
Seminggu sebelum ulang tahun Rumi.
Di kafetaria Rumah Sakit
"Aku akan memastikan Rumi menuju ke jenjang pernikahan Han."
Kamu pikir aku peduli.
"Kamu lihat itu."
Nehan tetap tidak mengubah posisi duduknya.
"Lihatlah dulu, ada Rumi disana."
Mendengar nama mantan istrinya disebut. Kepala Nehan langsung berputar mengikuti arah telunjuk Juna.
Betapa terkejutnya laki-laki itu melihat Rumi sembunyi dibalik pohon. Kepala Rumi bergerak ke kanan-kiri seperti sedang mencari sesuatu atau seseorang.
"Itu yang dia lakukan selama ini, melihatmu diam-diam meskipun aku sudah melarangnya."
Mata Nehan nanar melihat mantan istrinya
"Kamu tidak perlu khawatir, dia wanita setia," sinis Nehan.
"Itu aku tahu, aku tak pernah meragukan kesetiaannya. Yang aku ragukan adalah cintanya."
"Seorang wanita adalah makhluk yang diciptakan untuk setia. Ketika dia mengucapkan janji dengan tujuan membuat ikatan, maka cinta tak penting lagi dibicarakan."
Nehan menghentikan makannya, "lalu maumu apa? Kamu akan meninggalkan Rumi?" matanya menatap Juna tajam.
"Aku, meninggalkan Rumi? No, I Will never left her."
"Tapi dia yang akan meninggalkan aku. Tidak jiwanya tapi hatinya."
Juna menatap Nehan tajam, "kamu paham kan maksudku?"
Nehan menggeleng, pura-pura bodoh. Meskipun dia dapat meraba kemana arah pembicaraan ini. Tapi dia tidak bisa membayangkan bagaimana caranya.
Kalau sahabatnya ini tidak akan pernah meninggalkan Rumi. Lalu apa maksudnya berucap seperti tadi.
"Terus maumu apa, aku musti bilang apa?! selamat!?"
"Siapkan dirimu. Aku akan mengembalikan Rumi padamu, orang yang memang dia cintai."
"Maksudmu?!" Nehan terkejut, sangat...
"Aku akan menjemputmu seminggu lagi. Jangan membuat malu, berjuanglah untuk sembuh dan berdiri di kakimu sendiri."
...***...
Restoran
"Kenapa Kang mas tidak bilang sama saya, kalau anak-anak mau balikan lagi?"
"Kalau saya tahu, saya akan melakukan segala cara biar Rumi tidak datang."
Bu Narmi bicara pada bapak yang sedang menikmati hidangan sambil bercanda dengan cucu-cucunya.
"Saya diminta untuk merahasiakannya, jeng."
"Juna sama Nehan ingin memberi kejutan pada Rumi."
"Awas saja kalau suatu saat Nehan berulah lagi."
Bu Narmi meninggalkan bapak dan mendekati Nehan. Menjewer telinga menantunya itu, "kamu ikut Rum," lalu duduk bertiga di salah satu meja di sudut restoran.
Rumi duduk di sisi Nehan, keduanya bergenggaman tangan. Ingin rasanya Bu Narmi meremas dua orang yang sekarang ada di depannya.
"Apa itu genggam tangan, lepas!"
Keduanya saling pandang, melepas genggaman lalu menyimpan tangan masing-masing di pangkuan.
"Ibu mau tanya sama kamu, Han. Apa rencanamu ke depan?" suara ibu tegas. Dia tidak ingin Rumi hancur lagi untuk kesekian kali.
__ADS_1
"Saya akan mencintai Rumi, Bu."
"Tck...hanya itu? Juna bisa memberi cinta yang lebih besar dan tulus melebihi kamu!"
Kepala Nehan menunduk makin dalam. Rumi hanya berani melirik. Singanya sekarang sedang tidak bisa dibantah.
"Saya sudah membeli rumah untuk kami tempati Bu."
"Hmm...apalagi?!"
"Saya sudah mulai merintis usaha saya disini. Nantinya semua harta saya, akan saya atas namakan istri dan anak-anak saya."
"Kamu hanya membicarakan tentang harta dari tadi. Kamu pikir Rumi mata duitan, mau porotin kamu!"
"Bukan itu maksud saya, Bu."
Nehan menarik napas. Kali ini bahkan terasa lebih berat dari waktu pertama kali dia mendekati Rumi dulu.
"Saya takut untuk berjanji, Bu. Tapi saya akan terus berusaha membahagiakan keluarga saya, tidak menyakiti mereka dalam bentuk apapun. Saya akan bertanggung jawab atas kebahagiaan dan kesejahteraan Rumi dan anak-anak."
"Bagus."
"Han, ibu tidak bisa melarang kamu dan Rumi menikah lagi. Kamu tahu kan...Rumi mencintai kamu."
"Sebenarnya ibu sebal sama anak ibu sendiri. Apa yang dia lihat dari kamu?!"
"Bahkan dia memilih membuang lelaki sebaik Juna untuk membela lelaki labil seperti kamu."
"Bu..." Rumi mengangkat tubuhnya kedepan, hampir setengah berdiri.
"Diam Rum, duduk!"
Rumi menarik tubuhnya dan duduk bersandar, lemas.
Bu Narmi kembali menatap Nehan, "jadi ibu minta jangan pernah lagi kamu menyakiti Rumi."
"Ibu tidak akan rela jika ada seujung rambut Rumi yang patah, atau ada setetes air mata Rumi jatuh di pipi."
"Kalau hal itu sampai terjadi, Ibu sendiri yang akan menceraikan kalian dengan talak tiga. Ibu juga akan memastikan kalian tidak akan pernah bisa kembali lagi."
Berjuanglah untuk membahagiakan aku dan anak-anak mas.
Aku akan berusaha untuk selalu memberimu yang terbaik Rum. Aku tidak mau dicabik-cabik singa di depanku ini.
Nehan melirik sedikit ke arah Bu Narmi.
"Ada yang mau kamu sampaikan Han."
Nehan terkejut dan kembali menunduk, "mboten ibu."
Sebelum larut Bu Narmi minta pulang. Karena Yuni dan Juna sudah tidak ada di tempat. Akhirnya bapak yang mengantarkan keluarga itu pulang.
"Saya minta ijin untuk mengajak Rumi keluar besok Bu."
Jadi begini ya rasanya...mau ngajak pergi saja takutnya setengah mati, huft...
"Hmmm, asal kamu bawa balik lagi anak ibu."
...***...
Esok hari
"Mau kemana mas?"
"Kita akan melakukan perjalanan agak jauh."
"Iya, mau jauh atau dekat, tapi kemana?"
Hening, Nehan tidak menjawab. Begitu juga selama perjalanan hampir tidak ada yang dibicarakan.
Saat mobil memasuki sebuah gerbang rumah sakit. Rumi mulai tidak tenang. Empat jam perjalanan dan dia ingat betul rumah sakit ini adalah rumah sakit jiwa tempat Sekar dirawat.
"Ayo."
__ADS_1
Nehan mengulurkan tangan.
"Nggak usah, kali ini aku tidak butuh bantuanmu, tapi kamu yang butuh sandaran dariku."
Rumi turun dari mobil lalu mengulurkan tangannya. Rehan menyambut tangan itu dan berjalan dengan sedikit bersandar pada Rumi karena kakinya yang masih lemah. Sementara tangan yang lain memegang tongkatnya.
"Omong-omong kenapa kamu mengajak aku kesini?"
"Untuk menyelesaikan masa lalu."
Rumi mengernyit, "masalahnya apakah wanita itu bisa diajak menyelesaikan masa lalu?"
"Lihat saja sendiri, aku juga belum tahu secara pasti. Tapi Lek Broto menghubungi aku kalau Sekar sudah bisa berkomunikasi."
Keduanya berdiri di depan sebuah pintu besi. Ada sebuah jendela kaca kecil yang tidak bisa dibuka jika ingin melihat kedalam.
Dari balik kaca, Nehan dan Rumi melihat seorang wanita duduk menghadap jendela besar di seberang ruangan. Pakaiannya rapi begitu juga dengan tubuh dan rambutnya.
"Ini ruang perawatan Nyonya Sekar Lalita pak. Kalau ingin bertemu silahkan menunggu di ruang kunjung pasien."
"Baik."
"Maaf," Rumi menyela, "bagaimana keadaannya?"
"Banyak kemajuan, sudah bisa berkomunikasi. Tidak pernah histeris lagi. Menurut kami itu adalah perkembangan yang luar biasa "
"Silahkan," perawat lelaki itu menunjukkan jalan menuju ruang kunjung pasien.
Tidak ada banyak barang di ruang itu. Ada sofa, televisi dan sebuah meja jika keluarga pasien membawa buah tangan. Di sudut dekat pintu diletakkan sebuah dispenser. Tidak ada minuman instan, hanya ada gelas plastik yang ditumpuk rapi.
Beberapa saat menunggu. Seorang perawat wanita menuntun Sekar masuk. Tapi tepat di depan pintu Sekar menahan tubuhnya. Berhenti untuk beberapa saat kemudian melanjutkan langkahnya mendekat.
"Mas, mbak," mengangguk sedikit.
Ada rasa yang campur aduk di hati Nehan dan Rumi. Rasa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Rumi, sementara Nehan hanya diam memandang wajah Rumi yang duduk di sebelahnya.
"Baik mbak."
"Kamu ingat siapa aku?" tanya Rumi.
Sekar mengangguk, "Mbak Rumi dan Mas Han."
"Bagaimana kabarmu mas?"
Mendengar namanya dipanggil Nehan mengubah pandangannya, "baik."
Wanita ini jauh lebih kurus dari terakhir dia bertemu.
"Aku tidak tahu apa maksud kedatangan kalian berdua kemari. Tapi apapun itu, aku mohon pada kalian berdua untuk mengampuni dosaku."
Sekar menangis. Untuk sekejap beberapa perawat hampir mendekat, tapi diurungkan.
"Aku titip anakku mbak, aku ingat anakku masih hidup, aku tidak akan menjadi ibu yang baik untuknya."
"Jangan salahkan suster Eny. Semua salahku, biarkan dia merawat anakku. Semoga dia menyadari kesalahannya."
Masih sesenggukan Sekar melanjutkan kalimatnya.
"Buat kamu mas. Maafkan aku karena telah mencelakai ibu. Aku akan mepertanggungjawabkan perbuatanku."
"Aku janji tidak akan mengganggu keluarga kalian lagi."
Nehan dan Rumi seperti tersengat listrik ratusan volt. Bergetar karena terharu, merasa kasihan dan perasaan lainnya yang entah apa itu.
Keduanya tidak bisa mengucapkan apapun. Sekar sudah menebus semua dosanya dengan sakitnya sekarang dan hukuman yang menanti di depannya.
"Sus," Sekar menoleh pada perawat yang menunggu, "saya ingin kembali ke kamar."
Sekar berjalan berlalu meninggalkan Rumi dan Nehan yang masih terkejut.
"Sekar," teriak Rumi.
__ADS_1
Tapi Sekar seperti tidak mau mendengar. Dia terus berjalan menuju kamarnya tanpa menoleh lagi ke belakang.
...***...