Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 107


__ADS_3

Sekar POV


Sudah hampir satu Minggu aku disini. Dan sampai sekarang aku masih belum punya keinginan untuk pulang.


Berharap banyak pada hubunganku dengan Mas Han akan membaik, jadi aku akan bertahan beberapa saat lagi.


Aku tidak akan melarangnya untuk menemui anak dan tentu saja mantan istrinya disini. Semoga dengan cara ini dia akan menerimaku kembali. Kalau aku pikir, anak laki-laki itu—siapa namanya, Ken? Iya, Ken adalah anaknya.


Mereka memiliki ikatan darah, dan Mbak Rumi...keduanya memiliki sejarah hidup yang tidak sebentar. Jadi kalau mereka bertiga masih berhubungan itu adalah hal yang wajar.


Begini rasanya kalau sedang jatuh cinta lagi. Bahagianya sampai ke awang-awang. Seumpama saat ini aku mati pun aku tidak menolak. Nggak...nggak, paling tidak menanti sampai kami benar-benar balikan dan menikah lagi, baru aku tidak keberatan untuk mati.


Yang jadi masalah sekarang adalah syarat yang diajukan Mas Han. Dia meminta aku jujur menceritakan semua yang terjadi pada anak perempuanku.


Terus terang aku tak punya keberanian untuk itu. Aku takut hubunganku yang mulai kembali tertata akan hancur sebelum kubangun. Lagi pula anaknya sudah mati, untuk apa diungkit lagi. Peristiwa yang sudah berlalu biarlah berlalu. Semoga saja dia mau mengerti.


Habis mandi aku bersenandung kecil menyanyikan lagu lama dari Reza. Lagu itu sedang mewakili perasaanku. Betapa bahagianya seorang wanita yang sedang jatuh cinta.


Semoga kali ini semua harapanku akan terwujud. Mas Han sudah menceraikan istrinya. Dia seorang duda yang bisa dimiliki siapapun.


Harapanku ada rencana pernikahan dalam hatinya kali ini. Pernikahan yang dipandang sah secara hukum dan agama. Tapi kalaupun dia masih ragu, sekedar jalan bareng saja cukup buatku.


Suara nada dering pesan dari ponselku berbunyi. Sekarang pukul sebelas siang. Aku melihat nama kontak 'exku' muncul pada pop up pesan.


[Nehan] ; Assalamualaikum


Bisa kita bertemu nanti sore, sekalian makan malam.


Aku tersenyum, rupanya laki-laki ini mulai tidak sabar.


Dimana? aku gak mau salah kostum lagi.


Ting, balasan langsung masuk.


[Nehan] ; Dandan yang cantik, ingat kita sedang berada di kota kecil sesuaikan cara berpakaiannya.


Oke, aku tunggu.


[Nehan] ; aku jemput selepas isya.


Mantan suami siriku itu memang selalu tepat waktu, tiga puluh menit selepas isya, laki-laki itu sudah menungguku di lobi.


Aku memakai pakaian yang cenderung sopan. Bahkan tadi setelah menerima pesan, aku sengaja keluar untuk membeli baju baru yang pantas. Maklumlah semua baju yang kubawa bermodel potongan leher rendah dengan panjang diatas lutut.


"Ayo," mas Han mengulurkan tangannya. Wajahnya cenderung dingin. Tapi seingatku memang begitulah dia.


"Kita mau kemana?" tanyaku penasaran.


"Ke tempat yang nyaman."


Ternyata dia mengajakku ke sebuah restoran sederhana. Tempatnya cukup sepi tapi termasuk restoran yang cukup berkelas mengingat letaknya di kota kecil.


Kami berjalan beriringan. Selama dalam mobil Mas Han sudah mau berbicara agak banyak, tidak hanya diam saja atau pun sengaja membatasi percakapan.


Banyak topik yang kami bahas. Tentang kuliahku yang tertunda sampai bagaimana aku menghabiskan waktu selama di kota kecil ini.


Aku tahu dia berusaha untuk memancing alasanku tinggal disini. Tentu saja aku mati-matian merahasiakannya.


Senyumku terus mengembang. Tangannya terus menggandengku tak lepas sedetik pun. Caranya dia menarik kursi agar mudah bagiku untuk duduk, membuatku tersanjung—sikapnya begitu manis. Malam aku berasa menjadi seorang ratu.


"Aku sudah memesan makanan untuk kita. Jadi kita tinggal tunggu pesanan kita datang."


Suaranya lembut penuh pesona. Aku terhipnotis mengikuti semua perintahnya dan mengiyakan saja apa maunya.


"Aku serius dengan keinginanku."


"Ah, iya," jawabku gugup. Pasti saat ini dia mengira aku sudah gila, aku tak berkedip memandangnya.


"La," tangannya melambai di depan wajahku.

__ADS_1


"Ah...oh, iya mas, maaf tadi kamu ngomong apa ya?" bodoh, aku memukul kepalaku pelan.


"Aku ingin menikahimu lagi. Aku akan mengajakmu bertemu ibu secepatnya. Tapi sebelumnya aku ingin mendengar kebenaran tentang kematian anak kita."


Itu lagi, kenapa harus berputar disitu terus.


"Buat apa, anak kita sudah meninggal mas."


"Kalau kamu terus berputar pada masalah yang sama, berarti kamu tidak bisa diajak untuk melangkah menuju masa depan."


Matanya tajam menatapku. Ini akan menjadi tarik ulur yang tidak mudah, aku tahu.


"Justru karena aku ingin memasuki masa depan dengan menggandeng tanganmu, aku ingin semua jelas dulu."


"Bagiku masa lalu adalah tempat untuk berkaca. Aku harus tahu semua kebenarannya, hanya itu yang bisa meyakinkanku La."


"Aku ingin memiliki pendamping yang bukan hanya bisa menemani aku dalam suka dan duka, tapi juga bisa membimbing anak-anakku menyongsong masa depannya."


Jantungku hampir melompat keluar melalui mulutku mendengan rayuannya. Mendampinginya dan membimbing anak-anak kami, indah terdengar.


"Aku tahu, tapi itu sama saja dengan membuka lukaku mas."


"Setiap kali aku mendengar kamu berbicara tentang anak kita, setiap kali itu pula lukaku kembali basah."


"Tidak ada laki-laki yang mencintai wanita tapi terus berusaha membuka lukanya bukan mas?"


Suara hembusan napasnya terdengar jelas di telinga. Entah apa yang membuatnya begitu kesal. Dulu dia tidak peduli dengan hitam putih sikapku. Mengapa dia sekarang terus berusaha memintaku menceritakan sesuatu yang membuatku terluka?


"Baiklah."


"Aku akan berhenti memintamu menceritakan tentang anak kita."


"Kalau itu maumu berarti kita akan menjalani masa depan dengan terus dibayangi oleh rasa penasaran dan rasa bersalah yang aku tanggung, bahkan kau tanggung."


Kata-kata terakhir diberi penekanan olehnya.


"Ini adalah pilihanmu La. Jangan salahkan aku bila nanti bayangan masa lalu itu hadir di depanmu dalam bentuk nyata."


"Apa maksudmu mas?"


"Kamu ingin menikah lagi denganku kan mas?"


"Kamu mencintaiku kan?!"


Laki-laki di depanku ini kembali tersenyum dan mengangguk.


"Ya, aku akan merencanakan pernikahan kita lagi."


"Manusia hanya bisa berencana La, kamu tahu?!" itu bukan sebuah pertanyaan, aku tahu.


"Kalau yang terjadi ternyata tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan, kamu harus menerimanya dengan lapang dada."


"Tapi kamu akan mewujudkannya kan mas?" tanyaku.


"Ya, aku akan mewujudkan semua sesuai dengan rencanaku."


Matanya tersenyum penuh misteri, tapi aku suka itu. Mulai malam ini aku akan menunggu dia memenuhi semua janjinya.


"Besok kita pulang, aku akan jemput kamu pagi-pagi sekali."


"Aku akan mengantarmu pulang, lalu aku akan menemui bapak dan ibu."


"Sekalian melihat makam seseorang yang sangat aku rindu," ucapnya pelan, sangat pelan hampir tak terdengar.


"Mas mau ke makam anak kita?"


"Kalau iya, aku mau ikut."


Dia melihatku dengan mata melebar, terkejut.

__ADS_1


"Ah...iya, aku ingin melihat makam anak kita seperti yang kamu bilang dan seseorang yang juga."


...***...


Panti–Nehan POV


Besok aku akan menemui ibu, bapak dan sekalian mengunjungi makam ibu yang melahirkan aku, juga bayi yang dimakamkan atas nama anakku.


Jalanan sekitar panti sudah sepi. Aku menghentikan mobilku tepat di depan panti. Klakson aku bunyikan, tak lama kemudian Pak Budi keluar menyambutku.


"Selamat malam pak, tumben malam-malam kesini?"


"Pak Budi kok juga belum pulang, bukannya minggu ini waktunya shift pagi ya."


"Ih, bapak tahu saja. Ini baru mau ganti shift. Silahkan pak."


Aku keluar dari mobil. Sengaja aku parkir mobil di depan gerbang saja, di pinggir jalan.


"Loh, tidak dimasukkan mobilnya pak?"


"Ndak usah, temani saya sebentar ya, nanti saya antar pulang deh," rayuku pada Pak Budi, aku ingin ditemani menjenguk Lita.


"Terus kalau saya bareng bapak, motor saya gimana? Tapi jangan kuatir pak, saya temani masuk, ayo!"


Kami berjalan beriringan. Aku jelaskan kalau aku ingin mengunjungi suster Eny dan anaknya. Pekerja panti pasti melihat peristiwa pemukulan oleh mbok nah pada suster Eny, tapi tak ada satupun yang berani bertanya.


Kecuali laki-laki yang sedang berjalan di sebelahku sekarang, "maaf pak sebenarnya apa yang terjadi ya, saya sampai kaget waktu melihat Mbok Nah mukul Bu Eny."


"Kenapa tanya saya, tanya saja pada orangnya. Mungkin mereka sudah musuhan sejak sebelum lahir, hahaha..."


Pak Budi melihatku heran, "kenapa, nggak lucu ya?" tanyaku


"Hehehe, saya ketukkan pintunya ya pak."


Beberapa kali mengetuk, pintu terbuka sedikit, "siapa?" tanya orang dibalik pintu sambil mengintip.


"Saya Bu."


"Eh, Pak Budi," kemudian pintu terbuka lebar.


Dia segera mengangguk ketika melihatku berdiri di belakang Pak Budi.


"Boleh saya masuk sebentar?" tanyaku menjaga kesopanan.


Wanita yang menculik anakku itu mengangguk. Ya, aku masih menyebutnya penculik anakku, meskipun dia merawatnya dengan baik.


"Silahkan, pak."


Wanita itu keluar dari rumah yang dia tempati. Membiarkan aku masuk dan mengajak Pak Budi menjauh.


Anakku tidur sangat nyenyak. Kerinduan yang selama ini tersimpan rasanya ingin meledak di udara. Tanganku kusentuhkan ke pipinya yang putih seperti bapao.


"Sayang, ayah sudah tidak sabar ingin mengajakmu pulang, nak."


Gadis kecilku menggeliat. Aku langsung menarik tanganku menjauhi pipi gadis kecilku. Aku tak ingin dia terbangun.


"Ayah pamit ya nak. Besok ayah akan menuntaskan semua masalah yang selama ini terpendam."


"Lita doakan ayah ya. Biar semuanya lancar dan berjalan sesuai dengan rencana yang ayah rancang."


Lagi-lagi putri kecilku menggeliat. Senyum merekah di bibir mungilnya.


"Ayah ingin bebas memelukmu nak, rasanya sudah tidak tahan. Ayah ingin semua orang tahu kalau kamu adalah anak ayah."


Aku mendekati tubuh anakku. Air mataku mengembun menghalangi pandanganku. Aku dekatkan bibirku dan mencium pipinya perlahan. Aroma bayi tercium membuat dadaku makin sesak. Bagaimana aku sampai tidak tahu kalau kamu masih ada nak. Ayah janji kalau semua urusan ayah selesai, ayah akan menebus semua waktu kita yang hilang. Kamu, ayah, adik, dan bunda.


Setelah puas berpamitan, aku meninggalkan panti dengan hati tenang. Aku lajukan mobilku ke arah rumah Rumi. Aku juga ingin berpamitan dengan Ken. Aku tidak tahu apakah semua rencanaku akan berjalan lancar atau malah sebaliknya. Aku membutuhkan anak-anakku untuk menguatkan hati dan mentalku.


Besok orang pertama yang akan aku temui adalah Bu Ajeng. Kita selesaikan urusan kita yang tertunda Bu, tunggu kedatanganku.

__ADS_1


...***...


__ADS_2