
Aku memang lemas, hampir tidak bisa menggerakkan seluruh bagian dari tubuhku, tapi aku bisa mendengar jelas apa yang diperdebatkan.
"Keluar kalian semua," teriak ibu, "mbok Nah bantu saya menggendong Rumi ke kamar."
Beberapa kali tubuhku diangkat sepertinya gagal.
"Biar saya yang menggendong Bu."
"Keluar kamu Han! bawa sekalian kedua orang tuamu!" teriak ibu lagi.
"Saya akan keluar Bu, tapi biarkan saya membawa Rumi ke kamar dulu!" Mas Han berteriak tak kalah kencang.
"Han," aku mendengar suara ibu mertuaku.
"Keluar Bu!" terdengar suara bapak berat dan rendah.
"Pak, Kowe Ki piye toh, nyapo kok aku koseret ngene iki Lo!"
[Pak, kamu ini bagaimana sih, kok aku diseret begini lo]
"Merga tutukmu ra duwe aturan."
[Karena mulutmu tidak punya aturan]
Aku merasa di gendong seseorang. Ibu dan Mbok Nah yang memberi arahan.
"Mbok ditata dulu bantalnya."
Ketika aku sudah berbaring, aku mendengar suara ibu berkata, "pergi kamu Han dan jangan datang lagi kesini."
Kemudian semuanya senyap. Aku bisa merasakan betapa sedih dan bingungnya ibuku. Meremas tanganku menggunakan minyak kayu putih, meletakkan botol minyak kayu putih dibawah hidungku. Aku juga mendengar isak tertahan, maafkan Rumi Bu.
Perlahan tubuhku menjadi hangat, yang kulihat pertama adalah ibu dengan air mata menggenang di pipi. Susah payah aku untuk duduk.
"Ibu..."
"Rum," ibu segera membuka tangannya dan memelukku sangat erat. Kami menangis bersamaan. Menumpahkan segala rasa yang selama ini kami anggap tidak ada.
"Maafkan ibu Rum, karena kamu gak punya bapak kamu jadi diremehkan begini."
__ADS_1
"Huhuhu...Rumi yang minta maaf Bu, Rumi gak pernah mengira kalau keluarga suami Rumi keterlaluan begini."
"O...alah ndhuk...ndhuk, ibu mikirnya kamu bahagia selama ini, berapa lama kamu sudah menahan sakit hati karena ibu mertuamu ndhuk, kalau tahu begitu, ibu sudah nyusul kamu sejak dulu-dulu."
Kami saling peluk sambil tergugu. Mbok Nah juga ikut menangis sambil menyusut air mata memakai ujung kebaya.
"Mbok Nah tolong Pak Dul panggil kemari. Saya mau bicara sama Mbok Nah dan Pak Dul."
"Iya, mbakyu."
"Ibu mau ke ruang tamu dulu Rum," aku mengangguk.
Aku kembali rebahan setelah ibu keluar kamar. Memegang perutku dan berbisik, "terimakasih sayang, kamu anak yang hebat."
"Pak Dul dan Mbok Nah, Rumi sekarang sudah memutuskan untuk tetap disini, entah sampai kapan atau bahkan mungkin tidak akan pernah kembali ke rumahnya yang dia tempati bersama Nehan."
"Saya tahu diri, karena anak saya kemungkinan tidak kembali kesana lagi, saya minta Pak Dul dan Mbok Nah kembali bekerja pada keluarga Nehan seperti biasanya."
"Saya tidak lagi pantas untuk menerima fasilitas mewah seperti ini."
"Tapi mbakyu, saya masih mau menemani Ndoro putri disini."
"Saya tidak mengusir, jadi silahkan Mbok Nah dan Pak Dul kembali ke rumah utama, kalau mau pamitan sama Rumi saya persilahkan, saya mau ke belakang dulu."
Aku sesenggukan menghadap dinding, posisi favoritku kalau tidur. Tadi waktu aku mendengar ibu bicara pada Pak Dul dan Mbok Nah di ruang tamu, air mataku ini sudah tak mau berhenti.
"Ndoro putri," mbok Nah menyentuh punggungku yang bergoyang menahan isakan, sungguh aku tak mau melihat abdi kesayangku ini sekarang.
"Ndoro putri, hiks...hiks, lihat saya Ndoro, saya mau pamitan, huhuhu...."
"Jangan begini Ndoro, saya ingin lihat Ndoro, paling tidak saya membawa wajah Ndoro di hati saya sekarang ini...huhuhu..."
Aku membalikkan badan, masih dengan menutup mata, wajah, rambut, dan baju basah oleh air mata aku memeluk Mbok Nah.
"Hua...Hua...Hua, apa kita musti pisah Ndoro Putri, saya pengen nungguin Ndoro kecil saya lahir....huhuhu..."
"Huhuhu...bagaimana lagi mbok...saya tidak bisa kasih lebih sama Mbok Nah, maafkan saya Huhuhu....saya juga sebenarnya gak mau pisah mbok, saya pengen mbok ikut momong anak saya kalau lahir Huhuhu..."
Pak Dul tidak bisa mengeluarkan kata, tapi baru kali ini aku mendengar isakan pelan sopir pribadiku itu.
__ADS_1
"Pak Dul, jangan nangis...huhuhu..." aku membuka mataku yang sembab, pandanganku kabur karena kabut air mata.
Pak Dul tidak menjawab, hanya gelengan kepala yang kudapat, "huhuhu...kenapa semua jadi begini?" aku kembali merebahkan badanku dan menghadap dinding.
"Sudah sana Pak Dul sama Mbok Nah segera berangkat, saya gak mau ngantar, huhuhu..."
Goyangan di kasur memberitahukan aku kalau Mbok Nah dan Pak Dul pergi keluar kamar.
"Maafkan saya mbakyu tidak bisa menjaga Ndoro putri dengan baik, hari ini saya jadi mikir ulang kalau mau terus ngabdi sama keluarga edian itu."
"Saya yang mestinya minta maaf mbok, tidak bisa memberi yang ternyaman buat mbok Nah selama disini, saya juga mau mengucapkan terimakasih sudah menjaga dan melayani Rumi dengan baik."
"Pak Dul sama mbok Nah kalau kangen boleh mampir atau main kesini, rumah ini akan selalu terbuka buat Mbok Nah dan Pak Dul."
Suasana rumah menjadi sepi. Aku keluar menuju ruang tamu dan mengintip dari jendela. Aku melihat Mbok Nah membawa tas nya menuju paijo. Beberapa kali melihat ke belakang. Pak Dul juga melakukan hal yang sama, berdiri di sebelah pintu paijo yang terbuka sambil melihat rumah kami.
Aku duduk di kursi tamu, sambil terus menangis. Ibu mendekat, aku tahu dari suara langkah kakinya. Tubuh ibu yang penuh memelukku dari belakang.
"Sing kuat ndhuk."
[yang kuat nak]
Aku membalikkan badanku, bersembunyi dalam pelukan ibu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupanku setelah hari ini. Seberat apa, sesulit apa...yang jelas aku siap untuk berjuang lagi mulai dari nol. Aku tidak menyesali apapun, ini hanya sebuah proses yang harus aku jalani untuk menjadi lebih baik.
"Saya mau istirahat Bu," tangisku tinggal menyisakan sedikit isakan.
"Ya, ibu mau merapikan meja, membagikan makanan yang ada ke tetangga kiri kanan."
"Ibu jangan dengarkan omongan tetangga ya Bu," pintaku.
"Heleh omongan tetangga itu tidak penting," tangan ibu sibuk menata kue basah di piring-piring, "kita mau baik mau nggak baik tetep aja jadi omongan."
"Yang penting kamu harus kuat, tata lagi kehidupan kamu," ibu berhenti menata kue pada piring, dia mendekatiku dan menyentuh perutku, "ibu bersyukur cucu ibu hari ini kuat, meskipun bundanya pingsan anaknya tidak apa-apa."
"Kamu istirahat dulu Rum, jangan pikirkan apapun, nanti kita bicarakan lagi apa yang terbaik buat kamu dan bayimu, ibu mau keluar dulu membagikan ini sama tetangga kiri kanan, sayang mubazir."
"Iya Bu," aku membawa tubuh lelahku kembali ke kamar, merebahkan diri sambil memikirkan langkah apa yang akan aku ambil selanjutnya, yang jelas aku tidak ingin bertemu lagi dengan suamiku dan keluarganya.
...***...
__ADS_1