jalanan dengan kecepatan tinggi.
Mbok Nah memeluk tubuhku erat sambil terus merapalkan doa.
"Mbok Nah kenapa disini?" tanyaku sambil meringis.
"Biar nanti Ndoro Sepuh yang cerita. Sekarang Ndoro putri banyak doa biar nanti lancar melahirkan."
Pagi ini menjadi catatan tersendiri dalam hidupku. Betapa orang-orang yang benar-benar mencintaiku sekarang ada disisiku. Aku menyentuh perutku sambil berucap, "bantu bunda ya sayang, nanti kamu ikut dorong, biar kamu bisa segera melihat orang-orang yang sayang sama kamu."
...***...
Terimakasih sudah setia ya...
Jangan lupa like, share dan komen.
Lope you all 🥰❤️😘
__ADS_1