Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 40


__ADS_3

Bapak membawaku ke Rumah Sakit paling besar di daerah ini. Aku terus menangis, bukan karena menangisi Mas Han yang kena pukul ibu dan kena tampar bapak, tapi aku menangis karena takut dengan kondisi bayiku.


Setelah semua tanda fital kami—aku dan anakku diperiksa, dokter memintaku untuk istirahat total.


"Kondisi nyonya Rumi ini tidak main-main lo, bisa membahayakan bayinya, tadi ketika saya cek ada flek keluar meskipun tidak banyak," dokter memberikan penjelasan.


Ibu tidak bisa lagi berkata-kata, sekarang mungkin tinggal lemasnya karena tadi bermain penggaris sampai patah.


"Apa yang harus kami lakukan dokter?" tanya bapak serius.


""Satu-satunya jalan ya harus bed rest, melakukan semua aktifitas diatas tempat tidur, mulai dari makan, minum, buang air besar, buang air kecil semuanya harus diatas tempat tidur, tidak ada pengecualian."


"Nanti akan saya beri obat, kita lihat perkembangan bayi dan ibunya ke depan, kalau pendarahannya terus terjadi, saya tidak akan menunggu sembilan bulan untuk kelahiran bayinya."


Bapak menghela napas dalam dan berat, "lakukan yang terbaik dokter, berikan kamar perawatan terbaik dengan fasilitas terbaik pula."


"Kalau masalah pembayaran dan pilihan kelas ruang rawat inap bapak bisa berhubungan langsung dengan bagian administrasi, oh...iya yang paling penting, jauhkan ibu dan bayinya dari stress, ibunya harus seneng kalau bayinya mau sehat."


"Kang mas, saya tidak mau merepotkan panjenengan, saya akan merawat anak saya sesuai kemampuan saya," maafkan Rumi ibu, melihat wajah ibu yang pias hampir tak berekspresi dengan pandangan kosong membuatku sedih.


"Jeng, dengarkan saya, Rumi itu juga anak saya. Yang ada dalam perut Rumi itu cucu saya, masa jenengan tega menolak niat baik saya."


Ibu tidak menjawab, kelihatan sekali kalau wajahnya menunjukkan kebingungan.


"Percaya sama saya. Saya beda dengan Ajeng, saya tidak memandang kasta. Saya tahu itu juga yang membuat besan jarang datang untuk mengunjungi Rumi, karena jenengan takut melihat kenyataan Rumi akan diperlakukan tidak baik. Saya bisa membayangkan betapa jenengan sering menahan rindu selama ini, ini juga perwujudan permintaan maaf atas kelakuan anak saya yang tidak gentleman itu, jadi biarkan kali ini saya yang melakukan semuanya untuk Rumi."


Ah...bapak, "baik, saya akan menerima semua bantuan dari kang mas besan, tapi saya tidak akan mengijinkan Rumi untuk kembali pulang bersama Nehan."


Tiba-tiba pintu terbuka, Mas Han merangsek masuk, kembali berlutut di kaki ibu, "Bu, Nehan mohon, maafkan Nehan, biarkan Nehan membawa Rumi, Nehan janji akan memperlakukan Rumi dengan baik, apalagi sekarang Rumi sedang hamil."


"Apakah wanita yang kamu nikahi atas permintaan Rumi juga hamil?"


Mas Nehan, lemas dan tertunduk, "iya Bu."


"Berapa bulan?" tanya ibu lagi tanpa melihat Mas Han dan memilih untuk melihat lurus ke depan.


"Tujuh bulan."

__ADS_1


"Berarti dia hampir melahirkan, urus perempuan itu dulu dengan baik, bertanggung jawablah, Ibu butuh waktu untuk memaafkan semua kebohongan mu, kalau ibu saja butuh waktu apalagi Rumi, pergilah!"


Aku diam, tapi aku memperhatikan suamiku dengan sudut mataku. Pipinya membiru, pasti karena bekas tamparan bapak. Aku tidak bisa membayangkan berapa banyaknya lebam di punggung hadiah dari pukulan ibu yang dia terima.


Masih ada bekas darah yang mengering di wajah dan lehernya, pasti dia menyempatkan untuk cuci muka, di pelipisnya tertempel plester luka bermotif bunga. Pakaiannya tak berwarna lagi, terkontaminasi oleh ceceran darah dari pelipisnya. Meskipun hatiku perih melihatnya, keputusanku tetap karena aku ingin anakku lahir dengan sehat dan selamat.


"Kita pulang hari ini," bapak bicara sambil menepuk pundak Mas Han.


"Saya masih ingin disini," jawab Mas Han singkat.


""Kamu masih mau bersikap bebal dan nekat?"


Aku tidak mendengar jawaban, aku hanya ingin menutup mata dan mengistirahatkan otakku yang lelah.


"Kamu ingin Rumi kehilangan anak kalian?" bapak mencecar Mas Han dengan kalimat-kalimat yang membuat ngeri di telingaku.


"Kali ini kamu kalah dan harus mengalah, tekan kuat-kuat egomu, ini semua demi kebaikan Rumi dan anakmu."


"Apa kamu ingin Rumi stress mendengar ocehan ibumu di rumah, kalau kau memaksa Rumi ikut pulang?"


"Tidak pak!" shrot...aku mendengar Mas Han menyedot ingus yang keluar, apa dia menangis?


Lamat-lamat aku mendengar suara Mas Han memanggil namaku, "Rum...aku akan membiarkan kamu tinggal disini sama ibu."


"Maafkan atas semua sikapku yang bodoh, biar kamu didampingi Pak Dul dan Mbok Nah disini, aku tidak mau kamu kesulitan, Rum," aku memalingkan muka melihat arah yang berlawanan.


"Tapi sebelum pergi, saya mau membelikan semua kebutuhan buat Rumi dan bayinya pak."


Ibu yang dari tadi duduk tenang di sisiku, tiba-tiba berdiri, "kamu mau ngajak perang ibu lagi? jangan beli apa-apa buat bayimu, belum boleh, ora ilok, karena belum cukup umur, belikan saja kebutuhan Rumi."


Aku hampir ikut bangun dan duduk karena terkejut, aku takut ibu memukul Mas Han lagi.


"Iya Bu, saya akan menurut apa kata ibu."


"Saya akan rutin menghubungi__" ibu memotong kalimat Mas Han


"Ndak perlu!" jawab ibu ketus.

__ADS_1


"Saya akan menghubungi jenengan secara rutin jeng, barangkali Rumi butuh sesuatu," bapak menengahi.


"Ayo," bapak memukul punggung Mas Han ketika aku mencuri pandang, aku jadi ikut ngilu melihat punggung yang sudah bonyok masih mendapat pukulan dari bapak, kemudian keduanya menghilang dibalik pintu.


Sekarang aku akan menghadapi singa marah ini sendirian—ah...tidak sendirian, aku menyentuh perutku dan membisikkan sesuatu, "bantu bunda mengahadapi Mbah uti ya sayang."


Aku melirik, ternyata ibu malah melihatku sambil melotot, "jangan lebay, jangan berlindung dibalik cucuku yang masih sebesar cicak itu."


Aku menggeser tubuhku berusaha membelakangi ibu yang hawanya panas.


"Ndak usah banyak gerak, kasihan cucuku."


Aku berhenti pada posisi yang sangat tidak enak, nanggung dan tidak nyaman.


"Bu..."


"Apa!"


"Marahnya nanti-nanti saja, sekarang Rumi mau minta tolong dibantu, badan Rumi posisinya ndak enak."


Ibu malah berdiri dan meninggalkan aku. Tak lama kemudian Mbok Nah yang masuk dalam kamar, "sabar ya Ndoro, saya saja yang bantu biar tidurnya nyaman."


"Ibu mana mbok?"


"Diluar sedang nangis, manggil-manggil bapaknya Ndoro putri, sambil bilang sakne men anakmu pak, sakne men, begitu."


"Saya jadi merasa bersalah mbok."


"Eee...untuk sementara semua rasa sedih, rasa bersalah dan teman-temannya dibuang jauh-jauh, kasihan yang ada dalam perut."


"Kalau kondisinya makin kuat, baru ngobrol sama ibu nyonya, paling tidak keadaan sudah sedikit adem."


"Iya, mbok," Mbok Nah memang selalu bijak kalau memberi nasehat tentang kehidupan, pengalaman membentuk pribadinya menjadi luar biasa meskipun tidak lancar baca tulis.


Hari ini lagi-lagi peristiwa dalam hidupku membuat emosiku naik turun. Mendengar saran dokter tadi membuatku ekstra hati-hati kalau akan berbuat sesuatu. Aku tidak ingin kehilangan anakku.


Kamar VVIP yang nyaman dan kondisi emosional yang melandai membuatku berhasil memejamkan mata. Antara bangun dan setengah tidur, aku bisa melihat Mas Han berdiri di ujung ranjang, tidak mendekat apalagi menyentuhku.

__ADS_1


Hari ini sejarah kehidupan kami di jungkir balik kan keadaan. Dalam hati, untuk yang pertama kalinya aku mengucapkan salam perpisahan pada suamiku, tapi apakah aku salah jika aku masih ingin berharap kalau pernikahan kami suatu hari bisa diselamatkan? bagaimanapun anakku membutuhkan ayahnya. Atau kami akan menjalani hidup masing-masing dengan bersandar pada keyakinan bahwa kami akan mampu memberikan kasih sayang yang utuh meskipun tidak bersatu. Hanya Tuhan yang tahu.


...***...


__ADS_2