
"Sini kamu, mama aku aja gak pernah nyentuh seujung rambutku pun!" teriak Yuni dengan nada marah.
"Kamu seenak jidatmu aja lempar bantal sampe kena muka aku!" kaki Yuni bergerak hebat ingin melepaskan diri dari pelukan tangan Mas Juna.
"Kamu sih mas, sudah tahu Yuni itu kalau sama kamu emosian terus, kamu malah godain," bisikku membiarkan mas Han sembunyi di belakang kursi yang aku duduki.
"Jangan kamu lindungi ya Rum. Dasar Raden mas edan, seenaknya saja lempar bantal!"
"Rum, disini saja jangan kemana-mana!" kata Mas Han dengan suara pelan.
"Yun maaf, nggak sengaja, maksudku tadi cuman bercanda. Kamu kalau sama aku marah melulu," Mas Juna memegang tanganku erat, sampai aku menempel erat di kursi tidak bisa bergerak.
"Lepasin Jun, lepas nggak!" kali ini mas Juna jadi sasaran teriakan Yuni.
"Aku lepasin, tapi kamu tenang dulu, jangan kaya anak kecil begini, umur udah kepala tiga masih saja seperti anak kecil!"
"Iya...iya, lepasin!" Yuni menghela napas beberapa kali. menyelipkan rambutnya ke balik telinga.
Kita pikir Yuni sudah tenang tapi dia malah lari lagi mendekati Mas Han. Karena takut, Mas Han melepaskan tangannya dari tanganku dan berlari menuju pintu. Aku hanya bisa tertawa melihat tingkah keduanya.
"Jangan lari kamu!" teriak Yuni mengejar Mas Han.
Sampai di pintu tiba-tiba Mas Han berhenti. Yuni yang berdiri tepat di belakangnya memukul punggungnya dengan keras.
"Aduh," teriak mantan suamiku keras, "Yun, berhenti dulu!"
"Pak ada keributan."
Ternyata Pak Budi berdiri tepat di depan pintu.
"Keributan apa?" tanya Mas Han.
Dari kejauhan kami memang mendengar suara teriakan minta tolong.
"Ada apa pak?" kami berlari ke arah asal suara.
Di depan pintu ruang bermain anak-anak, Mbok Nah sedang menarik rambut suster Eny. Kepala perawat itu sampai tertarik ke belakang, sedangkan tangan Suster Eny memegang rambut yang dekat dengan kepala.
"Maaf, mbok, maafkan saya, aduh mbok, lepaskan rambut saya, sakit..." teriak Suster Eny minta rambutnya dilepaskan.
Lita mulai menangis melihat orang yang selama ini dia anggap sebagai ibunya sedang dianiaya.
Aku berlari, "mbok lepaskan mbok lepaskan," teriakku.
"Ndak mau Ndoro, perempuan seperti dia ini musti dikasih pelajaran. Sejak dari rumah, saya berusaha menahan diri. Kalau bisa saya tadi mau berjalan saja dari rumah, saking ndak sabarnya hati saya."
"Mbok Nah," terdengar suara Pak Dul dari arah belakangku, "ojo ngunu to, ora apik."
__ADS_1
[jangan begitu, tidak baik]
"Ora lilo aku Dul, ora lilo. Sakke bocah cilik kas Lo, sakke."
[Tidak rela aku Dul, tidak rela kasihan anak kecil itu lo, kasihan]
Mbok Nah terus berteriak dengan nada tinggi.
"Lah kalau mbok Nah begini dia jadi tambah kasihan, lihat itu anaknya nangis, takut." Pak Dul berusaha menenangkan.
Lita sudah berada dalam gendonganku. Wajahnya disembunyikan dibalik bahuku sambil sesenggukan. Mas Han hanya melihat, sepertinya dia memang membiarkan, tidak punya niat untuk melerai atau melakukan sesuatu.
Mendengar kalimat Pak Dul. Napas mbok nah yang awalnya cepat mulai teratur. Matanya melihatku yang sedang menggendong Lita. Aku memberi dia senyum.
Perlahan rambut Suster Eny dilepaskan. Suster Eny juga menangis. Entah karena merasa bersalah atau merasa kesakitan rambutnya tadi ditarik.
Tiba-tiba dia berlutut, "maafkan saya, saya tahu saya salah tapi kan saya sudah janji untuk menebus kesalahan yang pernah saya lakukan."
"Saya sangat mencintai Lita mbok. Suami saya meninggalkan saya karena saya tidak bisa punya anak. Karena itu saya ingin berubah, saya rela pergi dari Lita kalau dia mendapatkan kasih sayang yang lebih baik dari yang saya berikan," ucap suster Eny menangis.
Aku berjalan mendekati Mbok Nah, mengulurkan Lita yang berada dalam gendonganku. Tapi Lita malah mengeratkan pelukannya padaku karena takut, dia tadi melihat semuanya.
"Lihat mbok, Lita jadi takut sama Mbok Nah, bagaimanapun di mata Lita sekarang ini, suster Eny adalah ibunya."
Mbok Nah mengangguk, "saya ke ruangan Ndoro putri saja menenangkan diri."
Aku mengangguk kemudian berjalan mendekati mantan suamiku, "bawa Lita ya mas."
Aku mendekati suster Eny. Membantunya berdiri dan memapahnya berjalan menuju ruang pegawai. Aku minta dia duduk sembari menungguku menyiapkan kotak obat.
"Maafkan sikap Mbok Nah."
Kepala wanita itu menunduk dalam.
"Baginya Lita itu seperti cucu. Anda seperti merenggut kebahagiaan cucunya."
"Dia baru kami beritahu tadi pagi, jangan diambil hati ya. Mbok Nah itu hanya orang tua yang dipenuhi rasa cinta kepada majikannya."
"Jadi ketika orang lain menyakiti majikannya, itu sama saja dengan menyakiti dirinya sendiri."
Kotak PPPK kubuka. Aku keluarkan cairan refanol, kapas dan obat merah. Beberapa kali wajah suster Eny mengernyit menahan sakit ketika kapas yang sudah kubasahi dengan refanol menempel pada beberapa luka cakaran di wajah dan tangannya.
"Saya tahu, tapi saya sedih karena Lita melihat semuanya, dia juga mendengarkan segala umpatan yang diucapkan Mbok Nah pada saya Bu."
"Tenang saja, Lita masih terlalu kecil untuk mengerti. Memorinya belum bisa menyimpan sebuah peristiwa dalam jangka panjang."
Entah apa saja yang dilakukan Mbok Nah, tapi aku juga menemukan beberapa luka lebam kebiruan.
__ADS_1
Aku kembali berjalan mendekati lemari obat. Mengambil kantung pengompres kemudian mengisinya dengan es batu.
"Dikompres itu pipinya biar lebamnya hilang."
Selesai merawat luka suster Eny aku duduk di depan pegawaiku itu.
"Apa Sekar menghubungi kamu lagi?" tanyaku hati-hati.
Matanya yang biasanya tajam dan penuh percaya diri kali ini melihatku dengan tatapan sayu.
"Iya, dia mengirimi saya pesan."
Wanita itu menyerahkan ponselnya padaku. Disana memang ada sebuah pesan masuk dari Sekar.
Untuk sementara aku tidak membutuhkan anda. Tapi kalau saya butuh bantuan jangan pernah menolak perintah dariku.
Perempuan ini kurang ajar sekali. Masih saja mengirim pesan dengan nada ancaman begini.
"Tetap bersikap baiklah padanya. Terima apapun tugas yang diberikan Sekar untukmu karena kita perlu mengetahui agar bisa mencegah kemungkinan terburuk."
Suster Eny mengangguk. Aku minta dia untuk beristirahat selama beberapa hari sampai lebamnya hilang. Aku bilang untuk sementara Lita akan aku bawa pulang agar dia tidak melihat orang yang dianggap ibunya sedang sakit.
Awalnya suster Eny menolak tapi dengan sabar aku memberi pengertian kalau kami tidak akan sejahat itu memisahkan dia dengan Lita. Akhirnya dia menurut dan mengerti.
Suster Eny juga yang menyiapkan beberapa potong baju untuk aku bawa pulang, hanya sampai dia sehat kembali.
Aku kembali ke ruangan kerjaku dengan membawa tas milik Lita. Aku ceritakan pada semuanya tentang pesan dari Sekar yang tadi aku baca di ponsel suster Eny.
Mendengar itu syaraf di pelipis Mas Han mengeras dan terlihat menonjol menandakan pemiliknya sedang berusaha menahan emosi.
Mbok Nah masih tertunduk, "maafkan saya Ndoro Putri, saya geregetan tidak bisa menahan diri."
"Memangnya tadi Sekar diapain saja sama Mbok Nah sampai ancur gitu, banyak bekas cakaran sama beberapa lebam."
"Sebenarnya tadi saya mau biarin saja Ndoro Putri, tapi matanya itu seperti nantang gitu Lo."
"Ya akhirnya tak datangi, pipinya yang mulus itu tak tampar dua kali kanan kiri. Terus tangannya tak pegang, kalau kena cakar ya saya ndak tahu, namanya juga emosi, wong saya ndak ngerasa kalau nyakar."
"Waktu dia minta ampun, saya makin semangat, ya sudah, rambutnya tak jambak sampai kepalanya ikut kebawah."
"Wes pokoke geregeten aku."
Mbok Nah cerita berapi-api sambil memeragakan semua yang dia lakukan. Tangannya bergerak ke kanan dan ke kiri bergantian, sesekali membuat gerakan meremas di udara. Kadang bibirnya mengerucut lucu. Haduh, tidak mengira wanita lemah lembut seperti Mbok Nah kalau marah mengerikan begitu.
"Wo alah mbok. Kalau matanya suster Eny ya memang begitu, sudah bunder kalau ngelihat memang pandangannya tajam seperti mau nantangin orang ya," jawabku tersenyum.
"Iya, makanya saya emosi."
__ADS_1
Aku memang bicara dengan Mbok Nah, tapi sesekali aku melirik Mas Han dan Mas Juna yang berbicara dengan mimik wajah sangat serius. Kalau Yuni biasa, dia sedang sibuk bercanda dengan dua bayi yang sekarang ada di ruangan ku. Hatiku mulai bertanya-tanya apa yang sedang direncanakan dua lelaki itu ya?
...***...