
Author POV
"Mas..." teriak Rumi
"Nehan..."
Semua orang berteriak bersamaan. Nehan berdiri kaku. Di depan tubuhnya berdiri wanita tua yang sangat dibencinya, wanita yang sudah membunuh ibunya.
Tubuh tua itu ambruk menimpa Nehan. Kedua tangannya menahan badan Bu Ajeng agar tidak jatuh.
"Ibu," bisik Nehan perlahan.
Nehan berlutut mengikuti tubuh yang ada dalam pelukannya melorot kebawah.
"Ibu.." teriak Rumi.
"Ajeng..." bapak tidak mampu berdiri karena tubuhnya terlalu lemas. Rumi berlari mendekati Nehan.
Sekar masih meraung menangisi Nehan, karena mengira Nehan yang ditusuk.
Diantara tarikan napas yang berat dan darah yang mengalir deras. Ajeng sempat berbisik
"Sepurane le."
[maafkan, nak]
Lalu mata itu terpejam rapat. Nehan belum sepenuhnya memahami apa yang terjadi. Kenapa wanita ini berdiri di depannya ketika Sekar datang dengan pisaunya yang terhu_nus.
Juna sibuk dengan ponselnya, dia menghubungi rumah sakit terdekat. Sepertinya semua terlalu shock melihat kejadian ini.
"Ibu," Rumi ikut menangis melihat Ajeng yang bersimbah darah. Meskipun dia dulu sering disakiti tapi nyatanya dia sedih melihat wanita ini tidak membuka matanya.
"Mas!" Rumi menepuk bahu Nehan.
Dari jauh Juna berteriak, "Han bawa ibumu ke depan. Ambulance sudah datang."
Sepertinya nyawa Nehan masih tercerai berai dan belum terkumpul semua.
"Mas!!'' teriak Rumi sekali lagi sambil menepuk punggungnya keras, "ibu! ambulance sudah datang."
Rumi kembali mendekati bapak, "Pak, sebaiknya bapak istirahat, ibu akan dibawa ke rumah sakit."
"Bapak mau ikut Rum."
"Ayo Han," Juna terus berteriak.
Nehan menggendong perempuan tua itu setengah berlari. Darah terus keluar, kesadaran Ajeng sudah hilang. Matanya terpejam.
Rumi menuntun bapak ke mobil karena terus ngotot ingin ikut. Suara ambulance meraung terdengar seperti jeritan kematian. Juna membawa bapak dengan ditemani Rumi.
Sampai di rumah sakit Ajeng langsung mendapat pertolongan. Kondisinya yang sudah tua membuatnya sangat lemah. Luka yang sebenarnya tidak berbahaya bisa berakibat fatal karena faktor usia ditambah Ajeng kehilangan banyak darah.
Setelah memperoleh semua tindakan yang diperlukan Ajeng harus dirawat di ICU karena kesadarannya hilang.
Bapak, Juna, Rumi dan Nehan menunggu di ruang tunggu pasien yang disediakan pihak rumah sakit.
"Sebenarnya Ajeng itu wanita yang baik."
Rumi, Nehan dan Juna bersamaan melihat bapak—bukan karena tertarik dengan apa yang akan diceritakan bapak. Tapi karena itu pilihan yang ada, kesunyian hanya menjadikan suasana makin mencekam.
"Dia hanya tidak tahu bagaimana caranya untuk mengekspresikan kasih sayangnya."
"Ibumu selalu menyayangimu Han. Bapak yang salah membawa perempuan lain ke rumah kita, kebetulan darah perempuan itu mengalir dalam tubuhmu."
__ADS_1
"Itu yang membuat Ajeng tidak tahu bagaimana harus memperlakukanmu."
"Semua salah bapak. Bapak yang tidak sabar ingin punya anak."
Juna memilih untuk pergi sedangkan Rumi diam mendengarkan sambil terus mengelus punggung bapak.
"Ibu kandungmu adalah wanita lugu. Bapak sering pergi ke desa tempat ibu kandungmu tinggal karena ada proyek pembangunan jalan disana waktu itu."
"Ajeng yang selalu sibuk dengan kumpulannya membuat bapak betah berlama-lama di desa itu. Apalagi ibumu yatim piatu yang tidak memiliki keluarga, jadi merayunya adalah hal yang sangat mudah."
"Bapak menikah siri dengan ibumu Han, sampai hadirnya kamu Ajeng sama sekali tidak tahu."
Bapak menghela napas. Menceritakan kisah yang berpuluh tahun di simpan tidaklah mudah.
"Hingga suatu hari bapak ingin mengenalkan ibumu pada Ajeng ketika kamu sudah berusia tiga atau empat tahun, bapak lupa."
"Ibumu mengajakmu ke rumah tanpa memberi tahu bapak lebih dulu. Bertemu dengan Ajeng yang wataknya keras membuat bapak tidak bisa mengendalikan kemarahannya. Terjadilah peristiwa itu, hingga ibumu meregang nyawa."
"Ajeng menyayangimu Han, sangat. Tapi dia begitu sakit hati pada bapak dan ibu kandungmu."
"Waktu kamu membawa Rumi ke rumah, dia begitu terkejut melihat Rumi yang sangat mirip dengan wanita yang dibencinya."
"Karena itu dia begitu ingin memisahkan kalian, bukan karena Rumi tidak bisa memiliki anak, tapi karena Rumi sangat mirip dengan ibumu."
"Maafkan Ajeng, Han. Apapun yang dilakukan Ajeng, itu karena kesalahan bapak."
Nehan membisu, sekarang ini dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
"Sekarang dia sudah menerima apa yang harus dia terima dari tindakannya dulu. Dan bapak harus menanggung rasa bersalah seumur hidup bapak karena menyakiti dua wanita sekaligus."
"Maafkan kami yang tua-tua ini nak."
Nehan tetap diam, tak ada suara yang mampu dia keluarkan.
"Maafkan kami."
Akhirnya bapak diam. Semua sudah dia ceritakan, beban itu lepas dari pundaknya.
Juna datang dari arah pintu dengan tergopoh-gopoh dan membisikkan sesuatu.
"Sekar melarikan diri."
"Apa?!"
"Ada apa, mas?" tanya Rumi penasaran melihat wajah Juna dan Nehan yang tegang.
"Rum, kamu disini temani bapak."
"Ayo Jun." Nehan menarik Juna menjauh.
"Bagaimana dia bisa kabur sih Jun!" wanita itu sangat berbahaya.
"Kamu kan tadi tahu kita sibuk dengan Bu Ajeng, mungkin saat itulah dia mengambil kesempatan untuk melarikan diri."
"Bagaimana dengan anak-anakku?" tanya Nehan khawatir.
"Anak-anak baik-baik saja. Untungnya mbok Nah dan Suster Eny tak pernah meninggalkan anak-anakmu."
"Sekarang mereka sedang istirahat di kamar ibumu."
"Bagus."
Nehan mengeluarkan ponselnya.
__ADS_1
"Kamu simpan headset nggak?" tanya Nehan sambil terus tergesa melangkah.
"Ah, iya, untung kita sudah pasang aplikasi itu."
"Kita pulang dulu, kemudian kirim orang buat jaga bapak dan Rumi disini. Kalau perlu bapak dan Rumi di suruh pulang, kasihan kalau kelelahan."
Nehan menekan nomor telepon untuk menghubungi Mbok Nah
Hallo assalamualaikum Mbok.
Waalaikumsalam Ndoro, bagaimana ini, nyonya Sekar melarikan diri
Iya, saya tahu. Sekarang dengarkan perintah saya. Mbok pergi ke kamar saya tempat Sekar tadi dirias. Lihat apa Sekar ganti baju.
Baik, Ndoro. Sebentar saya kesana.
Bagaimana mbok?
Iya Ndoro, Nyonya Sekar sudah ganti baju. Gaunnya yang penuh darah tergeletak di lantai.
Baik, sekarang kunci kamar itu, dan simpan kuncinya. Jangan ada yang boleh masuk siapapun itu.
Baik Ndoro.
Kalau sudah, Mbok kembali ke anak-anak. Minta ditemani sama Yuni. Jangan tinggalkan Lita dan Ken. Saya masih belum percaya sepenuhnya pada suster Eny.
Baik Ndoro
Nehan menutup sambungan teleponnya.
"Jun Ayo!"
"Mau kemana kita?"
"Lapor ke pihak yang berwajib lah, sekalian nanti kita dengarkan aktifitas hape milik Sekar. Nanti kita mampir dulu buat beli headset, punyaku ketinggalan di mobil."
"Hem, ayo."
"Jangan lupa telepon orang rumah untuk menemani Bapak sama Rumi disini," ujar Juna mengingatkan.
"Iya, sayang Pak Dul nggak ada disini."
"Kenapa kemarin sampai lupa nggak ngajak pak Dul ya Jun."
"Biar yang satu itu mengawasi panti," sanggah Juna.
Nehan kembali menelepon Mbok Nah untuk mengirim dua abdi yang bisa dipercaya menemani bapak dan Rumi di rumah sakit.
Laporan polisi sudah dibuat. Semua barang bukti sudah tersimpan. Peristiwa itu juga disaksikan banyak orang. Hanya saja tidak ada yang tahu saat kabur Sekar berganti baju apa. Akan menyulitkan mencari seseorang yang ciri-ciri luarnya tidak diketahui.
"Baik pak, laporan sudah kami terima dan akan segera kami proses."
"Terimakasih pak," Nehan dan Juna bersalaman dengan petugas sebagai ucapan terimakasih.
Sementara itu di lorong rumah sakit, ada seorang wanita mengenakan kaos hudi yang kebesaran. Memakai sepatu kets, celana training hitam sedang berjalan cepat sambil merunduk. Kepalanya ditutup dengan topi kemudian ditimpa dengan tutup kepala dari kaos.
Sosok itu melihat diam-diam Rumi dan bapak yang sedang menunggu di depan ICU.
"Maafkan Sekar Bu, Sekar tidak bermaksud menyakiti ibu."
"Tunggu saja nanti pembalasanku. Kamu juga akan merasakan sakit yang seperti aku rasakan sekarang mas, bahkan lebih dari ini."
Mata Sekar memandang Rumi tajam. Entah apa yang dipikirkan wanita itu. Yang jelas sakit hatinya harus terbalaskan.
__ADS_1
...***...