Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 134


__ADS_3

Beberapa hari ini Rumi sangat menikmati keberadaannya di vila. Sebagian besar waktunya dia habiskan untuk bersantai dan menikmati pemandangan. Tidak sekalipun ponsel dia hidupkan. Dia juga berpesan pada pak Dul dan mbok Nah untuk tidak memberitahu siapapun dimana mereka berada.


"Rum, banyak tukang duren," mata ibu berbinar melihat pedagang durian berjajar, seperti melihat emas batangan saja.


"Hihihi...ibu seperti lihat harta Karun."


Penjual durian memang berjajar rapi di sepanjang danau. Selain itu juga ada berbagai macam olahan masakan yang bahannya dari kelinci atau ayam.


Kabarnya makanan berbahan baku kelinci memang manjur untuk menghangatkan tubuh di tempat yang memiliki hawa dingin.


"Beli duren Rum, terus pesan sate kelinci. Biar pedagangnya yang antar kesini."


Rumi mengangguk.


"Kamu mau kemana?" teriak ibu waktu hendak keluar vila.


"Pesan yang diminta ibu lah."


"Nggak usah kamu berangkat sendiri, biar Pak Dul saja."


"Nggak usah ibu, Rumi juga pengen jalan-jalan," jawab Rumi tanpa menghentikan langkah.


Rumi menuju sebuah warung yang tempatnya bersih. Dia harus yakin kalau makanan yang dipesan bersih dan sehat. Setelah memesan dan menunjukkan lokasi vila, dia menuju salah satu penjual durian. Karena tidak pandai memilih, Rumi minta dipilihkan buah durian yang masak sempurna.


Sambil menenteng durian, Rumi kembali ke Vila. Dari kejauhan dia bisa melihat penjual sate kelinci keluar dari vila setelah mengantarkan pesanannya.


Senyampang berada di tempat yang tenang. Rumi memilih untuk tidak langsung kembali. Dia duduk di sisi danau yang dangkal, memasukkan kakinya ke dalam air yang dingin sambil melihat orang-orang yang sedang bercanda dan berwisata.


Tertawa, tersenyum, kadang terkejut ketika kecipak air mengenai kakinya jika ada perahu bertenaga mesin lewat di depannya.


Tidak terlintas sedikitpun wajah Nehan atau Arjuna di pikirannya. Sesekali melupakan beban berat bagus juga.


Setelah puas me time, Rumi kembali dengan menjinjing dua buah durian, yang kata penjualnya enaknya bisa membuat seseorang melayang ke awang-awang, ada-ada saja.


"Lama bener, ibu nungguin itu yang kamu tenteng," teriak ibu tidak sabar dari teras vila.


Dengan tidak sabaran ibu mendekat bahkan ketika Rumi baru memasuki pagar. Durian itu langsung diambil dan berteriak pada Pak Dul yang duduk santai.


"Pak Dul, ayo dibuka!" berjalan cepat mendekati Pak Dul dengan wajah bercahaya.


Sampai segitunya ibu, ih...


Rumi tertawa kecil.


"Ayo, di taruh dulu itu Hp," teriak ibu lagi.


Sambil menggumam ibu berbisik pada Rumi, "dari tadi sopirmu itu lihat hp terus Rum, kalau ditanya katanya buat motret pemandangan. Tapi gak tahu kapan motretnya."


"Biarlah Bu," Rumi melambaikan tangan pada lelaki setengah tua itu.


"Iya Ndoro," mendekat sambil cengengas-cengenges.


"Tolong dibukain, saya lihat saja, nggak suka duren, makanya saya cuman beli dua," Rumi berjalan menuju Ken yang digendong Mbok Nah.

__ADS_1


"Sini Ken sama saya mbok."


"Ndak usah Ndoro, biar sama saya saja."


"Sudah, sana...ikut ibu pesta duren."


"Baik Ndoro," cahaya matanya, nggak kalah sama ibu. Bercahaya seperti ada bintang-bintangnya.


Rumi tersenyum, Ken duduk di sebelahnya bermain mobil-mobilan yang memang kemarin sengaja dibawa.


Betapa ramainya suara ibu yang berteriak pada Pak Dul dan Mbok Nah agar duriannya tidak dihabiskan. Saling berebut untuk mengambil biji durian terbesar. Sampai Pak Dul, satu-satunya lelaki harus mengalah berapa kali. Kekuatan wanita memang luar biasa apalagi kalau ada kerja sama untuk menjatuhkan kaum pria.


Keceriaan yang ada di depan mata ini berharga melebihi berlian. Aku tidak akan sudi menukarnya dengan harta seberapapun. Canda tawa ketiga orang yang sangat kusayangi, yang selalu menemani aku saat bahagia dan sedih adalah segalanya buatku.


Sejak ketiga manusia setengah tua berebut durian, Rumi tak hentinya ikut tertawa melebur dalam suasana ceria. Sampai dia melihat sesosok lelaki yang terlihat dari jauh di seberang jalan depan vila. Meskipun tidak terlalu jelas, Rumi bisa melihat lelaki itu ikut tersenyum.


Rumi berdiri, "Ken jangan kemana-mana ya," pesannya pada Ken, yang segera mengangguk, meskipun dia masih balita, dia ini termasuk anak yang patuh.


"Iya, bunda," kemudian dia melanjutkan kesibukan bermainnya.


Karena rasa penasaran yang tak bisa ditahan, Rumi melangkah mendekati pagar. Belum juga setengah jalan, lelaki itu bergerak cepat menjauh. Dengan segala kekuatan Rumi mengikutinya sambil berlari. Tapi ternyata lelaki itu menghilang.


Cepat sekali gerakannya. Siapa dia? Apa dia orang jahat yang ingin melukai kami, karena kami hanya membawa seorang lelaki tua.


Maksud hati ingin mengejar namun diurungkan. Pertama lelaki itu tidak meninggalkan jejak. Kedua Rumi sama sekali tidak paham daerah itu.


"Ada apa Rum?" teriak ibu, melihat Rumi berlari dan kembali dengan langkah gontai.


Rumi hanya tersenyum dan menggeleng sebagai jawaban. Jangan sampai ibunya kepikiran. Bisa mengganggu waktu liburan kalau sampai ibu tahu. Bakal tidak tenang dan minta pulang karena takut dan khawatir.


"Kepalaku puyeng mbok, kebanyakan duren kali ya," curhat Ibu pada Mbok Nah.


"Saya juga mbakyu, nanti kita gantian kerok-kerokan ya."


Ibu mengangguk, "Rum Carikan uang logam, buat kerok, teriak ibu.


Suara-suara sendawa mirip kodok terdengar bergantian dari mereka bertiga.


"Kalau mbok nah sama mbakyu Narmi bisa gantian kerokannya, lah saya dikeroki siapa ini?"


"Kerokan sendiri," mbok Nah menjawab sambil bercanda.


Rumi kembali dengan sebuah uang logam lima ratusan, "ini bukan uang logam buat kerok, jangan ditekan nanti teriak-teriak lagi."


"Lagian sudah pada punya cucu, pakai pesta duren," sungut Rumi.


"Pak Dul nggak gabung kesini sekalian?" teriak Rumi yang melihat pak Dul menuju belakang.


"Tidak Ndoro putri, saya mau jalan-jalan saja."


Jalan-jalan?


"Jangan keluar, kabutnya mulai turun nanti masuk angin lo," Rumi mengikuti Pak Dul ke kamar. Mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit.

__ADS_1


"Mau jalan-jalan kemana?" tanya Rumi.


"Sekitar sini saja Ndoro," jawab Pak Dul sambil memakai jaket dan menarik resletingnya sampai menutup leher.


Rumi curiga, pak Dul mengabaikan hp yang berbunyi selama beberapa kali selama mempersiapkan diri.


"Kok gak diangkat pak Dul?"


"Hahaha," tertawa kikuk kelihatan jelas kalau ingin menutupi sesuatu, "nggak penting Ndoro."


"Saya pergi dulu ya."


Aneh, apa aku ikuti saja ya?!


Diam-diam Rumi masuk kamar, mengambil jaketnya dan berjalan keluar. Kebetulan ibu dan mbok nah sibuk saling kerok dan Ken sedang tidur. Biar saja balita itu tidak mandi karena udaranya dingin seperti ini. Atau kalau tidak mbok nah pasti tahu apa yang harus dilakukan.


Rumi mengikuti Pak Dul dari jarak yang agak jauh. Sepertinya Pak Dul tidak menyadari kalau diikuti.


Ngeri juga mengikuti seseorang di tempat yang tidak dikenal seperti ini. Kalau nanti mau balik ke vila kira-kira tahu jalannya gak ya...jadi menyesal. Kenapa Pak Dul jalannya jauh begini.


Sampai akhirnya pak Dul berhenti dan masuk pada sebuah warung kopi. Kuharap tebakanku salah, tapi ternyata apa yang kukira salah benar adanya. Aku tunggu beberapa saat sebelum aku mendekati mereka.


"Kalian berdua sedang apa?" ucap Rumi hampir berbisik pada dua laki-laki yang sedang asik ngopi di depannya


"Eh...,ya Allah Gusti," Nehan hampir menumpahkan separuh kopinya karena terkejut, "kaget tahu!!" dengan cepat Nehan melihat asal suara dan hampir marah tapi...


"Eh, sayang...hai, apa kabar?" sambil melambaikan tangan dan memasang senyum paling manis, takut kena semprot.


Sementara Pak Dul menggulung ujung jaket dengan jari dan meletakkan kopinya diatas meja warung dengan gerakan lambat, menunda keinginannya menikmati hangatnya kopi di udara dingin, "Ndoro," mengangguk sambil memamerkan giginya yang tak lagi putih karena kafein.


"Sayang...siapa sayang!!" Rumi melotot melihat keduanya.


"Maaf Ndoro...Ndoro kakung mengancam mau masuk sumur kalau nggak diberi tahu kita pergi kemana."


"huh..dasar," Rumi memutar tubuh berjalan cepat meninggalkan lokasi dimana dua orang itu terpergok bertemu diam-diam.


"Rum...Pak Dul bayar dulu," Nehan berlari mengikuti Rumi di belakang.


"Lah, Ndoro..." teriakan Pak Dul dianggap angin lalu yang nggak terdengar desaunya.


"Rum...," Nehan menarik tangan Rumi, memutar tubuhnya hingga keduanya berdiri berhadapan.


"Jangan marah, aku tak bisa jauh darimu. Kata Juna kamu butuh waktu buat sendiri. Aku penasaran, kenapa Juna tahu sedangkan aku nggak tahu."


Rumi menghela napas, membiarkan tangannya digenggam untuk mengusir hawa dingin.


"Kita ke vila," Rumi berjalan mendahului, Nehan mengikuti di belakang, "mas pasti menginap di sekitar sini kan?!"


"Iya, baru sampai tadi siang."


"Kita ngobrol dulu, ada yang ingin aku sampaikan," suara Rumi dibuat seserius mungkin, "setelah itu kembalilah ke penginapanmu, tidak perlu tidur bersama kami di vila.


"Kamu membuat aku takut, Rum. Apa yang ingin kamu bicarakan?"

__ADS_1


Rumi tidak menjawab. Nehan tahu apa yang akan disampaikan Rumi bukan sesuatu yang baik. Keduanya berjalan diiringi senyap.


...***...


__ADS_2