
"Gila dia, bisa-bisanya dia ngelakuin itu sama kamu," Yuni terus mengomel, lagaknya seperti bisa makan orang.
Ibu pasti sudah bercerita sama nenek lampir kesayanganku ini.
"Kamu kesini bawa apa?" kok di tangannya gak kelihatan bawa apa-apa.
"Ih kamu, aku ngomong serius ini. Kok bisa raden mas edanmu itu bertindak kasar sama kamu."
Nggak paham bener ini anak kalau aku lagi ingin mau ngomongin peristiwa kemarin.
"Perut laparku mengalahkan akal sehatku tahu," aku melengos sambil cemberut, "meskipun jenius, kalau lagi lapar nggak akan bisa diajakin ngomong serius."
Aku memang ngobrolnya sama Yuni, tapi beberapa kali aku melirik Mas Juna yang sedari tadi diam dan memasang ekspresi wajah menakutkan.
"Kamu nggak bisa ngeremehin kejadian kemaren Rum," netra Mas Juna lurus menatapku.
"Iya aku tahu, tapi aku yakin Mas Han nggak akan segitunya berniat buat menyakiti aku, mungkin kemarin dia lagi shock dengar permintaanku."
"Memangnya kamu minta apa?" kali ini wajahnya menunjukkan keingintahuan.
"Mmm...," aku lirik dulu matanya sebelum menjawab, masih melihatku tajam, ngomong gak ya...
"Kamu minta apa?" bicara dengan suara lembut, "harusnya seorang suami tidak bersikap seperti itu kalau istrinya meminta sesuatu," Mas Juna diam sebentar, matanya berubah, "kecuali kalau...kamu minta cerai Rum?" dia terkejut, matanya terbuka lebar.
Aku melihat sekejap kemudian menundukkan wajah dan mengangguk.
"Hehh," apa maksud helaan napas itu, sekarang aku yang memandang Mas Juna.
Hampir bersamaan mulut cabe Yuni berucap, "Alhamdulillah."
"Kalian kenapa sih, dengar temannya ingin cerai malah seneng, yang satu lega yang satu berucap Hamdallah, nggak lucu tahu."
"Harusnya kalian prihatin, lihat ini, anakku masih kecil," yang dicomot namanya nggak peduli dan sedang tidur nyenyak.
"Tenang saja ada kita," enteng sekali Yuni ngomongnya.
"Kamu nggak boleh disini dulu untuk sementara," wajah Mas Juna serius sekali.
"Memang kenapa? disini ada ibu, ada mbok Nah, ini rumah ibu, banyak tetangga kanan kiri, aku aman disini."
"Nggak, untuk sementara kamu musti sembunyi dulu, sampai kondisi tenang. Kamu yakin Nehan nggak bakal kesini lagi dan nggak mengulang melakukan hal yang seperti kemarin? nggak ada yang bisa menjamin Rum."
"Aku akan tetap disini! nggak perlu terlalu khawatir lah kalian, aku sudah hidup sama Mas Nehan selama delapan tahun. Aku sangat tahu semua tentang dia," kemudian aku ingat cerita mbok Nah, "mmm...nggak semua sih, tapi aku yakin dia nggak akan melakukan sesuatu yang akan membahayakan aku sama Ken."
"Kalau tiba-tiba dia datang nggak akan ada yang nolongin kamu Rum," Mas Juna kekeh dengan pendapatnya.
"Si Juna bener Rum, aku juga musti pergi untuk beberapa hari kedepan," suaranya menunjukkan rasa sesal, "kamu bisa disini kan?!" memerintah orang lain seenaknya, "kalau ada urusan tunda dulu deh, biar salah satu dari kita ada yang posisinya dekat sama Rumi."
"Nggak bisa, aku sudah serahkan urusan gedung kita ke senior supervisor, aku ada urusan yang nggak bisa ditinggal," ujar Mas Juna, kenapa jadi mereka yang ribet sih.
"Sebentar-sebentar, dengar ya, aku baik-baik saja, urusan kalian nggak perlu terganggu karena masalahku sekarang."
Tapi sepertinya telinga keduanya mampet, "apa perlu kita sewa keamanan ya Jun?"
"Stop! omongan kalian makin ngawur, wes toh, aku bisa jaga diri, kalian tenang saja," walaupun kalian temanku, aku nggak enak kalau terlalu merepotkan.
__ADS_1
Akhirnya keduanya menyerah, "kalau ada apa-apa beri tahu kami," bicara hampir bersamaan.
"Iya, kalian kompak banget ngomongnya," aku memeluk Yuni, eh Mas Juna ikut membuka tangannya, "jangan aneh-aneh, aku masih calon janda belum sah jadi janda, gimana sih."
Mas Juna menggerak-gerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri, "siapa yang mau apa, tanganku cuman pegel, jadi senam sedikit."
"Kita berdua pergi dulu, jaga diri baik-baik," Yuni menyentuh tangan Mas Juna, "kamu mau langsung off apa mau mampir dulu ke proyek?"
"Mampir ke proyek dulu, ada yang harus aku lakukan sebelum pergi."
Keduanya pergi setelah berpamitan pada ibu. Memberi pesan pada Mbok Nah dan berbagi nomor telepon. Agak berlebihan memang, tapi begitulah kami dan dulu Mas Juna adalah bagian dari kami berempat.
...***...
Hari ini cuaca agak gelap. Angin berhembus lebih kencang dari biasanya. Musim kering memang akan berganti dengan musim penghujan, bahkan angin pun terasa lembab.
Usia Ken memasuki tiga Minggu. Mas Han belum kembali datang, bapak yang meminta Mas Han untuk tidak datang menemuiku dulu. Biar Rumi tenang dulu kata bapak. Bapak juga bilang kalau aku stress atau ketakutan akan berpengaruh pada produksi ASI milikku dan itu sukses membuat Mas Han menahan diri. Paling tidak semua tentang Ken bisa mengendalikan Mas Han.
Ibu dan Paklek juga sudah kembali ke rumah. Hanya Sekar yang tinggal di negara lain untuk meneruskan rencananya kuliah. Ya...aku tak peduli tentang mereka selama mereka tidak mengganggu kehidupanku.
Ibu seperti biasa, selesai menjahit, sore begini ibu akan berada di dapur. Biasanya dibantu Mbok Nah membuat kudapan—maksudku kalau sekarang ibu lebih seperti nyonya bos, meminta Mbok Nah untuk melakukan ini itu, sedangkan dia duduk di kursi sambil bicara ngalor ngidul. Sejak ada aku, ibu aku ajari untuk menjadwal jam kerja agar lebih teratur.
Jangan ditanya tentang Yuni dan Mas Juna, mereka menelepon seperti dosis minum obat, tiga kali sehari, kadang lebih.
Semua tenang sampai menjelang sore...
"Assalamualaikum," suara Mas Han diluar, aku terkejut, hatiku berdebar bukan karena rindu tapi karena aku takut.
Ibu berjalan keluar dari dapur, tapi masih menyempatkan diri untuk melihatku di kamar, "kamu jangan keluar."
"Waalaikumsalam, Han..." suara ibu lebih terdengar seperti orang terkejut dari pada menyapa, "masuk Han."
"Mbok, tolong ambilkan ponsel saya," Mbok Nah menyerahkan ponsel yang ada di meja rias.
Aku menghubungi bapak, apakah bapak tahu kalau Mas Han datang kemari?
Nada dering berbunyi beberapa kali tapi tidak ada jawaban dari bapak. Aku mulai khawatir, "Mbok tolong hubungi Pak Dul."
"Baik Ndoro Putri," sementara Mbok Nah menghubungi Pak Dul, aku kembali menghubungi bapak, tetap tidak ada jawaban.
Aku memandang Mbok Nah menunggu dengan tidak sabar, "Dul aku ada perlu sama Ndoro sepuh."
Alhamdulillah Pak Dul bisa dihubungi. Mbok Nah mengangguk-angguk, "ngunu ya, piye iki Dul Ndoro kakungmu ada disini."
[Bagaimana ini Dul, Tuanmu ada disini]
"Ya, cobaen nelepon Ndoro sepuh ya."
[Ya, terus coba menelepon Tuan besar ya]
"Bagaimana Mbok, bapak tahu tidak Mas Han datang kemari?"
"Ndoro sepuh keluar kota," waduh berarti bapak tidak tahu.
Baiklah mari lupakan bapak dan hadapi saja. Toh dia suamiku, apa yang bisa terjadi? aku yakin semua akan baik-baik saja. Aku dan Mbok Nah memilih diam dan saling pandang. Menajamkan pendengaran agar bisa mengetahui pembicaraan antara ibu dan Mas Han.
__ADS_1
"Sehat Han?"
"Alhamdulillah sehat Bu, bagaimana Rumi dan Ken anak saya?"
"Sehat Han, kamu tidak perlu khawatir, ibu akan menjaga Ken dan Rumi dengan baik."
"Saya mau meminta maaf Bu."
"Sudah ibu maafkan, ibu yakin Rumi juga sudah memaafkan kamu."
"Saya ingin ketemu anak dan istri saya Bu."
"Oh, boleh Han...boleh, tapi apa tidak sebaiknya kamu merapikan diri dulu. Dipotong dulu kumis sama brewoknya biar rapi. Rambutnya juga mulai panjang."
"Saya tidak ada waktu Bu. Akhir-akhir ini saya fokus pada pekerjaan saya."
Aku mendengarkan percakapan ibu dan Mas Han dengan baik, semua aku dengar jelas. Jadi penasaran bagaimana rupa Mas Han sekarang, sekacau itukah dia?
"Han, dengarkan ibu, sebaiknya kamu pulang, Rumi sepertinya butuh waktu untuk bisa bertemu kamu."
Suara notifikasi pesan ponselku berbunyi, aku lihat dari bapak.
Rum, suruh Han pulang, dia belum stabil.
"Mbok, tolong beritahu bapak kalau kita baik-baik saja."
"Baik Ndoro," biar Mbok Nah yang membalas pesan dari bapak.
Aku memeluk Ken erat dan kembali menguping pembicaraan ibu dan Mas Han. Disaat seperti ini aku bersyukur karena rumah kami tidak luas, jadi bisa leluasa mendengarkan semuanya.
"Saya akan tunggu disini Bu, kalau Rumi belum mau bertemu saya akan tunggu, saya janji tidak akan mengganggu."
"Maafkan ibu Han, lebih baik kamu pulang atau mencari penginapan, ibu tidak bisa lagi menerimamu menginap disini."
Angin menerobos masuk jendela kamarku dengan kencang. Udara dingin menerobos masuk terasa menusuk tulang, "mbok tolong tutup jendelanya," sepertinya akan turun hujan. Suara derit engsel terdengar mengerikan ketika Mbok Nah menutup jendelanya.
"Baik bu saya akan keluar, saya tahu ibu mengkhawatirkan Rumi. Bapak juga bilang Rumi tidak boleh takut apalagi stress, saya pamit Bu. Sampaikan salam saya pada Rumi."
Aku tidak mendengar suara ibu menjawab. Karena penasaran aku mengintip dari balik kelambu. Hanya punggung Mas Han yang tertangkap mataku sedang berjalan keluar.
"Bu..."
"Rum kenapa keluar, ibu takut, Han dulu nggak seperti itu. Dia seperti mayat hidup Rum," tangan ibu menggapai pintu dan menutupnya rapat.
Aku pikir Mas Han akan segera pergi setelah berada di luar pagar, tapi aku salah, dia berdiri disana di sisi mobil yang berhenti di depan rumah.
Langit makin gelap, kali ini sepertinya cuaca benar-benar tidak bersahabat. Pulanglah mas, atau cari penginapan, bagaimanapun aku pernah mencintaimu, sekarang pun sisa rasa itu masih ada. Jangan siksa dirimu.
Tak lama kemudian petir menyambar. Halaman rumahku berasap karena sambaran petir mengenai tanah. Mungkin karena terkejut Ken menangis, suaranya keras melengking membuat hatiku makin ngilu.
Air mulai jatuh membasahi bumi setetes demi setetes sampai akhirnya jatuh bersamaan seperti batalyon dengan senjata pembeku, udara makin dingin.
Aku kembali mengintip keluar dari balik kelambu, Mas Han tetap berada di tempatnya. Pulanglah mas, tanpa bisa ditahan air mataku pun menetes bersamaan dengan jatuhnya hujan dan tangisan Ken.
...***...
__ADS_1