
"Hari ini saya dan tole tidak ikut lagi kan Ndoro Putri?" tanya Mbok Nah ketika melihatku akan berangkat kerja.
"Ndak, cukup kemarin saja mbok. Lain kali saja ikut lagi."
"Bunda berangkat dulu ya anak ganteng," aku menciumi pipi Ken yang bau bedak bayi. Anak rambut di dahinya putih semua karena bedak yang memenuhi wajahnya. Jadi seperti donat gula, hehehe.
"Bu, Rumi berangkat dulu," sesuatu yang wajib bagiku untuk berpamitan dan mencium punggung tangan ibu kalau mau kemana-mana.
Pak Dul menyambutku dengan senyumnya. Aku naik di bangku depan. Biasanya kami akan ngobrol apa saja. Hal terakhir yang sering kami bicarakan adalah suster Eny. Pak Dul berkali-kali bilang kalau dia pernah melihatnya di suatu tempat tapi belum ingat juga dimana.
Pendapat Pak Dul juga sama denganku. Lalita sangat mirip dengan Mas Han, tapi belum tentu dia itu anak Mas Han. Pak Dul bilang, lihat saja di TV banyak sekali artis yang mirip satu sama lain tapi tidak ada hubungan darah sama sekali.
Pembicaraan berhenti karena kami sudah sampai di panti. Di tempat parkir ada sebuah mobil yang aku tahu bukan milik Mas Juna ataupun Yuni. Otakku kemana-mana, tapi aku positif thinking aja. Mungkin ada tamu yang mau bertanya.
Supaya aku tenang aku mendekati petugas keamanan, "ada tamu siapa pak?"
"Perempuan Bu, kalau tidak salah orangnya yang tanya-tanya beberapa hari yang lalu itu."
Sekar.
"Pak Budi, saya akan menemui wanita itu. Kalau saya teriak minta tolong, bapak harus segera masuk ya."
"Ibu kenal dengan perempuan itu?"
"Iya, dia saudara."
"Baik Bu, jangan khawatir. Kalau memang orangnya berbahaya, apa saya perlu ikut masuk ke ruangan?"
"Nggak...nggak perlu."
Aku yakin bisa mengatasi wanita gila itu sendiri.
Di depan pintu aku berhenti, merapikan baju dan menarik napas beberapa kali. Ada sedikit ngeri menghadapinya saat ini.
Dia melihat ke arah pintu waktu aku masuk. Ada seringai di bibirnya ketika aku berjalan mendekat menuju meja kerjaku.
Aku letakkan tasku di atas meja. Kemudian aku mendekati Sekar yang duduk di sofa.
"Apa kabar?" tanyaku basa-basi sambil mengulurkan tangan.
Dia tidak menyambut tanganku. Oke...kamu menabuh genderang perang rupanya. Semoga saja kamu ingat kalau ini adalah wilayah kekuasaan ku.
"Tidak usah basa-basi mbak."
"Basa-basi adalah bagian dari menjaga kesopanan tuan rumah, apa aku harus mengajarimu sesuatu yang umum seperti itu?" jawabku diplomatis.
"Apa yang membawamu kemari?" tanyaku.
"Suamiku, atau lebih tepatnya mantan suami kita."
Sudah kuduga, "buat apa kemari, aku sudah bercerai dengannya, kalau kamu memiliki urusan yang belum selesai dengan lelaki itu, kamu salah alamat kalau datang kesini."
__ADS_1
"Aku rasa nggak mbak, karena kamu dan anak kamu adalah hal yang begitu menarik perhatian lelaki lemah itu."
Dia duduk dengan arogan. Kaki di silang dengan dada membusung. Riasan wajahnya dibuat bold. Luar biasa perubahannya, hilang sudah gadis lugu yang terlihat pintar waktu aku bertemu pertama kali dulu.
"Jangan berpikir kamu bisa seenaknya denganku," ucapku tersenyum.
"Aku kehilangan anak dan suami. Bukankah impas kalau kamu juga mengalami hal yang sama."
Aku harus tenang. Aku mendekatkan wajahku dan menatapnya tajam.
"Apakah kamu mengancam ku?"
"Apakah kalimatku terdengar seperti ancaman, mbak?"
"Sebaiknya kamu pergi dari sini!" aku berdiri lalu berjalan mendekati pintu dan membukanya. Telunjukku menunjuk ke arah luar.
"Keluar atau aku akan panggil sekuriti untuk mengeluarkanmu!"
"Hahaha...," dia tertawa renyah kemudian berhenti, wajahnya berubah menyeramkan, rahangnya mengatup erat, kemudian dia berbisik, "jaga baik-baik anakmu mbak."
"Pak Budi," teriakku memanggil Pak Budi yang berdiri tak jauh dari pintu.
Pak Budi berlari mendekat, "bawa ibu ini keluar."
"Silahkan Bu," Pak Budi mendekat berusaha menyentuh tangan Sekar.
"Hei!" Sekar mengangkat tangannya, kemudian berbicara dengan mata lebar dan suara dingin, "jauhkan tanganmu, aku bisa keluar sendiri."
Aku mengikuti arah pandangnya. Dia memandang Suster Eny lama, begitu juga sebaliknya. Kemudian aku memperhatikan suster Eny tergesa berjalan dengan menunduk meninggalkan tempatnya berdiri.
Ada apa sebenarnya ini, apa hubungan keduanya. Aku bisa melihat sesuatu dari cara Sekar memandang Suster Eny. Kepalaku terasa makin berat, kenapa semua jadi rumit begini.
"Ah pusing," bisikku pada diri sendiri. Aku berjalan kembali ke mejaku dan meletakkan kepalaku diatasnya.
Baru saja hening, tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka kasar, "brak."
Aku mendongak kaget, "Pak Dul...ada apa?"
"Saya ingat siapa suster Eny Ndoro Putri."
Akhirnya ingat juga, "oh iya?! memangnya siapa dia?"
"Dia adalah perawat yang membantu merawat jenazah putri Ndoro Kakung dan Bu Sekar."
Aku terhenyak, memperbaiki dudukku menjadi lebih tegak, "tolong panggil suster Eny kemari Pak Dul!"
Aku tidak mau menyimpan duri dalam daging. Aku harus mencari tahu apa maunya wanita itu bekerja disini.
"Baik, Ndoro Putri," Pak Dul bergegas keluar.
Kepalaku yang tadi pusing, sekarang makin berat. Bagaimana kalau Suster Eny memiliki tujuan tertentu dengan bekerja disini. Ada hubungan apa dia dengan kematian anak perempuan Mas Han. Apakah dia tahu hubungan antara aku, Sekar, dan Mas Han. Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalaku.
__ADS_1
"Selamat siang Bu."
"Siang, duduk," aku menunjuk pada kursi di depanku. Wajahnya tenang seperti biasa.
"Saya akan langsung saja bertanya," aku tidak bisa lagi basa-basi.
"Apa Suster Eny mengenal wanita yang baru saja keluar dari ruangan ini?"
"Iya."
Dia menjawab dengan yakin tanpa keraguan. Aku pikir dia akan bermain kata atau mengingkari mengenal Sekar. Kalau dia menjawab dengan lugas begini berarti dia jujur jadi aku tak perlu curiga. Begitu kan seharusnya?!
"Dimana?" aku menatap Suster Eny tajam. Kalau dia berbohong aku akan tahu dari mata itu.
"Di klinik tempat saya bekerja sebelumnya."
"Klinik apa itu?"
"Sebuah klinik untuk ibu bersalin dan anak."
Dia tidak berbohong. Sejauh ini dia menjawab pertanyaanku dengan jujur.
"Mengapa Sekar memandangmu dengan tatapan dingin seperti tadi, dan mengapa anda menghindari Sekar?" tanyaku lagi. Biarlah aku dianggap menginterogasi. Aku berhak melakukannya karena dia adalah pegawaiku.
"Kami memiliki hubungan yang tidak baik."
Kali ini kepalanya menunduk. Ada kilat bening di matanya, tapi dia memang pengendali emosi yang hebat, embun itu tak jadi menetes. Suster Eny berhasil menguasai dirinya.
"Karena saya yang merawat anaknya setelah lahir, kemudian anak itu meninggal, jadi dia membenci saya. Dia selalu bilang saya membunuh anaknya."
Suara suster Eny semakin pelan. Aku menangkap nada penyesalan di dalamnya.
"Apa suster masih sering berhubungan dengannya?"
"Akhir-akhir ini tidak. Salah satu alasan saya mengundurkan diri karena saya tidak mau diteror oleh wanita itu terus menerus. Lalu saya berusaha mencari kerja di luar kota, dan disinilah saya sekarang."
"Apakah anda akan tetap tinggal setelah dia tahu kalau sekarang anda bekerja disini?"
Akan merepotkan kalau tiba-tiba suster Eny mengundurkan diri. Butuh waktu untuk mencari orang baru.
"Saya belum tahu, maafkan saya Bu, saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu sekarang."
"Dengarkan saya, anda harus tetap ada disini, saya akan melindungi anda dari teror yang mungkin masih dilakukan wanita itu. Tapi anda harus jujur dengan saya."
Ditengah pembicaraan ponsel suster Eny berdering, dia meminta ijin untuk melihat siapa yang mengirim pesan. Aku juga mendengar kalau suara deringnya lebih dari satu kali. Tapi kemudian Suster Eny tidak jadi membuka ponselnya. Wajahnya berubah pucat dan tangannya gemetar.
"Apakah itu Sekar? apa kalian saling menyimpan kontak?! apa itu ancaman?" cecarku. Suster Eny tidak menjawab, dia hanya diam dan pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.
Diam-diam aku mengikuti langkah suster Eny. Diluar dia membuka dan sepertinya menjawab sebuah pesan. Aku ikuti dia sampai di ruang bermain. Lalita digendong kemudian diciuminya dengan sayang, seperti takut kehilangan. Tangannya beberapa kali mengusap matanya. Apakah dia menangis? Apa lagi ini, ada hubungan masa lalu apa diantara keduanya?
...***...
__ADS_1