
Author POV
The Day
"Bocah edan, wong tuwo dipeksa melu."
[anak gila, orang tua dipaksa ikut].
Bu Narmi, ibunya Rumi masih mengomel, meskipun mereka sudah dalam perjalanan.
Mereka membawa dua mobil. Nehan membawa anak-anak bersama Rumi, Suster Eny dan Bu Narmi, ibu dari Rumi. Mobil satunya berisi Juna, Yuni dan Mbok Nah.
"Aku kan bilang tadi, mau bareng sama Yuni ngapain dipaksa ikut kamu sih mas."
"Kalau calon istrimu tahu, aku kan jadi nggak enak."
Nehan meringis, "kamu langsung aku turunin di apartemen tempat aku tinggal."
"Kenapa tinggal di apartemen, kenapa nggak tinggal di rumah kita dulu?" tanya Rumi heran.
"Tinggal di rumah kita dengan ribuan bahkan jutaan kenangan yang kamu tinggalkan disana?"
"Kamu pikir aku mampu melakukan itu Rum?"
"Aroma tubuhmu menguar di seluruh kamar. Suara tawa dan tangis yang tertinggal di setiap sudut rumah masih sering aku dengar, kamu meninggalkan tanda kepemilikan di rumah itu Rum."
"Bagaimana aku bisa menahan rindu yang seperti itu?"
"Cih, gombal."
Rumi berdecih, tapi ekor matanya melirik sang ibu yang sedang melotot pada bekas menantunya itu. Malu tapi juga bahagia jadi satu.
"Bhug," tiba-tiba tangan ibu yang duduk di belakang melayang tepat mengenai lengan Nehan.
"Nggak tahu malu, ngerayu anak orang padahal mau nikah sama orang lain!" Suara Bu Narmi menggema dalam mobil.
Nehan langsung menutup rapat mulutnya selama sisa perjalanan, hanya sesekali melirik Ken yang dipangku Rumi di sebelahnya, atau melirik Lita dari kaca spion yang duduk tenang dalam pangkuan Suster Eny.
Malam itu tidak ada yang bisa tidur dengan nyenyak kecuali dua bayi yang memang belum mengerti apa-apa itu.
Masing-masing orang memiliki bayangan yang berbeda tentang acara pernikahan esok hari. Rumi, Bu Narmi, Mbok Nah bahkan Sekar, orang-orang yang memiliki sejarah tentang hubungan cinta segitiga antara Nehan, Rumi, dan Sekar. Mereka seperti berbagi kisah dalam diam, mengulang cerita lalu dan membawanya kembali malam ini.
Apalagi Sekar, sejak pagi dia uring-uringan karena tidak bisa menghubungi Nehan. Apapun yang dilakukan orang-orang di sekitarnya semua salah. Ketakutan akan ditinggalkan begitu menguasai hati dan jiwanya.
Baru tadi sore dia bisa tenang karena Nehan mengunjunginya. Dengan segala drama dan air mata karena Nehan yang memang sengaja mematikan ponselnya. Dia meluapkan semua kekesalan hatinya sambil memukul dada laki-laki itu berkali-kali.
Lewat tengah malam Rumi terbangun. Matanya tak bisa lagi terpejam. Dia keluar menuju balkon apartemen karena udara dalam kamar yang terasa pengap padahal pendingin ruangan dinyalakan pada suhu rendah.
"Hai," Nehan berdiri di belakang Rumi dan menyentuh bahu wanita itu.
"Hai, kenapa bangun?" Rumi terkejut melihat mantan suaminya ikut bangun malam ini.
"Kamu, kenapa bangun?" tanya Nehan balik.
"Aku...nggak bisa tidur."
"Kenapa?" tanyanya sambil menyampirkan selimut ke bahu Rumi.
"Terimakasih."
"Aku nggak mau kamu masuk angin, nanti punya alasan buat nggak hadir di acaraku besok."
Rumi menghela napas. Entah mengapa hatinya terasa begitu berat. Padahal sejak mereka memutuskan bercerai dia sudah mengikhlaskan kalau suatu saat Nehan ingin menikah lagi. Tapi dia kira tidak akan secepat ini.
"Napasnya berat begitu."
"Kenapa, masih belum ingin kehilangan aku ya, menyesal kita berpisah?"
"Ih, nggak!" jawab Rumi sewot.
Rumi menarik selimut yang membungkus tubuhnya makin erat.
"Rum..."
"Hmmm."
__ADS_1
"Kalau, ini kalau, aku tidak jadi menikahi Sekar. Apa kamu mau menerima aku lagi?"
Rumi menatap Nehan, dia tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya.
"Jangan bercanda mas. Kamu jangan mempermainkan hati perempuan."
Nehan menatap Rumi lekat, "apakah rasa itu benar-benar hilang dari hatimu Rum?"
Senyap, Rumi tidak mampu menjawab, lebih tepatnya tidak ingin menjawab. Hanya suara desir angin terdengar. Menambah simponi dari debaran dua hati yang kini sedang bertalu meski saling ditutupi.
"Aku tidak tahu mas."
"Aku masih mencintaimu Rum, selalu mencintaimu. Aku tahu kesalahanku sangat fatal padamu. Tapi aku bersedia memulai lagi dari nol untuk memperbaikinya."
"Besok kamu menjadi milik perempuan lain mas, jangan membawaku serta pada jurang keterpurukan yang sama."
"Kalaupun aku masih mencintaimu, aku tidak mau menerimamu lagi."
"Cinta kita akan aku jadikan sebuah kenangan, pembelajaran dan kaca untuk aku melangkah nanti jika menemukan cinta baru lagi."
"Kamu punya rencana menikah lagi, Rum?" pandangan mata Nehan berubah, mengernyit dan menggambarkan ketidaksukaan.
"Iya, tentu saja, mengapa tidak, jika aku menemukan hati yang bisa aku jadikan sandaran untuk kutitipkan hidupku dan anakku."
Nehan membuang muka, "kamu tidak boleh dimiliki laki-laki lain," kemudian memandang Rumi lagi.
"Kamu milikku!"
"Dan kamu akan menjadi milik wanita lain mas."
"Malam ini aku ingin mengucapkan selamat untukmu mas. Aku ingin kamu selalu bahagia, memasuki kehidupan baru dengan wanita yang...mmm, meskipun aku tidak begitu suka, tapi yang penting kamu bahagia."
Nehan mendekatkan tubuhnya. Kali ini Rumi diam membiarkan keduanya berdekatan untuk mengurangi dingin yang makin menggigit tulang.
Nehan menarik selimut yang dipakai Rumi, "hei," protes Rumi karena angin langsung berhembus menembus pakaian tidurnya.
"Diam," Nehan membuka selimut lebih lebar kemudian menangkupkan tangannya untuk menyelimuti mereka berdua.
"Mas, apa-apaan kamu?" Rumi menggeliat berusaha melepaskan diri.
Nehan menahan tubuh Rumi dan menarik tubuh wanita itu makin rapat.
Akhirnya Rumi diam. Tangannya menyentuh dada Nehan lalu dia menyandarkan kepalanya disana, "kamu akan baik-baik saja, mas."
"Jadi melankolis begini," bisik Rumi hampir tak terdengar.
"I love You Rum."
"I am not, mas."
Tanpa disadari keduanya menemukan kenyamanan yang beberapa waktu telah hilang. Tidak ada naf_su atau gairah membara. Hanya ada rasa saling mengisi tanpa meminta lebih.
Keduanya seperti itu sampai beberapa saat, tidak ada yang ingin menjauh atau kembali ke kamar untuk melanjutkan tidur. Yang tidak diketahui keduanya adalah Bu Narmi yang juga terbangun. Melihat dari balik jendela besar di depannya. Saat itu sang ibu tahu kalau perasaan yang terjalin antara anak dan mantan menantunya masih belum usai. Perlahan Bu Narmi berlalu kembali dalam kamar, kali ini dia memutuskan untuk mengalah membiarkan dua insan itu mengucap perpisahan sebelum esok datang.
Pagi sekali Rumi menyiapkan sarapan untuk semua orang. Sedangkan Nehan bersiap untuk berangkat menuju rumah utama.
"Tinggalkan saja, biar ibu yang menyiapkan. Sebentar lagi pasti Han keluar, ibu tahu kamu belum mampu melepaskan anak itu."
Rumi memandang ibunya, matanya mulai berkaca-kaca, "kalau Rumi sekarang sedih, wajar kan Bu. Bukan karena Rumi masih cinta atau tidak rela, tapi entahlah Rumi bingung ngomongnya."
Bu Narmi mengangguk, "istirahat saja."
Suster Eny juga bergabung di pantry tanpa ikut nimbrung bicara. Wanita itu membantu menyiapkan makan pagi. Sedangkan mbok Nah bersiap untuk ikut Nehan menuju rumah utama.
Makin mendekati waktu keberangkatan Nehan, Rumi makin gelisah. Sepertinya memang lebih baik menenangkan diri di kamar.
Begitu juga dengan Nehan, dia keluar kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Matanya mengitari ruangan mencari orang yang ternyata tidak ada. Dia berjalan menuju jendela besar sekaligus pintu yang menghubungkan dengan balkon, siapa tahu wanita yang dicarinya ada disana, tetapi nihil, dia tidak menemukannya.
"Jangan mencari Rumi, Han," Bu Narmi paham betul mengapa menantunya itu mengelilingi apartemen.
"Tapi Bu..."
"Biarkan dia sendiri, dia butuh waktu untuk menenangkan diri. Ini tidak mudah untuknya, kamu musti paham itu."
Nehan berlari menuju kamar, teriakan Bu Narmi tidak dihiraukan. Dari pintu dia bisa melihat Rumi memeluk Ken yang masih tidur sambil menangis.
__ADS_1
Nehan tidak tahan lagi. Direbahkan tubuhnya di sisi Rumi kemudian dipeluknya erat wanita itu. Tidak ada kata yang terucap, hanya suara isakan kekasih hatinya yang makin kencang membuatnya ingin segera pergi ke rumah utama untuk menyelesaikan semuanya.
"Kamu musti datang, kamu pasti kuat, aku butuh kamu disana."
Dengan satu gerakan cepat Nehan berdiri dan berlalu keluar kamar, "mbok nah, kita berangkat."
"Baik Ndoro."
"Nanti ibu akan dijemput Juna," pesan Nehan pada Bu Narmi yang dijawab dengan anggukan.
...***...
Rumah Utama
Bu Ajeng masih emosi dengan suaminya. Setiap kali dia bertanya kapan pernikahannya di gelar, ayah Nehan hanya bilang tunggu saja...tunggu saja. Tiba-tiba kemarin sore ada kursi dan meja berdatangan.
Hatinya dongkol bukan main. Semua rencana untuk mengundang keluarga besar gagal total. Tidak mungkin mengirim undangan dalam waktu sehari. Karena tidak semua keluarga besar tinggal di satu kota.
Jadinya Bu Ajeng hanya mengundang beberapa teman arisan dan keluarga yang tinggal dalam kota, tentu saja mengundang adiknya si Broto.
"Kamu gimana sih Yu, acara sepenting ini persiapannya dadakan, kalau begini kan kita gak bisa undang keluarga besar to..."
"Mas mu itu membohongi aku, kalau ditanya sebentar lagi, nunggu Nehan. Lah kok tiba-tiba kemarin sore datang ini kursi dan meja. Dasar anak sama bapak sama gak benernya."
"Apa Sekar hamil dulu ya, Yu, kok Nehan tergesa-gesa begini?" makin aneh saja pikiran Lik Broto.
"Nah, iya ya...bisa saja itu. Sik sebentar aku tak ke kamar, Sekar tak tanya dulu."
"Saya tidak hamil Bu," jawab Sekar ketika ditanya Bu Ajeng.
"Terus kenapa kalian tergesa-gesa?"
"Tanya saja anak ibu."
"Maaf Bu, ini mbaknya sedang dirias, kalau ngomong terus bisa tidak selesai paesnya."
Bu Ajeng melengos mendengar periasnya kemudian keluar kamar. Sekarang dia menunggu Nehan yang belum datang. Nanti kalau datang pastilah wanita itu mengejar untuk menanyai Nehan.
"Le," teriaknya sambil melambaikan tangan ketika melihat Nehan sudah di pintu.
"Apa, Bu?" Nehan mulai memasang tampang dinginnya.
"Sekar hamil duluan ya, kok pernikahannya terburu-buru begini?"
"Tck...kukira ada apa," jawab Nehan sambil berlalu.
Nehan bejalan menuju kebun mawar. Dia mengamati semuanya. Semua sudah siap, tinggal menunggu Juna datang membawa keluarganya.
Ponsel tak pernah lepas dari tangan Nehan, karena acara akan dimulai tepat ketika semua berkumpul.
Ketika sebuah pesan dari Juna masuk,
kita sudah ada di depan
Nehan berjalan menuju kamar dimana Sekar menunggu.
"Sudah siap?" tanya Nehan dari pintu.
Sekar mengangguk, senyum mengembang di bibirnya. Gaun putih dengan potongan sederhana tetapi elegan memancarkan kecantikan wanita muda itu. Dia terlihat begitu bahagia tanpa tahu apa yang akan dia hadapi sebentar lagi.
Sementara Nehan menjemput pengantin wanitanya, semua orang yang ada di kebun mawar kasak-kusuk.
"Mana penghulu nya, katanya nikahan kok tidak ada penghulu yang datang."
Disaat itulah bapak menyadari kalau Nehan tidak memberi tahu ada penghulu yang akan datang. Termasuk Sekar yang tidak menyadari kalau dia sama sekali tidak diminta berkas untuk mengurus legalitas perkawinan.
Tapi acara sudah digelar dan kedua pengantin sekarang sedang berjalan menuju meja di tengah taman yang dihias indahnya warna-warni mawar yang sedang bermekaran. Dua orang saling bergandengan tangan dengan dua ekspresi yang jauh berbeda. Pengantin wanita dengan senyum bahagia, sementara pengantin pria memasang wajah dingin dengan ekor mata yang tak lepas memandang mantan istrinya.
Tepat ditengah taman Nehan membawa Sekar menghadap ke semua tamu, melepaskan tangan wanita itu dan membuka acara pernikahannya sendiri.
"Perhatian semua, maaf ada yang ingin saya tanyakan kepada kerabat yang ada disini," semua tamu memandang ke arah dua mempelai.
Sekar masih tersenyum, belum menyadari kalau akan ada badai datang.
"Apa yang harus saya lakukan pada seorang wanita yang mengorbankan anaknya demi sebuah perhatian? Apakah pantas seorang wanita pembohong dinikahi? Kalau ada yang bilang boleh, siapa orangnya, silahkan maju kedepan dan nikahi wanita yang sekarang berdiri di sebelah saya ini."
__ADS_1
Sekar memandang Nehan nanar, "apa maksudmu mas?" wajahnya yang tadi dipenuhi senyuman menghilang. Kakinya gemetar, tubuhnya lemas mendengar kalimat Nehan. Mata indah itu bingung melihat ke seluruh tamu yang sekarang sedang memandang heran ke arahnya. "Ada apa ini, apa yang tidak aku ketahui," ucap Sekar dalam hati.
...***...