Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 52


__ADS_3

Sisa malam aku habiskan dengan berpikir dan menimbang, apa yang sebaiknya aku lakukan. Akhirnya aku putuskan, dari pada aku bingung sendiri, aku mengetuk pintu kamar ibu lepas sholat sepertiga malam.


"Bu..." pintu kuketuk pelan.


"Hmmm..."


Baru dua kali ketukan, ibu dengan cepat membuka pintu, "kenapa Rum, apa perutmu sakit lagi?"


Aku menggeleng, aku ambil tangan ibu dan memegangnya erat, "anaknya Mas Han meninggal," ucapku pelan, meskipun aku tidak menangis tapi sekarang ini ada lubang besar tak berdarah dalam hatiku.


"Apa?!" keterkejutan ibu kelihatan jelas, sama seperti aku ketika semalam mendengar kabar dari Mbok Nah, "bagaimana bisa?"


"Rum, kamu mandi, bagaimanapun anak itu pernah hampir menjadi anakmu."


"Kita musti siap-siap untuk datang kesana, ibu ikut, ibu tidak mau mertua perempuanmu berlaku seenaknya lagi padamu."


"Mana ada angkutan ke terminal malam begini Bu?"


"Yang penting kamu mandi dulu, ibu keluar sebentar."


Aku melihat ibu keluar rumah dan aku bergegas ke kamar mandi. Aku memutuskan memakai setelan celana dan atasan longgar, kehamilanku yang sudah berusia empat menuju lima bulan makin kelihatan.


"Rum kamu temani dulu Pak Parminto di ruang tamu, ibu mau siap-siap dulu."


Pak Parminto adalah tetangga dekat kami. Orangnya baik, kebetulan juga memiliki mobil yang disewakan kepada penduduk desa yang membutuhkan angkutan.


"Pagi Mbak Rumi," orangnya gemuk dengan perut gendut, khas penampilan sopir carteran.


Aku mengambil duduk di depan beliau, "pagi Pak Par," jawabku.


"Pak Parminto mau kopi, saya buatkan kopi ya."


"Wah boleh Mbak Rum."


Pagi begini yang penting ngopi dulu karena kami akan melakukan perjalanan jauh. Mencegah kantuk datang selama kami nanti menuju rumah duka.


"Maaf lo mas Par, cuman kopi, gak ada pasangannya. Kopi kendel, tidak mungkin kita buat pisang goreng dadakan ya toh."


"Wes ndak usah repot mbakyu, kalau sudah siap kita langsung berangkat saja, keburu hawanya panas."


"Rum mana kopinya?"


"Iya Bu, ini mau dibawa kedepan."


"Kalau sudah, kita berangkat langsung ya Mas Par," lebih baik tidak membuang waktu.


"Ya sudah monggo."


Kami bertiga berangkat menjelang adzan subuh. Ya...sehebat inilah kehidupan di desa, kami tidak pernah keberatan untuk saling membahu, tidak peduli waktu, kami siap dua puluh empat jam tanpa pamrih membantu siapapun yang membutuhkan.

__ADS_1


Perjalanan empat jam kami tempuh dengan lancar. Sholat subuh kami lakukan dalam perjalanan, berhenti sebentar di salah satu masjid yang kami temui. Makan pagi pun kami lakukan dalam mobil. Untuk Pak Parminto, biar dia makan pagi nanti setelah kami sampai di tujuan, itu pun atas permintaan beliau.


Sampai di rumah duka, suasana tidak begitu ramai. Sedikit heran menggelayut di hati, apa mungkin jenasah calon anakku sudah dimakamkan?


Ibu menggenggam tanganku erat. Memasuki pintu rumah, aku tidak melihat Mas Han dimanapun.


"Rum," hanya bapak yang menyambut kami.


"Bapak...maafkan Rumi," aku mencium punggung tangan bapak. Bapak memelukku hangat dan menepuk punggungku beberapa kali sambil membisikkan kata, "jaga anakmu baik-baik nduk."


"Nggih pak," aku mengangguk.


"Mantuku sing ayu dewe teko, hmmm...hebat, kok wani kowe mrene, keluarga kene ora butuh kowe Rum, ra usah sok apik kowe, sok sedih."


[mantuku yang paling cantik datang, hmmm...hebat, kok berani kamu datang, keluarga disini tidak butuh kamu Rum, tidak usah sok baik, sok sedih]


Aku terkejut dengan sambutan ibu yang keluar dari kamar, tapi tidak lagi kaget dengan omongannya. Kalau dulu diam aku anggap sebagai bentuk pengabdian, kalau sekarang diamku adalah bentuk dari pengabaian ku atas keberadaan ibu.


"Bu!!" suara bapak yang keras membuat ibu menutup mulutnya, satu hal baru yang selama ini belum pernah kulihat, bapak bisa membuat ibu diam lalu berjalan balik masuk ke kamar sambil cemberut.


Hal lain yang membuat aku tidak terpancing adalah ibuku yang berdiri di sebelahku dan sedang menggenggam tanganku menunjukkan ketenangan yang luar biasa.


Ibu memilih duduk di dekat bapak, jadi aku mengikutinya. Samar-samar aku mendengar ibu dan bapak saling bicara.


"Bagaimana kejadiannya kang mas besan?"


"Saya juga tidak paham jeng, Sekar itu membuat keputusan sendiri, menjadwal operasi tidak bilang Nehan, dokternya juga bukan dokter keluarga, Rumah sakitnya juga kita tidak tahu, tahu-tahu kita di telepon pihak rumah sakit bayinya sudah meninggal, sudah disucikan dan tinggal dimakamkan. Nehan saja tidak bisa lihat anaknya. Hanya saya dan ibunya yang melihat. Maunya kami menunggu sampai Nehan datang, tapi Sekar ngotot minta segera dimakamkan, kasihan anaknya katanya."


"Apa Sekar tidak bilang sebab kematiannya apa?"


"Kata pihak rumah sakit, karena infeksi yang berasal dari tali pusarnya, bakterinya jahat jadi hanya membutuhkan waktu beberapa jam langsung meninggal."


"Assalamualaikum," aku segera memutar kepala, aku tahu itu suara Mas Han.


Benar saja, dia datang, pakaiannya masih sama dengan yang dipakai kemarin, tampangnya makin kusut dan lusuh, sepertinya tidak tersentuh air mandi. Aku melihat ibu meminta ijin tanpa suara, waktu ibu mengangguk aku segera berdiri.


"Bapak, Rumi mau menemani Mas Han sebentar."


Bapak mengangguk, "jangan dengarkan kalau ibu nya Han omongannya ngawur ya Rum."


Mas Han berhenti di pintu, tahun-tahun yang menautkan hati kami membuat tubuh kami reflek saling mendekat. Aku mengulurkan tangan dan Mas Han menyambutnya hangat.


Kami berjalan bersisihan masuk kamar lama mas Han. Berada dalam kamar, hatiku berdebar, aroma tubuh Mas Han menguar memenuhi ruangan. Tidak ada yang berubah dalam kamar ini, foto yang terpajang juga sama, foto pernikahan kami. Posisi almari, sofa, semuanya tetap sama.


Mas Han melempar dirinya di sofa, aku mendekat dan duduk di sisinya. Tangannya merengkuh tubuhku, suamiku menyembunyikan kepalanya di dadaku, napasnya makin lama makin berat, kemudian aku mendengar Isak pelan dan bahu yang berguncang.


Aku menyambut tubuhnya dan memberinya pelukan untuk menenangkan. Kepalaku mendongak keatas mencegah agar air mataku tidak menetes keluar. Kali ini bukan giliranku untuk menangis.


"Maafkan aku Rum, aku bukan ayah yang baik, aku kehilangan bayi yang dulu pernah kita nantikan kehadirannya. Banyak rencana yang sudah aku buat untuk kita bertiga dan kedua anak kita," ucapnya sambil terus menyembunyikan kepalanya.

__ADS_1


"Mandi dulu mas," aku lepas pelukannya, dia masih menundukkan kepala waktu tubuh kami saling lepas, kubuka almari lalu mengambil pakaian untuk ganti.


Tangan Mas Han aku ambil, sedikit kutarik memaksanya untuk berdiri. Mendorongnya perlahan menuju kamar mandi.


"Selesai mandi aku akan mencukur jambangmu," tidak ada jawaban tapi Mas Han akhirnya masuk kamar mandi.


Aku menunggu dengan sabar sambil kembali mengamati kamar. Berarti selama ini Sekar tidak pernah bermalam di kamar ini. Apa dia tidak pernah bermalam? atau kalau dia bermalam dia tidur di kamar tamu?


Mas Han keluar dengan tubuh lebih segar. Dia hanya mengenakan handuk untuk menutup tubuh bagian bawahnya. Hatiku berdebar hebat,aku memutar badan agar tidak melihat pemandangan yang sekarang sedang terpampang di depanku.


"Kenapa bajunya tidak dipakai mas, tadi kan sudah dibawa ke kamar mandi?"


"Lupa."


Lupa...lupa? apa dia sengaja melakukan ini untuk memancingku, aku melirik pintu akan melarikan diri, baru akan mendekati pintu kaki Mas Han lebih dulu sampai dan mengunci pintu kamar, ketika terdengar suara "klik" jantungku rasanya jatuh ke dasar perutku.


"Kenapa kamu membelakangi ku Rum, aku masih suamimu kan?!" terdengar napas yang berat dan memburu, suara dengan nada rendah, suara yang begitu aku kenali ketika bergairah.


"Banyak yang harus kita selesaikan lebih dulu mas, terutama untukku, aku tidak bisa lagi mentolerir kalimat-kalimat yang diucapkan ibu."


"Tck..." Mas Han berdecak, "ini hidup kita, harusnya kita yang atur," aku melihat handuk terlempar di lantai dekat kakiku, dia sengaja, batinku.


"Benarkah kita bisa mengatur hidup kita sendiri?" hatiku makin berdebar, aku dengar langkah kaki mendekat, dan aku berjalan maju mendekati dinding untuk menjauh.


"Balik badan Rum, apa kamu takut aku akan memperkosamu? atau kamu yang tidak percaya diri akan mampu menolakku?"


Dua-duanya mas—dan tentu saja kalimat itu tidak kukeluarkan dari mulutku.


"Tidak dua-duanya," aku menarik napas, meyakinkan diriku sendiri, kemudian aku memutar badanku tapi mata masih kututup.


"Hahaha...kamu menghiburku, ketika hatiku sedang hancur, apa yang kamu lakukan? buka matamu Rum."


Aku membuka satu sisi mataku perlahan. Bayangan buram muncul. Aku gerakkan bola mataku ke bawah melihat dalam samar apakah tubuh bagian bawah Mas Han tertutup—dan ternyata memang tertutup.


Aku berdehem lega, "ehm...," dan segera membuka kedua mataku lebar.


"Kamu lucu, sekarang kamu makin menarik karena berani membantahku, tidak seperti dulu."


Mas Han mengulurkan seperangkat alat cukur ke tanganku, kami menuju wastafel. Mas Han mengambil kursi dan aku berdiri di depannya. Tangannya memeluk pinggangku, bibirnya mencium perutku beberapa kali.


"Halo sayang, kita ketemu lagi. Hari ini ayah sedang sedih karena kakakmu meninggal," aku diam, tanganku sibuk menyiapkan alat cukur dan menunggu Mas Han mau mendongak, "tapi ayah juga bahagia karena hari ini ayah bisa memeluk kamu," tanpa permisi Mas Han memeluk perutku dan merapatkan tangannya di pinggangku.


Aku melihat puncak kepalanya, kesedihannya membuatku iba, aku letakkan alat cukur yang ada di tanganku, aku belai puncak kepalanya.


"Kamu harus kuat mas."


"Ya aku tahu, karena akan ada anakku yang lain yang membutuhkan ayahnya," untuk beberapa saat aku biarkan suamiku memeluk bagian perutku. Rupanya anakku pun senang bertemu ayahnya, aku merasakan perutku bergerak bergelombang beberapa kali, aku tersenyum bahagia.


Tiba-tiba terdengar gedoran di pintu, "Rum...ayo, jangan lama-lama di kamar berdua."

__ADS_1


Ah...rupanya singaku khawatir aku tidak bisa menahan diri. Baik...baik ibu, aku akan keluar.


...***...


__ADS_2