
Rumi memainkan bolpoin di tangannya, memutarnya ditangan dan sekali-sekali di ketukkan diatas meja kerja yang berlapis kaca. Matanya menatap kosong. Dikeluarkannya sebuah kunci dan diletakkan diatas meja yang sama.
Rumi merendahkan kepala lalu menyandarkan dagunya disebelah kunci rumah yang kemarin dia terima dari Nehan.
"Tuk...tuk, ngelamun apa?" Rumi mendongak, mejanya diketuk jemari Juna.
"Waalaikumsalam, ucap salam kalau mau masuk ke ruangan orang lain."
"Ada apa sering sekali kesini sekarang?" alis Rumi berkerut, "memangnya nggak ada urusan pekerjaan apa?"
"Takut ada yang nyulik bidadariku, lagian urusan kantor sudah ada yang handel, meskipun kecil, perusahaan kan milikku sendiri."
"Cih, sombong!" Rumi mencibir.
"Lagi mikir apa, sampai nggak denger ada orang masuk."
Rumi melihat Juna tanpa bicara, tapi matanya mengatakan segalanya.
"Nehan lagi?" Rumi mengangguk.
"Mas Han membelikan rumah untukku," kali ini Rumi memainkan kunci ditangannya.
Juna melihat kunci itu dengan tatapan yang entah apa artinya, "Rum, bolehkah aku meminangmu?"
"Apa, mas?!"
Masih sambil melihat lekat kunci ditangan Rumi, Juna mengulang kembali kalimatnya, "aku ingin meminangmu."
Bibir Rumi terbuka menunjukkan keterkejutan yang luar biasa. Tapi tidak ada sepatah katapun yang lolos dari sana.
"Aku akan menemui ibu dan meminangmu secepatnya."
"Tapi mas..."
"Kamu menolakku?"
Rumi makin tidak bisa berkata-kata, "bukan begitu, aku...aku...," bagaimana aku harus menjawabmu mas.
"Kamu masih mencintai Nehan?"
__ADS_1
"Tidak, maksudku bukan begitu. Aku masih ingin menikmati kesendirianku bersama Ken. Ketakutan ku akan sebuah hubungan belum sepenuhnya hilang, mas."
"Berapa lama aku harus menunggu, Rum?"
"Aku...aku, aku tidak tahu," Rumi makin bingung.
Bukannya Rumi tidak mau menerima atau tidak tertarik dengan Juna, tapi semua ini terlalu mendadak dan itu membuatnya tidak bisa bicara, apalagi memutuskan apa yang dia mau.
"Apa aku harus pergi dan melupakanmu?"
"Bukan..., maksudku..., aku nggak tahu mas, aku bingung," Rumi tergagap.
"Jadi aku harus bagaimana, Rum. Aku mencintaimu sejak lama, bahkan saat kamu masih menganggap ku sahabat. Aku merasa kamu akan pergi lagi dariku kalau aku tidak segera mengikatmu. Aku tak mau kehilangan kamu lagi Rum."
Rumi tidak tahu lagi harus menjawab apa. Tapi yang pasti saat ini dia ingin sendiri. Belum ingin terikat pada siapapun. Otaknya yang pintar kali ini serasa kosong. Tidak tahu harus bagaimana, karena Juna memintanya tiba-tiba.
Rumi menghela napas, memandang lurus menembus mata Juna, "biarkan aku pikirkan dulu, mas. Aku akan menghubungi kamu. Jangan temui aku dulu. Bersabarlah, aku pasti akan menghubungimu."
"Tapi Rum..." Rumi melangkah mundur. Menyentuh salah satu bagian di rak buku yang ada di ruangan itu. Pintu kamar rahasia pun terbuka. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Rumi menghilang dibalik pintu yang kembali tertutup.
Di dalam kamar rahasia Rumi membanting tubuhnya ke atas ranjang, "aaaa....," teriaknya.
"Belum selesai yang satu, yang satunya nambah lagi," menggerutu sendiri dalam kamar yang kedap suara itu.
Siapa yang akan dia pilih? Atas dasar apa nanti pilihan itu dibuat? Apakah cinta akan menjadi salah satu pertimbangan dalam pilihannya?
Bayangan wajah mantan suami dan sahabatnya berkelebat bergantian. Tapi setiap kali muncul Nehan di matanya, ada sakit yang mengikuti. Kenapa sakitnya belum juga hilang.
Suara-suara yang dulu dia dengar ketika keduanya sekamar terngiang terus di telinga. Mendengung berulang-ulang.
Tapi Rumi juga belum yakin dengan perasaannya pada Juna. Apakah rasa ini cinta atau hanya sekedar rasa sayang kepada seorang sahabat.
Setiap kali bertemu Nehan dia akan merasa kesal dan ada saja hal yang menjadi perdebatan. Berbeda kalau ketemu Juna, dunia Juna begitu menenangkan. Jika dia bertemu Juna semua hening, dia seperti hanya berdua dalam kesunyian.
"Tenang Rum. Kamu pasti bisa menentukan pilihan terbaik," bicara sambil membelai rambut sendiri.
Rumi berada dalam ruangan itu sampai waktu jam pulang. Dia hampir pulang terlambat karena tertidur.
Melihat sekeliling, membuat dia mengerti bagaimana Juna menyiapkan semuanya dengan baik. Ruangan yang sejuk, toilet yang nyaman, ranjang dan kasur terbaik. Lelaki itu pasti menginginkan agar dia bisa istirahat dengan nyaman.
__ADS_1
Sampai di rumah Rumi melihat mantan suaminya bermain dengan Ken di halaman. Rumi hanya menyapa Ken sekilas kemudian segera masuk rumah tanpa menyapa Nehan.
Nehan hanya bisa memandang punggung mantan istri yang berlalu begitu saja melewatinya. Apa yang dia harapkan, mungkin Rumi masih tidak enak hati dengan peristiwa rumah kemarin.
Di dalam kamar di balik jendela Rumi bisa melihat jelas Ken dan Nehan yang sedang bercengkerama, dia benar-benar bingung.
"Apa yang harus aku lakukan mas?"
"Ada Ken diantara kita yang pasti akan membutuhkanmu. Tetapi juga ada bayang-bayang Sekar yang selalu muncul di mataku setiap kali aku melihatmu."
Sore itu dia biarkan Nehan pulang tanpa saling menyapa. Ibu bisa merasakan kalau ada yang berbeda antara anak dan mantan menantunya.
"Kalian bertengkar lagi?" ibu mengambil tangan Rumi dan menuntunnya duduk di pinggir kasur. Sementara Ken sudah terlelap.
"Tidak."
"Tapi kamu tadi tidak menemui Nehan sama sekali. Biasanya kalian masih ngobrol meskipun sekedar basa-basi."
Sambil menunduk, tidak berani menatap Bu Narmi, Rumi bertanya, "apa yang akan ibu lakukan kalau ada dua lelaki yang menginginkan ibu? Kalau yang satu membawa kenangan buruk, sedangkan yang lain ibu belum yakin dengan apa yang ibu rasakan padanya."
Bu Narmi tersenyum, "temukan diantara keduanya siapa yang membuatmu merasa nyaman. Cinta bisa pudar ketika gairah tak lagi sama. Rasa bisa muncul secara perlahan jika kalian menemukan kenyamanan satu sama lain."
"Ibu paham kamu masih berat melepaskan Nehan. Tapi ibu juga tahu kamu merasa tidak yakin apakah cukup kuat untuk menghadapi kenangan buruk masa lalumu bersamanya."
"Sedangkan dengan Juna, kamu hanya memiliki masa depan Rum. Rasa itu akan datang pada waktunya."
"Pesan ibu, jangan tergesa memutuskan. Kedua lelaki itu punya hati yang bisa tersakiti."
Bu Narmi memeluk erat Rumi, "ibu akan mendukungmu, apapun keputusanmu dan siapapun pilihanmu. Ibu juga akan selalu ada di belakangmu jika kamu akhirnya memutuskan untuk tidak memilih salah satu diantara keduanya."
"Tidurlah, istirahatlah. Ambil waktu sebanyak hatimu mau untuk meyakinkan pilihanmu."
Rumi mengangguk, "terimakasih Bu."
Sebelum meninggalkan kamar anaknya Bu Narmi masih sempat berucap, "buat ibu Nehan sudah seperti anak sendiri, karena itu ibu sering marah padanya bukan karena ibu membencinya."
Rumi merebahkan tubuhnya.
"Ambil waktu sebanyak yang kubutuhkan untuk meyakinkan hati siapa yang ku inginkan."
__ADS_1
Rumi memejamkan mata dengan melafalkan banyak doa, meminta pada sang kuasa agar hatinya mampu menentukan pilihan. Meskipun pilihan itu akhirnya jatuh pada orang kedua.
...***...