
Author POV
~Untuk beberapa episode ke depan, silahkan dibaca dari sudut pandang penulis ya...karena penulis ingin menunjukkan apa yang dirasakan masing-masing tokoh secara bersamaan~
happy reading gaess...
H-1
"Ngapain kamu disini?" sembur Yuni ketika melihat Nehan ada di panti pagi ini.
"Nengok anak."
Lita duduk dengan nyaman diatas pangkuan Nehan. Sedangkan Rumi senyam-senyum melihat interaksi antara mantan suami dan sahabatnya.
"Pulang sono, besok mau nikahan masih aja kamu nggelibet di pantatnya Rumi."
"Kalau sama laki-laki yang halus sedikit ngomongnya, mana laku kalau ngomong galak begitu," jawab Nehan santai sambil memainkan pipi bakpao milik Lita.
"Dasar Raden mas edan, kalau ngomong suka sekata-kata__," tangan Yuni sudah terayun keatas tapi berhenti karena Rumi mengingatkan.
"Yun, ada bayi disini."
Yuni melengos, "aku engap disini. Mendingan aku keluar aja."
"Hari ini kita berangkat bareng," ucap Nehan masih dengan nada yang sama. Matanya melihat Rumi dan Yuni bergantian.
"Kalau Rumi kamu ajak dan dia mau terserah, ngapain kamu lihat aku, mau ngajak aku, gitu?"
"Ogah...nggak mau!" makin nyolot lah, nada bicara Yuni mendengar ajakan Nehan.
"Besok neraka dunia musti ikut semua, kalian berempat musti ikut. Plus Mbok Nah, ibu dan dua anakku ditambah suster Eny."
Rumi mengernyit seperti berpikir. Kenapa ngajak banyak orang sih. Belum tentu juga orang yang diajak mau ikut. Buat apa melihat mantan suaminya nikah lagi, nggak ada untungnya juga begitu pikirnya.
"Iya, kita musti ikut," sambar Juna yang baru datang, "kalian ingin tahu akhir cerita dari semua yang kita rencanakan bukan?!"
"Nah, biar tahu kita semua harus ikut."
Rumi mulai merasa tidak enak. Sebenarnya apa yang direncanakan dua lelaki ini yang tidak diketahui dia dan Yuni.
"Kalian membuat rencana sendiri tanpa aku dan Yuni?" tanya Rumi penasaran.
"Untuk rencana yang terakhir aku dan Nehan memang tidak melibatkan kalian, malah ribet karena ini berhubungan dengan perempuan. Perasaan wanita itu terlalu melankolis, kalau kalian tahu rencana kami, pasti kalian melarang."
Yuni yang hampir berada di luar kembali duduk. Mendengar semua yang diucapkan Juna.
"Kalian jangan aneh-aneh ya."
"Apa yang kalian rencanakan?"
Rumi diam saja. Dia biarkan Yuni bertanya dan dia akan menunggu jawaban dari kedua laki-laki yang ada dalam ruangan itu.
"Kalian mau membunuh Sekar di depan kita semua?" mata Yuni melotot waktu mengucapkan itu.
"Teman kamu yang satu ini emang rada gila Rum. Gimana kamu bisa betah sih, berteman sama wanita jadi-jadian seperti dia."
Yuni makin melotot mendengar perkataan Nehan.
"Kamu itu yang laki-laki jadi-jadian!" sambar Yuni makin gondok.
"Aku keluar dulu mau meminta suster Eny menyiapkan baju buat Lita."
Diantara keempat orang itu hanya Juna yang terlihat tenang. Meskipun sebenarnya tidak juga, karena dia khawatir Nehan akan melakukan sesuatu yang berlebihan di hari pernikahannya besok.
Sementara di dalam ruangan Juna sedang dicecar banyak pertanyaan oleh Rumi dan Yuni. Nehan mencari suster Eny untuk memberi tahu akan mengajaknya serta.
__ADS_1
Dia tahu jam segini suster Eny ada di dalam ruangan kerjanya, karena sebagian besar anak-anak sedang bersekolah.
"Selamat pagi tuan," sambut suster Eny mengetahui Nehan datang sambil menggendong Lita.
"Ibu, Ita itut," tangan si kecil mengulur ke arah suster Eny minta digendong.
Suster Eny melirik Nehan yang tak bereaksi.
"Lita ikut ayah saja ya," Nehan makin mengeratkan pelukannya sambil menciumi rambut anaknya berkali-kali.
"Ayah?...gak mau, Ita mau itut ibu, gak mau ayah.." rengek si kecil.
"Nanti dibelikan es krim," rayu sang ayah.
"Es klim?" Lita mengangguk cepat.
"Suster tolong siapkan baju buat Lita dan suster sendiri, kita akan pergi ke kota dan menginap."
"Untuk keperluan rutin Lita, kita beli disana saja, jadi tidak perlu bawa terlalu banyak barang."
Suster Eny mengangguk tanpa banyak tanya. Mau kemana atau ada acara apa.
"Besok suster harus bersiap, apapun yang terjadi anda harus berani berkata jujur sesuai fakta yang ada."
Wanita itu benar-benar pasrah. Dia hanya ingin selalu bersama dengan Lita. Bayi yang sudah dia anggap anak sendiri. Tak terbayangkan seperti apa hidupnya kelak jika tanpa Lita.
"Baik tuan, apapun yang tuan minta."
Semua sudah tertata. Setelah ini dia akan membawa Rumi pulang untuk menyiapkan kebutuhan Ken dan memberi tahu ibu. Semoga saja ibu tidak menolak nanti.
Nehan kembali berjalan ke ruangan Rumi. Semua mata menuju kearahnya dengan pandangan berbeda. Curiga, khawatir dan penasaran bercampur jadi satu.
"Sebentar lagi kita pulang. Menyiapkan perlengkapan Ken dan kebutuhanmu sendiri. Sekalian memberi tahu ibu dan mbok Nah agar mereka ikut."
Seperti yang sudah diduga oleh Nehan, Rumi membatu. Dia tidak bergerak dari duduknya.
Keduanya saling pandang mencari tahu apa yang dipikirkan. Sebenarnya tidak aneh menghadiri pernikahan mantan suami, tapi yang membuat Rumi merasa heran adalah cara Nehan mengundang yang sedikit memaksa.
Sedangkan Juna sedari tadi tetap tidak mau menceritakan apa yang sudah direncanakan dengan Nehan. Itu yang membuat dua wanita bersahabat ini takut.
Membayangkan nanti mereka akan ada di tengah sebuah pernikahan yang penuh dengan aroma dendam, kemarahan dan kecemburuan. Pasti tidak nyaman dan membuat gerah. Siapa yang mau datang ke acara seperti itu.
"Yun, kamu belum makan, bukan?" Juna berbicara sambil memberi tanda dengan matanya. Mengajak Yuni keluar untuk memberi waktu pada mantan suami istri itu berbicara berdua saja.
"Yuni nggak paham sama kode seperti itu," sahut Nehan yang sedang meletakkan Lita untuk tidur di sofa.
"Yun, kamu keluar gih cari makan sama Juna. Aku mau bicara sebentar dengan Rumi."
"Sialan, kamu pikir aku sebodoh itu tidak mengerti kode dari Juna," omel Yuni sambil berjalan keluar, "traktir aku masakan Padang!"
"Iya," sahut Juna yang mengekor di belakang.
Saat ini Rumi setengah mati menahan air matanya agar tidak luruh. Kalau mau egois harusnya pakai otak, bukan malah tidak punya hati seperti ini.
"Tidak cukup kamu menyiksaku dengan kebohonganmu waktu itu, mas?"
"Apa aku harus mengingatkan kamu lagi?"
Untungnya ada Lita, jadi Rumi menekan suaranya agar tidak berteriak.
"Percaya sama aku kali ini saja, kamu ikut ya..."
"Gila kamu mas, aku memang selalu tersenyum dan mendukung semua keputusanmu."
"Tapi kamu jangan salah sangka, mas."
__ADS_1
"Kamu pikir aku akan baik-baik saja melihat kamu dan dia, dua manusia yang menyakiti aku mengikat janji?"
"Aku tidak sekuat itu mas, aku nggak akan sanggup berdiri disana dan melihatmu bahagia bersamanya," tangan Rumi mulai gemetar, suaranya bergetar menahan tangis. Kepalanya menunduk berusaha menyembunyikan air mata yang mulai mengalir.
Nehan terperangah melihat pemandangan di depannya. Dia tidak mengira kalau rasa itu masih ada meskipun mungkin tinggal sisa. Tapi air mata Rumi membuatnya bahagia.
Lelaki itu berjalan memutar, menarik tubuh yang sedang gemetar itu dan membawanya dalam pelukan.
"Kali ini aku tidak akan menyakiti kamu, Rum, aku janji, percaya sama aku."
"Seperti janjimu dulu?"
"Kamu selalu mengingkari janjimu mas," suara Rumi melemah, kepalanya tersembunyi dalam dada lelaki yang dulu pernah sangat dicintainya.
Pelukan Nehan semakin erat. Sebuah tempat yang ternyata masih dirindukan oleh wanita itu. Takut menjadi semakin nyaman Rumi mendorong tubuh Nehan menjauh.
"Jangan salah paham terus juga jangan geer, semua itu bukan karena aku masih cinta."
"Aku cuman manusia biasa yang merasa sedih karena dengan sadar mengetahui tidak bisa mempertahankan sesuatu yang dulu pernah aku miliki."
Nehan mengulum senyum, "merasa kalah?"
"Iya, aku merasa kalah!" teriak Rumi kelepasan, tapi segera menutup mulutnya menyadari ada Lita yang sedang tidur.
"Kamu tidak pernah kalah Rum."
"Yang kalah itu aku, waktu itu aku dikalahkan oleh naf_su."
"Sekarang aku dikalahkan oleh rasa cintaku yang masih sama besar seperti waktu kita pertama bertemu, lebih besar bahkan."
Gila, pikir Rumi. Masih belum kapok juga mantan suaminya ini, "kamu mau mengulang kesalahan yang sama mas?"
"Kamu barusan merayuku lho mas, padahal kamu besok mau menikah dengan perempuan itu!" Ucap Rumi emosi sambil tangannya menunjuk ke sembarang arah.
"Dengarkan aku, ikut saja besok, anggap saja kamu menemani Ken yang ingin mendampingi ayahnya. Kebalik, anggap saja kamu menemani Ken karena ayahnya yang minta untuk didampingi."
Bahaya kalau salah ngomong bisa-bisa malah ngambek dan benar-benar nggak mau ikut.
"Aduh gimana ya caranya agar membuat kamu mengerti. Semakin kamu maksa begini semakin aku nggak mau mas."
"Belum lagi aku ketemu sama ibumu yang seperti nenek lampir itu."
"Dia bukan ibuku Rum."
"Iya, aku tahu."
Keduanya sama-sama terdiam karena terkejut.
"Kamu sudah tahu, mas?"
"Kamu sudah tahu, Rum?"
Ucap keduanya bersamaan.
"Mbok Nah yang memberi tahu, mas. Kalau kamu?"
"Aku ingat dengan sendirinya. Suatu saat tiba-tiba aku ingat semuanya. Diawali ketika kamu terjatuh dan kepalamu terluka."
"Maafkan aku," bisik Rumi perlahan.
"Kumaafkan, asal kamu mau ikut besok."
"Oke, baik, aku ikut, kamu memang keterlaluan, suka sekali membuat aku tersiksa," Rumi masih terus menggerutu.
Nehan hanya tersenyum. Hampir semuanya berjalan seperti yang direncanakan. Orang-orang yang dibutuhkan juga bersedia untuk ikut. Semoga besok semua berjalan lancar sesuai dengan harapan.
__ADS_1
...***...