Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 70


__ADS_3

Kami pulang beriringan, rombongan wanita datang lebih dulu. Rombongan laki-laki datang belakangan. Tapi yang membongkar muatan para lelaki. Setelah semua barang dikeluarkan, Yuni dan Mas Juna langsung pamit.


Mas Han mengekori aku masuk dalam kamar, menyebalkan, dia benar-benar berubah menjadi laki-laki berkulit badak yang tak tahu malu.


"Kenapa ikut masuk," sumpah, sebenarnya males banget ngomong.


"Aku ingin melihat anakku Rum, siapa namanya?"


"Nama anak sendiri saja harus diulang berkali-kali, nggak bisa apa ingat disebutkan sekali saja, terlalu!"


Kalau bisa rasanya ingin aku tendang laki-laki ini ke plane Pluto yang paling jauh dan tak berpenghuni.


"Panggilannya Ken kan?"


"Terserah!" kok masih terus saja mengikuti aku, aku berhenti dan menirukan gaya Yuni seperti di rumah sakit tadi, memutar badanku kemudian berkacak pinggang, "ngapain ikut masuk, kan aku bilang duduk diluar!" sekarang wajahku pasti seperti udang rebus karena marah.


"Iya...iya, aku akan keluar, aku duduk di teras ya, kalau butuh apa-apa kamu tinggal ke teras, terus bilang butuh apa, nanti aku yang belikan," teriaknya.


Nggak penting, aku mendengarkan kalimat terakhirnya dari dalam kamar. Harusnya aku banyak ishtighfar, kalau keterusan hatiku bisa kotor karena amarah. Sabar Rum...sabar. Aku melihat anakku, ternyata benar kata bapak, anakku mirip sekali dengan ayahnya. Sepertinya bunda harus mencari penyembuhan hati sayang, biar tidak terlalu marah sama ayah.


Bapak datang waktu hari menjelang siang. Mas Han benar-benar memasang muka badak, duduk diam di teras meskipun tidak ada yang memedulikan.


Setelah mencuci kaki dan membersihkan diri, bapak melihat Ken yang baru saja aku susui dan sekarang sedang tidur. Ternyata setelah sampai di rumah Ken menjadi bayi yang anteng dan nggak gampang rewel.


"Walah, baru berumur beberapa hari sudah kelihatan tambah gede Rum cucuku."


"Iya pak, nyusunya saja kuat pak."


"Alhamdulillah."


"Pak," aku menanti saat yang tepat untuk menyampaikan pada bapak kalau ada yang ingin aku bicarakan, "Rumi mau bicara sama bapak dan Mas Han."


Bapak menghela napas, "apa harus sekarang, Rum?" bapak berbalik dan memandangku.


"Iya, pak," aku mengangguk, "saya tidak mau menunda lagi."


"Baik, bapak sebagai orang tua tidak bisa lagi menghalangi keinginanmu. Kamu yang menjalani, jadi kamu yang tahu apa yang terbaik untuk hidupmu."


"Biar saya minta Mas Han masuk dulu," aku berjalan ke depan tapi masih bisa mendengar celetukan bapak.

__ADS_1


"Tapi kamu kok ya tega Rum, membiarkan anakku duduk di depan rumah seperti orang linglung," aku pura-pura tuli, karena itu pantas diterima sama mas Han.


"Mas aku mau bicara, mas masuk saja dulu duduk di ruang tamu."


Senyum merekah di bibir Mas Han, ternyata tetap saja ada sedih menyelip di hatiku meskipun samar melihat senyum itu merekah. Ingat Rum, kamu sudah membulatkan tekad. Aku memukul kepalaku berkali-kali harus kuat Rum, harus kuat. Tidak boleh iba apalagi goyah.


Aku ke belakang rumah memanggil ibu. Melihat wajah ibu yang sedih aku jadi merasa bersalah. Aku juga tidak menginginkan hal ini Bu, tapi aku tahu ibu paham dengan keputusanku sekarang.


Aku duduk di sebelah ibu. Mas Han dan bapak duduk sejajar di hadapan kami.


Membutuhkan keberanian luar biasa ternyata untuk mengungkapkan apa yang ingin aku sampaikan. Dengan sekali tarikan napas aku menyampaikan semuanya.


"Bapak, ibu, Rumi minta maaf kalau akhirnya Rumi mengambil keputusan seperti ini. Sebenarnya Rumi tidak pernah membayangkan kalau rumah tangga Rumi jadi begini. Tapi Rumi harus melakukannya. Maafkan saya."


Aku mengangkat wajahku dan memandang mas Han lekat, mengamati dengan sungguh-sungguh wajah suamiku untuk yang terkahir kali. Memberi dia senyum tulus untuk yang terakhir kali, karena aku tidak tahu apakah aku bisa melakukannya lagi nanti setelah menyampaikan semuanya.


Mas Han balas menatapku, meskipun bibirnya tersenyum tapi aku tahu matanya memancarkan kekhawatiran. Alisnya sedikit bergelombang memberi aku tanda untuk segera mengucapkan apa yang masih belum terungkap.


"Mas," dia mengangguk, ada pancaran takut di mata itu, "ceraikan aku."


Mas Han segera menundukkan wajahnya. Detik berikutnya dia mendongak dan menelangkupkan kedua tangannya di depan wajah, sikunya terangkat ke udara. Untuk beberapa detik sikap itu belum berubah. Ketika dia menurunkan tangannya aku melihat kilatan merah di mata suamiku.


Ibu menarik tubuhnya ke belakang hingga menempel erat pada kursi.


"Seperti yang kau dengar Mas, ceraikan aku."


Mas Han berdiri, dia menyambar tanganku karena kami sama-sama duduk di sisi terbuka bukan di pojok ruangan, dia dengan mudah menarikku keluar.


"Kang mas," aku mendengar ibu berteriak.


Bapak berlari mengikuti Mas Han, "Han, lepaskan Rumi."


"Dia milikku pak, bapak jangan ikut campur!" teriakan itu seperti bukan suara Mas Han yang aku kenal.


"Mas, lepaskan aku!" aku berusaha melepaskan tanganku dengan sekuat tenaga.


"Mana kunci mobil pak."


"Han mau kamu bawa kemana Rumi Han! lepaskan anak itu!" teriak bapak lagi.

__ADS_1


"Kunci pak," suara itu keras membentak bapak, orang ini bukan Mas Han yang aku kenal. Dia....menakutkan.


"Dul, jangan berikan kuncinya!" bapak berlari dan memberi aba-aba pada Pak Dul, setelah dekat kunci yang di tangan Pak Dul dilemparkan dan akhirnya dikuasai bapak.


"Lepaskan aku Mas, tanganku sakit!" teriakku memohon.


Mata itu nyalang, memancarkan cahaya kemerahan, tangannya menggenggam kuat pergelangan tanganku, "tidak akan! kalau perlu kita akan mati bersama, aku tidak mau kehilangan kamu! Kamu milikku Rum!" teriakan itu terus terdengar.


"Kang mas bagaimana ini?" ibu gemetar tapi tidak berani mendekat.


"Han lepaskan Rumi," suara bapak melembut, "kamu tidak akan bisa membawa dia kemana-mana Han, kunci mobil ada pada bapak, lepaskan Rumi."


"Tapi aku tidak bisa pisah dari Rumi Pak. Dia milikku."


"Han."


Tetangga kanan kiri yang mendengar mulai berdatangan, "lepaskan Rumi," ucap bapak lagi, posisi bapak makin dekat dengan kami.


Tubuhku gemetar, aku takut setengah mati, dia bukan lelaki yang aku kenal delapan tahun ini.


Mas Han menggeleng cepat kemudian memutar tubuhnya dan menghadap padaku, "jangan tinggalkan aku Rum, kamu tidak bisa hidup tanpa aku."


"Siapa yang bilang, kamu?! kamu salah mas, aku bisa hidup tanpa kamu, sangat bisa!"


Entah setan dari mana yang menguasai otak dan hati suamiku sekarang ini, setelah mendengar kalimatku yang terakhir dia menyentak tanganku dan menarikku dengan paksa mendekati mobil, "lepaskan aku, kamu bukan suamiku, Mas Han yang aku kenal tidak seperti ini!"


Dengan sekali hentakan Mas Han menempelkan tubuhku pada salah satu sisi mobil, tangannya yang bebas mencekik leherku.


"Huk...huk, mas lepaskan aku, huk...huk," Ya Tuhan, nafasku hampir habis tercekat di tenggorokan.


"Ndoro Putri...," aku mendengar suara mbok Nah, mataku mulai berkunang-kunang, "tole menangis," teriak mbok Nah, anakku...


Pegangan tangan Mas Han mengendur, mataku mulai kembali fokus, dengan cepat aku lemparkan tangan Mas Han dengan keras hingga terlepas, dalam hitungan sepersekian detik aku memacu langkahku menjauh dan berlari sekencang aku bisa, dalam otakku hanya ada satu hal, anakku menungguku dalam kamar.


"Ndoro Putri, huhuhu...," mbok Nah menangis menerima tanganku sambil menyusut air matanya yang membanjir. Aku langsung masuk kamar dan memeluk anakku erat.


Anehnya suara tangis melengking Ken membuat hatiku tenang kembali. Aku mendekap Ken dan menyusuinya sambil menenangkan denyut jantungku yang berpacu.


Siapa itu tadi...itu bukan orang yang aku kenal. Dia bukan Nehan yang selama delapan tahun ini hidup denganku. Dia orang asing yang menakutkan dan hampir membunuhku. Ya Allah apa yang sebenarnya terjadi...

__ADS_1


...***...


__ADS_2