Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 94


__ADS_3

Mataku masih terus mengamati layar, apa kira-kira yang dia bicarakan dengan petugas keamanan. Aku tidak akan keluar jika tiba-tiba dia turun dan masuk. Lebih baik mencari tahu lebih dulu apa yang dia mau sebelum aku menemuinya.


Sekitar lima menit kemudian dia pergi meninggalkan gerbang. Ah, mengganggu orang mau istirahat saja. Bagaimana ini enaknya, langsung tanya atau nanti-nanti saja. Mungkin nanti saja lah...Aku memutuskan untuk memejamkan mata.


Merebahkan tubuh di kasur membuat punggungku rileks. Ya, mending tidur dulu sebentar. Aku berusaha memejamkan mata, detik berlalu sampai menuju menit. Dari satu menit sampai akhirnya beberapa menit kemudian mataku tak mau terpejam.


Sekar sialan, aku jadi tidak bisa tidur begini. Aku ambil ponsel dan kuminta petugas keamanan untuk masuk ke ruangan ku.


"Ada yang bisa saya bantu Bu?" Pak Budi, penjaga gerbang berdiri di depan pintu.


"Duduk Pak."


"Baik Bu," Pak Budi mengambil duduk di depanku, wajah lempengnya membuat aku jadi ikutan tegang.


"Pak Budi mengenal wanita yang tadi berhenti di depan gerbang?" tanyaku.


Dia tampak berpikir, "yang mana ya Bu? soalnya tadi ada beberapa orang yang berhenti untuk bertanya."


"Yang terakhir, baru beberapa menit yang lalu," jawabku.


"Ah itu, tidak Bu." jawabnya singkat.


"Terus kenapa tadi Pak Budi bicara dengan wanita itu?"


Alis Pak Budi bertaut, "bagaimana ibu tahu?"


Dengan mata aku menunjukkan monitor yang ada di depan mejaku.


"Oh iya, bodohnya saya, melalui CCTV."


"Dia menanyakan tentang panti Bu."


Ya tentu saja, "bagaimana penampilan wanita itu?" aku penasaran apakah dia banyak berubah.


"Cantik Bu, makeup nya agak tebal, masih muda."


Sedikit berubah, dulu dia lebih suka bermakeup tipis alami, sekarang makeup nya tebal. Hmmm...sepertinya memang sakit hati bisa merubah seseorang menjadi lebih garang.


"Ya sudah pak, silahkan lanjutkan pekerjaannya."


Apakah kamu sedang merencanakan sesuatu? Kalau tidak, kamu tidak mungkin sampai ke tempat ini.


"Ting" sebuah pesan masuk lagi.


Rum nanti kamu aku jemput, jangan pulang dulu. Kita ngobrol diluar. Baru saja Sekar menghubungi aku.


Aku mengernyit, Sekar? sejak kapan dia berhenti memanggil wanita itu dengan sebutan Lala. Tapi itu bukan urusanku dan nggak penting sama sekali.


Baiklah rupanya wanita itu melakukan serangan terbuka. Kita lihat nanti apa yang akan disampaikan Mas Han.


Pukul empat lebih Mas Han menjemputku. Dia hanya berhenti di depan gerbang. Lebih hemat waktu katanya. Ya sudahlah, aku mengikuti kemauannya. Aku bahkan harus berdiri menunggunya di depan gerbang panti.


Kami menuju ke sebuah depot sederhana. Depot nasi Padang yang pernah aku kunjungi bersama Yuni.


"Duduk dulu Rum, aku pesan makanan dulu," aku mengangguk dan mengambil duduk di salah satu sudut.


Mas Han duduk di hadapanku dan segera mengeluarkan ponselnya. Dia membuka aplikasi pesan dan menunjukkan sebuah pesan dari Sekar.

__ADS_1


Disana tertulis 'aku mengunjungi mantan istrimu mas, hebat juga sekarang sudah bekerja di sebuah yayasan besar.'


"Apa kamu tahu dia tadi mengunjungi tempat kerjamu, Rum?"


"Iya, aku tahu, dia hanya berhenti di depan gerbang tapi dia mengirimi aku pesan ancaman."


"Apa maksudmu?"


Aku mengeluarkan ponsel dan membuka foto tangkapan layar yang tadi sempat kuambil. Mas Han melihat dengan seksama tanpa mengucapkan kata-kata. Tak lama Mas Han mengembalikan ponselku.


"Apa yang dia tuntut darimu Mas?


Dia tidak mungkin terang-terangan mengancam begini kalau tidak menginginkan sesuatu.


"Dia tidak mau pisah denganku Rum."


"Maafkan aku, ini semua karena aku, harusnya aku dulu tetap pada perjanjian awal."


"Semua sudah berlalu mas, sekarang yang penting apa yang harus kita lakukan."


Pesanan datang, banyak juga macam makanan yang dipesan.


"Banyak banget yang dipesan mas."


"Biar kamu bisa milih sendiri mau makan yang mana."


"Nggak gini juga kali," bisikku.


Sambil makan kami kembali fokus membicarakan masalah Sekar.


"Ngomong-ngomong, sejak kapan kamu merubah panggilanmu dari Lala kembali menjadi Sekar."


"Apa bisa kita melapor ke polisi mas?" tanyaku.


"Kita tidak punya alasan cukup kuat untuk membuat laporan Rum, dan aku yakin dia sudah menghapus pesan yang dikirim padamu."


"Lagi pula, dia hanya mengirim satu pesan."


Benar juga, tidak semudah itu lapor pada pihak yang berwajib.


"Aku khawatir pada anak kita," ujarku.


Mas Han terdiam, sendok yang tadi berdenting ketika menyentuh piring ikut berhenti.


"Dia tidak akan senekat itu Rum."


"Ini bukan tentang nekat atau tidak mas, tapi kita musti waspada, menghitung semua kemungkinan yang bisa saja terjadi."


"Drrt," ponsel Mas Han bergetar, bergerak berputar diatas meja. Dia langsung mengambil dan melihat siapa yang mengirim pesan. Karena sedang membicarakan Ken dan pesan yang masuk dari Sekar, mungkin dia khawatir muncul ancaman baru.


"Dari siapa?"


"Mbok Nah," dia menunjukkan sebuah foto.


Ada gambar Ken yang sudah ganteng sedang duduk di kereta bayi. Bibirnya tersenyum lebar.


Mas Han menarik kembali ponselnya.

__ADS_1


"Sebentar, aku belum puas lihatnya," teriakku. Tapi dia tidak peduli, ternyata dia melakukan panggilan video.


"Diangkat," Mas Han tersenyum lebar.


"Hai anak ayah," aku mendengar suara au, au khas milik Ken.


"Aku mau ikut lihat."


"Sini," Mas Han memukul kursi yang ada di sebelahnya. Tanpa pikir panjang aku langsung pindah duduk.


"Hai, anaknya bunda," aku merasakan ada sesuatu yang menimpa pundakku.


"Au...au," aku tertawa, kakinya Ken bergerak aktif, seperti sedang mengayuh sepeda, "lagi naik sepeda ya."


"Waduh, ayah sama bunda lagi berdua ya dek."


Wajah ibu muncul di depan kamera memperlihatkan ekspresi yang...entahlah, "lihat itu dek, ayah sama bunda berpelukan, mirip Teletubbies ya," aku tahu ekspresi itu, bola mata melebar hampir lepas dari rongganya—ibu marah, aku juga menangkap suara Mbok Nah yang tertawa.


Aku melirik pundakku, aku melihat Mas Han dengan tatapan membunuh, "lepas tangannya!"


"Hai Ken...jangan marah depan anak, nggak baik," bisik Mas Han tepat di cuping telingaku.


"Lepas, nggak?!" aku mengikuti ekspresi ibu, " Ken tidak mengerti apa yang kita lakukan," bisikku balik.


"Anak ayah dari tadi gerak terus, nggak capek itu kakinya," tanpa melihatku, tangan Mas Han turun dari pundak.


Aku segera berpindah tempat, kembali ke tempat dudukku semula. Enak saja, mencari kesempatan, jangan pikir bisa seenaknya menyentuhku.


"Sampai ketemu lagi ya nak, sehat-sehat, jangan nakal, makan dan mimik susu yang banyak."


"Antarkan anak ibu dengan selamat sampai rumah, jangan pulang malam-malam!" teriak ibu.


Wajah Mas Han langsung berubah, kepalanya menunduk seperti ibu benar ada di depannya, "iya Bu, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab ibu, singkat, padat dan setengah berteriak.


Aku hampir tersedak karena menahan tawa melihat muka mas Han setelah berbicara dengan ibu. Wajahnya menunduk, senyumnya seketika hilang, makanan yang ada di depannya hanya diaduk saja.


"Ayo pulang mas," masih banyak makanan yang tidak tersentuh diatas meja, "yang belum dimakan dibungkus saja ya, masakan Padang kan kesukaan ibu," ujarku, sambil menepuk punggung tangannya.


"Ah, iya, kamu tunggu sebentar Rum."


Baru akan berdiri ponsel mas Han kembali bergetar. Aku melirik pop up yang muncul, dari Sekar. Aku pikir Mas Han tidak akan membuka pesan dari mantan istri sirinya itu di depanku seperti dulu.


Aku memilih untuk berdiri, tapi suara Mas Han menghentikan langkahku.


"Rum, lihat ini dulu."


Wanita gila itu mengirim foto anak kami yang sedang duduk di kereta bayi, Ken sedang ada di teras rumah sedang makan bersama Mbok Nah. Foto itu baru saja diambil.


Aku membaca pesan yang mengiringi foto.


Anakmu lucu juga, jadi membayangkan untuk ngajak dia jalan-jalan. Enaknya ngajak anakmu kemana ya mas? (menambahkan emoticon senyum sinis)


Aku menyambar ponsel mantan suamiku, kemudian mengambil tangkapan layar dari pesan yang dikirim wanita gila itu.


"Kita pulang, tidak perlu dibungkus makanannya!" suara Mas Han tegas dan ada nada khawatir di dalamnya.

__ADS_1


Aku mengangguk, hatiku campur aduk tidak karuan. Tidak mengira kalau masalah ini akan membahayakan anak kami. Otakku langsung berputar, apa yang harus kami lakukan untuk melindungi Ken. Mencegah semua hal yang bisa menyakitinya karena kesalahan yang dilakukan oleh orang tuanya.


...***...


__ADS_2