Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 129


__ADS_3

Bibirnya maju lima senti. Tangannya dilipat depan dada. Nehan duduk di sofa diam-diam.


"Kamu nggak ada kerjaan apa?!" teriak Nehan pada Juna yang masih berbincang dengan Rumi dan anaknya.


Yang diajak bicara hanya melirik sekilas.


"Kalian nggak ada yang lapar apa?!" teriak Nehan lagi.


"Kamu sana yang beli makanan buat Rumi," giliran Nehan sekarang melirik mantan ibu mertuanya.


Kejam bener kalau sama aku. Bukan aku yang musti beli makanan, harusnya bujang lapuk itu yang membawa oleh-oleh. Kalau mengunjungi orang sakit mustinya bawa sesuatu demi kesopanan. Bukannya datang terus minta disuguhin.


"Kalau kamu nggak mau keluar buat beli, biar ibu yang beli."


"Iya, ini beli Bu," dengan patuh Nehan berjalan keluar sambil terus melihat istri dan anaknya bercengkerama dengan Juna.


"Aduh," terdengar suara "duk" yang cukup keras. Semua orang melihat ke arah asal suara.


Ternyata kepala Nehan terbentur pintu yang masih tertutup, "pintu kurang ajar, sudah tahu orang mau lewat main tutup saja," menggerutu sambil memukul pintu yang ditariknya kasar.


"Bukan pintunya yang kurang ajar, kamunya yang aneh, jalannya kemana, lihatnya kemana?!" ujar Bu Narmi dengan suara sedikit keras.


Fix kita sekarang bermusuhan Bu, karena ibu ada di pihak bujang lapuk itu.


"Masih berdiri disitu?! kapan beli makanannya?"


"Iya Bu ini jalan," keluar kamar sambil cemberut.


Kalau membunuh tidak dosa dan tidak ada hukumnya, ingin rasanya dia campur racun tikus pada nasi yang dibelinya sekarang. Racun tikus yang khusus diracik buat makan pagi si bujang lapuk.


Nehan menghela napas, kenapa aku jadi begini ya...Aku merasa pola pikirku mundur dua puluh tahun ke belakang. Aku lebih konyol dari waktu aku masih mahasiswa dulu.


Marah tanpa sebab. Pakai ngambek gegara hal-hal sepele. Dan itu semua tidak sesuai dengan usia dan jabatan yang dia miliki sekarang. Tapi Rumi benar-benar membuat gila. Bahkan aku lupa kalau aku adalah lelaki dewasa yang harus bersikap sesuai usia.


Nehan duduk di bangku taman rumah sakit sambil membawa tas plastik yang penuh kue dan beberapa bungkus nasi. Setelah menata hati dia memutuskan kembali ke kamar.


"Ini Bu makanannya," menyerahkan tas plastik peda mantan ibu mertuanya.


"Nah begitu, terimakasih," Bu Narmi memandang wajah Nehan, "kamu juga harus ikut makan."


"Saya masih kenyang Bu," Nehan kembali keluar. Benar-benar melelahkan melihat pemandangan di depan. Rumi masih senyum-senyum pada sahabatnya.


Rumi menyadari perubahan Nehan, "sebentar ya mas, aku mau melihat Mas Han dulu," Juna mengangguk, dia merasa Nehan tidak pernah menjadi saingan baginya.


"Mau kemana Rum?" Rumi menahan langkahnya, "hehehe...mau keluar sebentar Bu."

__ADS_1


"Lihat Nehan? Ndak usah dikinthili, biar dia tahu, kalau apa yang dia ingin belum tentu kesampaian."


"Cuman mau nanya dia sudah makan atau belum Bu, kasihan kalau belum makan."


Bu Narmi diam, dia mendekati Juna sedangkan Rumi melangkah keluar.


"Kamu musti sabar kalau mau mendekati Rumi, Jun."


"Dia masih sering kepikiran Nehan, tapi nggak terasa. Kamu nggak usah putus asa, itu hanya sentimen masa lalu,"


"Ibu yakin kamu jauh lebih dewasa dari Nehan."


Juna tersenyum mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari Bu Narmi.


"Saya tidak pernah merasa bersaing dengan Nehan, Bu. Dia sahabat baik saya. Saya akan selalu ada buat dia kalau Han butuh bantuan. Bedanya sekarang dan dulu adalah saya tidak akan lagi mengalah untuk mendapatkan Rumi."


Juna membelai rambut Ken yang mulai mengantuk agar segera tertidur.


"Saya sudah mencintai Rumi sejak dulu, Bu. Dulu takdir tidak menyatukan kami, mungkin kali ini takdir kami akan sama, tapi saya akan memastikan untuk berjuang sampai akhir Bu."


Diluar Rumi melihat Nehan duduk merunduk. Sesekali Nehan menyugar rambutnya dengan jemari lalu kembali merunduk.


"Kamu sudah makan?"


"Kamu tidak seperti ini tadi, kenapa setelah kembali dari beli kue kamu jadi diam, mas?"


"Aku sedang berusaha untuk menerima dan memahami dimana posisiku saat ini," bicara tanpa melihat Rumi yang duduk di sebelahnya.


"Sepertinya aku harus mulai belajar menerima kenyataan kalau kamu bukan lagi untukku."


Maafkan aku mas, aku sendiri masih bingung dengan apa yang aku rasakan sekarang.


"Benarkan Rum. Aku tak lagi ada di hatimu?"


"Sebaiknya kamu makan dulu, kalau tidak mau nasi kamu tadi membawa banyak kue kan, yang penting ada yang masuk dalam perut," Rumi mengalihkan pembicaraan.


Lihat Rum, kamu mengalihkan pembicaraan, berarti memang benar aku tak lagi ada di hatimu. Tapi kamu belum mau mengatakannya padaku.


"Aku tidak mau ayah dari anakku sakit."


"Ayo," Rumi mengulurkan tangan.


Nehan berdiri tapi tidak menyambut uluran tangan itu, "baiklah, aku tidak mau kamu kesulitan merawat bapaknya setelah merawat anaknya yang sakit."


"Cih, siapa juga yang mau merawat kamu kalau kamu sakit," Nehan tersenyum, kamu selalu begitu tapi selalu memperhatikan aku tanpa kamu sadari.

__ADS_1


Juna bersiap pulang waktu keduanya kembali masuk dalam kamar, "jaga kesehatan Han. Kamu tidak mau kan kalau aku yang menjaga Rumi dan Ken?"


"Jangan harap!" Suara Nehan tajam dan tegas.


"Tapi jangan lupa, siapa yang tahu apa yang dibawa takdir untuk kita," Juna menepuk bahu sahabatnya, "mari Bu, saya antar ibu pulang."


Bu Narmi mengangguk dan segera mengikuti Juna dari belakang.


"Kamu besok kesini lagi nggak?!" teriak Nehan sebelum tubuh Juna menghilang dibalik pintu.


"Nggak, besok aku banyak urusan," Juna berlalu sambil menahan senyum.


Nehan menunjukkan ekspresi yang sama, senyum terkembang di bibirnya sambil entah apa yang dia rencanakan dalam otaknya.


...***...


Seminggu berlalu sejak Ken pulang dari rumah sakit. Dokter menjelaskan apa-apa saja yang harus dilakukan agar orang tua tetap tenang ketika bayi seusia Ken mengalami kejang karena demam tinggi. Selain itu juga ada beberapa obat yang harus dikonsumsi jika Ken terserang demam lagi. Intinya Ken tidak boleh kena demam tinggi.


Semua orang mulai beraktifitas kembali, kecuali Nehan. Dia benar-benar melakukan apa yang dia ucapkan pada Rumi tempo hari. Bapak hanya diberi tahu melalui sambungan telepon kalau dia akan membeli rumah dan menetap di kota tempat Rumi tinggal.


Perusaan milik bapak sekarang dijalankan oleh seorang profesional, Nehan hanya mengawasi perkembangan perusahaan. Selain itu dia juga membuka cabang retail di kota tempat dia akan menetap.


Nehan akan mulai membuka sebuah mini market yang menjual kebutuhan sehari-hari. Kebetulan di daerah ini belum ada retail serupa.


Hari ini dia meminta Rumi untuk meluangkan waktu bertemu dengannya, dia akan mengajak Rumi ke suatu tempat.


"Maaf mas, aku sedang sibuk. Hari ini sekolah milik panti mulai menerima siswa baru jenjang SD. Mas tahu kan ini sedang musim pendaftaran siswa baru."


"Luangkan waktumu Rum, sebentar saja. Kalau tidak bisa sekarang, nanti sore juga tidak apa-apa."


"Maafkan aku ya mas, karena ini tahun pertama kami menerima siswa baru, jadi persiapannya luar biasa, maafkan aku mas. Yuni dan Mas Juna juga sudah siap disini untuk meresmikan sekolah baru kami dan sekalian pembukaan pendaftaran."


"Maafkan aku ya, mas," terdengar suara "klik" yang menandakan Rumi mematikan teleponnya.


"Juna..."


Nehan duduk di teras sebuah rumah. Rumah bercat putih yang sangat megah dan luas.


"Aku ingin menunjukkan rumah ini padamu Rum. Karena aku ingin memasuki rumah ini untuk pertama kalinya bersama kamu."


"Aku akan menunggu sampai kamu ada waktu, lalu kita akan membuka pintu rumah ini bersama-sama."


Nehan memainkan kunci rumah yang berada dalam genggaman tangannya. Ternyata seperti ini rasanya berusaha sepenuh hati untuk membahagiakan orang yang dicintai. Selama ini dia hanya memberikan apa yang sudah dia punya, bukan mengusahakan apa yang belum dimiliki untuk membahagiakan Rumi.


...***...

__ADS_1


__ADS_2