Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 123


__ADS_3

Aku minta diantarkan ke rumah bapak. Aku yakin bapak membutuhkan teman saat ini. Sedangkan mas Juna langsung berpamitan untuk pulang. Karena ternyata tak semudah itu untuk mengunjungi Sekar.


Sebenarnya aku bisa saja menginap di rumah tinggalku dulu semasa menikah dengan Mas Han. Tapi terlalu banyak kenangan pahit yang tersimpan di tempat itu.


Mas Han datang hampir larut malam. Sepertinya bapak yang memberi tahu kalau aku datang.


"Rum..." mantan suamiku itu langsung menuju kamar tidurku bahkan sebelum ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Boleh aku masuk, Rum?"


"Bersihkan diri dulu, kamu kan dari mana-mana."


"Iya," tanpa menunggu diminta dua kali, Mas Han berjalan cepat meninggalkan aku.


Karena Mas Han sudah datang, aku memutuskan untuk keluar kamar. Dari pada kami berada dalam satu kamar berdua, lebih baik aku mengalah agar kami bisa bicara di ruang tengah atau ruang tamu.


"Duduk mas," aroma sabun mandi Mas Han yang dulu menjadi favoritku memenuhi ruangan, "ternyata bapak masih menyediakan sabun mandi khusus buatmu mas."


"Kamu sudah makan, Rum?"


"Harusnya aku yang bertanya, apa kamu sudah makan, mas?"


"Sudah, tadi makan di depot dekat rumah sakit tempat Sekar dirawat."


"Kamu baik-baik saja, mas?"


"Aku baik-baik saja, Rum," pandangan mata Mas Han menerawang jauh.


"Waktu pertama kali melihat kondisi Sekar, aku memang merasa bersalah. Tapi aku pikir, hidup adalah pilihan. Mungkin kita berdua memang punya andil mengawali semuanya. Tapi Sekar selalu punya pilihan untuk menolak."


Terlintas kembali dalam ingatanku bagaimana aku dan Sekar saat itu pertama kali bertemu. Seorang wanita muda yang cantik, cerdas dan penuh percaya diri. Tapi memang sejak awal Sekar mudah tergoda dengan iming-iming untuk memenuhi obsesi diri.


"Jangan lagi merasa bersalah Rum. Semua sudah ditakdirkan yang kuasa."


"Bagaimana keadaannya, mas?"


Mas Han menghela napas yang terlihat berat, "tubuhnya penuh luka, banyak memar dan lebam. Selain itu ada beberapa luka sayatan yang tidak terlalu dalam."


Aku menggenggam tangan mantan suamiku dan dia melanjutkan, "organ vitalnya luka parah Rum, kemungkinan dia digauli dengan cara yang kasar, mungkin karena itu juga dia nekat membunuh laki-laki itu."


"Apa rencanamu, mas?"


"Tak banyak yang bisa kulakukan, polisi masih menunggu kesehatan fisiknya membaik kemudian akan dilakukan pemeriksaan mental dan kejiwaan."


"Kalaupun nanti dia harus dirawat di rumah sakit jiwa, aku akan membawanya ke rumah sakit jiwa terbaik. Aku tak akan pernah bisa memaafkan Sekar, tapi aku juga tak bisa menganggap wanita itu tidak ada. Bagaimanapun juga dia pernah mengandung anakku."


"Serahkan Lita padaku mas. Aku janji akan merawat Lita dengan baik."


"Aku akan menyerahkan Lita, juga ayahnya Ken dan Lita untuk kamu rawat, Rum."


Aku melengos melepaskan genggaman tangan Mas Han, "arahnya kesitu lagi kesitu lagi," aku melenggang pergi meninggalkan mantan suamiku sendirian.


"Kamu mau kemana Rum?"


"Tidur, ngantuk. Kalau besok Sekar boleh dijenguk aku mau ikut."


"Kita pergi berdua ya...jangan ajak si bujang lapuk."


Sebelum menghilang dibalik pintu kamar aku menjawab, "biar lapuk tapi ganteng dan setia."

__ADS_1


"Rum...kalau kamu menerima Juna, aku akan pergi dan nggak akan pernah kembali!"


Dibalik pintu aku berhenti, menyandarkan tubuhku. Aku mendengar semuanya mas, sekarang ini kalaupun kamu ingin pergi, aku tak akan menahanmu.


Mas Juna datang pagi sekali. Penampilannya terlihat fresh. Pilihan baju setengah formal yang dia pakai makin menonjolkan ketampanannya. Ketika melihatnya aku tak bisa menahan senyumku.


"Aku kan bilang kita pergi berdua," bisik Mas Han menekuk mukanya.


"Aku kan tidak bilang setuju."


Bapak keluar dari kamar, "kalau mau berangkat kita sarapan dulu bersama."


Mas Juna menyalami tangan bapak dan menyapa dengan sopan, "selamat pagi pak."


Bapak menepuk pundak Mas Juna dan mengajaknya turut serta untuk makan.


"Ayo Jun, makan."


"Pak, Juna itu sukanya sarapan roti, disini nggak ada roti. Kamu nggak suka nasi buat makan pagi kan Jun?" Mas Han berkata sambil melotot dan menggeretakkan giginya.


"Monggo pak, saya tidak keberatan sarapan apapun, ayo Rum."


Aku berjalan mendahului, "mau teh atau kopi mas?"


"Aku teh hangat manis ya Rum. Seleraku masih sama seperti yang dulu kok," mantan suamiku mengajukan permintaannya.


"Bukan kamu mas, tapi mas Juna. Itu teh mu sudah disiapkan abdi di meja," Mas Han makin cemberut.


Bapak mengulum senyum melihat tingkah anaknya yang kekanakan.


"Aku kopi Rum, jangan terlalu manis ya," jawab yang ditanya.


"Kamu duduk saja, Rum. Biar aku yang siapkan," terkejutnya aku melihat Mas Han yang tiba-tiba berdiri dan setengah berlari mendekatiku. Tangannya menyentuh bahuku dan mendorong sedikit tubuhku untuk kembali duduk. Apa-apaan sih ini...


"Aku paham benar kopi kesukaan Juna seperti apa, kamu duduk saja," bicara sambil memberikan senyum manis untukku. Eh...sejak kapan mantan suamiku ini pandai membuat kopi. Minumannya saja selalu disiapkan orang lain.


"Tapi mas, kamu kan hampir gak pernah masuk dapur apalagi membuat kopi," bertingkah aneh membuat heran saja.


"Sudah, aku bisa kok," sambil menggerakkan mata untuk memintaku duduk tenang.


"Makan dulu saja, mas," aku mengulurkan sebuah piring pada Mas Juna, tapi belum sempat diterima, dari arah dapur pembuat minum dadakan kembali lagi mengambil piring yang kubawa.


"Kamu diam saja, Rum. Biar aku yang melayani Juna," Mas Han menyerahkan piring itu sambil melotot, "kamu bisa kan melayani diri sendiri!"


"Ini Ndoro kopinya," seorang abdi datang sambil membawa secangkir kopi kepada Mas Han.


"Ini kopimu," menyerahkan dengan kasar.


"Terimakasih, Han," Mas Juna tertawa kecil melihat sikap mantan suamiku. Dasar Mas Han, masih saja seperti anak kecil. Kemana sisi garangmu mas?


"Ayo Jun, makan yang banyak," akhirnya bapak menengahi ketegangan yang diciptakan oleh anaknya.


"Terimakasih pak."


Mas Juna mengambil makan dengan tenang. Sekali-sekali minta tolong padaku untuk diambilkan lauk yang dia ingin karena jarak yang cukup jauh.


Sementara lelaki pencemburu yang duduk di sebelahku terus menatap tajam interaksi antara aku dan sahabatnya. Sepertinya dia lupa kalau aku dan Mas Juna dulu pernah saling dekat.


"Terimakasih pak, makan paginya."

__ADS_1


"Sama-sama Jun."


"Kamu jadi ikut sama aku atau sama Han, Rum?" tanya Mas Juna.


"Ikut kamu saja, barangkali Mas Han punya banyak jadwal hari ini. Aku nggak mau mengganggu."


"Baik, ayo," waktu kami hampir masuk mobil tiba-tiba mantan suamiku menerobos masuk dan duduk di kursi depan.


"Kamu duduk di belakang," apaan sih ini. Padahal aku melihat mobil dan sopir pribadinya siap berangkat. Dengan kesal akhirnya aku duduk di kursi belakang.


Selama perjalanan kami bertiga saling diam. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan dua lelaki yang sedang duduk di depan sedangkan aku membayangkan keadaan Sekar sekarang.


"Ke rumah sakit Bhayangkara kan?" tanya Mas Juna membuyarkan lamunan.


"Iya!" jawaban yang singkat dengan nada yang tidak enak didengar, "Nanti setelah menjenguk Sekar, antarkan aku ke kantor polisi," eh...apaan?!


"Maaf Han, kami harus segera kembali, biar nggak sampai kemalaman pulang ke rumah, kasihan Ken."


"Heh, kenapa jadi kamu yang kasihan sama anakku?" mulai lagi nyolotnya.


"Lah kan aku yang bawa ibunya Ken kesini Han, jadi aku dong yang harus tanggung jawab ngantar pulang."


"Ya sudah, kamu pulang saja dulu, nanti Rumi aku yang antar. Aku bisa minta sopirku buat datang. Rumi itu istriku, aku wajib bertanggung jawab atas keselamatannya."


Lagi-lagi...musti dikasih batasan yang tegas ini, "mantan istri...mantan, mas!" aku memutar mata.


Sampai di rumah sakit yang dituju, Mas Han bergegas turun dan membukakan pintu untukku. Aku turun dengan santai dan melewati begitu saja mantan suamiku yang berdiri masih sambil memegang pintu mobil.


Aku mendekati Mas Juna dan berjalan bersisihan dengan lelaki itu, "ayo, mas."


"Memang kalian tahu, dimana kamar Sekar dirawat?!" teriak mas Han dari belakang mengikuti kami.


"Gampang, aku bisa tanya," jawaban enteng Mas Juna membuatku hampir meledakkan tawa.


Kami kembali hening waktu sampai di depan kamar. Ada rasa yang berkecamuk dalam hatiku. Antara khawatir, takut, kasihan dan perasaan bersalah. Butuh waktu ternyata untuk mengumpulkan keberanian menghadapi kenyataan.


Mas Han berdiri di sisiku, "kamu tidak apa-apa Rum?" aku mengangguk. Aku biarkan tangan hangat mantan suamiku menggapai dan menggenggam erat tanganku, "masuk?" aku mengangguk dan kami melangkah ke dalam.


Betapa hancur hatiku melihat pemandangan yang terpampang di depanku. Sekar Lalita, wanita muda itu tidur dengan banyak luka di tubuhnya. Matanya terpejam, meskipun tampak terlelap tapi dua alisnya bertaut, keringat mengucur deras membasahi dahi wanita itu. Entah mimpi buruk apa yang dia alamk sekarang, hingga membuat tidurnya penuh beban seperti itu.


Aku gemetar, tanganku dingin, air mata menetes tanpa aku inginkan. Aku menangis dalam pelukan mantan suamiku. Tidak satu katapun yang mampu aku ucapkan. Belaian lembut di lenganku membuatku tenang dan kuat.


"Kamu," Sekar terbangun, aku terkejut tapi aku beranikan diri untuk berjalan mendekat. Mas Han menahan langkahku, tapi aku yakinkan dengan anggukan kepala kalau aku akan baik-baik saja.


"Hai," sapaku.


Sekar melihatku dengan pandangan bingung, "hai, apa aku mengenalmu?"


Aku tersenyum, "apa kamu tahu siapa laki-laki yang berdiri disitu, sejak kemarin dia mengikuti aku terus. Aku merasa terganggu, aku takut kalau suamiku tahu, dia bisa marah karena aku diperhatikan lelaki lain."


Aku memandang Mas Han. Air mataku makin deras mengalir. Mas berjalan mendekati aku dan memelukku lebih erat.


"Apa dia suamimu, mbak. Tolong bilang padanya, untuk tidak datang kesini lagi."


Aku hanya mengangguk. Sekar memalingkan wajah ke arah lain kemudian dia menutup lagi matanya dengan menggumamkan kalimat-kalimat yang tidak jelas.


Hidup adalah pilihan. Sedangkan setiap pilihan memiliki resiko masing-masing. Apapun pilihanmu, mustinya kamu punya dasar yang kuat dan tahu betul apa resiko yang akan kamu tanggung. Dan dasar terkuat dalam kehidupan dunia adalah Tuhan. Apapun agamamu, siapapun Tuhanmu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2