Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 32


__ADS_3

"Buat apa mbak ikut kemari, mau mengganggu istirahatku?!"


"Aku akan membantumu untuk tidur dengan baik, jangan selalu berprasangka buruk padaku."


"Siti, kamu siapkan susu hangat untuk Bu Sekar ya," pintaku pada Siti yang sedari tadi berdiri menemani kami di kamar.


"Baik Bu."


Aku berjalan mendekati tempat tidur, membenahi letak selimut agar menutupi tubuh Sekar sempurna. Aku atur suhu AC agar tidak terlalu dingin tapi masih nyaman.


"Jangan sok baik mbak."


"Aku kan pernah bilang, kalau aku memang baik. Tapi sekarang aku melakukan kebaikan untuk bayi yang ada dalam kandunganmu."


Sekar melengos, mengeluarkan suara berdecih yang terdengar jelas di telinga.


"Ini Bu susunya."


"Terimakasih ya," aku serahkan susu itu pada Sekar, "minum!"


"Aku tidak mau."


"Jangan seperti anak kecil, minum susunya."


"Aku tidak suka susu, paham nggak sih!"


Mau membantah rupanya, "ini bukan untuk kamu, jangan GR kamu, kamu akan terbebas dari susu kalau anak itu sudah lahir, minum!" perintahku sekali lagi.


"Kalau begitu berarti harusnya bukan mbak yang ada disini."


Tanganku berhenti bergerak, "siapa yang harusnya datang kesini?"


"Bapaknya si baby, karena dia yang minta."


"Bagaimana kau tahu kalau anakku yang minta, apa dia berbisik ke telingamu melalui plasenta? bahkan organ penting tubuhnya belum terbentuk sempurna,"


"Dia anakku!" aku melihat pemandangan ini lagi, tangannya erat memeluk bagian perutnya.


"Segera akan menjadi anakku ketika nanti dia lahir," jawabku tegas.


Sebenarnya pemandangan ini begitu mengenaskan, tapi aku harus bersikap keras pada Sekar. Ini harus kulakukan demi kebaikan kami semua—atau demi kebaikanku? entahlah.


Aku mengambil kursi dan duduk di dekat ranjang, aku tahu Sekar adalah wanita yang keras hati, tidak suka dikasihani dan akan memberontak ketika diatur.


"Aku berkali-kali bilang, kamu terikat perjanjian dengan kami, bayi itu akan jadi anakku. Setelah dia lahir lanjutkan hidupmu, pergi dari hidup kami, jangan ganggu kami lagi."


"Semudah itu kalimat keluar dari mulutmu mbak," tatap matanya nyalang membenciku.


"Memang itu kenyataannya. Apa kita harus kembali ke awal? aku pernah mengingatkanmu agar tidak menjual diri."


"Apa jawabanmu waktu itu? aku harap kamu masih ingat, dengan yakinnya kamu bilang, kamu tahu apa yang kamu lakukan."

__ADS_1


"Sekarang, tidak ada lagi jejak yang bisa kau ulangi, yang ada hanya jalan setapak ke depan. Kalau kau mau maju dengan tenang, tanpa keributan kita akan baik-baik saja sampai akhir."


"Tapi kalau kau mau membuat semuanya menjadi sulit, maka hanya kesulitan yang kau dapat."


"Sekarang tidurlah, aku akan mengesampingkan semua sakit hati dan kebencianku karena kebohongan Mas Han demi anak yang ada dalam perutmu."


Aku berlalu, keluar kamar dimana Sekar tidur menuju ruang tengah. Di ruangan ini sepi, tidak ada siapapun. Rupanya tadi Mas Han langsung pulang, aku pikir dia akan menunggu di ruang tamu atau di ruangan lain dalam rumah ini, ternyata tidak.


Aku menuju dapur, sebelum memasuki area dapur ada sebuah kamar yang tertutup. Aku ketuk pintunya perlahan, aku yakin ini adalah kamar Siti.


"Sit...Siti," pintu terbuka perlahan. Siti hanya memunculkan kepalanya.


"Ada apa Bu, apa ada yang bisa saya bantu?"


"Boleh aku ngobrol sebentar?"


"Iya Bu, sebentar," Siti keluar kamar dan menutup pintu kamar yang berada di belakang tubuhnya.


"Kita ngobrolnya di kamarmu saja," pintaku.


"Jangan Bu, tidak pantas rasanya ibu masuk kamar saya."


"Tidak ada yang tidak pantas. Ayo..." aku mendorong tubuh Siti masuk kembali ke dalam kamar.


Aku duduk pada satu-satunya kursi yang disediakan di dalam kamar Siti. Sedangkan Siti duduk di tepi tempat tidur.


"Aku mau tanya sama kamu, tapi kamu harus janji untuk tidak menceritakan pembicaraan kita hari ini pada siapapun," pintaku.


Siti mengangguk. aku yakin dia seseorang yang bisa dipercaya.


"Dua puluh tahun Bu," jawab Siti.


"Berarti kamu cukup dewasa untuk mengerti situasi yang terjadi dalam rumah ini, bukan begitu?"


"Inggih."


"Kamu pasti tahu siapa saya dan apa hubungan saya dengan Bu Sekar."


"Iya Bu."


"Apakah Sekar pernah bercerita secara detail tentang kami?"


"Tidak Bu. Bu Sekar meminta saya menyimpulkan sendiri dari apa yang saya lihat."


Bagus, berarti Sekar menyimpan rahasia ini dengan baik, bahkan orang dekat yang ada di rumah pun tidak tahu detail dari semua keruwetan ini.


"Ini pertanyaan terakhir, apa ada laki-laki yang sering datang berkunjung kemari selain suami saya?"


"Kalau laki-laki lainnya bukan keluarga tidak ada Bu. Paling yang berkunjung hanya Tuan Broto."


Oh...lek Broto. Kalau yang satu itu pastilah sering datang. Satu pertanyaan lagi yang terpenting.

__ADS_1


"Berarti kamu sering sendirian di rumah menemani Bu Sekar."


"Tidak juga Bu, ada pekerja yang lain."


"Waktu di rumah sakit, apa Pak Nehan sering berkunjung?"


"Mmm...bagaimana ya Bu..."


"Ya sudah tidak perlu dijawab," rupanya dia benar bisa dipercaya. Tahu mana yang harus disampaikan dan mana yang tidak.


"Apa tadi waktu pulang bapak ikut jemput?" pertanyaan terakhirku.


"Tidak Bu, tapi paginya sempat berpesan untuk hati-hati, terus langsung istirahat sampai rumah, karena hari ini bapak sibuk, begitu pesannya."


"Oh...begitu,"


Berarti kamu memang baru dekat dengan Sekar ya mas, "apa sebelum Bu Sekar masuk rumah sakit, Pak Nehan pernah datang kemari?"


"Pernah Bu, beberapa kali, waktu itu saya pikir temannya Bu Sekar, karena kalau datang gayanya formal. Duduk di ruang tamu, ngobrol sebentar terus pergi lagi."


Tapi kamu sudah berusaha menjalin kedekatan sebelum Sekar sakit. Jadi proses belajar bohong mu sudah dimulai sejak beberapa Minggu lalu.


"Oke Siti, kamu boleh istirahat, maaf ya kalau pertanyaan saya sedikit mengganggu."


"Oh, tidak Bu, sama sekali tidak," aku melihat waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Lebih baik aku istirahat.


Aku menempati kamar yang diperuntukkan bagi tamu. Sebuah kamar tamu dengan desain sederhana, hanya ada sebuah meja rias dan almari serta sebuah ranjang dengan ukuran cukup untuk dua orang.


Sebelum memejamkan mata, aku sempatkan untuk melihat ponselku lebih dulu. Tidak ada pesan apapun dari Mas Han, mungkin dia sudah tidur.


Malam ini tidurku tidak tenang, mimpiku rasanya melelahkan. Aku terbangun karena suara adzan subuh keras terdengar, mungkin masjid komplek letaknya dekat dari rumah.


Selesai rutinitas pagi, aku masuk ke kamar Sekar. Dia masih dalam buaian mimpinya. Aku mengamati tiap lekuk wajahnya, dia memang wanita yang cantik.


"Kau harus siap menerima kehadiranku dalam tiap langkah hidupmu. Aku tak akan lagi diam untuk jadi penonton. Aku akan bersabar sampai anak dalam kandunganmu lahir," ucapku lamat-lamat.


Pagi ini aku akan membiarkan kau tidur lebih lama, aku tak akan membangunkan mu.


Aku baru akan keluar kamar ketika bunyi notifikasi dari ponsel terdengar. Aku melihat cahaya ponsel menyala menandakan ada pesan yang masuk. Entah mengapa ada sesuatu yang menarik kakiku untuk mendekat. Ketika aku melihat, ada pop up pesan muncul di bagian atas benda pipih segi empat itu.


Sudah bangun sayang? Sayang...sayang...awas kau mas.


Aku lihat nama pengirimnya adalah laki-laki berhati lemah. Ingin tertawa sih sebenarnya tapi aku urungkan karena bagaimanapun Mas Han adalah suamiku juga. Tapi kalau dipikir lagi benar juga, nama itu mewakili Mas Nehan seratus persen.


Aku bergegas masuk kamar tamu dan melihat ponsel milikku sendiri. Ketika aku buka, masuk pesan dari orang yang sama dengan waktu lebih awal.


Rum, kapan kau pulang, aku rindu...siapa yang akan menyiapkan semua kebutuhanku?


Dengan cepat aku menjawab...


Minta tolong sama Mbok Nah, dia tahu apa yang harus dilakukan.

__ADS_1


"Huh...kalau perlu kamu tidurnya sama Mbok Nah saja mas," omelku pada ponsel yang kupegang.


...***...


__ADS_2