
Ketakutanku belum reda, aku tak berharap melihat Mas Han lagi paling tidak untuk hari ini. Mbok Nah duduk disebelahku dengan gelisah. Aku yakin abdiku ini mengetahui sesuatu.
"Mbok Nah mengetahui sesuatu?" meskipun aku berbicara, aku tak mengalihkan perhatianku dari pipi gembul Ken, aku tusuk-tusuk pipi anakku dengan jari, pipinya begitu lembut.
Suara helaan napas berat menusuk telingaku. Aku beralih menatap Mbok Nah, "ceritakan saja mbok, saya siap mendengar apapun."
"Saya sudah berjanji untuk tutup mulut Ndoro Putri, maafkan saya."
"Ya, saya paham kesetiaan yang selalu Mbok Nah jaga," aku kembali fokus pada Ken, "tapi dia hampir membunuh saya mbok."
"Ken hampir kehilangan ibunya," lihatlah betapa kuatnya bayiku ini menyusu, dan itu mengurangi deritaku dari rasa nyeri yang muncul ketika ASI ku penuh.
"Waktu itu usia Ndoro Kakung masih beberapa tahun, bahkan belum memasuki lima tahun waktu Ndoro Kakung datang ke rumah."
Aku berhenti memainkan pipi Ken yang mulai mengantuk dan memasang telingaku untuk mendengar kalimat demi kalimat yang akan meluncur dari bibir Mbok Nah.
"Dia anak laki-laki yang tampan dan lucu," Mbok Nah tersenyum seperti sedang mengenang waktu itu.
Tubuhku kuayun perlahan sambil kupangku Ken, semoga dia makin nyenyak tertidur.
"Tapi sayangnya dia tidak datang sendiri Ndoro, anak lelaki kecil itu datang dengan seorang wanita cantik yang dia panggil ibu."
Aku berhenti mengayun tubuhku. Mengangkat wajah dan memandang Mbok Nah sepenuh jiwa. Wanita tengah baya ini menyimpan duka mendalam di matanya. Seperti tengah mengurai untaian waktu yang terlupakan satu demi satu.
"Ndoro sepuh Putri pergi dari rumah sudah beberapa hari ketika anak itu datang. Saya ingat betul wanita yang dia panggil ibu itu menundukkan wajah hingga dagunya menyentuh dada, mungkin karena takut atau tidak percaya diri."
Ken sudah tertidur, aku membaringkannya di tempat tidur di sebelahku. Tanganku menepuk pelan dada anakku, agar dia tahu kalau aku akan selalu ada untuknya.
"Tak lama kemudian Ndoro sepuh Kakung datang, bicara dengan nada ditekan pada wanita itu dan segera menggendong si tampan kecil di lengannya. Saya masih ingat apa yang dikatakan Ndoro Kakung waktu itu."
Mbok Nah mengucapkan satu kalimat dengan merendahkan suaranya, "pergilah ke tempat yang aku sediakan, aku akan datang kesana nanti."
Helaan napas mbok Nah lagi-lagi terdengar berat, "tapi sayangnya, Ndoro Putri Kakung datang sebelum wanita itu pergi."
"Ndoro sepuh putri mendekati ibu Ndoro Kakung. Wanita itu berusaha tersenyum ketika Ndoro sepuh putri mendekat. Tapi senyum itu menghilang ketika rambutnya ditarik dengan kasar. Teriakan Ndoro sepuh Putri menggema di seluruh rumah utama. Segala sumpah serapah keluar dari mulutnya."
__ADS_1
"Ndoro Kakung yang masih dalam gendongan Ndoro sepuh Kakung menangis sejadinya, meronta minta diturunkan."
"Dasar sundal, wanita tidak tahu malu, wanita ndak punya derajat, hamil sama suami orang, orang miskin yang cuman mengincar harta suamiku melalui anakmu! itu kan yang kamu inginkan!"
"Kalimat-kalimat seperti itu terus meluncur keluar dari bibir Ndoro sepuh putri, tangannya terus memukul, menjambak, melakukan semua yang dia bisa untuk menyakiti wanita itu dan Ndoro Kakung melihat semuanya."
"Ajeng...diam kamu!"
"Waktu Ndoro sepuh berteriak memanggil namanya, Ndoro Sepuh putri baru berhenti. Dia menurunkan si kecil dari gendongan, mendekati Ndoro sepuh Putri dan menampar keras wajahnya."
"Waktu itu mata Ndoro sepuh putri berkaca-kaca tapi ada marah tersembunyi, dia berlari kebelakang dan kembali dengan sebilah pisau besar. Semuanya terjadi begitu cepat, dengan sekali tusuk wanita itu tersungkur bersimbah darah. Semua terdiam, Ndoro Kakung berteriak mendekati ibunya sambil menangis. Waktu wanita itu akan dibawa ke rumah sakit dia menghembuskan napas terakhirnya. Ndoro sepuh putri berdiri dengan sebilah pisau penuh darah di tangannya."
"Anak kecil itu memeluk tubuh ibunya dengan erat, tidak ada yang bisa melepaskan tubuh mungil itu kecuali sang ayah."
"Mengapa tidak ada yang memberi tahu saya?" hatiku hancur mendengar semuanya. Bagaimana bisa anak seusia itu melihat ibunya terbunuh dengan mata kepalanya sendiri.
"Peristiwa itu ditutup, agar Ndoro sepuh Putri tidak menerima hukuman, dan anak itu tak pernah mengingat lagi semuanya. Dia sempat menerima perawatan kejiwaan karena peristiwa itu, sampai pada titik anak itu melupakan semuanya, bahkan dia tidak ingat kalau dia memiliki ibu yang lain, ibu yang melahirkannya."
"Dimana jasad ibu kandung Mas Han dimakamkan mbok Nah?" Mas Han pasti belum pernah melihat makam ibunya.
"Di kebun mawar milik bapak?" tanyaku terkejut. Mungkin karena itu bapak sangat senang berada disana, bapak begitu mencintai mawar beraneka warna dalam kebunnya.
"Wanita itu tidak memiliki keluarga, pemakaman dalam rumah juga bertujuan untuk menutupi peristiwa yang terjadi agar tidak sampai mencuat keluar."
Aku memandang Mbok Nah nanar, "kejam sekali mereka mbok, mereka mengambil paksa ibu dari seorang anak yang masih kecil."
"Peristiwa hari ini seperti mengingatkan saya pada saat itu. Saya takut memori yang tersimpan lama itu sebenarnya masih ada dan terpendam. Karena sejak saat itu Ndoro Kakung tidak mau kehilangan satu barang pun miliknya. Dia akan menangis keras dan tantrum kalau ada barangnya yang hilang. Setelah dewasa dia selalu bilang, lebih baik saya tidak memilikinya sejak awal dari pada saya harus kehilangan mbok."
Ibu masuk ketika Mbok Nah selesai bercerita, "kamu tidak apa-apa Rum?"
Aku mengangguk, suaraku hilang setelah aku mendengar semua cerita dari Mbok Nah. Aku seperti ikut merasakan tusukan pisau ibu mertuaku pada tubuhku.
"Nehan dibawa pulang bapaknya. Dia seperti lupa dengan apa yang dia lakukan padamu Rum. Setelah sadar dia menangis dan memaksa untuk masuk dan melihatmu. Dia memohon sambil berlutut di depan ibu."
Pandanganku mulai kabur. Mataku tertutup embun yang mulai menggenang.
__ADS_1
"Kang mas besan berhasil menenangkannya dan mengajaknya pulang."
Sekarang ingusku yang banjir keluar karena aku menahan tangis. Aku mengangkat wajah yang sedari tadi tertunduk memandang Ken dalam tidur tenangnya, dada mungilnya naik turun teratur.
"Shrot...hiks...hiks," aku membuka tangan, ibu mendekatiku kemudian memelukku erat, "apa yang harus aku lakukan ibu...Hua...Hua..." tangisku pecah.
"Hush...jangan keras-keras kalau nangis, khawatir mengganggu Ken, dia bisa bangun mendengar suaramu itu."
"Saya kasihan sama Mas Han, tapi saya nggak bisa hidup sama dia lagi Bu...Hua...Hua..." bagaimana ini...bagaimana ini...aku harus apa.
"Ishtighfar, tenangkan dirimu, diam dulu."
"Aku nggak bisa diam Bu...aku kasihan sama Mas Han, tapi aku juga takut Hua...Hua..."
"Ada ibu, bapak mertua dan teman-temanmu, sudah jangan nangis lagi."
"Hua...Hua...Hua," ibu menepuk punggungku lembut.
"Rumi sayang sama ibu, Hua...Hua...Hua... jangan pernah tinggalin Rumi Bu, tungguin Rumi sampai tua ya...Rumi butuh ibu, Hua..."
"Shhh.... ibu tahu...ibu tahu."
Untuk beberapa saat aku tidak mau melepaskan ibu, setelah sedikit tenang baru ibu melepaskan pelukannya. Butuh waktu beberapa jam sampai aku bisa diam dan menetralkan rasa hatiku. Aku harus menutup cerita ini, sama yang seperti dilakukan Mbok Nah selama bertahun-tahun. Melihat reaksinya padaku, siapa yang tahu apa yang akan dilakukan Mas Han pada ibu yang merawatnya jika dia ingat.
Mbok nah belum beranjak, "Ndoro putri baik-baik saja?" kekhawatiran begitu tampak di wajah wanita setengah baya ini.
"Semoga iya, sekarang saya harus bagaimana mbok? saya takut apa yang akan saya lakukan nanti memicu hal yang seperti tadi. Membahayakan hidup saya dan anak saya."
Kenapa abdiku ini diam saja, kalau dia yang mengenal Mas Han selama hidupnya tidak bisa menjawab bagaimana denganku.
"Semoga Ndoro sepuh tahu apa yang harus dilakukan seperti waktu itu."
Hari ini aku merasa tubuhku terbawa dalam lubang hitam yang sangat dalam. Hidup bisa menjadi tak terduga seperti ini. Seorang lelaki tampan yang dulu aku pikir begitu sempurna ternyata memiliki hidup yang pelik. Sejarah hitam yang bahkan dia sendiri tidak menyadarinya.
...***...
__ADS_1