Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 83


__ADS_3

Kepergian Mas Juna dibarengi dengan kembali menutupnya tirai hijau penyekat tempat tidur pasien.


Aku melihat Mas Han dengan tatapan kesal, "kenapa melakukan itu di depan orang lain, sih?"


"Nggak suka, karena dilihat Juna?" sinis sekali nada bicaranya.


Sebel, sudah dikirimi surat panggilan juga masih berlagak sok manis.


"Nggak juga, baca dulu itu suratnya yang diterima tadi," aku mengomel sambil membuang muka melihat kearah lain, "aduh...," ternyata masih sakit kalau dibuat gerak tiba-tiba.


"Jangan banyak gerak dulu!" aku hanya melengos.


Tiba-tiba terdengar suara, "Krak," kelambu terbuka lebar di depan kami.


"Kata dokter sudah bisa pulang," Mas Juna berdiri sambil memegang tirai berwarna hijau, mencegah tirai tertutup kembali.


"Aku yang akan antar Rumi pulang," Mas Han bicara sambil berusaha membantuku turun dari ranjang.


"Iya, tapi rawat dulu itu tangannya," mas Juna berhenti sebentar kemudian bicara dengan suara lebih pelan—cenderung berbisik— dan memalingkan wajah kearah lain, "suka bener cari perhatian."


"Nggak, lukaku nggak parah, biar begini saja, darahnya juga hampir kering."


"Ya sudah terserah," Mas Juna berjalan di depan mendahului kami.


"Jun, kunci mobil masih kamu yang bawa kan, tolong siapkan mobilnya."


Mas Juna tidak menjawab, dia terus melangkah dan tidak memalingkan wajahnya ke belakang lagi.


"Ayo, Rum," kalau kondisi seperti ini tidak ada cara lain bagiku kecuali menurut. Menerima tangan Mas Han dan membantuku berjalan. Kepala rasanya masih nut-nutan. Bahkan beberapa kali tubuhku rasanya ringan hampir jatuh.


Di depan pintu IGD mas Juna sudah siap dengan mobil yang akan membawa kami pulang. Tanpa banyak bicara dia membukakan pintu tengah dan membiarkan kami masuk ke dalam. Aku jadi merasa nggak enak merepotkan Mas Juna begini.


Sebelum meninggalkan pintu, Mas Juna mengatur kursiku setengah rebahan agar aku nyaman. Aku merasa jadi bahan bakar yang bisa menyulut dua laki-laki ini terbakar kapan saja.


Perjalanan pulang kami lalui dengan tenang. Tidak ada perbincangan yang terjadi. Lagi pula aku memang memilih untuk diam, daripada bicara, terus salah topik malah menjadi bumerang buat aku.


"Kita turunkan Rumi dulu di rumah ibu, baru kita balik ke proyek," Mas Juna bicara dengan tenang dan tegas.


Mas Han tidak menjawab tapi aku bisa mendengar ******* napasnya yang terdengar berat. Sekarang beru terpikir, apa nanti yang akan aku sampaikan pada ibu kalau ibu bertanya. Aku melirik laki-laki yang sekarang duduk di sebelahku, pakaiannya kusut dengan noda darah yang mulai mengering bertebaran di beberapa tempat.


"Nanti bersihkan dulu lukanya kalau sampai rumah," aduh kepalaku masih nut-nut kalau dibuat gerak atau bicara.


"Nggak perlu, aku nggak ikut turun. Kamu turun saja diantar Juna. Aku nunggu Juna di mobil saja."

__ADS_1


Mata Mas Han kuyu. Jadi kamu takut ketemu ibu? baguslah, memang seharusnya begitu, iya kan. Tapi kenapa aku jadi nggak tega lihat wajahnya ya.


"Kamu yakin nggak mau turun, nggak pengen ketemu sama Ken?" sebuah alasan yang bagus dan nggak mungkin dia tolak.


Wajahnya berpaling padaku dan menatapku ragu.


"Aku bakal bilang sama ibu kalau aku nggak sengaja jatuh."


Matanya makin menunjukkan tatapan yang tidak aku mengerti.


"Maumu apa sih Rum. Kamu mengirimkan permohonan cerai untukku, tapi kamu masih bersikap sebaik ini padaku."


"Aku kan sudah bilang mas, yang berubah hanya status saja. Hubungan kita tak akan pernah berubah. Ken tetap akan menjadi anakmu."


"Mungkin bagimu itu adalah hal yang mudah, semudah membalikkan telapak tangan, tapi tidak buatku Rum."


Ingin rasanya mendebat, tapi keburu Mas Juna menengahi, "kalau mau bertengkar masalah rumah tangga jangan di depan orang lain, aku juga punya kuping tahu. Seenaknya saja bertengkar di sembarang tempat."


"Diam kamu!" bentak Mas Han


"Lagi pula ini mobil milikku, ini bukan sembarang tempat."


Nah kan, akhirnya mereka berdua yang berdebat, "kalian berdua bisa diam nggak, kepalaku nut-nutan dengar kalian berdebat, nggak ada gunanya."


"Bener juga yang dibilang Nehan, Rum," Mas Juna ikut menyahut sambil sesekali melihat kaca spion, "kamu mustinya nggak perlu bersikap terlalu baik sama Nehan, kasihan, nanti dia susah move on."


"Kok jadi kamu yang repot Jun," mulai deh...


"Mau Rumi baik sama aku, cuek sama aku, itu kemauannya Rumi sendiri saja. Kamu nggak usah pakai kasih ide, nggak usah ikut campur!"


"Aku kan cuman pengen ngebantu kamu Han, kan tadi kamu yang bilang__"


"Nggak perlu," teriak Mas Han memotong kalimat Mas Juna, matanya melotot ke arah spion.


Mas Juna mengendikkan bahu, "ya sudah."


Selalu seperti ini kalau mereka berdua bertemu dan ngobrol. Sepertinya Mas Juna juga nggak sadar kalau ada sebagian wajahnya yang bonyok kena hantam Mas Han.


Mobil berhenti tepat di depan pagar, aku turun dengan hati-hati, "ga usah diantar lah, aku bisa kok jalan sendiri."


Baru mau melangkah kepala senut-senut lagi. Bumi rasanya mau kebalik. Aduh...kok masih gini sih. Akhirnya aku bersandar pada mobil, membatalkan niatku untuk berjalan sendiri.


Aku memandang Mas Juna, "Han, Rumi nggak kuat nih," tapi tangan Mas Juna sudah menyangga tubuhku.

__ADS_1


"Antarkan saja dia ke dalam," nada bicaranya datar sekali.


"Ayo Rum."


Mas Juna memapahku dengan hati-hati. Tangannya diselipkan di lipatan lenganku.


"Maaf merepotkan terus."


"Aku malah berharap kamu bakal ngerepoti aku seumur hidupmu Rum," eh...kalau ngomong asal, sambil nyengir pula.


"Apaan sih, banyak yang ingin aku raih nanti setelah urusanku sama Mas Han selesai."


"Ya, kan bisa diraih bareng__"


"Ga usah bicara yang nggak-nggak deh. Cari perawan sana yang cantik, yang bukan bekasnya orang."


"Bu..." teriakku di depan pintu. Aku harus memutus obrolanku dengan Mas Juna. Sebenarnya kalau buat bicara masih pusing apalagi teriak, tapi aku nggak mau membicarakan sesuatu dengan topik yang satu itu sekarang.


Ibu bergegas ke depan, mungkin karena suara teriakan ku yang menggelegar.


"Lah Rum," muka ibu langsung pucat. tangannya yang tadi merapikan rok langsung diulurkan ke arahku, "kamu kenapa? bajumu kenapa banyak noda darah begini," ibu memutari tubuhku, "walah...kepalamu kenapa?" ibu malah berteriak makin kencang.


Mbok Nah jadi keluar menggendong Ken. Melihat utinya teriak, Ken jadi ikutan nangis. Rumah jadi sibuk karena aku pulang dengan tampilan yang seperti ini.


"Oa...oa...oa."


"Ibu, Ken jadinya nangis kan, dikirain bundanya kenapa-kenapa dengar utinya teriak-teriak. Mbok bawa Ken kedalam dulu."


"Iya Ndoro Putri."


Ibu mendekatiku dan menepis tangan Juna, "lepaskan anak ibu," mas Juna melepaskan tangannya. Mulutnya sudah akan terbuka ketika aku memberi kode agar dia diam saja.


"Ini semua gara-gara Nehan, kan?!" suara ibu sinis sekali, "mukamu juga bonyok begitu," melirik Mas Juna.


"Bukan bu," jawabku.


"Gak usah bohong, itu yang berdiri depan pagar hantunya Nehan, apa?!" aku memutar kepala, Mas Han berdiri mematung disana. Katanya nggak mau ngantar malah berdiri disitu. Jadinya kelihatan sama ibu.


"Kamu juga, ngapain kamu berdiri disitu, sudah sana, bawa orang yang sekarang berdiri depan pintu itu pergi!"


Aduh Mas Han, kalau mau ngumpet, ya ngumpet saja. Kalau mau tampil, ya masuk rumah, kasih salam sama ibu. Katanya nggak mau pisah, mengambil hati ibu saja nggak bisa. Makin marah kan sekarang ibu jadinya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2