Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 147


__ADS_3

Nehan terus tersenyum. Kalau bibirnya itu bukan cetakan Tuhan, pasti sudah sobek atau melebar ala Joker. Apalagi bibirnya di olesi liptin tipis-tipis. Terlihat lembab dengan sedikit warna merah.


Jantung Nehan berdebar kencang. Kamar milik Rumi yang dulu sering ditempati terasa berbeda kini.


Nehan menyentuh sprei yang menutupi ranjang. Halus berwarna pink lembut berbahan satin, pasti sprei ini masih baru.


Masih seperti dulu, ketika dia membuka almari ada beberapa pakaian miliknya di dalam sana. Beberapa tadi dia tambahkan, karena beberapa waktu yang lalu perpisahan mereka memaksa dia untuk membawa bajunya keluar dari rumah.


"Kemana Rumi?" kepalanya celingukan keluar. Sebentar mencari melalui jendela sebentar kemudian celingukan dari pintu kamar. Lalu dia kembali duduk di ranjang dengan tidak sabar.


Meja rias juga tidak banyak berubah. Diatasnya ada beberapa kosmetik perawatan wajah milik Rumi yang jumlahnya tidak banyak.


Nehan berdiri mendekati meja rias, menyentuh beberapa kosmetik Rumi dan bergumam, "kamu memang cantik Rum. Tidak butuh banyak polesan untuk menonjolkan kecantikan kamu."


"Sedang lihat apa mas?" Rumi datang dengan kebaya yang sudah dilepas. Berganti memakai daster batik kostum favoritnya.


Melihat istrinya datang Nehan bergegas duduk di pinggir ranjang sambil menepuk-nepukkan tangannya.


"Duduk sini."


"Belum sekarang mas, tadi Ken nangis lihat aku. Kita kan sibuk seharian, sampai ga ada waktu buat perhatikan anak itu."


Rumi duduk di depan cermin sambil membersihkan rias wajahnya.


"Kamu istirahat dulu ya, aku mau menidurkan Ken dulu. Terus minta suster Eny buat balik ke panti, kasihan Lita."


Mendekat lalu memberi kecupan sekilas di bibir sebelum keluar.


"Yah?! Rum...Rum!" uluran tangan Nehan diabaikan begitu saja oleh Rumi.


Kalau saja Nehan tahu Rumi sedang tertawa dalam hati karena memang sengaja memancing lalu ditinggal pergi, pasti suaminya itu makin merajuk.


Nehan melirik bagian tubuhnya yang tiba-tiba sesak karena ulah Rumi.


"Maaf ya...sabar dulu sebentar," sambil membenahi posisi celana yang dipakai.


"Bunda..." Ken masih terisak karena merasa diabaikan seharian oleh bundanya.


"Sini gendong bunda sayang..."


Ken memeluk tubuh Rumi erat dalam gendongan.


"Ken ga suka sama ayah. Satu hari bunda diambil ayah gak mau bagi sama Ken," masih merajuk sambil sesenggukan.


"Iya, nanti bunda bilang sama ayah kalau harus berbagi sama Ken ya..."


Balita itu mengangguk dengan semangat, "Ken nanti mau bubuk sama bunda."


waduh...


"Emm...bagaimana kalau Ken bubuk sama uti, tempat tidur bunda kan kecil, ga cukup kalau Ken mau bubuk sama bunda sama ayah."


"Hua...Hua..., ga mau biar ayah yang bubuk sama uti," tangis Ken kembali memekakkan telinga.


Nehan yang sebelumnya tidak mendengar dengan jelas. Terpaksa keluar kamar berlari mendengar tangisan anaknya.


Akhirnya dia ikut sibuk melihat anaknya yang sedang dirayu biar mau mandi tapi terus merajuk dari tadi.


"Kenapa anak ayah?"


"Nggak mau saingan sama bapaknya. Sudah itu urus anak kamu, ibu mau bersihin rumah dulu kasihan mbok Nah."


"Iya Bu, ayo Ken sama ayah."

__ADS_1


"Nggak mau," teriak sambil menyembunyikan kepalanya makin dalam ke ketiak bundanya.


"Mandi sama ayah," bujuk Nehan lagi.


"Gak mau...ayah pulang, bunda bubuk sama Ken."


Rumi menggerakkan matanya memberi kode supaya Nehan pergi.


"Iya...iya ayah pulang," bisik Rumi sambil membelai anaknya.


"Iya...ini ayah pulang."


Dengan terpaksa Nehan harus kembali masuk kamar.


Gimana ini...kalau begini ceritanya, bakalan nggak bisa menikmati malam pertama ini.


Haduh...saingan kok sama anak sendiri...


Teriak Nehan dalam hati sambil mengacak rambut yang memang masih acak-acakan.


Musti cari cara...


Nehan melirik tongkat yang bersandar di sudut kamar.


Ah alasan sakit, terus bilang ayahnya ga bisa pulang.


Tersenyum merasa punya jalan keluar yang bisa dicoba.


"Ayah belum pulang?" tanya Ken melihat ayahnya masih di kamar.


Nehan memasang wajah meringis kesakitan, "ayah gak bisa pulang sayang...ayah kan sakit, kakinya sakit banget," berakting sambil meringis.


"Sakit?"


Ken bergerak-gerak minta diturunkan. Tubuh cabi itu berjalan mendekati ayahnya.


"Itu," Nehan menunjukkan salah satu bagian kakinya.


"Ini?"


Nehan mengangguk. Eh, tiba-tiba Ken meniup-niup bagian kaki yang tadi ditunjuk.


"wuf...wuf, sudah ditiup ayah, sembuh. Sekarang ayah pulang."


Hah...?!


"Bunda...." melambaikan tangan ke arah Rumi, "baju, dingin, ayah boleh pulang, kakinya sudah sembuh. Ken mau bubuk sama bunda."


Nehan menunduk, wajahnya ditekuk, matanya sayu seperti kehilangan cahaya. Agak lebay memang, tapi bagaimanapun yang namanya pengantin baru maunya langsung gas pol. Apalagi sudah pernah merasakan dan harus puasa bertahun lamanya.


Malam pertama, yang sebenarnya bukan pertama kalinya bagi mereka harus tertunda. Diam-diam Nehan menanti dengan sabar hingga anaknya tertidur.


Lelah karena seharian menangis ingin diperhatikan dan riuhnya suasana rumah membuat Ken tidur dengan nyenyak.


"Rum..."


"Hmmm," sebenarnya kalau boleh jujur malam ini Rumi juga tidak ingin diganggu. Badannya seperti habis dipukuli orang sekampung, cenut-cenut karena capek.


"Ken aku pindahin ke pojok ya. Biar dia dekat tembok."


"Jangan, biar dia ditengah mas. Kasihan, baru sekarang merasakan tidur bareng sama ayah dan bundanya."


"Tapi Rum..."

__ADS_1


Rumi turun dari ranjang, ingin mendekati suaminya yang duduk di kursi rias. Dia menggeser tubuhnya perlahan menghindari derit suara ranjang karena gerakan. Lalu mengunci pintu baru kemudian memeluk Nehan.


"Sabar."


Kepala Nehan menempel erat di dada Rumi. Rasanya menenangkan tetapi juga mengguncang sesuatu yang sebelumnya tenang.


Tangan kekar itu melingkari tubuh mungil Rumi. Pelan tapi pasti bergerak menggosok dan membelai punggung wanitanya.


"Kamu tidak pakai dalaman Rum?"


Jantung Nehan berpacu lebih cepat.


"Nggak, biar bebas, seharian sudah pakai pakaian yang ketat agar membentuk tubuh."


"Kenapa pakai daster sih Rum?!"


Kalau pakai atasan atau kaos kan lebih gampang tanganku nelusup kesana-sana, hiks...


Rumi memukul punggung Nehan perlahan, "nggak sekarang mas, aku lelah. Lagi pula kamu masih harus banyak istirahat."


Rumi menangkup wajah suaminya. Memandangnya lamat-lamat. Menjelajah seluruh bagian wajah yang dari dulu sampai sekarang masih menjadi favoritnya.


Mengarahkan manik matanya pada bibir merah jambu milik lelaki yang sangat dia cintai itu. Lalu melayangkan kecupan bertubi-tubi.


Nehan hanya pasrah dan menyunggingkan senyum menerima semuanya, "kamu makin berani."


"Kamu tahu mas, aku akan merubah caraku mencintaimu. Aku akan melakukan apa saja yang aku mau pada tubuh ini."


Menggerakkan tangannya naik turun menjelajah dada Nehan.


"Aku akan mengecup bibir ini sesuka dan sebanyak aku mau."


Menyentuh bibir suaminya lembut.


"Kamu hanya harus menerima semuanya."


Rumi meletakkan pantatnya dan duduk di pangkuan Nehan.


"ehmm..."


"Rum..."


"Apa mas?" memasang wajah polos tanpa dosa.


"Kamu melarangku menyentuhmu malam ini, tapi sikapmu dari tadi membuat tubuhku berontak, Rum."


Nehan meraih tangan Rumi dan menyentuhkannya di bagian tubuh yang sudah mengeras.


Tatapan mata keduanya meredup. Belum melakukan apa-apa saja, gairah sudah menggelora.


Nehan mendekatkan wajahnya. Memandang bibir mungil istrinya. Kecupan kecil nan basah membuat Rumi meremang.


Kecupan itu berubah menjadi sebuah lu_matan lembut pada bibir Rumi. Tubuh Rumi menggeliat menikmati sentuhan. Ketika keduanya hampir lupa diri akan janji untuk tidak melakukannya malam ini. Ken tiba-tiba duduk.


"Bunda..."


Keduanya terkejut, Rumi gegas berdiri, Nehan hampir terjengkang jatuh dari kursi. Bersamaan melihat Ken yang ternyata duduk sambil terpejam lalu tidur lagi.


"Sebaiknya kita tidur mas."


"Iya tidur, untuk malam ini biar Ken tidur di tengah antara kita."


"Iya," Rumi mengangguk dan bersiap untuk tidur.

__ADS_1


Sabar ya...


...***...


__ADS_2