
"Maafkan Ya Rum."
Pengantin baru itu duduk di teras rumah besar bercat putih sambil menekuk lutut. Nehan memeluk pundak istrinya. Hari menjelang sore. Udara dingin mulai terasa menyapa permukaan kulit.
"Nggak apa-apa mas, hihihi..." Rumi terkikik perlahan, "seru aja, lucu."
"Tck, apanya yang lucu."
"Harusnya aku mengajak kamu bulan madu yang layak, malah jadi ngemper begini."
Rumi mendekatkan diri pada lelakinya. Sekarang bahkan tidak ada jarak antara keduanya. Kulit menyentuh kulit. Hembusan napas terasa di tengkuk masing-masing. Menimbulkan sensasi hangat.
"Aku tidak minta bulan madu kan, mas."
"Kalau kita harus bepergian. Aku ingin semua anggota keluarga ikut. Dan itu pasti bukan definisi bulan madu yang ada di kepalamu, iya...kan."
Nehan melengos. Melempar pandangannya ke arah lain.
Tentu saja bukan. Bulan madu di otakku adalah pergi berdua denganmu tanpa diganggu.
"Lagi pula, kenapa tadi mengajak aku kesini sih. Kenapa tidak ke rumah kontrakanmu saja?" tanya Rumi penasaran.
Nehan meraih sehelai anak rambut di dahi dan menyelipkannya di belakang telinga Rumi. Membelai pipinya lembut dan mengembangkan senyum termanis sambil menatap istrinya.
"Rumah ini adalah cita-cita terbesar yang ingin aku persembahkan untukmu."
"Aku ingin kamu tahu. Sejak hari dimana aku menyerahkan kunci rumah ini, kunci itu juga merupakan kunci untuk hatiku."
Masih dengan terus tersenyum, Nehan memberikan satu kecupan yang dibalas Rumi dengan memejamkan mata.
"Karena itu aku mengajakmu kesini. Sebagai bukti kalau aku sudah menjadi milikmu seutuhnya."
Rumi menundukkan kepala, tersenyum malu.
"Memangnya di dalam sudah ada ranjang buat kita tidur?"
"Aku membeli rumah ini beserta isinya Rum."
"Kalau sejak tadi siang kita datang, kita masih sempat berbenah sebentar."
"Cih, Bulan madu ngajak bersih-bersih rumah," sungut Rumi.
Matahari perlahan mulai turun, bersamaan dengan hilangnya cahaya diatas bumi.
"Bagaimana ini, tempatnya juga jauh di pinggir kota. Jarak satu rumah dengan rumah yang lain disini cukup jauh Rum."
Rumi mengendikkan bahu. Dia sendiri tidak mengetahui jawaban dari situasi mereka sekarang.
Tiba-tiba ada cahaya menyorot terang dari arah pagar. Karena suasana mulai gelap keduanya tidak bisa melihat siapa yang datang. Semuanya menjadi jelas ketika mobil yang datang mematikan mesinnya.
"Pak Dul..."
Nehan sumringah melihat sopir istrinya sudah berdiri di depan mobil.
"Mari Ndoro kita pulang."
Kedatangan Pak Dul disambut dengan rasa lega keduanya. Akhirnya bisa pulang juga, nggak jadi tidur di teras.
"Ngapain kalian ada disana?" ibu masih saja tertawa terbahak-bahak, "untung ibu tanya Pak Dul."
__ADS_1
"Ibu jangan tertawa seperti itu. Saya malu," bisik Nehan.
"Sampe segitunya cari tempat buat bulan madu, ha...ha...ha."
Bu Narmi berusaha berhenti tertawa melihat ekspresi anak dan menantunya. Tapi tetap saja senyum itu muncul di bibir Bu Narmi.
"Begini saja, ehem," Bu Narmi berdehem untuk menetralkan ekspresi wajahnya.
"Kalian pergilah, biar Ken sama ibu."
Nehan melirik Rumi yang duduk di sebelahnya.
"Tidak perlu Bu. Kami tidak akan pergi kemana-mana."
Memang menyebalkan mereka berdua ini. Diberi jalan keluar malah sok-sokan menolak.
"Yakin nggak mau? Kesempatan nggak akan datang dua kali lo..." ibu memprovokasi dengan tubuh yang dibuat tegak dan duduk menjauh.
"Baik Bu, saya akan ajak Mas Han untuk tidur di kontrakan, Ken sudah tidur kan Bu?!"
Waduh dasar anakku nggak punya malu. Kenapa jadi dia yang ngotot.
Sementara mulut Nehan menganga karena terkejut.
"Kamu memalukan," pukulan kecil dari ibu tepat mengenai punggung tangan Rumi.
Melihat tingkah istrinya, Nehan tidak bisa tidak tersenyum.
"Mumpung Ken tidur mas," memasang wajah memelas berusaha merayu.
"Nggak punya malu...nggak punya malu," ibu memukul lengan Rumi berkali-kali.
Sambil memegangi tangannya Rumi mengaduh perlahan. Kalau mau pelihara malu, yang tanggung kemarin nggak akan bisa dituntaskan kan...
"Sudah sana, mumpung Pak Dul masih diluar, minta antar sama Pak Dul."
Masih dengan senyum simpul, ibu mengakhiri pembicaraan dan masuk ke dalam kamar.
"Rum, jangan lupa kunci pintu kalau pergi. Kelihatannya mbok nah sudah tidur jam segini," teriak ibu dari dalam kamar.
"Iya Bu..."
"Ayo," tidak membuang waktu Nehan menarik tangan istrinya menuju kamar. Memintanya untuk membawa baju yang akan dipakai besok.
"Jangan bawa satu, buat jaga-jaga," bisik Nehan.
Keduanya pergi dengan tergesa. Tanpa berpamitan lagi bergegas menuju mobil lalu meminta Pak Dul segera berangkat.
Selama perjalanan menuju kontrakan Nehan, dua anak manusia itu saling menahan gairah. Berusaha menjaga jarak karena kalau mereka berdekatan bisa dipastikan Nehan dan Rumi tak akan mampu mengendalikan diri.
Lucu juga melihatnya. Mana ada suami istri duduk di sisi yang berjauhan ketika satu mobil. Nehan dekat jendela di sisi kanan dan Rumi duduk merapat pada jendela sisi kiri.
"Sudah sampai Ndoro."
Baru kali ini Rumi menyambangi kontrakan Nehan.
Rumahnya sederhana khas daerah, tapi nyaman dengan halaman luas.
Nehan menyambar tangan Rumi. Membuka pagar dengan tergesa. Sampai di pintu pun sama. Beberapa kali gagal memasukkan kunci ke lubangnya karena konsentrasinya terpecah melihat Rumi.
__ADS_1
Tepat saat terbuka Nehan mendorong pintu dengan satu tangan dan menarik pinggang Rumi dengan tangan yang lain.
Setelah di dalam pintu ditendang dengan satu kaki sampai menutup. Tas yang dibawa dilempar begitu saja.
Setelah menyempatkan mengunci pintu, Nehan mendorong istrinya hingga menyentuh dinding.
Tatapan keduanya berkabut. Netra Nehan mulai turun sedikit kebawah. Bibir Rumi begitu menggoda, merah dan basah.
"Aku ingin bercinta denganmu."
Tanpa menunggu jawaban Nehan memagut bibir merah itu. Merasakan manisnya gairah.
Helaan napas, des_ahan dan leng_uhan terdengar saling bergantian. Kali ini keduanya tidak menahan diri. Mereka hanya berdua di rumah.
Tangan lihai Nehan mulai bekerja. Melepas kain yang menempel di tubuh Rumi satu persatu sambil melepaskan kancing kemejanya sendiri.
"Bolehkan aku membersihkan diri dulu?" pinta Rumi, dengan tangan menahan dada suaminya agar keduanya berjarak.
"Nggak perlu."
Mata Nehan makin sayu begitu juga Rumi. Ketika tubuh bergelung gairah, yang lain tidak lagi penting. Hanya tercium aroma wangi tubuh yang selalu dirindu.
"Mas..."
Tubuh Rumi mengge_linjang menikmati sentuhan. Peluh mulai berjatuhan.
Tangan Nehan begitu pandai membuatnya jauh terbang tinggi di awan. Mulai puncak diatas hingga bagian yang terdalam. Nikma_tnya belaian membuat Rumi hampir gila.
"Rum, aku mau kamu sekarang."
Rumi mengangguk dan itu cukup bagi Nehan.
Diangkatnya tubuh Rumi, dibawa kedalam peraduan. Keduanya sudah polos sejak beberapa waktu lalu.
Ketika Nehan meng_ulum dan menyentuh bagian puncak, Rumi makin menggila.
"Mas...sekarang."
Suara itu menuntut lebih.
Nehan berdiri sebentar, menempatkan tubuh Rumi di posisi paling nyaman.
Lalu Nehan kembali mengungkung Rumi dibawahnya.
"Aku masuk."
"Mmm," sambil mengangguk.
"Ergh....ehm," mata keduanya terpejam menikmati penyatuan tubuh yang sejak beberapa hari lalu selalu tertunda untuk diselesaikan.
Nehan mengatur irama gerakan tubuhnya. Tangannya bergantian menyentuh bagian yang dia suka dari Rumi. Bibirnya menyelusuri tiap inci kulit wanitanya.
"Mas...egh..."
Gerakan keduanya makin gila, semakin mendekati nirwana keduanya bergerak makin cepat.
Sampai...
"Ergh..." tubuh Rumi melengkung menyambut datangnya surga dunia, sedangkan Nehan menyandarkan tubuhnya rapat diatas tubuh Rumi.
__ADS_1
Akhirnya...tuntas sudah.
...***...