Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 55


__ADS_3

Hari ini menjadi hari bersejarah dalam hidupku. Baru sekarang setelah bertahun-tahun aku akan bekerja. Senyumku terus mengembang tanpa bisa aku tahan, mematut diri di depan cermin menjadi salah satu aktifitas favoritku akhir-akhir ini. Kalau dulu aku selalu melihat tubuh yang sempurna, kali ini aku melihat tubuh yang terisi penuh dengan perut menonjol.


"Bantu bunda kerja ya sayang," ucapku di depan cermin sambil mengelus perut gendutku.


Setelan kerja yang dibelikan ibu hari ini akan kupakai. Ibu memang jago dalam hal perbajuan. Selain harganya yang tidak terlalu mahal, bahannya juga nyaman dipakai oleh orang hamil yang notabene gampang gerah seperti aku.


"Kita tunggu Tante Yuni ya sayang," aku berjalan ke depan mendekati ibu yang sudah mulai aktifitas menjahitnya.


"Tinggal tunggu Yuni, Rum?" tanya ibu tanpa melihat padaku, mata ibu fokus pada baju yang sedang dijahit.


"He'eh."


Ibu meletakkan jahitannya, merendahkan kaca matanya sampai hidung dan memandangku sambil tersenyum, "ibu sudah menunggu saat seperti ini bertahun yang lalu."


Aku berdiri berjalan mondar-mandir depan ibu sambil memperlihatkan gayaku, "anak ibu cantik kan?!"


"Sangat."


Belum juga jarum jam beranjak ke menit berikutnya, terdengar deru mobil berhenti di depan rumah. Yuni keluar dari mobil yang diparkir depan pagar.


"Assalamualaikum," si kaleng rombeng teriak nggak kira-kira di depan pintu.


"Waalaikumsalam, kamu kira-kira kenapa kalau mengeluarkan suara, itu kaca rumah bisa pecah tahu."


"Sudah sarapan Yun? makan dulu kalau belum," ibu memang selalu baik sama siapa saja, apalagi aku berteman dengan Yuni sudah lama.


"Nggak usah Bu, dia kan ibu bos...biar nanti kami makan di luar, ayo!" ajakku nggak sabar.


"Eh...enaknya aja. Nggak baik tahu menolak rejeki," Yuni merangkul tangan ibu, tidak mempedulikan omonganku, "emang ibu masak apa, aku mau sarapan masakan ibu aja," keduanya berjalan menuju meja makan.


"Nasi goreng sama telur mata sapi, ada tomat, timun, kerupuk juga, tapi kerupuknya bukan kerupuk udang, mau nggak?"


"Widih...mau dong."


Yuni duduk sambil mencomot sepotong timun dan kerupuk. Ibu mengambilkan piring dan sendok untuk kami, "belum makan kamu?" tanya Yuni waktu ibu membawakan dua buah piring.


"Belum."


"Eh...jangan ngawur kamu, aku nggak mau pegawaiku pingsan karena belum makan waktu kerja!" mata Yuni melotot, cara bicaranya nyolot, membuatku mengkerut.


"Iya ini makan."

__ADS_1


Kami berangkat setelah menyisakan hanya satu piring nasi goreng dan mentimun, tanpa telor mata sapi atau kerupuk. Kasihan ibu kebagian nasi goreng hanya dengan lauk kerupuk hehehe...


Sampai di lokasi, Mas Arjuna kelihatan serius memberi arahan pada bawahannya mengenai progres pembangunan.


"Gimana Jun?" tanya Yuni menepuk bahu Mas Juna.


"Hai, kalian sudah datang," Mas Juna memandangku sambil tersenyum.


"Kamu! yang datang berdua, aku yang nyapa, itu mata lihatnya ke arah Rumi doang," sungut Yuni.


"Lah mau gimana lagi, mata aku memang dua, tapi cuman bisa fokus pada satu hal di satu waktu."


"Sehat Rum?" lanjut Mas Juna.


"Sehat," jawab Yuni menyela ketika aku akan memberikan jawabanku.


"Sialan kamu," aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka yang dari dulu tidak pernah akur.


"Kagak tanya gimana oroknya?"


"Nggak, ntar kamu lagi yang jawab. Sudah pada makan belum, sudah makan Rum?"


"Sudah," sambar Yuni lagi.


"Ah...bener-bener, ayo kita ke kantor, kita lihat as built drawing nya."


"Aku nggak paham lihat beginian," ucapku ketika melihat gambar-gambar yang tidak aku mengerti ketika kami sudah berada dalam ruangan Mas Juna yang dibangun semi permanen, "aku tahu jadi aja."


"Eh, nggak bisa gitu, nanti kamu yang banyak di sini, aku cuman datang sekali-sekali aja. Sekarang kamu musti ikut mikir harus ada ruangan apa aja kalau nanti akan ada sekolah. panti dan kantor buat yayasan, aku juga maunya ada sebuah gedung serba guna biar bisa jadi pemasukan buat disewa-sewakan, di daerah ini aku lihat nggak ada gedung yang bisa disewakan kaya gitu."


Aku merengut, tapi akhirnya aku melihat rancang bangun yang dibuat Mas Juna.


"Kalau maunya ada banyak gedung seperti itu yang musti diperhatikan adalah batas tiap gedung harus jelas," ucapku.


"Jangan sampai nanti anak panti kesehariannya kecampur sama anak yang sedang sekolah, apalagi kalau ada orang yang nyewa gedungnya, bisa bahaya, pengawasannya bisa susah," ucapku.


"Kalau masalah itu sudah aku pikirin, kantor untuk yayasan aku jadikan satu bagian dengan panti, kalau untuk sekolah ya khusus untuk lingkungan sekolah plus ruang guru sedangkan untuk gedung aku sendirikan. Lahan parkir buat panti sama gedung aku jadikan satu, kalau untuk sekolah tempat parkir ya di area sekolah. Untuk sementara gedung sekolah kita sesuaikan dengan kebutuhan dulu."


"Kamu rencananya sekolahnya mau sampai tingkat apa Yun?" tanyaku. Karena Yuni belum mendiskusikan masalah ini denganku.


"Pendidikan dasar saja dulu, SD sama SMP dulu, ntar kalau berjalan lancar baru kita pikiran lanjutannya."

__ADS_1


"Berarti paling nggak kita musti punya enam ruang kelas saja dulu untuk SD, kan sementara pastinya kita cuman butuh satu ruang kelas untuk ditempati. Ruang kelas lain yang sementara ini belum terpakai bisa kita pinjamkan untuk kegiatan anak prasekolah yang biasanya memanfaatkan gedung balai RW."


"Boleh, intinya begini, aku maunya penduduk sekitar musti mendapatkan kemanfaatan maksimal. Nanti aku juga akan buka kantin buat ibu-ibu yang mau jualan. Anak-anak kan juga butuh jajanan. Ntar itu tugas kamu sebagai ketua yayasan mengkoordinir semuanya. Siap kan kamu?!"


"Siap lah...aku tertantang dan seneng banget dengan rencana kamu. Ini di otakku sudah muncul beberapa hal yang ingin aku realisasikan, tapi untuk sementara aku mau Mas Juna selesaikan dulu bagian gedung yang dipakai buat panti, biar bisa segera dimanfaatin. Kemudian geser ke gedung sekolah sambil menyelesaikan gedung serba gunanya. Lagi pula untuk menerima siswa baru kan kita musti nunggu tahun pelajaran baru, dan itu kurang lebih masih sembilan bulanan lagi."


"Nah kalau begini jelas semuanya, kita ngikut ibu ketua yayasan saja gimana Yun?" ucap Mas Juna, aku jadi malu, gedungnya saja belum jadi, tapi sudah dipanggil pakai sebutan ibu ketua yayasan.


"Iya lah...aku mah tahunya beres. Kamu nggak usah mikirin masalah keuntungan, karena aku nggak cari untung untuk proyekku yang ini, aku sudah bilang kan...yang penting kemanfaatannya maksimal. Kalau kamu perlu dana untuk operasional, kamu cuman perlu buat proposal okay!"


"Idih, jalan aja belum, yang penting gedungnya jadi dulu."


"Satu lagi, mulai besok aku bakal kurangi jatah buat datang kemari," kalimat Yuni membuatku sedikit kecewa.


"Lah, terus gimana, siapa yang bakal ngebantu Mas Juna?"


"Ya kamu lah, gimana sih, kamu musti sering-sering diskusi sama Mas Juna mu ini, nggak usah sungkan, semua pembiayaan sudah ada itungan antara dia sama aku."


"Oh begitu, iya deh, aku bisa naik motor kesininya, toh nggak begitu jauh juga."


"Eh...jangan ngawur kamu!" suara Yuni yang cempreng berteriak keras di telingaku, "Juna musti jemput kamu kalau pas kamu pengen lihat perkembangan pembangunan ini gedung, nggak boleh naik motor sendiri."


"Apaan sih...aku baik-baik saja tahu Yun, aku sehat, anakku juga mulai kuat dalam perut aku," gimana sih Yuni, kan jadi merepotkan orang lain kalau Mas Juna musti antar jemput aku.


"Nggak...lagian kan kamu gak musti datang tiap hari, nanti yang atur biar si Juna, kapan dia musti datang jemput kamu buat lihat perkembangan gedungnya."


"Iya, aku nggak papa juga kok jemput kamu, tiap hari juga nggak keberatan," ucap Mas Juna sambil nyengir.


Yuni melihat Mas Juna sambil melotot, "jangan macem-macem kamu, dia masih istri orang," dalam sekejap cengiran Mas Juna menghilang dari bibirnya.


...***...


Yah...si Arjuna itu mah maunya kamu saja kali.


Ingin mengail di air keruh.


Mencari kesempatan dalam kesempitan.


Hahaha...


Jangan lupa like and komen ya...

__ADS_1


Kalau komen please...please...please, gunakan bahasa yang sopan dan menyenangkan.


Selamat membaca...


__ADS_2