
Juna membuka ruang kerja Rumi yang ada di panti. Dia memang memegang kunci cadangan ruangan itu. Sebenarnya dia merasa kesal tapi dia tidak bisa meluapkan kekesalannya.
Mau marah sama Nehan, sahabatnya itu punya hak untuk memiliki keinginan yang sama. Kecelakaan maut itu pun pastinya bukan karena disengaja.
Kalau seumpama Nehan ingin bunuh diri dia tidak mungkin mengambil cara yang sulit. Tinggal potong saja nadinya dan menutup kamar agar orang tidak bisa masuk untuk menyelamatkannya.
Yang paling membuat Juna ingin marah adalah dia masih belum bisa membuat Rumi benar-benar hanya melihatnya. Kurang apa dia selama ini, semua sudah dilakukan. Apa kali ini desakannya adalah sebuah kesalahan? Entahlah...
Hanya satu yang dia inginkan sekarang, itu adalah istirahat. Juna menyentuh salah satu buku yang ada di rak lalu masuk ke dalam kamar rahasia.
Matanya hampir terpejam saking ngantuk nya, mungkin lebar kelopaknya tinggal selebar tubuh capung, karena itu dia tidak awas kalau ada orang lain juga disana.
Juna membanting dirinya keatas tempat tidur dan langsung terlelap.
Yuni terkejut ketika merasakan pergerakan pada kasur tempatnya tidur. Hampir saja dia tadi memeluk orang disebelahnya karena dia pikir itu Rumi, sahabatnya. Untungnya dia membuka mata lebih dulu sebelum benar-benar melakukan itu.
Lelaki ini, lelaki yang selalu dia tunggu hadirnya sekarang sedang terlelap di tempat tidur yang sama dengannya. Rumi memiringkan tubuh, berusaha merasakan hangatnya hawa tubuh Juna meskipun mereka berjarak.
Lalu dia bangun dan mengamati wajah Juna diam-diam. Selama bertahun-tahun dia menunggu, tapi arah angin tak pernah berpihak padanya. Juna tak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman. Sahabat Rumi, wanita yang dicintainya setengah mati.
Sama seperti Juna yang menutup perasaannya selama bertahun-tahun begitu juga dengan Yuni. Bedanya kali ini Juna memiliki kesempatan untuk memperjuangkan cintanya tapi tidak dengan Yuni. Dia harus tetap diam dan menyimpan rasanya rapi dalam hati.
Darimana kamu...bajumu masih lengkap terpasang, bahkan sepatu juga belum kau lepas.
Dengan tenang Yuni melepas sepatu dan kaos kaki sambil terus membatin. Betapa tampannya lelaki di hadapannya ini meskipun tidur dengan mulut yang sedikit terbuka.
Wajahnya yang bersih masih menyisakan tempat untuk cambangnya tumbuh tipis meski rutin dicukur. Aroma tubuh yang wangi, walaupun sepertinya lelaki ini tidak mandi.
Setelah menyelesaikan apa yang ingin dilakukan, Yuni keluar dan membiarkan Juna menikmati tidurnya. Ketika melihat pergelangan tangannya, waktu menunjukkan kalau masih terlalu pagi sebenarnya untuk tidur. Apa semalaman dia tidak tidur? Mengapa juga acara pertunangan dua sahabatnya ini dibatalkan, padahal Yuni menangis semalaman meratapi nasib.
Yuni duduk di meja kerja milik sahabatnya, mengeluarkan ponsel dan menghubungi Rumi.
Halo, Assalamualaikum...
Suara ibu yang terdengar
"Assalamualaikum, Bu...mana Rumi?"
Rumi sedang istirahat Yun, semalaman dia tidak tidur.
Jangan bilang mereka sudah menikah siri diam-diam dan semalam adalah malam pertama dua sahabatnya. Oh...tidak...
"Rumi sama Juna kemarin bulan madu Bu?"
Pertanyaan konyol itu meluncur juga dari bibir lemes Yuni.
Bulan madu apa, kamu kan tahu sendiri pertunangannya ditunda. Ibu sampai cape menjelaskan pada keluarga Juna kenapa tiba-tiba pertunangannya diundur.
__ADS_1
"Memangnya kenapa sih Bu, ada apa sampai acaranya nggak jadi. Jangan bilang Juna sama Rumi putus Bu."
Senyum kecil muncul di bibir Yuni.
Hush...mana ada putus, hanya ditunda
Huh...Yuni menghela napas, kirain.
"Iya, kalau begitu kenapa ditunda, padahal semua siap. Kan kasihan keluarga si Juna."
Makanya, ibu juga tidak enak, untungnya hanya ditunda dua hari, lusa acaranya akan digelar.
"Oh...begitu, tapi ibu belum jawab kenapa ditunda."
Nehan kecelakaan
"Apa?!" teriak Yuni
Yuni menutup mulutnya dengan telapak tangan. Untungnya ruang rahasia itu kedap suara. Suara dari dalam tidak akan keluar dan suara dari luar tidak terdengar di dalam.
Iya, kecelakaan.
"Ya sudah Bu, teleponnya saya tutup dulu."
Yuni mengangkat gagang telepon kantor lalu menghubungi sekuriti untuk meminta pak Dul datang.
"Iya Bu?"
Lelaki setengah baya itu duduk di sofa.
"Pak Dul tahu nggak kalau Nehan kecelakaan."
Pak Dul mengangguk.
"Tahu nggak kecelakaannya dimana, terus ceritanya bagaimana, kecelakaan tunggal atau tabrakan, sebabnya apa ya sampai terjadi kecelakaan, terus kondisinya sekarang bagaimana?"
"Saya harus menjawab yang mana dulu Bu? pertanyaannya banyak."
"Yang mana saja boleh, kesimpulan juga boleh."
"Setahu saya, Ndoro Kakung tabrakan dan kondisinya lumayan parah."
Yuni manggut-manggut, "Pak Dul, saya minta tolong. Sekarang belikan saya nasi Padang. Lauk dan nasinya dipisah."
"Baik, Bu."
Yuni meringkas barang-barangnya, memasukkan dalam tas dan memakai sepatu. Dia kembali masuk ke ruang rahasia dan membuka lemari es, disitu ada air mineral yang cukup, buah juga ada. Tinggal ambil piring dan sendok kalau nasi Padang nya datang.
__ADS_1
Untuk sementara Yuni berusaha menghindarkan orang lain tahu keberadaan kamar itu. Karena itu dia menunggu di ruang kerja. Tapi suatu saat dia akan memberi tahu Pak Dul agar lelaki setengah baya itu tidak terkejut kalau tiba-tiba di dalam ada orang.
"Ini Bu."
"Iya, pak. Pak Dul boleh keluar."
Sudah rapi, nasi dan lauk sudah ditempatkan pada dua piring yang berbeda diatas meja tanpa membuka bungkusnya. Dia letakkan semuanya diatas nakas di sisi tempat tidur, lalu Yuni bergegas pergi.
Rumah tampak sepi dari depan. Tapi Yuni bisa melihat kalau Bu Narmi sedang menjahit.
"Assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam, masuk Yun," sambut ibu.
"Bagaimana Rumi, Bu?"
"Tidak baik, dia baru bisa tidur, tadi pagi dia datang terus nangis nggak mau berhenti."
"Ibu kasihan sama Juna."
Ada rasa tidak terima yang Yuni rasakan karena sikap Rumi. Harusnya Rumi tidak bermain hati, mustinya dia memberi kesempatan pada Juna untuk menemukan cinta sejatinya. Tapi dia terlalu menyayangi sahabatnya, jadi bagaimana dia bisa marah.
"Kamu nasehati Rumi, kalau dia masih belum bisa melepas masa lalu, harusnya jangan dulu menggapai masa depan. Jangan peralat masa depan untuk melupakan masa lalu, kasihan orang-orang yang terkoneksi di dalamnya.
Mata Yuni mengkerut, "kok saya, Bu. Harusnya ibu yang nasehati, bukan saya," Yuni cemberut.
"Sudah, tapi anak itu bebal kalau sudah maunya."
"Sama seperti waktu memaksa Nehan untuk menikahi Sekar. Atau waktu dia kekeh untuk bercerai. Kalau sudah maunya susah dikasih tahu."
Yuni mengangguk, dia adalah salah satu orang yang paling memahami watak sahabatnya.
"Tapi bukan hanya Rumi Bu. Tiap manusia pasti memiliki keegoisan masing-masing pada titik tertentu. Setiap orang pasti akan menutup mata dan telinga kalau merasa keputusannya adalah yang terbaik. Entah itu baik untuk diri sendiri dan orang lain atau baik untuk keuntungan pribadi."
"Tidak ada manusia yang mau disalahkan ketika dia menganggap sesuatu itu benar meskipun itu salah di mata orang lain."
"Iya, bener juga, Yun. Ibu selalu berdoa yang terbaik untuk semua anak-anak ibu. Termasuk kamu Yun."
"Terimakasih Bu," memeluk ibu dari belakang sambil bergoyang.
"Yun..."
"Iya, Bu..."
"Kamu bukan penyuka sesama jenis yang menyukai anak ibu kan...?!"
"Ibu!!!" dan percakapan itu berakhir dengan teriakan Yuni yang memekakkan telinga.
__ADS_1
~Hidup memang untuk masa depan. Tapi jangan jadikan masa depanmu sebagai ajang melarikan diri dari masa lalu yang buruk. Karena kemanapun kamu pergi, masa lalu akan selalu mengikutimu. Berdamailah dengan masa lalumu, agar kamu bisa menyongsong masa depan yang lebih indah~
...***...