
Nehan dan Arjuna, dua lelaki yang saat ini sedang menggenggam tanganku. Kalau membunuh dihalalkan aku yakin keduanya sekarang sedang ingin saling bunuh.
"Lepaskan tangan istriku."
"Lepaskan dulu tanganmu mas," sambarku. Kamu bertiga saling memprovokasi.
Untungnya dari arah pintu terdengar suara ibu, "lepaskan tangan anak ibu, enak saja pegang-pegang tangan anak orang," berkata sambil masuk kedalam. Ibu membawa banyak sekali belanjaan.
Mas Han melepaskan genggaman tangannya. Baru aku melepaskan tangan Mas Juna. Kedua lelaki ini seperti sedang memberi batas teritorial, yang tentu saja aku akan menolak keduanya dengan tegas. Yang satu memberiku rasa sakit, yang satu belum punya hak untuk melakukannya.
Ibu keluar dengan membawa minuman hangat dan kue basah yang mungkin tadi dibeli di pasar, "Rum, masuk, mandi, tole masih tidur, kalau dia bangun biar badanmu bersih, jadi bisa langsung menyusui."
"Ini buat kamu Han, minum tehnya dan makan kue basah ini dulu sebelum minum obat," sambil mengulurkan cangkir teh dan beberapa kue basah manis, "bersihkan wajahmu itu, ibu tadi sudah belikan alat cukur, kalau anakmu lihat dia bisa kena sawan."
"Duduk Jun, ayo dimakan kuenya."
Ah ibu, manis sekali bicaranya dengan Mas Juna. Aku memilih mandi cepat. Ken sudah membuka mata waktu aku masuk kamar.
"Hai anaknya bunda," tangan dan kakinya bergerak aktif sekali, sambil mengeluarkan suara, "ai...au...ai...au," aku tertawa kecil, mainan baruku ini lucu sekali.
"Mimik dulu ya sayang," payudaraku rasanya nyeri karena penuh, "ah...leganya," Ken menyedotnya kuat sekali, mungkin karena bayi laki-laki jadi minumnya luar biasa. Kalau sudah berkurang isinya rasanya lega, nyerinya juga hilang.
"Kita keluar ya, ada ayah diluar, bunda nggak boleh egois, kamu baru sekali merasakan digendong sama ayah," aku tidak boleh egois. Anakku tidak boleh cacat secara mental.
"Selamat pagi semua," aku keluar sambil membawa Ken.
"Selamat pagi bocah ganteng," mas Juna langsung menyapa, "sudah mimik susu?" Mas Juna mengulurkan jari telunjuknya, Ken meraih dan menggenggam jari itu dengan tangannya yang mungil. Dia terus bergerak aktif saat Mas Juna mendekat.
"Walah putuku sing ganteng dewe," ibu juga melakukan hal yang sama, mendekat dan menggoda anakku.
Mbok Nah berdiri di pojok ruangan sambil memperhatikan. Aku melihat Mas Han, aku hadapkan anakku kepadanya, dari semua orang yang ada hanya dia yang masih diam dan tidak mendekat.
Matanya berbinar tapi juga memancarkan ketakutan, "mau gendong mas?" tanyaku.
"Boleh?" aku mengangguk.
Dipandanginya Ken sambil tersenyum, "hai sayang, ini ayah."
Melihat Mas Han mendekat, bibir Ken mulai mencebik, matanya mengembun, tak lama kemudian Ken menangis dengan suara yang melengking tinggi.
"Kenapa nangis Rum? aku kan ayahnya, kenapa dia nangis seperti itu, Rum?"
"Dia takut sama kamu, lihat brewokmu itu memenuhi wajah," celetuk ibu.
"Cup...cup, aku bawa Ken jalan-jalan dulu ke depan, biar kena matahari pagi," dibawa keluar saja, biar Ken kena mentari pagi.
"Jangan dipanaskan Rum, katanya matahari jam segini kurang baik buat kesehatan kulit, berbahaya."
"Iya Bu, mau ikut mas?" tanyaku tanpa menyebutkan siapa yang kuajak sambil berlalu.
Dua-duanya mengikuti aku. Tapi setelah beberapa langkah Mas Han berhenti dan kebingungan, "Rum."
"Hmmm," aku jadi ikutan berhenti.
"Mau tunggu aku cukuran dulu nggak, biar bersih, biar Ken nggak takut lagi sama aku."
"Mas cukuran saja dulu, aku cuma jalan depan pagar saja kok."
__ADS_1
"Kamu ikut Rumi, Jun?"
"Iya lah, kenapa, nggak boleh? kecuali Rumi menolak aku ingin menemani, ada yang harus aku bicarakan juga."
"Terserahlah," akhirnya Mas Han menyerah, dia berlari masuk rumah.
""Bagaimana kabarmu Rum?"
"Baik mas, sehat, tole juga sehat itu yang paling penting."
"Baguslah."
"Sejak kapan Nehan ada disini?"
"Kemarin, dia tiba-tiba saja datang. Bapak sudah aku beri tahu, tapi beliau sedang luar kota."
"Apa Han mengganggumu?"
"Tidak mas, dia bersikap baik sejak kemarin, bahkan cenderung diam dan sepertinya menyesal."
"Baguslah."
"Jam berapa kamu tadi datang mas?"
"Pagi sekali, setelah subuh, aku datang semalam kemudian istirahat di mushola dekat sini, biar pagi-pagi bisa langsung kemari."
Aku tersipu, kenapa aku musti tersipu ya, lelaki ini tidak menyebutkan apapun tentang aku, tapi aku tersipu, sepertinya beberapa bulan tidak tersentuh laki-laki membuat otakku korslet, mudah sekali aku berpikir yang tidak-tidak.
"Kenapa harus istirahat di mushola, biasanya menyewa penginapan terdekat."
"Maksudnya?"
"Aku rindu Rum," blush...pipiku memanas, rindu siapa mas, rindu aku atau Ken atau ibu atau...mbok Nah mungkin?
"Siapa yang rindu, rindu pada siapa?" entah kapan datangnya, tiba-tiba Mas Han berdiri di belakang kami. Topik pembicaraan dan posisi kami yang menghadap ke jalan membuat kami tidak menyadari kehadiran Mas Han.
"Oh...itu, aku...kangen tole, ya nak ya, berapa minggu ini kamu nggak ketemu om, iya kan?!" menghadap Ken sambil bicara. Yang diajak bicara hanya tertawa.
"Modus, hai sayang ini ayah," Ken memandang Mas Han tak berkedip, kakinya yang semula aktif bergerak jadi diam, "gendong ayah ya..." aku oper Ken pada ayahnya, untuk beberapa menit Ken memang diam saja, tapi kemudian kembali aktif bergerak seperti semula.
"Kamu nggak ada rencana untuk pergi Jun?" Deklarasi perang dimulai, aku pura-pura tidak mendengar.
"Aku khawatir Rumi akan disakiti seseorang lagi."
Heh...aku menghela napasku berat, mungkin lebih baik aku menyingkir. Tapi aku kemudian menyadari kalau Ken ada dalam gendongan orang yang secara mental tidak stabil.
"Siapa yang kau maksud Jun?" mas Juna mengedipkan bahu.
Waspada Rum, ada pemantik emosi. Aku fokus pada Mas Han.
"Aku tahu apa yang aku lakukan Jun." suara Mas Han rendah dan dalam, matanya menyala.
"Aku gendong Ken ya mas," alarm berbunyi. Ken harus dihindarkan dari resiko terluka.
Mas Han beralih memandangku, tatapan matanya meredup, "biarkan aku menggendong anakku ya Rum."
"Tapi mas janji jangan emosi," dia mengangguk patuh.
__ADS_1
Aku mendelik pada Mas Juna, berbicara tanpa suara—jangan membuat masalah. Mas Juna mengangguk dan melakukan hal yang sama—maaf, ucapnya.
Mas Han menjauhi kami, dia berusaha berkomunikasi dengan Ken. Siapa yang menyangka lelaki hebat seperti Mas Han memiliki kekurangan.
Suara deru mobil berhenti di depan rumah mengalihkan perhatianku, mobil bapak, aku lega, akhirnya bapak datang. Semoga bapak bisa merayu Mas Han untuk pulang.
"Bapak."
"Bagaimana Han, Rum?"
"Alhamdulillah."
"Ada yang ingin bapak ceritakan padamu Rum, tentan Nehan," bapak melirik Mas Juna.
Mas Juna jadi salah tingkah, "saya pamit dulu ya, Yuni akan datang dua hari lagi, kita akan ngobrol mengenai pekerjaan kalau Yuni datang," aku mengangguk, "aku masuk dulu untuk pamit ibu," aku mengangguk lagi.
"Tentang Mas Han, pak?" kami kembali fokus pada perbincangan sebelumnya. Mata bapak memandang Mas Han yang sedang menimang anaknya, wajah suamiku itu kelihatan cerah.
"Ya, sejarah masa lalu Han."
"Saya sudah tahu semuanya pak, mbok Nah menceritakan pada saya semuanya."
Bapak tercenung, mimik wajahnya kaku, jelas kalau ada rasa bersalah disana, "maafkan bapak, harusnya bapak bercerita sedari dulu."
"Tidak apa-apa pak," jawabku menggeleng, "tapi kalau misalnya saya tahu lebih awal, mungkin saya bisa menghindari hal seperti ini terjadi."
"Bapak mempertimbangkan untuk menceritakan semuanya secara perlahan pada suamimu, Rum."
Aku terkejut, apakah itu pilihan yang bijak? aku rasa tidak, tetapi kalau itu pilihan bapak, aku tidak akan tega untuk menuntut cerai. Sedangkan sampai hari ini Mas Han belum juga menjatuhkan talaknya padaku.
"Apakah kamu tega meninggalkan Nehan, Rum?"
Apa maksud bapak?
"Tidak adakah sisa rasa yang kamu simpan untuk suamimu, paling tidak sampai Nehan benar-benar siap berpisah?"
Aku tidak menjawab.
"Apakah karena satu kesalahan, kebaikan Nehan selama ini hilang di matamu?"
"Maafkan Rumi pak. Andai Mas Han mau menjaga kejujurannya, saya tidak akan sesakit ini. Siapa yang akan bisa menjamin seseorang yang dengan mudahnya berbohong tidak akan berbohong lagi suatu saat nanti?"
...***...
Kebohongan bagaikan sebuah bola salju. Satu kebohongan kecil akan terus membesar layaknya bola salju yang menggelinding.
Sebuah kebohongan membutuhkan kebohongan-kebohongan lain untuk menutupi. Jadi jika pernah sekali berbohong, dia akan membutuhkan banyak kebohongan lagi untuk menyelamatkan reputasinya.
Happy reading gaess
Jan lupa like, vote and komen ya
Share dan boleh memberi hadiah
Sebagai apresiasi buat penulisnya ya...
lope you all 🥰😘❤️
__ADS_1