
Anak-anak sudah tertidur. Waktu menunjukkan pukul 21.00. Otakku masih berkutat pada pesan yang aku terima dari Mas Juna. Keinginanku untuk pulang dan membiarkan Mas Han beristirahat aku tahan. Biarlah dia menunda istirahatnya sebentar, aku harus memperoleh jawaban.
"Anak-anak tidur," suaranya terdengar tepat di belakang kepalaku, sedangkan aku berdiri dekat jendela yang mempertontonkan pemandangan kota di malam hari.
"Kenapa kamu bohong, mas," tatapan mataku masih mengarah keluar jendela. Lalu aku memandangnya lekat, aku tak ingin lagi berbasa-basi.
"Apa maksudmu?" matanya memperlihatkan keheranan tapi kemudian dia seperti menyadari sesuatu dan membuang tatapannya ke luar jendela, "apa yang dikatakan Juna?"
"Apa yang kamu sembunyikan?"
Mas Han memandangku, "aku ingin kamu berhenti ikut memikirkan Sekar, Rum."
"Aku ingin kita berhenti secepatnya berurusan dengan wanita itu, mas!"
"Kamu tahu betapa takutnya aku setiap kali aku ingat kalau dia masih berkeliaran di luar sana?!"
"Anak kita dalam bahaya mas."
"Tidak ada yang bisa menjamin kalau wanita itu sudah waras sekarang," aku memandang lelaki di depanku dengan tatapan marah.
"Polisi mencurigai sesuatu, Rum."
"Beberapa bulan terakhir, ada seorang lelaki yang mendatangi rumah paklek beberapa kali di malam hari."
"Terus," sambarku tidak sabar.
"Aku meminta mereka menunda penangkapan. Bagaimanapun dia ibunya Lita."
"Sialan kamu, mas," aku berjalan mendekati ranjang. Mengumpulkan jaket yang dipakai si kecil, kemudian mengambil ponsel.
"Pak Dul, siapkan mobil," tiba-tiba Mas Han menyergapku dari belakang. Melingkarkan tangannya di perutku dan memelukku erat.
"Rum, aku hanya ingin polisi menunda sebentar," aku berusaha berontak untuk melepaskan diri meskipun aku tahu usahaku akan sia-sia.
"Diam Rum, diam!" dia membentakku, kekuatan tubuh Mas Han menghentikan gerakan tubuhku.
"Aku sudah tahu dimana Sekar. Ya, memang benar!"
"Aku hanya ingin memberi dia kesempatan untuk menyadari kesalahannya dengan menyerahkan diri, Rum."
Amarahku makin memuncak, "sialan kamu, mas."
"Selama ini aku berusaha untuk memaafkan semua kesalahanmu. Dan kamu memberi wanita itu kesempatan untuk menyadari kesalahannya?"
"Dia membunuh ibumu, mas! ingat itu!"
Tubuh mantan suamiku berdiri kaku. Tangannya masih memelukku erat dari belakang.
"Lepaskan aku, mas. Aku mau pulang!"
"Maafkan aku, Rum."
"Aku juga baru tahu informasinya beberapa hari ini!" dalihnya.
"Masalahnya lagi-lagi kamu berbohong karena wanita itu, mas!"
"Kamu masih mencintainya mas?"
Mas Han menjawab dengan cepat, "sama sekali tidak!"
"Aku hanya ingin Lita setidaknya bertemu dengan mamanya sekali saja dalam kondisi yang bermartabat."
"Bukan melihat mamanya dengan borgol di tangan."
"Atau bertemu nanti setelah Sekar keluar dari penjara dengan label mantan narapidana."
Aku menarik napas panjang, "lepaskan aku, mas."
__ADS_1
Tubuhku kubuat rileks. Perlahan Mas Han melepaskan pelukannya. Aku berputar dan menghadap pada lelaki di depanku.
"Apakah martabat Sekar lebih penting dari keselamatan anak-anak kita, mas."
"Wanita itu harus menanggung akibat dari semua perbuatan yang dia lakukan, mas."
"Lita masih terlalu kecil untuk mengetahui apa itu martabat."
"Tapi hidupnya dalam bahaya, kalau Sekar mengincarnya dan ingin membawa dia pergi."
"Apa kamu yakin, kamu melakukannya demi kebaikan Lita, mas, dan bukan karena kamu masih menyimpan rasa melankolis untuk wanita itu?!"
"Kamu gila, Rum," Mas Han memandangku tajam tapi aku melihat cinta dan kerinduan untukku di mata itu.
"Jangan memandangku seperti itu, mas."
"Aku sudah berniat untuk melupakanmu dan membuang semua rasa yang dulu pernah kumiliki untukmu."
"Kamu masih begitu memahamiku, Rum."
"Melupakanku?! bull ****!! Sekarang saja hawa tubuhmu memanas, Rum. Pipimu memerah." senyumnya membuat aku malu sekaligus jengkel. Dia seperti mengolok-olok dan menertawakanku.
"Aku bersiap untuk menerima lelaki lain dalam hidupku, jadi kamu jangan mengada-ada," aku menutupi pipiku dengan dua tanganku. Pipi sialan!
"Siapa? Juna?!"
"Iya, mas Juna!" jawabku ketus.
"Baik, aku akan bermain sportif. Beri aku kesempatan yang sama dengan Juna dan kita lihat siapa yang akan memenangkan hatimu."
Pembicaraan kami berhenti karena pintu kamar diketuk seseorang. Mas Han berjalan mendekati pintu dan membukanya.
Sedangkan aku mengambil jaket anak-anak lalu menyelempangkan tas bertali panjang yang tadi kubawa ke pundakku.
"Pak Dul kamu gendong Lita, ya, biar saya menggendong Ken," ujar Mas Han.
"Baik, Ndoro kakung."
"Tidak apa-apa, Pak Dul."
"Tadi saya lama karena perang sama gorila yang tiba-tiba memeluk saya dari belakang, susah dilepasnya."
"Hihihi," terdengar tawa Pak Dul yang ditahan.
Mas Han melotot ke arahku kemudian berdehem dengan suara keras yang membuat Pak Dul langsung diam.
"Ndoro Putri tunggu di lobi, saya akan siapkan mobilnya dulu," aku mengangguk dan mengambil duduk di sebelah anak-anak yang sedang tidur.
"Jadi selama ini kamu menikahi gorila?" sindir Mas Han.
"Mungkin," jawabku cuek
"Hah, mana ada gorila setampan suamimu ini."
"Mantan...mantan suami, jangan terlalu berharap, mas," Mas Han diam kemudian memalingkan muka.
"Itu Pak Dul."
Aku segera menggendong Ken dan Mas Han menggendong Lita. Jaket anak-anak sudah dibawa Pak Dul tadi waktu mengambil mobil.
Setelah memasukkan anak-anak ke dalam mobil. Mas Han menyambar tanganku dan memutar tubuhku menghadap padanya.
"Aku akan menyelesaikan masalah Sekar secepatnya, kemudian aku akan membuatmu kembali padaku apapun caranya, Rum."
"Sekar juga alasanku, waktu aku bilang aku akan ke luar kota besok."
"Jangan hanya bicara, mas."
__ADS_1
"Aku sudah terlalu sering mendengar omongan manismu, jadi sekarang sudah tidak berpengaruh lagi padaku."
Aku melepas tangan mantan suamiku dan masuk ke mobil.
"Hati-hati Pak Dul," teriak Mas Han sambil melambaikan tangannya memberi salam perpisahan.
Selama perjalanan otakku tak mau beristirahat. Pikiranku berkelana kemana-mana. Aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri. Tadi waktu kami berada dalam kamar dan bercanda dengan anak-anak, aku merasa bahagia.
Bahkan aku sempat berpikir untuk mengalah dan kembali pada Mas Han. Tapi semua itu langsung menguap waktu aku tahu lagi-lagi dia berbohong dengan bilang belum mengetahui perkembangan kasus Sekar. Padahal dia tahu benar kalau sudah ada petunjuk yang mengarah dimana lokasi Sekar berada.
"Ndoro Putri sedang memikirkan sesuatu?" tanya Pak Dul yang melihatku dari spion.
"Tidak juga, ya mungkin sedikit," jawabku.
"Tentang Ndoro Kakung?"
"Hmmm," jawabku tersenyum.
"Bukannya saya membela Ndoro Kakung ya, tapi menurut saya Ndoro Kakung akhir-akhir ini sudah banyak berubah."
Aku melihat balik melalui spion, wajah Pak Dul kelihatan serius.
"Ndoro Kakung sering bercerita tentang masa depan anak-anak."
"Pengen membina rumah tangga lagi dengan baik bareng Ndoro putri. Membayangkan setiap hari berkumpul dan berharap kalau Ndoro putri juga menyayangi Lita seperti Ndoro putri menyayangi Ken."
Aku menghela napas panjang. Mudah memang kalau mau dibuat mudah. Memaafkan dan mengulang kembali. Tapi aku tidak mau kebohongan-kebohongan yang dulu pernah ada menjadi bayangan hitam dalam rumah tangga kami.
Bagaimana kalau aku selalu curiga Mas Han berbohong padaku. Betapa menyiksanya rasa tidak percaya yang sewaktu-waktu datang. Bisa-bisa merusak diriku sendiri, terkikis rasa tidak percaya diri yang makin lama makin menghantui.
"Ndoro putri masih ragu pada Ndoro Kakung?" suara Pak Dul kembali terdengar.
Aku tidak menjawab, mungkin bukan Mas Han masalahnya. Tapi aku yang masih ragu pada diriku sendiri.
Pembicaraanku dengan Pak Dul berhenti dengan sampainya kami di depan rumah. Ibu menanti kedatangan kami di depan pagar. Aku cemberut, kenapa tadi tidak ikut saja, kalau ternyata tetap menunggu kami datang di depan pagar.
...***...
Author POV
Permadi masuk dalam kamar yang ditiduri Sekar. Lelaki itu mengendap-endap berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Dia berhenti dan berdiri di sisi ranjang. Sekar sedang terlelap. Beberapa bulan terakhir dia merasa tenang karena kiriman uang dari Lek Broto yang dititipkan pada Permadi.
Entah apa yang diinginkan Permadi dengan masuk dalam kamar Sekar. Tangannya terulur menyentuh anak rambut yang terurai di dahi. Perlahan di selipkan beberapa helai rambut itu ke telinga Sekar.
"Kamu cantik meskipun dalam kondisi tidur," bisik Permadi.
""Bagaimana aku tega membangunkanmu kalau kamu tidur senyenyak ini."
Mata Permadi menatap tubuh Sekar dari ujung rambut sampai kaki. Daster pendek yang dipakai Sekar tersingkap keatas. Sedangkan selimut tebal tidak lagi mampu menutup badan karena berserak diatas ranjang.
"Kulitmu seperti porselen wanita muda," tanpa disadari tangan itu kembali terulur, ketika hampir menyentuh kulit paha, Permadi menyadari sesuatu dan menarik tangannya.
Keringat sebesar biji jagung memenuhi dahi Permadi di malam yang dingin ini. Suhu tubuhnya memanas. Rahangnya mengatup keras. Keinginan mendekati tubuh wanita itu sangat kuat.
"Persetan, aku hanya ingin menyentuhmu."
Permadi mendekatkan bibirnya pada paha Sekar. Dihirupnya aroma tubuh Sekar dalam-dalam. Dia menikmati setiap sensasi, perlahan tapi pasti kepala Permadi menuju keatas ke bagian bibirnya.
Lelaki itu menghentikan gerakannya ketika bibir keduanya saling berdekatan. Permadi memejamkan matanya.
Tiba-tiba, "plakkk," terdengar suara keras dan meninggalkan rasa panas di pipi lelaki itu.
"Apa yang kamu lakukan!" sorot tajam menusuk seperti pedang yang siap terhunus.
Permadi membekap mulut Sekar sebelum wanita itu berteriak, "jangan bersuara atau aku akan membunuhmu!"
__ADS_1
Sekar menutup mulutnya rapat-rapat. Beringsut ke ujung kasur dengan penuh ketakutan. Tidak ada tempat baginya untuk melarikan diri. Karena lelaki itu menghunus pisau kecil tepat di leher Sekar.
...***...