
Nehan POV
Nehan POV
Saat ini aku tahu bagaimana rasanya menyesal. Setelah aku ada disini, di sebuah tempat yang disebut Pengadilan Agama untuk menjalani proses perceraian ku dengan Rumi.
Berat rasanya membayangkan akan tinggal jauh dari Rumi dan anakku. Bagaimana aku akan menjalani hari-hariku tanpa melihat Rumi dan Ken setiap hari. Aku pikir hatinya sudah melunak saat kami pergi piknik bersama waktu itu. Tapi ternyata itu adalah sebuah perjalanan perpisahan yang memang sengaja direncanakan oleh Rumi untukku.
Hantaman kekecawaan dari sikap ibu dan dari kebohongan yang aku lakukan secara bertubi-tubi membuat hati Rumi berubah sekeras batu. Aku tahu aku tak bisa lagi mencairkan hatinya. Lagi pula aku melihat Rumi terlihat bahagia dan lebih hidup dengan kesibukannya saat ini.
Banyak hal yang baru aku sadari sekarang. Aku tahu aku sangat mencintai Rumi, karena aku ingin dia bahagia meskipun tidak denganku. Aku memiliki cara pandang yang baru tentang mencintai setelah Rumi ngotot meminta cerai dariku, bahwa mencintai itu tidak harus memiliki.
Tidak adil rasanya bagiku, dia kelihatan begitu cantik saat mendatangi proses perceraian kami. Aku marah, harusnya dia terlihat sedih, tidak peduli dengan penampilannya karena kami akan berpisah, seperti aku yang datang dengan wajah awut-awutan. Tapi aku melihat dia datang dengan dandanan maksimal. Apa-apaan ini?!
Satu lagi yang membuatku menyerah dan akhirnya menuruti keinginannya untuk berpisah. Aku membuat Rumi terluka beberapa kali, bahkan mungkin hampir membunuhnya. Aku berbahaya bagi Rumi, aku tidak ingin anakku tumbuh dengan melihat kondisi mentalku yang labil. Aku tidak ingin anakku melihat ayahnya menyakiti bundanya. Jadi aku memilih untuk mengalah dan pergi.
Banyak sekali yang mengganjal di hati dan pikiranku, ada catatan dari beberapa peristiwa yang aku rangkai. Otakku yang cerdas bisa menyimpulkan kalau ibu yang merawatku selama ini bukanlah ibu yang melahirkan aku. Aku ingin konsentrasi ke masalah itu dulu dan mencari tahu semua kebenarannya dari bapak.
Di depan pintu ruang mediasi sekali lagi aku berdiri berhadapan dengan Rumi. Betapa aku menyadari kalau aku begitu mencintai wanita ini setelah sekarang hampir kehilangan. Apa yang aku kejar tidak sepadan dengan apa yang sekarang aku lepaskan. Dadaku rasanya sesak, separuh jiwaku melayang pergi. Kalau tidak ingat ada Ken dan banyak misteri yang ingin aku pecahkan, rasanya aku ingin mati saja.
Sebenarnya aku ragu waktu bilang, "aku minta permintaanku sekarang Rum," aku bisa melihat kalau dia bingung dan takut.
Maafkan aku, apakah sekarang aku menakutkan bagimu, Rum?
"Peluk aku untuk yang terakhir kalinya Rum," aku lanjutkan permintaanku.
Aku merentangkan tanganku lebar. Aku pikir dia akan menolakku, tapi leganya hatiku tak bisa dibandingkan dengan apapun metika dia melangkah mendekatiku dan menenggelamkan tubuhnya dalam pelukanku. Air mataku luruh diam-diam.
Aku merutuki kebodohanmu. Aku mengutuk diriku sendiri agar berubah menjadi batu, atau tenggelam saja di laut biar dimakan hiu. Kamu akan aku dapatkan lagi Rum, pasti. Bersabarlah dan tunggu aku menyelesaikan semuanya.
"Dengan siapa kamu pulang?" tanyaku setelah pelukan kami terlepas.
"Hiks...hiks," dia masih sesenggukan, rasanya berat sekali untuk menahan diri agar tidak memeluknya lagi, "hiks, aku pulang hiks, naik tak hiks si saja."
"Jangan menangis, bagaimana aku bisa melepasmu kalau kamu menangis di hadapanku seperti ini?"
"Aku nggak bisa huhuhu...," aku tuntun dia untuk kembali duduk.
"Kan kamu yang minta kita pisah?" tanyaku hati-hati, "apa mau dibatalkan saja?" tangisnya langsung berhenti, ujung lengan bajunya digunakan untuk menghapus air mata, dia selalu saja tidak membawa sapu tangan.
"Enak saja, nggak ada batal-batalan. Mungkin aku bakal nangis badai karena perceraian ini, tapi aku nggak mau mundur selangkah pun kali ini."
Hmmm...tadi nangis-nangis.
"Aku pulang, ehemm," dia berdehem untuk menguatkan hati, aku tahu, "nggak usah bingung mikir aku, mari mulai belajar buat saling melepaskan," dia mengulurkan tangannya padaku. Seperti orang yang baru kenal saja. Tapi aku tetap menerima uluran tangannya.
"Ya, tentu saja."
Aku lepaskan kau kali ini Rum. Sampai nanti aku akan mengejarmu lagi. Memulai episode baru dalam kisah cinta kita. Tunggu aku datang dan kembali.
...***...
Perjalanan pulang aku tempuh dalam waktu yang tidak terlalu lama. Aku langsung menuju rumah utama. Pulang ke rumahku sendiri hanya mengingatkan aku akan kehilangan Rumi.
Beberapa kali ponselku bergetar, melirik pop up kalau pesan itu dari Lala, aku abaikan saja. Aku juga akan mengakhiri hubunganku dengan wanita itu. Keputusanku bulat, aku akan memperbaiki diri dulu. Meyakinkan hati apa yang aku mau.
Sampai di rumah bapak, aku langsung masuk kamar yang dulu kutempati sebelum menikah. Istirahat sebentar, menunggu bapak pulang.
__ADS_1
Setelah mandi dan badanku lebih segar, aku mengambil ponsel kemudian membuka salah satu aplikasi pesan. Ada beberapa pesan dari Lala yang belum kubuka.
Pesan-pesan itu aku buka satu persatu, tidak adil rasanya kalau wanita itu tiba-tiba aku abaikan tanpa adanya kejelasan. Aku akan bilang kalau aku butuh waktu untuk memahami diriku sendiri, termasuk juga menjaga jarak dengannya.
Aku buka pesan pertama
Kenapa belum datang?
Pesan itu tertanggal seminggu lalu. Ternyata sudah selama ini aku mengabaikan wanita itu.
Kamu sehat kan, mas? kata ibu kamu baik-baik saja kok.
Pesan kedua yang aku terima.
Kamu kenapa nggak pernah balas pesan dari aku, dibaca pun nggak! (dengan emoticon marah)
Kamu kenapa sih! Kamu berubah, sejak kita menikah kemudian menjadi dekat, aku pikir aku istimewa buat kamu!! kok sekarang jadi begini?
Jangan seperti ini mas, jangan abaikan aku! semua orang pergi meninggalkan aku, kamu satu-satunya orang yang peduli padaku...
Banyak pesan berikutnya yang nadanya sedih, dia merasa ditinggalkan semua orang.
Kasihan juga kalau aku terus-terusan bersikap acuh. Akhirnya aku mengetik sebuah pesan untuknya.
'Maafkan aku, sepertinya aku butuh waktu untuk sendiri.'
Aku baca pesan itu berulang-ulang, harusnya tidak menyakitkan, setelah yakin baru aku ketuk ikon untuk mengirim.
Harapanku sederhana, dia akan mengerti dengan kondisiku. Mamahami apa yang aku mau, kemudian berjalan seiring untuk mencapai yang terbaik dalam hubungan kami.
Sekarang aku tinggal menunggu bapak. Banyak yang ingin aku tanyakan. Pekerja rumah yang aku tanya bilang, biasanya bapak pulang paling lama setelah tiga hari dan itu hari ini. Sedangkan ibu sedang bepergian dengan teman-teman arisannya, jadi aku bisa tenang berbincang dengan bapak.
"Han...Han," aku mendengar suara orang mengetuk pintu dan mendengar bapak memanggil namaku. Ternyata aku tadi sempat tertidur, "Maghrib, Han."
"Iya, pak," bangun, sholat baru kemudian ngobrol sama bapak, biar hatinya tenang dulu.
Bapak sedang di ruang baca. Asistennya yang memberi tahu aku kalau bapak sudah menunggu disana sejak beberapa saat yang lalu.
"Pak," bapak meletakkan buku yang dibacanya.
"Duduk Han," nada suara dan wajah bapak kelihatan kaku. Seingatku bapak akan berwajah seperti ini ketika akan membicarakan sesuatu yang sangat serius.
"Ada yang ingin kamu tanyakan Han?" bapak memandangku dengan pandangan tajam.
Aku mengangguk, "Inggih pak."
"Sesuatu yang ada hubungannya dengan ibumu?"
Aku mengangguk lagi.
"Bapak tahu kamu bukan anak yang bodoh. Setelah beberapa kali ibumu kelepasan omong, kamu pasti akan datang padaku untuk bertanya."
"Bagaimana hubunganmu dengan Rumi, Han?"
Aku memandang bapak dengan tatapan sedih, "buruk pak, saya tidak bisa menolak keinginan Rumi untuk berpisah."
"Bukan karena apa-apa, tapi karena saya mencintainya, saya takut kalau saya terus memaksakan Rumi tetap bersama saya, akhirnya Rumi yang terluka."
__ADS_1
Tidak ada komentar dari bapak, hanya helaan napas yang terdengar berat, "bagaimana dengan wanita yang kau nikahi secara siri itu?"
"Nehan juga ingin berpikir ulang tentang masalah itu pak. Setelah kehilangan Rumi, rasanya Nehan perlu merenungi dimana letak kesalahan yang Nehan lakukan."
"Jangan kau gantung wanita itu. Bagaimanapun dia juga pernah mengandung anakmu. Meskipun kamu ingin sendiri dulu dan menjaga jarak dengannya, kamu wajib memenuhi kebutuhannya. Jangan biarkan wanita itu terlantar!" ucap ayah tegas tak terbantahkan.
"Pak, bagaimana dengan__"
"Ibumu?" potong bapak.
Aku mengangguk. Bapak menyeruput kopinya. Cangkir kopi itu diputar sampai pegangannya pas pada posisi paling nyaman sesuai dengan letak tangan bapak.
"Dia bukan ibumu Han," bapak menatapku nanar, ada kilatan bening di mata milik bapak, "Ajeng Bukan wanita yang melahirkanmu."
Apakah aku terkejut? tidak terlalu. Aku sudah mengira hal ini, "dimana ibu saya pak?"
Bapak diam bukan untuk beberapa saat, tapi cukup lama, "maafkan bapak Han."
Apa?!
"Kenapa minta maaf pak, apa yang terjadi pak, bukan itu jawaban yang Nehan ingin dengar dari bapak."
Jangan meminta maaf Pak, itu menakutkan.
"Bapak gagal melindungi ibumu."
"Tok...tok...tok," aku dan bapak melihat ke pintu.
"Masuk," ucap bapak.
"Maaf Ndoro ini semangka yang Ndoro minta," seorang abdi membawa buah berwarna merah itu masuk.
Di kepalaku berputar kata-kata bapak.
"Maafkan bapak Han. Bapak gagal menjaga ibumu."
Aku berpaling melihat bapak. Kemudian aku melihat abdi yang membawa piring dengan semangka berwarna merah darah. Tiba-tiba di depan mataku muncul bayangan seorang wanita sedang memegangi perutnya yang meneteskan cairan berwarna merah. Sebuah ingatan berkelebat muncul di kepalaku.
Sekali lagi aku melihat bapak, kemudian kembali melihat pelayan yang berdiri di depan pintu. Pelayan itu mendekati aku sambil membawa pisau. Aku melihat dia menghunuskan pisaunya.
Aku terjang pelayan yang aku lihat membawa pisau sambil berteriak, "jangan sakiti ibuku."
Sekali lagi cairan merah itu mengalir deras dari perut ibu. Mengapa bapak hanya diam berdiri disana, "bapak...kenapa dengan ibu," teriakku.
Aku ingin mencegah pelayan itu sebelum dia menyakiti ibu. Tapi tanganku tidak bisa bergerak. Dalam keramaian. aku mendengar suara bapak berteriak.
"Han, sadar...Han!"
Aku merasa tubuhku ada di dua dunia, aku ingin kembali kepada bapak tapi urung aku lakukan ketika aku melihat, Bu Ajeng, ibu yang merawatku selama ini menghunuskan sebilah pisau kepada wanita yang aku yakin adalah ibu kandungku.
"Jangan...jangan sentuh ibuku!" teriakku tidak ada habisnya.
"Telepon dokter," teriak bapak.
Yang aku ingat selanjutnya aku diseret beberapa orang untuk masuk kembali ke dalam kamar, kemudian semuanya berubah menjadi hitam dan tenang.
...***...
__ADS_1