
Juna POV
Aku membuka ponselku. Ragu-ragu menyentuh nama kontak Sekar. Sebelum memutuskan untuk menyentuh kontak itu aku kembali mencari kekuatan dari tiga orang yang mengelilingiku.
"Ingat hanya menanyakan kabar, biar Sekar tidak curiga," Juna kembali mengingatkan rencana kami.
"Tahan itu batang jangan suka tegang. Rencana kita bisa gagal. Kalau kamu sampai terjerat sama ular itu lagi kita lepas tangan," si mulut kebon cabe level tiapuluh masih sinis juga kalau ngomong sama aku.
Cuman Rumi yang diam tidak berkomentar apapun. Dia hanya menganggukkan kepala dan itu memberi aku kekuatan untuk memulai permainan ini.
Aku ketik sebuah pesan untuk Sekar.
Hai, assalamualaikum
Bagaimana kabarmu, semoga kamu sehat meskipun kita tak pernah lagi bertemu.
Kemudian aku sentuh ikon kirim.
"Sudah kamu kirim Han?" tanya Juna.
Aku mengangguk, "kita tinggal nunggu reaksinya," masih lanjut Juna.
"Tadi aku sempat ngobrol sama suster Eny. Dia bilang kalau Sekar ingin memberinya tugas baru yang berhubungan dengan Rumi dan Ken."
Apa lagi ini? aku serius mendengarkan Juna. Lihat saja kalau wanita itu mau main-main sama Rumi dan Ken. Aku akan berhenti menahan diri. Persetan dengan hukum.
"Jadi biarkan dia terus menghubungi suster Eny, dan kamu Han, harus bisa mengambil kepercayaannya. Agar dia mau bercerita bagaimana waktu itu dia membayar suster Eny untuk melaksanakan niat jahatnya."
Juna terus saja bicara, aku heran dari mana dia punya akal-akalan ala detektif seperti ini.
"Kita tunggu bagiamana reaksi Sekar setelah menerima pesan dari Nehan. Segera hubungi kalau ada perkembangan Han. Kamu aktifkan aplikasi perekaman di hape mu. Kalau nanti kamu bertemu dengan wanita itu, pasang aplikasi yang sama agar kalian terhubung. Jadi kita bisa tahu semua yang dia lakukan. Semua pembicaraan akan terekam. Dan selama dia menghidupkan ponsel, kita bisa merekam suara apapun."
"Satu lagi, jangan beritahu suster Eny kita melakukan perekaman. Biarkan dia bebas melakukan apapun jika dia bertemu Sekar. Tujuannya agar kita bisa jaga-jaga kalau wanita itu ingin mengkhianati kita."
Seingatku sahabatku ini seorang insinyur di bidang sipil. Kenapa dia bisa merencanakan sesuatu seperti ini ya?!
"Sudah ah, aku pusing dengar rencana kalian."
Tiba-tiba Juna mengambil paksa ponselku dan mengutak atiknya sebentar.
"Sudah, aplikasinya sudah terpasang."
Dia menyerahkan kembali ponselku.
"Nanti aku ajari bagaimana caranya memasang aplikasi yang sama pada hape Sekar."
__ADS_1
"Kirim padaku file rekaman percakapan yang kira-kira bisa menjerat dia untuk mempertanggung jawabkan semua kejahatannya."
Aku mengernyit, "salah nggak sih kita merekam percakapan tanpa izin begini?"
"Itu kita pikirkan nanti. Lagian nggak semua percakapan akan kita ambil kok."
Lita masih dalam gendongan Rumi. Gadis kecilku itu mulai mengantuk dan perlahan memejamkan matanya.
"Rum, kalau misalnya Lita kamu bawa pulang dan dirawat di rumah menurut kamu bagaimana?"
Aku berusaha untuk bertanya dengan hati-hati, jangan sampai Rumi tersinggung dengan perkataan ku. Bagaimanapun Lita adalah anakku dari perempuan lain.
"Bukannya aku tidak mau mas, aku ingin menghargai suster Eny yang selama ini merawatnya."
"Bukan karena Lita anak Sekar kan, Rum?"
Wajah Rumi berubah, tapi aku tidak salah kan kalau menanyakan hal itu. Karena apapun itu, manusia tidak bisa mengukur hati manusia lain. Rumi menghela napas, aku jadi merasa gak enak.
"Apa kamu harus mengatakan itu mas?"
"Kamu emang suka cari perkara, ya! Masa nggak paham juga sama wataknya Rumi!" lagi-lagi Yuni bicara dengan nada tinggi.
Mendengar Yuni bicara aku menyesal. Dasar mulut lancang, aku memukul diam-diam mulutku beberapa kali.
"Jun, kita pergi aja deh. Biar Raden mas edan itu berurusan sama Rumi."
"Mending kamu pulang deh mas. Aku mau melanjutkan kerjaan aku," Rumi melihat jam tangannya.
"Sekarang waktunya anak-anak tidur siang. Aku mau cek anak-anak dulu."
"Biarkan Lita disini sama kamu ya Rum, jangan serahkan perawatan Lita sama orang lain."
Wajahku aku buat sayu agar Rumi iba dan menuruti permintaanku.
"Percaya sama aku mas, suster Eny merawat Lita dengan baik."
"Aku takut dia membawa lari anak kita lagi Rum."
Lagi-lagi aku melihat perubahan mimik wajah Rumi secara tiba-tiba. Dari yang tadi tenang sekarang berubah kaku dan tegang.
"Jangan menyebut Lita dengan sebutan anak kita, mas. Aku tidak suka."
"Kalau dulu sebelum kamu ingin memiliki ibunya selain anaknya, menyebut anak ini anak kita aku tak keberatan."
"Sekarang anak kita hanya Ken. Lita anakmu dan Sekar mas. Aku tak keberatan untuk membantu merawat Lita, tapi jangan minta aku untuk mengakui anak ini menjadi anakku."
__ADS_1
Salah ngomong lagi aku. Ya sudahlah, lebih baik aku mengalah dari pada Rumi makin emosi.
"Aku ikut apa kata kamu saja Rum."
Ya sudahlah, aku pamit saja untuk memberi ruang pada Rumi. Sepertinya kata-kataku tidak ada satupun yang benar sejak tadi, malah sukses membuat di Rumi jengkel.
"Aku mau ke rumah ibu Rum, lihat Ken sebelum pulang."
"Hmmm."
Rumi menepuk-nepuk punggung anakku dengan kasih sayang. Aku kembali berandai-andai. Andai waktu itu aku tak tergoda syahwat dan tetap setia, pasti hidupku damai bersama Rumi dengan dua anakku.
***
Sepeninggal Mas Han, aku membawa Lita yang masih pulas menemui suster Eny. Meskipun aku bilang sama Mas Han kalau aku tak mau menganggap Lita sebagai anakku, sebenarnya itu hanya di mulut saja.
Aku hanya enggan Mas Han akan terus berusaha mendekatiku dengan menggunakan anak sebagai alasannya. Apalagi Lita tidak memiliki ibu kandung yang akan memperhatikan dirinya.
Ketika aku memasuki kamar anak-anak, suster Eny duduk termenung di depan meja yang memang kusediakan ketika dia harus mengawasi anak-anak.
Di sebelah meja ada almari tempat menyimpan barang kebutuhan anak-anak seperti obat-obatan, alat medis untuk pertolongan pertama dan lain-lain.
Sementara untuk menyimpan kebutuhan personal tiap anak disediakan almari di setiap sisi tempat tidur. Masing-masing anak disediakan satu almari kecil untuk menyimpan baju dan alat pribadi.
Sedangkan kebutuhan umum seperti seprei, selimut dan kelambu di letakkan di ruang khusus.
Aku mendekati suster Eny dan menepuk bahunya dari belakang. Karena meja memang letaknya di dekat pintu masuk kamar.
"Ibu," jawabnya gugup.
Aku menyerahkan Lita yang tidur dalam gendonganku.
"Tidak perlu melamun, lakukan saja yang terbaik sesuai dengan petunjuk Pak Juna."
"Iya Bu," suster Eny menjawab dengan mantap.
Melihat wajahnya yang lesu, ada rasa tidak tega menyelinap dalam hati. Tapi ini adalah konsekuensi atas perbuatannya di masa lalu. Dia juga bilang kalau bersedia untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya demi Lita. Dia tidak mau Lita membencinya ketika dia cukup besar untuk memahami semuanya.
"Ingat, laporkan semua rencana Sekar kepada kami. Saya tidak akan tinggal diam kalau anda berkhianat dan akhirnya membahayakan hidup putra saya."
Wajah dan bahasa tubuh suster Eny memang menunjukkan keyakinan dan mampu memberiku rasa percaya. Aku tidak melihat sedikitpun keraguan pada dirinya.
Kalau ditanya apakah aku percaya seratus persen? tentu saja tidak. Aku masih menyisakan paling sedikit satu persen untuk berjaga-jaga. Manusia hanyalah makhluk lemah yang mudah terperdaya. Jangankan oleh setan, oleh sesama manusia saja banyak yang tak bisa menghindari perangkap. Entah itu dengan iming-iming uang, jabatan atau *** dan wanita.
Dimanapun ada manusia disitu pula setan bekerja. Bukankah setan dan iblis bersedia di masukkan dalam neraka dengan syarat agar diijinkan untuk mengganggu manusia dengan segala tipu dayanya sampai tarikan nafas yang terakhir.
__ADS_1
Semoga saja apa yang disampaikan suster Eny benar adanya. Semoga aku bisa menanamkan kepercayaan ku padanya. Mau disangkal atau berkhianat pun setiap perilaku dan tindakan kita pasti akan berbalas, entah di akhirat kelak sebagai hasil perhitungan hisab dari Allah, atau di dunia dalam bentuk ujian dan cobaan sebagai penggugur dosa.
...***...