Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 30


__ADS_3

Sosok lelaki tampan, berpawakan tinggi besar itu menghampiriku.


"Kamu sendirian kesini, sejak kapan Nehan membiarkan kamu keluar tanpa dia?"


Sejak dia memiliki wanita lainโ€”tentu saja aku mengucapkannya dalam hatiku saja.


"Sedang sibuk dia, Mas Juna juga kesini sendiri saja, kapan mau cari pasangan, ingat umur, keburu karatan lo."


"Hahaha..., kamu bisa aja. Mbok kalau lihat saya jangan sambil melotot begitu," Mas Juna mengalihkan perhatiannya pada Mbok Nah. Ketika aku ikut melihat ternyata memang benar, sikap Mbok Nah membuatku tertawa. Dia berdiri dengan kaki sedikit terbuka dan tangan dilipat di dada, matanya juga melotot tanda menyelidik, sudah seperti body guard saja tingkahnya.


"Saya hanya tidak rela kalau ada laki-laki mau kurang ajar sama Ndoro Putri."


"Hahaha...asisten rumah tanggamu lucu sekali Rum, saya temannya Nehan Mbok, yang beberapa hari lalu datang ke rumah, kan Mbok yang membawakan saya kopi susu."


Wajah tegang Mbok Nah mengendur, "nah...begitu dong, kan lebih cantik."


"Meskipun begitu aden jangan berpikir punya niat macam-macam ya...itu matanya kebaca sama saya, kalau lihat Ndoro Putri matanya itu bercahaya, ada bintang-bintangnya."


Aku jadi malu sendiri mendengar ucapan abdiku yang satu ini, "Mbok, jangan begitu, ndak pantes, saya malu, kalau ada orang yang kita kenal mendengar bisa salah paham."


"Benar itu mbok," sahut Mas Juna menimpali.


"Benar yang mana Jun? benar kalau kamu menyukai menantuku atau benar orang lain bisa salah paham."


"Loh bapak juga disini?" betapa terkejutnya aku ketika tiba-tiba bapak ikut nimbrung dalam percakapan kami.


"Pak...," mas Juna memberi salam, "benar, kalau akan ada yang salah paham pak."


Aku juga melakukan hal yang sama memberi salam dengan mencium punggung tangan bapak.


"Aku kan sudah bilang nggak mau ikut__"


"Nah, kalau yang satu ini gampang salah paham," bisik bapak ketika ibu mendekat. Ternyata ibu juga ada disini.


"Loooo...kalian ini janjian ketemuan disini?"


Mata ibu menatapku curiga, benar kata bapak kalau yang satu ini pikirannya pasti sudah traveling kemana-mana. Untungnya ada Mbok Nah yang membuat situasi ku aman dari fitnah.


"Tidak Bu, saya tadi kebetulan lihat Rumi sedang lihat-lihat buku sama si mbok, makanya saya dekati."


"Tumben Nehan ndak ngekori kamu Rum, apa sekarang dia lebih suka nungguin sawahnya yang subur ya, dari pada mengikuti sawahnya yang kering dan nggak menghasilkan?"


Ibu tolong, disini ada teman Mas Han, jangan memunculkan gosip yang tidak perlu.


"Loh, memangnya Nehan sekarang investasi membeli sawah bu?"


"Ya, sawah sakedhok [istilah beberapa orang Jawa untuk menggambarkan bagian inti tubuh wanita]," ucap ibu sambil menggerakkan telapak tangan dengan bentuk menguncup.

__ADS_1


"Ibu, apa-apaan kamu!" ucap bapak kesal.


Lebih baik aku undur diri saja, kalau aku terus disini bisa-bisa ibu makin ngawur ngomongnya. Aku tidak mau sesuatu yang harusnya tersimpan rapat sampai diketahui orang lain.


Tapi sepertinya Mas Juna tidak membiarkan apa yang dia dengar berlalu begitu saja, "apa maksud ibu Nehan punya wanita lain?" entah kepada siapa pertanyaan Mas Juna ditujukan. tapi aku tidak ada niatan untuk menjawab, bahkan kakiku ingin segera beranjak dari tempat ini.


Mbok Nah mungkin tahu ketidaknyamanan ku, "Ndoro putri, saya mau cari buku yang banyak gambarnya saja."


"Oh..ha, iya, ayo Mbok, bapak, ibu, Mas Juna saya mau keliling lagi mencari buku yang cocok untuk Mbok Nah."


"Iya Rum, sudah sana! Nah...dijaga itu Rumi," bapak memberi senyum yang bermakna sejuta kasih untukku.


Aku menganggukkan kepala sebagai tanda berpamitan, "ayo mbok."


"Rumi, aku ikut," teriak Mas Juna hingga membuatku salah tingkah.


"Haduh mbok, ayo mbok cepat," mbok nah berjalan cepat mendahuluiku.


"Rumi..." Mas Juna mencekal dan menarik tanganku sampai tubuhku berputar menghadap padanya, "apa maksudnya ibu bicara seperti itu?"


"Tanya saja sama ibu apa maksudnya dia bicara seperti itu, jangan tanya sama aku," aku memandang tidak suka pada tanganku yang masih digenggam Mas Juna, "lepaskan tanganku, aku wanita bersuami."


Bukannya melepas tanganku, Mas Arjuna malah menarikku menjauh dari keramaian. Sekilas aku bisa melihat bapak dan ibu yang memandang kami dengan ekspresi tercengang.


"Den, mas, bapak, eh...tolong lepaskan Ndoro Putri, tidak baik dilihat orang kalau wanita bersuami ditarik-tarik sama lelaki yang bukan suaminya," Mbok Nah berlari kecil mengikuti kami, sampai-sampai dia harus mengangkat roknya sedikit keatas.


"Mas, sakit...!" dia baru berhenti ketika aku berteriak karena pergelangan tanganku mulai terasa panas.


Mas Arjuna mendudukkan aku di kafe yang terletak di salah satu bagian dari toko buku tersebut. Sekelilingku terasa hening, Mas Juna memandangku dengan tatapan setajam sembilu.


"Ceritakan padaku!"


"Buat apa, supaya masalahku makin rumit?"


"Si brengsek itu dulu berjanji akan mencintai dan memperlakukanmu dengan baik Rumi."


"Dia...memperlakukan aku dengan baik," tentu saja sebelum kehadiran Sekar.


"Suaramu tidak meyakinkanku."


"Jangan lakukan apa-apa mas, aku tidak mau peristiwa waktu itu terulang lagi, aku tidak mau salah satu dari kalian berdua ada yang terluka."


"Aku sengaja menjauh dari hidup kalian, kamu tahu itu kan, Rum."


"Aku ingin kalian bahagia, dan aku tak mau menjadi hama pengganggu."


"Kamu tak benar-benar menjauh mas, kamu selalu ada di seputar kehidupan kami, itu membuatku sedih, bahkan sampai sekarang kamu masih sendiri."

__ADS_1


"Itu karena aku yakin si brengsek itu akan menyakitimu suatu hari nanti."


"Aku akan buat perhitungan dengannya Rum."


"Aku tak akan pernah melepasmu kalau aku tahu dia akan menyakiti kamu."


"Tapi aku mencintainya mas...mas tahu itu. Lagi pula semua masalah dalam rumah tangga kami akulah yang jadi penyebabnya."


Mas Juna diam, tubuhnya yang tadi kaku menahan amarah jadi sekarang mengendur, genggaman tangannya pun terbuka. Tapi matanya memancarkan kesedihan.


"Aku yang salah mas, jangan lakukan apapun, aku akan menanggung semua kesedihanku sendiri. Semua masalahku ini akan aku anggap sebagai hasil yang harus aku tuai karena menaburkan benih yang salah."


"Aku harus pergi, aku adalah wanita bersuami, tidak ada bagusnya bagiku bicara disini denganmu. Apalagi tadi orang tua Mas Nehan melihat kita saling tarik. Jangan menambah masalah yang bagiku sudah rumit mas."


"Hiduplah yang baik, lupakan aku, lupakan kedekatan kita dulu, carilah wanita yang mengerti dirimu dan nikahi dia. Aku harus pulang."


Ada banyak hal yang tidak kita ketahui tentang akhir dari tiap fase perjalanan hidup ini. Ketika aku menerima Mas Han menjadi suamiku, aku yakin itu adalah salah satu akhir yang menyakitkan dari kehidupan seorang Arjuna.


Sekarang ketika aku merasa salah satu fase kehidupanku akan berakhir, dia pasti mengira akan muncul awal baru baginya, dan aku tidak mau memberinya peluang sedikitpun bahkan hanya sekedar untuk memikirkannya.


"Rum," baru beberapa langkah aku ambil, aku dengar suara Mas Juna kembali memanggilku, tapi aku tak ingin memberinya kesempatan untuk memiliki harapan lebih, "cari aku kalau kau butuh pertolongan," aku terus berjalan tanpa menengok lagi ke belakang.


"Masih ingin mencari buku Mbok," tanyaku pada Mbok Nah sambil terus berjalan.


"Tidak Ndoro putri, kita pulang saja, jantung saya deg-degan dengar ucapan temannya Ndoro kakung tadi, ternyata Ndoro Putri ini dulu kembang kampus toh."


"Sudah ah mbok, ayo, kasihan Pak Dul terlalu lama menunggu."


Selama dalam mobil, doaku hanya satu, semoga ibu mertuaku tidak memperpanjang masalah di toko buku tadi. Aku tidak ingin ada masalah baru lagi dalam kehidupan rumah tanggaku.


Keheningan dalam mobil terpecah ketika nada dering ponselku berbunyi. Aku lihat nama kontak, ibu dalam panggilan.


"Halo assalamualaikum Bu."


Rum kata Nehan kamu sekarang sedang hamil ya. Ya Allah nak...ibu bahagia sekali mendengarnya, sampai-sampai mengeluarkan air mata ini ibu. Ibu nangis dari tadi saking senangnya.


Mas Nehan...! harus jawab apa aku sekarang...bagaimana bisa aku membohongi ibu, tapi aku juga tidak ingin merusak kebahagian ibu yang sudah melahirkan dan membesarkan ku. Ternyata kamu adalah lelaki tanpa hati nurani mas...


...***...


Sabar Rum...


Selamat tahun baru gaess...jadikan momen tahun baru ini sebagai momen refleksi kehidupan kalian di tahun lalu.


Semoga hidup kalian di tahun-tahun ke depan akan selalu lebih baik.


๐ŸŽ‡๐ŸŽ†๐ŸŽ‰๐ŸŽŠ

__ADS_1


__ADS_2