
Mas Han memacu mobilnya seperti orang gila. Kencang dan sembrono. Aku sampai harus memegang erat pegangan yang ada diatas pintu mobil.
Berkali-kali mengucap ishtighfar tak membuat Mas Han tergerak untuk mengurangi kecepatannya mengemudi.
Dia langsung melompat keluar segera setelah berhenti tepat di depan pagar. Aku menyusul dengan tergesa. Kepalanya memperhatikan sepanjang kanan kiri jalan. Aku memilih untuk langsung masuk melihat anakku.
"Assalamualaikum," teriakku.
Ibu menyambut di tempat biasanya dia menjahit, "Waalaikumsalam."
"Ken mana Bu?" tanyaku, tanpa berhenti, aku langsung menuju kamar.
"Tentu saja di kamarmu Rum."
Aku bernafas lega ketika melihat Ken tidur dengan nyaman di tempat tidurku. Tubuhku lemas dan langsung duduk di kursi rias.
"Kamu kenapa?" tanya ibu khawatir.
Tidak lama kemudian Mas Han masuk ke dalam kamar sambil berlari. Dia berhenti sambil membungkuk, kedua tangannya menyentuh lutut, nafasnya memburu.
"Alhamdulillah," hembusan napas lega dari Mas Han terdengar jelas sekali.
"Kalian kenapa sih?!" seru ibu.
"Sekarang kalian berdua keluar, kita bicara di ruang tamu. Sikap kalian mencurigakan. Kalian ini seperti orang yang takut kalau ada sesuatu yang akan menimpa tole."
Aku dan Mas Han saling pandang. Kami berjalan menuju ruang tamu, kasihan Ken kalau tidurnya terganggu.
"Lebih baik Mbok Nah ikut bergabung sama kita, Bu," ucap Mas Han.
"Mbok Nah," teriak ibu tiba-tiba.
Aku sampai terkejut, "ibu, kalau manggil ga usah pakai teriak, kasian Ken bisa bangun."
"Maaf lupa kalau tole lagi tidur. Habis, perasaan ibu Ndak enak ini lihat sikap kalian yang ganjil begini."
Kali ini aku biarkan Mas Han mengambil perannya sebagai ayah Ken.
"Ada apa ibu nyonya?"
"Duduk!" kalau sudah begini, mode singa ibu keluar. Nggak peduli mau ngomong sama siapa, yang ada nadanya kaku dan tegas.
"Cepat Han ada apa, jangan sampai ada yang kamu sembunyikan dari ibu!"
Aku melirik mantan suamiku yang sedang melihat ibu dan Mbok Nah bergantian.
"Saya minta ibu dan Mbok nah tidak menerima tamu sembarangan mulai sekarang."
__ADS_1
"Han, kalau ngomong yang jelas. Ibu sama Mbok Nah ini tidak lagi muda. Dijelaskan dulu duduk permasalahannya apa, baru melarang orang tua!"
Mas Han melihat padaku meminta ijin untuk menyampaikan apa yang terjadi. Aku mengangguk untuk meyakinkan bahwa dua orang tua ini wajib tahu alasan pelarangan menerima tamu sembarangan.
"Ini ada hubungannya dengan Sekar, Bu," kali ini Mas Han bicara dengan mengangkat kepalanya, tidak menunduk seperti biasanya.
Ibu terdiam melihat sikap Mas Han, "ada apa dengan wanita itu?" tanya ibu dengan suara datar.
"Dia mengancam Rumi dan saya."
Ibu menggulung lengan panjang daster yang dipakai keatas, tapi karena dasternya bertangan longgar, lengannya tidak berhasil digulung.
"Kalau wanita itu macam-macam dengan cucuku, dia harus berhadapan dengan penggaris kayuku."
Penggaris kayu, jadi mengingatkan kami akan sebuah peristiwa. Mas Han nyengir mendengar kalimat ibu, kemudian menggeliat menggerakkan punggungnya, mungkin rasa sakit itu kembali membayang.
"Ibu jangan main hakim sendiri," suara Ma Han terdengar tegas.
Kami semua terkejut, memandang Mas Han tidak suka.
"Jangan salah paham dulu," tangannya mengulur, matanya melirik penggaris kayu yang dulu dibelikan bapak pengganti penggaris yang patah, "Sekar itu wanita licik, jangan sampai ibu yang dilaporkan ke polisi karena penganiayaan."
Ibu manggut-manggut, "benar juga."
"Terus kita musti gimana Han? Ibu jadi Ndak tenang kalau begini situasinya."
Ken aku ajak ke panti? Patut dipertimbangkan, lebih mudah buat mengawasi, menyusui dan melindungi. Lagi pula aku memiliki ruangan yang aman untuk aku sembunyi. Aku ingat pesan Mas Juna untuk tidak memberitahukan keberadaan ruangan itu pada siapapun.
"Bisa aku pertimbangkan sih mas."
"Kamu lihat dulu situasinya bagaimana, kalau memang Ken lebih aman untuk kamu bawa, lebih baik dia berada langsung dalam pengawasan kamu."
"Maaf Ndoro," kami sampai lupa kalau Mbok Nah juga ikut dalam pembicaraan ini.
"Saya rasa saya masih bisa menjaga tole dengan baik. Kalau memang keadaan tidak mendesak lebih baik Ken tidak sering dibawa keluar rumah. Usianya kan baru tujuh bulan, masih rentan kena penyakit."
Benar juga, "bagaimana mas?" aku jadi bingung.
"Begini saja, malam ini aku akan langsung mendatangi wanita itu, menanyakan apa maunya. Sebisa mungkin kita tidak melibatkan Ken dulu. Tapi kalau memang terpaksa, mau tidak mau Ken harus berada di tempat yang lebih aman Rum. Bagaimana mbok?"
Mbok Nah mengangguk, "begitu lebih baik Ndoro."
"Oh iya, Mbok Nah suatu saat saya ingin ngobrol berdua sama Mbok Nah. Ada yang ingin saya tanyakan."
"Baik, Ndoro."
Pembicaraan malam ini berakhir dengan sebuah kesepakatan. Mas Han tidak membuang waktu dan langsung pulang. Aku tidak bisa lagi berpikir jernih. Aku akan memintanya kembali pada wanita itu jika itu bisa menyelamatkan Ken. Tapi aku rasa itupun bukan solusi terbaik.
__ADS_1
...***...
Sekar POV
Aku masuk rumah setelah seharian berkeliaran. Mencari tempat kerja dan rumah Mbak Rumi ternyata tidak sesulit yang aku sangka. Alamat rumah sudah kuketahui sejak dulu dari ibu. Kalau tempatnya bekerja baru aku tahu tadi setelah beberapa hari aku mengintip semua kegiatan yang dilakukan Mbak Rumi dan keluarganya.
Sekarang ini hidupku kacau. Aku benci ketika Mas Han pergi meninggalkanku. Belum lagi lek Broto yang meneror dan menyalahkanku terus menerus karena perpisahan kami.
Ibu berjanji untuk membantu menyelesaikan masalah, tapi sampai sekarang dia masih sibuk dengan arisannya yang nggak pernah selesai.
Satu-satunya jalan adalah kembali ke Indonesia. Enak saja dia membuang ku setelah menghisap habis maduku. Aku bahkan merasa jijik pada diriku sendiri. Aku seperti perempuan murahan yang menjual diri—ya...mungkin memang benar aku menjual diri. Tapi sekarang aku benar-benar jatuh cinta pada laki-laki lemah sialan itu. Aku ingin memilikinya untukku sendiri.
Setelah membersihkan diri, aku memilih untuk istirahat dan tidur. Tubuhku rasanya remuk karena melakukan perjalanan tanpa persiapan matang. Meskipun akhirnya aku bisa menemukan sebuah penginapan, tapi aku sempat tidur dalam mobil selama beberapa hari.
Tugasku sekarang setelah semua yang aku lakukan adalah menunggu. Aku sudah melemparkan pancing dan umpan. Dia pasti akan datang entah hari ini atau esok hari.
Aku terbangun lewat tengah malam, tidak tahu jam berapa sekarang, aku merasa ada yang mengawasi tidurku. Berat sekali membuka mata, tapi aku paksakan untuk terjaga. Aku tertawa kecil, ternyata benar ada yang mengawasi tidurku.
"Heh," bahuku bergoyang karena menahan tawa, "sejak kapan kamu berdiri disitu?" aku mengangkat kepala dan menyangganya dengan salah satu tanganku. Kantukku langsung hilang.
"Mudah sekali ternyata membuatmu datang lagi. Aku tinggal memasang pancing dan umpan, kamu langsung muncul di hadapanku."
Laki-laki itu diam, dia hanya berdiri disana tanpa mengatakan apa-apa. Dia berjalan mendekat, wajahnya yang tadi tertutup bayangan cahaya lampu sekarang jelas terlihat.
"Jangan ganggu anakku!" ooo... nadanya begitu menakutkan, tapi aku sama sekali tidak takut.
"Memangnya kamu mau melakukan apa kalau aku ingin bermain dengan anak dan mantan istrimu," aku menekankan kata pada mantan istri. Hatiku sakit kalau ingat apa yang menimpaku.
"Aku sudah punya bukti untuk melaporkanmu ke polisi!"
Lucu sekali, memangnya bukti apa yang kau punya.
"Oh, iya? laporkan saja, kalau aku harus di balik bui, aku akan puas setelah membalaskan sakit hatiku."
Masa depanku hancur, jadi aku tidak mau orang-orang yang menghancurkannya hidup tenang dan bahagia.
"Kamu bisa mencegahku menyakiti mereka," kemudian aku diam menunggu reaksinya, tapi ternyata dia tidak terpengaruh, "berlututlah padaku untuk meminta maaf dan berjanji untuk tidak meninggalkan aku lagi."
Menyedihkan sekali diriku, harus mengucapkan kata-kata menjijikkan seperti ini. Mengancam seorang lelaki untuk memintanya tidak meninggalkan aku, tapi aku tak peduli.
Dia berjalan lagi, makin dekat, "jangan ganggu mereka, atau aku akan langsung menghabisimu dengan tanganku sendiri."
Mas Han memegang rambutku, dan menariknya ke belakang. Aku bergetar, tapi aku menutupinya dengan senyumku, "coba saja kalau kau berani!" bisikku.
Mas Han melepaskan cengkeramannya dengan kasar, aku sampai terbanting ke ranjang. Dia berbalik badan tanpa mengatakan apapun, Mas Han keluar kamar dan membanting pintu dengan keras.
Sepeninggalnya tubuhku langsung melorot di atas kasur. Aku memegangi dadaku yang berdegup kencang karena ketakutan. Siapa itu tadi, itu bukan Nehan yang dulu mudah sekali kukendalikan. Aku tidak mengenali orang yang baru saja keluar dari kamar ini, dia...menakutkan.
__ADS_1
...***...