
Nehan POV
Hari ini hari ke tujuh aku bersama Lala. Dia masih terus berusaha untuk mendekatiku. Dengan segala cara dia merayuku agar aku kembali naik ke ranjangnya. Tapi anehnya aku mampu menolak semua rayuan wanita itu. Hebat sekali, entah kekuatan dari mana yang bisa membuatku menahan diri seperti ini.
Aku sedang memasukkan barang-barang yang ingin aku bawa pulang. Dia duduk di dekatku sambil terus bicara.
"Aku tidak akan pernah menyerah, suami," ucapnya pagi ini.
"Kamu sudah cukup sehat untuk aku tinggal La."
"Kamu boleh pergi, tapi aku akan mengejarmu sampai kau kembali padaku!" matanya tajam menusuk hatiku.
"Berhentilah merusak masa mudamu, tidak ada gunanya kamu melakukan itu."
Sedikit terdengar kejam memang. Tapi ini harus aku lakukan.
"Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu kembali dalam pelukanku!"
Hatiku jadi tidak enak, ingat Rumi dan Ken, "kamu boleh melakukan apapun asal jangan menyentuh Rumi dan Ken."
"Oh, jadi kamu lebih memilih wanita itu dari pada aku."
"Aku tidak memilih siapapun diantara kalian. Rumi menceraikanku," barang terakhir sudah masuk, packingku selesai.
"Kapan kau akan pulang?"
"Besok dengan penerbangan pertama," aku duduk di ujung tempat tidur, sedangkan dia duduk di sofa, kami saling berhadapan.
"Tidurlah denganku malam ini," dia berdiri dan berjalan mendekatiku.
"Aku akan memberimu kenangan terakhir sebelum kita benar-benar berpisah," Lala meletakkan tubuhnya diatas pangkuanku. Tangannya melingkar di leherku.
Kenangan terakhir? aku trauma dengan kenangan indah terakhir, aku ingat waktu aku menjadi gila karena Rumi memberiku kenangan yang tak pernah bisa aku lupakan, sebelum akhirnya aku menerima surat panggilan pengadilan agama.
Aku tertawa kecil, "agar aku tak bisa melupakanmu?" jawabku, aku melingkarkan tanganku di pinggangnya, "aku pasti tak bisa melupakanmu kalau sampai kau melakukan itu," dengan satu gerakan aku mengangkat tubuhku dan itu membuat Lala ikut berdiri, aku dorong pinggangnya menjauh, "karena itu aku terpaksa menolak hadiah itu darimu."
Sudut bibirnya terangkat sedikit, sebuah senyum sinis, "coba saja menolakku kalau kau bisa, suami."
Dia keluar dari kamar tamu yang kutinggali beberapa hari ini, "kalau kau bisa menghindari aku malam ini, aku akan biarkan kau pulang besok pagi," teriaknya berlalu.
Baiklah, ayo dihadapi. Ternyata apa yang dia ucapkan tidak bercanda. Tidak lama setelah dia keluar, dia kembali dengan memakai cela_na dalam dan kaos longgar tanpa penutup dada.
"Ada lagi yang mau di pack," tanyanya santai. Dia berjalan mendekat dengan gaya yang dibuat-buat. Semua bagian tubuhnya mengundang laki-laki manapun untuk datang.
__ADS_1
Aku mengumpat dalam hati, sialan! Kalau aku tidak pernah merasakan tubuh itu mungkin aku bisa mengabaikannya. Tapi ini beda, aku menikmati tubuh di depanku itu hampir dua tahun lamanya. Benar-benar menguji kesabaran.
"Semua sudah selesai di pack La," aku memilih untuk menghindar.
"Aku keluar sebentar, stok makanan kamu habis, jadi kalau besok aku pulang kamu tidak perlu repot lagi belanja."
"Apa?! aku ikut!" teriaknya. Dia bergegas mengganti baju dan menyusulku.
Banyak barang yang dia ambil, "aku harus menguras isi kantong mu suami, sebelum besok aku tak bisa lagi memanggilmu suami lagi."
Ya...ya, asal kau senang, aku tetap ingin kita dekat meskipun kita tak memiliki hubungan istimewa lagi. Bagaimanapun kita masih ada hubungan kekerabatan.
Setelah selesai berbelanja, aku berusaha untuk tidak segera kembali ke apartemen, "aku ingin mengajakmu ke tempat bermain," ajakku ketika kami sudah berada dalam mobil.
"Aku bukan anak kecil suami, dari pada ke taman bermain mendingan kita bermain sendiri dalam kamar."
Benar sih, tapi itu ide konyol karena aku tidak ingin melakukan kontak fisik yang penuh gairah denganmu.
"Ah iya, kamu ingin menceraikan aku," sinis sekali nada suaranya.
"Aku tidak mau kemana-mana lagi, aku mau pulang."
"Kalau kamu tidak mau aku beri kenangan terindah untuk terakhir kalinya, aku juga tidak mau kamu melakukan itu untukku mas. Lagi pula mengajak wanita dewasa seperti aku ke taman bermain? bodoh sekali!"
Ya bodoh memang, tapi aku akan jauh lebih bodoh jika harus seruangan berdua denganmu. Dengan segala bujuk rayumu, aku akan terjerumus pada lubang hitam yang sama lagi.
"Cih, bilang saja kamu takut tergoda. Luangkan waktumu untukku hari ini. Kalau sampai nanti malam kamu tidak tergoda, besok aku akan membiarkan kamu pergi."
"Konyol sekali kamu, memang ada yang harus aku lakukan La..."
"Berarti kamu masih menyukaiku, kamu hanya ingin menghindariku."
Lala meletakkan tangannya diatas pahaku, "kita lihat, bagaimana reaksi tubuhmu," dia bergerak kebatas inti tubuhku.
Sialan, "jauhkan tanganmu, kamu tidak mau kita berakhir di rumah sakit bukan?!"
"Kita tidak akan berakhir di rumah sakit sayang," bisiknya, tangannya terus saja bergerak menggoda.
"Kalau caramu seperti ini, kamu tak ada bedanya dengan wanita penjaja cinta di pinggir jalan La."
"Lelaki manapun akan terang_sang kalau seorang wanita menyentuh bagian sensitif tubuhnya."
Dia langsung melepaskan tangannya, "enak saja aku disamakan dengan wanita murahan."
__ADS_1
Aku tersenyum, ternyata semudah itu melepaskan diri dari godaannya.
Sampai di apartemen dia masih cemberut. Satu keuntungan lagi bagiku, kalau dia ngambek, dia tidak akan mendekati aku lagi. Aku memilih untuk bersikap kalem, mengambil minuman ringan dan duduk di sofa setelah menata belanjaan di lemari pendingin.
Baru saja aku menaruh pantatku, Lala keluar kamar dengan lingerie merah favoritnya. Apa-apaan sih wanita ini, rupanya dia tak mau berhenti mengganggu.
Baiklah aku tidak bisa lagi menunda, "pakai pakaian mu la, ada yang ingin aku sampaikan."
"Aku sudah memakai pakaian mas, bahkan ini pakaian yang paling kau sukai."
"Kamu selalu memujiku kalau memakai ini suami, bukan begitu?" gerak tubuhnya dibuat semenggoda mungkin.
Tapi anehnya aku sama sekali tidak ingin melakukan apapun pada tubuh indah itu. Apa aku sekarang punya kelainan? ah, tidak mungkin. Setiap kali aku melihat Lala, setiap kali itu pula suara dan senyum ibu yang aku lihat dalam mimpi muncul di mataku. Senyum yang mirip Rumi...
"Terserah kalau itu maumu, duduklah!" suaraku kubuat setegas mungkin.
"Kamu serius suami?"
Aku mengangguk, "duduklah!" ulangku.
Lala duduk di depanku, dia tidak berusaha menutupi bagian tubuhnya yang kelihatan kemana-mana.
"Aku tidak main-main dengan keputusanku La."
"Kita harus berpisah, sama seperti aku dan Rumi yang dalam proses perceraian."
"Aku juga akan melakukan hal yang sama padamu."
"Aku talak kau La, aku ceraikan kamu."
"Lakukan semua seperti yang sudah kita rencanakan. Selesaikan sekolahmu disini, aku akan tetap memberimu tunjangan, selama kamu mau."
"Jangan sakit hati atau marah. Ini hanya jalan hidup yang musti kita lalui. Kalau suatu saat nanti ternyata kita berjodoh, aku akan memilikimu dengan cara yang benar. Tapi untuk saat ini kita harus jalan sendiri-sendiri dulu."
Matanya memerah, buliran bening menggenang. Sekarang aku sedang menyakiti dua wanita karena kebodohanmu. Wanita yang memang kucintai dan wanita yang membuatku dikungkung hawa naf_su.
Tangannya menggenggam erat. Lala tidak beranjak dari duduknya. Wajahnya kaku penuh amarah. Tapi aku harus tegas. Ketika kita memutuskan hubungan dengan seseorang, apalagi yang bisa dilakukan kecuali memberi ketegasan.
"Pergilah mas, kamu sudah menjatuhkan talak padaku. Kamu tidak lagi menginginkanku. Aku hanya ingin menyampaikan satu hal padamu. Bersiaplah untuk menerima akibat dari perlakuanmu padaku."
"Lampiaskan semua kekesalanmu, La. Aku akan diam selama aku yang kau sakiti. Jangan menyakiti dirimu sendiri atau orang lain."
Lala meninggalkanku sendiri. Dia beranjak masuk kamar utama dan menguncinya. Sedangkan aku menuju kamar tamu mengambil tasku. Aku harus pergi, kami bukan lagi pasangan suami istri.
__ADS_1
"La, aku pergi," aku mengetuk pintu kamar utama, aku tidak mendengar jawaban tapi suara tangis Lala terdengar begitu keras. Aku harus pergi, tega nggak tega aku harus pergi.
...***...