
Setelah mengantarkan Sekar kembali ke motel hal pertama yang aku lakukan adalah berkirim pesan.
Grup Neraka Dunia
Aku
Kita bertemu besok di panti.
Yuni
Semoga kamu masih punya niat yang sama.
Juna
Oke
Sedangkan Rumi tidak memberi komentar apapun. Aku melihat jam di tanganku, pantas saja Rumi tidak komen, ternyata hari sudah larut. Pasti dia sudah tidur bareng Ken.
Kemudian aku menghubungi wakilku di kantor. Aku pasrahkan semua urusan pekerjaan padanya. Fokusku saat ini adalah melindungi Rumi dan kedua anakku.
Sekarang aku tenang. Apa yang harus kulakukan semua sudah kulakukan. Kalaupun ada yang bertanya atau nyari paling juga bapak, kenapa aku tidak muncul di kantor.
Mungkin lebih baik bapak aku beritahu saja. Biar bapak bisa membantu menyelesaikan masalah ini. Paling tidak biar bapak ikut senang dan berbagi kebahagiaan denganku.
Baiklah, sepertinya esok pagi saja aku akan menghubungi bapak. Membuat janji juga agar merahasiakan semuanya dari ibu.
Pagi sekali aku bangun. Setelah sholat subuh aku menghubungi Pak Dul dan memintanya untuk tidak menjemput Rumi. Biar aku saja yang menjemput sekalian membawa Ken ikut bersama kami.
Pastinya mbok Nah juga tak boleh ketinggalan. Aku berencana untuk memberi tahu mbok nah tentang anakku Lita. Semoga saja abdi kesayanganku itu bersedia untuk merawat Lita.
Tinggal di penginapan ini cukup nyaman karena semua fasilitas terpenuhi, tapi tetap saja kalau bangun badan rasanya capek semua, namanya juga bukan rumah sendiri.
Kadang mimpi buruk juga hadir. Wajah ibu yang melahirkan aku dengan perutnya yang berdarah-darah muncul dalam tidurku. Andai saja neneknya Ken mengijinkan ku untuk menginap di rumahnya pasti lebih nyaman. Ada Ken dan tentu saja Rumi mantan istriku.
Yang bisa aku lakukan tiap pagi setelah sholat untuk mengurangi pegal hanyalah olah raga. Lari pagi jadi pilihanku. Hawa kota kecil di daerah seperti ini masih cenderung bersih dan segar. Biasanya badanku lebih ringan setelah olah raga.
Begitu juga pagi ini. Aku berkeliling jalanan dan berhenti di alun-alun kota yang kebetulan lokasinya tidak terlalu jauh dari tempatku menginap.
Para lansia memenuhi taman. Meskipun sudah berumur, rata-rata tubuh mereka sehat, kelihatan dari lincahnya mereka berjalan dan melakukan gerakan-gerakan senam ringan untuk melatih pernapasan.
Melihat mereka aku jadi membayangkan akan menua bersama Rumi. Ditemani anak-anakku, kami akan menikmati hari demi hari di usia senja kami dalam damai.
Kalau saja ibu dari Ken itu mau aku ajak rujuk, tak terbayangkan betapa bahagianya aku. Lalu kami akan menambah adik-adik buat Ken dan Lita. Bibirku mulai tersenyum tanpa bisa kucegah.
Pikiran gila terus terlintas. Membayangkan anak-anak, terlintas juga panasnya malam-malam yang telah kami lewati selama hampir sembilan tahun bersama. Tubuhku yang hangat setelah olah raga, makin panas karena bayangan gilaku.
"Senyum-senyum sendiri mas, membayangkan apa pagi-pagi begini?" goda salah satu kakek yang sedang lari-lari kecil di tempat.
Aku menggeleng sebagai jawaban karena terlalu malu untuk jujur.
"Istrinya mana kok sendirian, pulang saja dari pada senyum sendiri begitu," ucap kakek yang sama dengan suara lebih keras.
Bahuku bergetar karena tertawa dan merinding mengingat semuanya kembali. Aku bergegas berdiri, saat ini aku butuh air untuk mendinginkan tubuhku, dasar gairah jahanam, tidak tahu tempat dan waktu.
"Maaf kek, kakek benar sebaiknya saya kembali ke penginapan," jawabku sambil tertawa dan melambaikan tangan sebagai tanda berpamitan.
Aku menggerakkan sedikit tubuh bagian bawahku yang sesak di dalam. Pagi-pagi senjataku makin mengeras karena bayangan liar terus terlintas. Mandi air dingin adalah satu-satunya solusi.
Waktu menunjukkan pukul delapan ketika aku berdiri di depan rumah ibu, rumah yang menggambarkan kedamaian pemiliknya. Pak Dul yang memberi tahu biasanya Rumi berangkat ke panti pada jam segini.
"Han, masuk," teriak ibu dari pintu.
Aku mengangguk lalu melangkah ke dalam.
"Ibu kok tahu Han datang?"
"Tahu lah, suara mobilmu kedengaran dari dalam."
__ADS_1
Rumi keluar dari arah kamar dengan pakaian kerja nya. Rupanya dia sudah siap untuk berangkat.
"Kok kamu yang jemput mas?"
"Pak Dul kemana?"
Cantik sekali Rumi pagi ini. Wajahnya begitu segar dengan riasan tipis kesukaannya. Wanitaku yang selalu sederhana.
"Aku yang minta buat jemput kamu. Pak Dul ada kok di panti."
"Oh...kirain."
"Rum, Ken sudah bangun kan?" tanyaku.
"Sudah lah...sudah ganteng malah."
"Aku ingin mengajak Ken hari ini. Biarkan dia ikut ya. Sekalian aku ingin mengenalkan Ken pada Lita," pintaku.
"Siapa Lita?" tanya ibu dari arah meja makan.
Rumi melihat jam tangannya lalu memandangku.
"Sebaiknya kita ngobrol dulu sama ibu dan mbok Nah, mas. Sambil kamu makan juga nggak apa-apa."
"Tapi nanti kamu telat," jawabku.
"Sekali-sekali nggak masalah. Nggak berangkat juga nggak apa-apa kok."
Aku jadi ingat dengan janjiku semalam.
"Nggak bisa aku sudah janji sama Yuni dan Juna hari ini kita kumpul."
"Ah masa. Kok aku nggak tahu."
Rumi mengambil ponselnya dan membuka aplikasi pesan, "eh...iya, hahaha...maaf baru baca."
"Siapa Lita?" ulang ibu bertanya. Di tangannya sudah ada nampan yang diatasnya ada minuman dan pisang goreng.
Rumi menggandeng ibu menuju meja makan dan aku mengikutinya dari belakang.
Di atas meja sudah tersedia menu makan pagi sederhana. Nasi goreng, telur mata sapi serta kerupuk dan irisan mentimun. Aroma nasi gorengnya membuat perutku berontak untuk diisi.
"Mbok Nah, sini ikut gabung," ternyata Rumi paham mauku tanpa aku minta. Dia juga memanggil mbok Nah yang sedang berada di dapur membereskan alat makan Ken.
Sambil makan aku sambil bercerita. Semua mendengarkan dengan sabar. Sesekali aku dengar ibu dan mbok Nah mengucapkan ishtighfar sambil mengelus dada.
"Wo alah Han, kasian anakmu itu."
"Karena itu hari ini saya mau ijin untuk membawa Ken ikut ke panti Bu, biar Lita tahu kalau dia punya saudara."
"Iya...iya, sekali-sekali bawa kesini juga, Han."
Lega sekali hati ini. Mantan ibu mertuaku ini memang baiknya luar biasa.
"Loh mbok Nah mau kemana?" teriak ibu.
Mbok yang sedari tadi diam. Langsung berlalu dari meja makan.
"Mau ganti baju ibu nyonya. Mau ikut Ndoro Kakung sama Ken."
"Wo alah tak pikir mau langsung jalan ke panti buat ngelabrak suster itu sama mantan madunya Rumi."
Rumi tertawa kecil dan Mbok Nah hanya diam, tidak terdengar jawaban apapun.
Akhirnya kami harus terlambat satu jam untuk berangkat ke panti. Mau bagaimana lagi, banyak yang harus kuceritakan.
"Woi, telat gak kira-kira! Biasanya jam delapan lebih sudah sampai sini," sembur Yuni melihat kedatangan kami.
__ADS_1
"Maaf Bu bos, telat baru hari ini juga," jawab Rumi sambil memeluk lengan sahabatnya.
"Bukan kamu masalahnya. Noh mantan suami kamu itu janjian pagi-pagi ketemu!" dengan nada nyolot seperti biasanya.
Juna diam saja melihat kehebohan sahabatnya. Matanya lebih fokus pada Rumi dan aku yang datang bersamaan. Entah apa yang dipikirkan sahabat baikku itu.
"Hai ganteng," Yuni heboh lagi melihat Ken yang turut serta. Pipi Ken menjadi sasaran uyel-uyel Yuni. Si kecil hanya tertawa sambil bicara dengan bahasanya sendiri.
Aku letakkan ponselku diatas meja aku buka hasil rekaman kami kemarin. Semua orang mendengarkan.
"Oke, kamu musti Pepet terus si Sekar," detektif Juna mulai memberi arahan.
"Wanita itu masih mencintai kamu. Target kita dia mengakui kejahatannya. Setelah itu kita serahkan semuanya ke pihak yang berwajib. Kalau suster Eny pasti akan menerima hukuman, tapi aku tidak yakin dengan Sekar."
"Mau coba mendengarkan apa yang sedang dilakukan wanita itu sekarang?" tanyaku iseng.
"Boleh," jawab Yuni semangat sementara Rumi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Ponsel kukeluarkan, aplikasi kuhidupkan dengan suara volume maksimal.
Pada awalnya tidak terdengar suara apapun. Tapi kemudian terdengar suara seorang wanita menyanyikan sebuah lagu.
Aku wanita yang sedang jatuh cinta
Ingin membawanya selalu
Kedalam hidupku
Selamanya
Aku wanita yang
Sedang jatuh cinta
Kuharap dia
Merasa yang
Aku rasa
Tawa Yuni meledak memenuhi ruangan kerja Yuni.
"Itu lagunya Reza Artamevia kan?"
Kami yang terkejut mendengar suara tawa menatap Yuni dan mengangguk.
"Kalian dengar nggak sih, kalau lagunya Reza jadi kaya dangdut, hahahaha..."
"Bisa-bisanya kamu jatuh cinta sama peranakan Kunti."
"Maksudmu?!" enak aja kalau bilang aku jatuh cinta sama peranakan Kunti. Peranakan Kuntilanak?
"Iya peranakan Kuntilanak. Udah genre lagunya jadi hancur, nyanyi pakai ketawa-ketawa persis Kunti, hahahaha..."
"Sialan kamu!"
Aku ambil salah satu bantal sofa dan melemparkannya tepat ke muka Yuni. Tidak kusangka Yuni langsung berdiri dan berlari mendekatiku.
"Sini kamu, sini!....enak saja lempar anak orang pakai bantal."
"Yun!"
Juna berteriak sambil memeluk pinggang Yuni, menahannya agar tidak mendatangi aku. Sedangkan aku langsung berlari ke belakang Rumi untuk bersembunyi. Aduh amit-amit deh...siapapun suami Yuni nanti, kasian bener laki-laki itu.
......***......
Eh si Nehan
__ADS_1
Ngomong sekata-kata
Siapa tahu Yuni itu jodohmu yang tertunda, hahaha...