Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 64


__ADS_3

Mobil yang kami naiki dan mobil bapak sampai di Rumah Sakit hampir bersamaan. Waktu aku turun dari mobil, aku baru tahu kalau bapak membawa Pak Dul. Aku memberikan senyum lebarku pada Pak Dul.


"Pak Dul apa kabar?"


"Baik Ndoro Putri," membungkukkan badan sebagai pertanda masih menghargai keberadaanku.


Yuni berlari cepat masuk IGD, "mas, tolong mas, ada orang mau melahirkan," padahal aku yang mau lahiran santai aja.


"Daftar dulu ya mbak," petugas administrasi juga menanggapi dengan santai.


"Eh mbak, daftar itu gampang. Itu maknya yang mau lahiran ditolong dulu. Gila apa...pasiennya nggak segera ditolong, malah disuruh daftar," anak itu memang gampang banget meledak, tapi perutku makin mulas sih.


"Mbak, orang melahirkan itu kasus biasa bukan kedaruratan," jawab petugas yang melayani dengan nada santai.


"Eh mbak, kalau ponakan saya sampe lahir di ruang tunggu ini, sampeyan tak tuntut lo," aduh Yuni jangan membuat heboh kenapa, tapi kayaknya aku tambah sayang aja sama kamu Yun. Aduh perutku mulas lagi.


"Bu, tambah sakit," keluhku, sakitnya mulai tak tertahankan.


"Kalau masalah biaya saya bayar di depan, yang penting ponakan saya musti lahir di ruangan terbaik, ngerti nggak sih!" Yun...aduh perutku.


"Iya...iya, sebentar lagi perawatnya membantu mbak buat memberi pertolongan."


"Kamu masih belum pernah melahirkan ya, belum tahu ya sakitnya orang mau melahirkan itu seperti apa?!" lagi-lagi Yuni menghardik petugas administrasi.


"Emangnya mbak tahu? itu sudah dibawa tuh pasiennya, masih mau ngomel disini?"


Aku mendengar langkah Yuni berlari, "sudah selesai daftarnya Yun?" tanyaku, wajahku tak bisa lagi berbohong, pasti sekarang sudah seputih kapas.


"Bapaknya Raden mas edan yang ngurusi, kamu nggak usah mikir yang lain, konsentrasi sama yang mau keluar saja," aku mengangguk.


Aku menggenggam tangan ibu erat, mbok Nah, Pak Dul, dan Yuni mengikuti perawat yang mendorong aku. Tak lama kemudian bapak menyusul.


"Bu, sakit."


"Iya, sabar ya, semua calon ibu pasti kesakitan kalau mau melahirkan."


"Mbak, ruangannya saya minta yang VVIP, dokternya khusus, satu ruangan khusus untuk menantu saya melahirkan," bapak memberi tahu perawat yang berjalan bersama kami.


"Iya pak, saya sudah diberi tahu."


Kami masuk pada sebuah ruangan yang berada di lorong paling ujung, "maaf, yang boleh menunggu hanya dua orang, yang lain silahkan tunggu di luar ya, kalau sudah melahirkan dan pindah ke ruang perawatan baru boleh ditunggu keluarga."


"Iya, saya ibunya," ibu mengajukan diri masuk ke dalam, "ayo mbok Nah ikut saya masuk, kang mas tunggu di luar saja sama Yuni dan Pak Dul."


"Maaf Rum..., meskipun aku disuruh masuk aku pasti nolak, takut," teriakan terakhir yang aku dengar dari Yuni, sebelum akhirnya aku benar-benar dalam ruangan.


"Ibu bisa berdiri kan, kita pindah ke bed ya," aku mengangguk, untung perawatnya sabar dan telaten.


"Aduh...ssttt, Bu, sakit," belum juga berjalan, nyeri hebat menyerang ku, aku terpaksa berhenti sambil memegang tangan ibu erat, bagian bawah tubuhku seperti menganga.

__ADS_1


"Ishtighfar, nak, banyak doa," suara ibu sangat menenangkan.


"Maafkan Rumi ya Bu, huhuhu...," aku mulai menangis, ternyata melahirkan itu sakit luar biasa.


"Bisa jalan lagi Bu?" perawat kembali bertanya.


"Ayo Ndoro putri saya tuntun," mbok Nah memegang tanganku pada sisi yang lain.


Aku mengangguk, ketika aku bisa menjangkau tempat tidur, nyeri hebat kembali menyerang ku, "ibu...huhuhu...sakit...," ibu tak melepas tanganku sama sekali.


"Sabar Rum, banyak doa."


Mbok Nah mengambil tempat di sisi lain, kemudian memegang perutku, entah doa apa yang dibaca tapi tangannya terus mengelus perut besarku kemudian meniupnya. Mbok Nah melakukan itu berkali-kali.


"Mbakyu saya keluar sebentar."


"Mbok Nah mau kemana?" entah kenapa, memang iya atau karena sugesti, aku merasa sakitnya berkurang setiap kali mbok Nah meniup perutku. Aku jadi sedikit takut kalau ditinggal.


"Ada ibu disini," jawab ibu.


"Bu, saya mau turun, mau jalan-jalan, biar cepet lahirannya."


"Jangan turun ya Bu, diatas tempat tidur saja dibuat miring kiri, biar lebih cepat bukaannya, nanti kalau bukaannya sudah lengkap dokternya baru datang," kata perawat yang sedari tadi ada dalam ruangan.


"Nurut saja sama susternya, ayo sana miring kiri," ibu mendorong tubuhku untuk miring ke kiri.


"Ndoro Putri, ayo ini diminum," mbok Nah kembali dan menyodorkan sebuah cangkir kecil.


"Saya nggak mau ah, amis," aku nggak doyan telur mentah, aduh perutku, lagi-lagi aku meringis sambil memegang erat seprei yang aku tiduri.


"Sakit lagi?" tanya ibu, kali ini aku hanya bisa mengangguk.


Samar-samar aku mendengar suara ribut diluar, "lama bener sih...nggak bisa gitu ya?! ibunya dikasih obat biar bayinya cepat keluar," aku mendengar suara Yuni, entah dengan siapa dia bicara kali ini. Itu anak dari tadi emosi terus.


"Sabar, memang melahirkan itu ada yang cepet ada yang lama, ini cucu saya sepertinya agak lama lahirnya," ternyata Yuni ngobrol sama bapak.


"Nona duduk saja, mondar-mandir seperti itu tidak membantu sama sekali, malah membuat saya pusing."


"Saya khawatir terjadi sesuatu sama Rumi, Pak. Bapak yakin tadi sudah pesan fasilitas untuk pasien VVIP?" kali ini bapak tidak menjawab.


"Saya periksa lagi ya Bu," konsentrasi ku mendengarkan suara Yuni buyar ketika perawat memintaku untuk telentang.


"Angkat sedikit kakinya Bu, iya...sedikit lagi, baik...saya lihat dulu ya...," aku merasa beberapa jari dimasukkan ke dalam tubuh bawahku, "masih bukaan tujuh, sebentar lagi lengkap, saya telepon dokternya dulu ya..." Alhamdulillah akhirnya dokternya ditelepon.


"Sekarang dokternya ada dimana sus?" rupanya ibu juga penasaran, mungkin juga menunggu dokternya datang dari tadi.


"Masih bertugas di tempat lain, kalau saya telepon sekarang sekitar lima belas menit lagi sampai."


"Apa? lima belas menit lagi sampai?! lama bener, kalau cucu saya keburu lahir siapa yang bantuin?" ibu mulai panik.

__ADS_1


"Bu," aku berusaha menenangkan ibu, "kan ada banyak perawat yang bertugas," aduh sakitnya datang lagi, "Bu...sakit, ya Allah..." aku remas lagi seperei yang aku tiduri.


"Ya rugi Rum, kamu kan bayarnya ditolong dokter, bukan ditolong bidan atau perawat, gimana sih!" aduh ibu, malu...kenapa ngomong begitu...


Belum hilang rasa malu ku, berganti mbok Nah kembali mecolekku "ayo Ndoro, diminum," kali ini mbok Nah mengulang lagi memintaku menelan kuning telur mentah.


"Saya nggak suka mbok."


"Manut sama saya," akhirnya aku ikuti saran mbok Nah, aku telan kuning telur dengan sekali tegukan, "huek..., tuh kan...aku jadi kayak Yuni," aku meringis menahan mual.


Ternyata itu bukan yang terakhir, mbok nah mengeluarkan bungkusan lain, "apa lagi itu mbok?" lama-lama nyeri perutku bisa hilang tergantikan rasa mual.


"Ini, minyak kelapa, nanti biar licin, biar sekali ngeden bayinya langsung oek...oek..." aduh Mbok Nah, ada-ada saja deh.


Mata ibu melihatku setengah memohon, "sudah minum saja," kali ini suara ibu halus untuk membujukku, akhirnya dengan terpaksa aku minum juga minyak kelapa itu, ibu dan Mbok Nah tersenyum penuh kemenangan melihat cangkir tandas tidak bersisa.


"Ergghhh..." tiba-tiba aku merasakan mulas hebat dan ingin mengejan.


"Jangan mengejan dulu, Bu," teriak bidan yang ada dalam ruangan, "dokternya belum datang."


"Nggak bisa ditahan, sus," teriakku, "aarrrgghh...aku kembali teriak sambil mengejan."


Ibu mulai terlihat tidak sabar, "heh, emangnya kamu pikir bisa ditahan kalau sudah ingin mengejan begitu, kalau dokternya belum datang juga, aku yang akan membantu cucuku keluar," ibu menggulung lengan bajunya.


"Sabar mbakyu, sabar..."


"Erghhh...sus, nggak bisa ditahan lagi..." aku kembali teriak, rasa ingin mengejan makin kuat.


"Sebentar saya cek dulu, sudah bukaan berapa."


"Dari tadi cak..cek...cak...cek terus, ini dokternya mana?!" ibu makin tidak sabar


"Selamat sore semua."


"Selamat sore dokter, pasien sudah bukaan lengkap sepertinya dokter," bidan mendekati dokter sambil berbisik, "keluarganya mulai tidak sabar."


"Oh gitu, mana ini suaminya, sayang sekali sudah pesan layanan VVIP tapi tidak ditunggu suaminya."


"Mbak yu saya keluar dulu," sepertinya Mbok Nah ingin menyelamatkan diri dari ledakan ibu.


Kalau uap di kepala ibu kelihatan, pasti sekarang bisa menurunkan petir dan hujan. Untung dokternya langsung mengalihkan konsentrasi dan perhatian ibu padaku.


"Ayo, sekarang mulai mengejan ya..."


Dari tadi kek—ucapku dalam hati.


Ketika aku mendengar suara tangis anakku memecah ruangan, semua rasa sakit itu hilang. Hanya ada rasa syukur yang tertinggal. Ketika perawat menggendong lelaki kecilku dan menyampaikan kalau dia sehat, tidak kurang suatu apa, seluruh anugerah alam bagai dicurahkan hanya untukku.


Ketika kaki-kaki dan tangan kecil itu merayap diatas dadaku mencari sumber kehidupan untuk pertama kalinya, aku seperti memeluk mentari dan bulan sekaligus. Memiliki siang dan malam dalam genggamanku.

__ADS_1


Aku tak bisa lagi membedakan air mata bahagia atau air mata kesedihan yang mengalir, tapi yang jelas aku makin yakin, tak ada tempat untukmu lagi dalam hidupku mas, tempatmu sudah diisi oleh malaikat kecil yang sekarang mengisi hatiku penuh.


...***...


__ADS_2