
"Omong-omong jeng, rumahnya ini kok masih tetap begini saja ya, mulai saya dulu melamar Rumi buat Nehan kok tidak berubah? emang nggak pernah tersentuh renovasi ya?"
Ibu tidak menjawab, aku berdoa dalam hati, sabar ibu, sabar...jangan terpancing.
"Wo alah mbakyu...ya masih tetap lah, masa mau berubah jadi ukuran dua meter kali satu meter, jadi makam dong," jawab ibu, dua kosong, Alhamdulillah ibu tidak terbawa emosi.
"Ini ada apa mbakyu, Kang mas besan kok saya digruduk begini."
"Begini jeng, kami ini__"
"Sebentar pak, biar saya yang bicara," kalimat bapak dipotong oleh ibu.
"Bu..."
"Wes pak, saya yang mau bicara."
Bapak tidak lagi terdengar bicara, aku menunggu dengan berdebar apa yang akan disampaikan ibu.
"Jadi begini jeng, saya sadar saya ini bukan mertua berhati emas yang baik hati tanpa cela untuk putri Jeng Narmi, istri anak saya Rumi."
Aku terenyuh mendengar kalimat yang diucapkan ibu.
"Meskipun saya kelihatannya tidak suka, tapi sebenarnya bukan seperti itu adanya. Saya juga sayang kok sama Rumi—yah...meskipun derajatnya tidak sesuai dengan keluarga kami, tapi saya sayang sama Rumi."
Aku tarik lagi rasa terenyuh ku, Bu.
"Jeng Narmi kan tahu sendiri, akhir-akhir ini hubungan Nehan sama Rumi kurang baik sampai membuat Rumi pulang ke rumah ini lagi—yah sebenarnya, sebagian ini merupakan kesalahan saya juga, tapi intinya maksud saya baik, biar mereka punya keturunan begitu."
"Jadi begini, Nehan itu saya minta untuk menikah lagi. Laki-laki kan tidak ada larangan untuk beristri lebih dari satu kan jeng...jadi ya begitulah, Nehan nikah lagi dan dulu Rumi itu janji untuk merawat anak madunya, soalnya mamahnya mau kuliah lagi, begitu..."
Napasku berhenti...ibu pasti marah mendengar perkataan ibunya Mas Han, tidak mungkin tidak marah.
"Ooo...jadi anak saya mau dijadikan baby sitter gitu, mirip-mirip pembantu, gitu maksudnya?"
Ibu marah...
"Bukan begitu, kalau babu kan dapat gaji to jeng, ini Rumi kan gak dapat gaji, lagi pula anak itu nanti akan jadi anaknya Rumi kok, jeng. Masa iya merawat anak sendiri bisa disebut babu."
Selamat tinggal Mas, ibu tidak akan mengijinkan aku ikut kalian untuk pulang. Aku tak tiduran saja, menutup kepalaku dengan bantal biar tidak mendengar ocehan ibumu yang tak tahu adab.
"Rum!!"
Aku mendengar suara ibu memanggilku. Benarkah ibu memanggilku?
"Kalau kamu ingin keluar kamu boleh keluar Rum."
"Walah, kok gaya...pakai dipanggil segala," lagi-lagi suara ibu mertuaku terdengar.
"Bu!!" suara bapak berat dan dalam, "maafkan istri saya jeng, meskipun katanya ningrat tapi kurang adat."
"Jangan bicara begitu kang mas besan, gimana sih istrinya sendiri dipermalukan."
Aku terus-terusan menghela napas dalam kamar. Ini lebih menegangkan dari pada waktu dulu kami akan menikah.
"Saya tidak mempermalukan istri saya jeng. Dia yang mempermalukan dirinya sendiri."
"Rum! Kamu mau terus nguping dari dalam kamar atau mau ikut nimbrung disini."
Suara ibu memanggilku lebih keras dari pada tadi. Maaf ibu boleh tidak aku di dalam kamar saja. Aku malas meladeni ibu mertuaku—yang aku tahu memang begitu cara bicaranya. Tapi kadang aku juga ingin meremat bibirnya.
__ADS_1
"Rum...!"
"Iya Bu, sebentar," aku mematut diriku lagi depan kaca. Baju hamil yang aku pakai sedikit menonjolkan perutku—yang memang sengaja aku perlihatkan.
Aku keluar kamar dengan kepala tertunduk, di depan pintu kamar aku menyadari sikapku yang nggak banget, lalu aku berhenti. Gila apa aku menundukkan kepala, aku harus menunjukkan kalau aku baik-baik saja tanpa Mas Han. Aku keluar dengan kepala tegak dan rasa percaya diri yang tinggi.
"Duduk sini Rum," ibu menepuk tempat kosong di sofa yang diduduki.
Aku tahu dari pandangannya, ibu mertuaku memperhatikan baju yang aku pakai dan area sekitar perutku. Tapi aku tidak menyukai caranya melihatku, entahlah...aku merasa ada sesuatu yang menakutkan dan akan menerkamku.
"Ibu yakin kamu mendengar semua yang kami bicarakan disini. Cara ibu mertuamu memandangmu dan apa yang akan kamu hadapi nanti. Ibu yang bodoh saja memahami kalau keluarga suamimu datang untuk menjemput mu agar bisa mengasuh bayi yang bakal lahir dari madumu. Apa kamu siap Rum?"
Ibu, kenapa ibu menyampaikannya seperti itu. Kalau aku menerima, rasanya aku seperti seorang wanita yang tidak memiliki harga diri. Tapi aku ingin pulang, memberi kesempatan kepada Mas Han untuk memperbaiki rumah tangga kami.
"Bagaimana Rum?" kilat mata ibu yang penuh dengan embun, membuatku berat untuk membuka mulut. Bergantian aku melihat Mas Han dan ibuku. Kenapa kamu dari tadi tidak memotong perkataan ibumu yang ngaco mas.
"Jeng, biar saya meralat apa yang disampaikan ibunya Nehan."
"Mau diralat seperti apa lagi kang mas besan. Saya tahu kalau sampeyan baik sama anak saya, tapi apa yang disampaikan ibunya Nehan tadi saya yakin itu dari hati. Kalau kang mas besan punya anak perempuan, apa kang mas besan rela anak perempuannya diperlakukan seperti Rumi, anak saya, sama keluarga suaminya?"
"Saya membesarkan Rumi puluhan tahun, bukan hanya sekedar jadi baby sitter."
Aku melirik wajah ibu mertuaku, standard seperti biasanya.
"Maafkan Rumi ibu," aku tak sanggup menjawab, hanya mampu meminta maaf. Permintaan maaf yang menunjukkan apa pilihanku sebenarnya.
"Berarti kita pulang kan Rum?" sekarang baru terdengar suara Mas Han suamiku.
Aku melirik singaku dan mengangguk.
"Terimakasih Rum," Mas Han berhambur dan memelukku.
"Sik Han sebentar," teriak ibu mertuaku.
Kami semua berhenti keheranan mendengar teriakan ibunya Mas Han.
"Kamu hamil Rum?" mata ibu membesar, suaranya keras bukan karena euforia, tapi jelas karena terkejut dan rasa keheranan yang jelas tampak.
"Iya Bu, Rumi hamil, ibu akan menerima dua cucu dalam jarak dekat," mas Han menjawab bahagia.
Aku mengangguk sambil tersenyum lebar.
"Anak siapa itu Rum?" tanya ibu mertuaku lagi.
Sebuah pertanyaan yang jatuh seperti rudal tepat diatas kepalaku. Senyumku perlahan memudar. Apa maksud ibu mertuaku mengatakan itu? Harusnya dia mengenali aku dengan baik selama delapan tahun ini menjadi menantunya. Aku tidak mungkin melakukan hal asusila.
"Apa maksud ibu menanyakan siapa bapak anak ini?" tanyaku
"Kamu yakin ini anak Nehan?"
"Mbakyu...apa maksudnya pertanyaan itu?" jelas ibuku marah dan tidak terima.
"Lah...wajar kan saya bertanya. Selama delapan tahun Rumi menikah dengan Nehan tak satu kali pun saya mendengar ada kehamilan atau Rumi keguguran. Sekarang setelah Nehan Punya anak dari wanita lain, Rumi juga tiba-tiba ikut hamil?"
Aku mundur beberapa langkah, menjauhi mas Han.
"Kamu tidak curiga Han?"
Hentikan Bu...hentikan.
__ADS_1
"Kamu yakin itu anakmu?"
"Bu...jangan keterlaluan kamu, semua ada batasnya," teriak bapak marah, tangan bapak terangkat.
"Mau pukul saya, karena mantumu yang gabuk ini kamu mau mukul saya?" teriak ibu keras, "pukul...pukul! seperti waktu itu kamu memukul aku waktu aku tahu wanita simpananmu hamil!"
Mas Han yang bingung melihat kedua orang tuanya bergantian, mungkin dalam hati dia mulai bertanya-tanya, siapa yang hamil, perempuan mana?
"Karena aku tidak bisa punya anak dan wanita simpananmu hamil kamu memukulku pak, sama seperti sekarang. Kamu akan memukulku karena wanita lain. Karena wanita gabuk ini!" tangan ibu menunjukku.
Aku mundur lagi, perutku mulai terasa ditarik lagi, jangan sekarang sayang, kamu harus kuat demi bunda.
"Perempuan mana pak...siapa yang hamil?" teriak Mas Han.
ibu baru sadar kalau ada mas Han disini, kilat matanya memudar, "Han."
"Siapa yang hamil Bu?"
"Kalau bukan ibu yang hamil, terus saya anak siapa Bu?"
Aduh...perutku.
"Itu tidak penting sekarang," teriak bapak, "sekarang yang penting kamu harus bisa membawa Rumi pulang bersama kita," suara bapak menggelegar, suara yang baru aku tahu karena belum pernah kudengar selama ini.
Aku melirik ibu, keringatku mulai penuh di dahi, "ibu, Rumi mau masuk saja."
"Mbok Nah," teriak ibu.
"Saya disini, mbakyu."
"Bawa Rumi masuk Mbok."
"Semuanya duduk. Ini rumah saya, kalau ada yang tidak duduk, sebaiknya kalian semua pergi dari sini."
"Bu saya mau mengajak istri saya pulang."
"Tidak ada yang akan pulang Han. Sekarang ini Rumi sudah ada di rumahnya. Dia sekarang sudah pulang."
"Sekarang bawa bapak dan ibumu keluar dari rumah ini. Kalau kamu ingin anakmu sehat, jangan pernah kesini lagi. Aku tidak bisa menyerahkan anakku satu-satunya pada keluarga yang tidak bisa menghargai keberadaannya."
"Tapi Bu..."
"Han, itu belum tentu anakmu!" dasar ibu mertuaku, perutku makin sakit. Pergi kalian semua.
"Aku tidak pernah meragukan Rumi Bu," teriak Mas Han, "kalau perlu kita akan tes DNA setelah anak itu lahir."
Aku keluar dari kamar, "Ndoro mau kemana?"
"Saya mau mengusir mereka semua mbok," aku berjalan sambil mendesis menahan sakit.
"Ndoro..."
"Pergi kalian pergi!" teriakku, "aku tidak akan pernah melakukan tes apapun untuk anakku, kalau kamu saja sebagai bapaknya tidak percaya bahwa ini darah dagingmu, aku tidak punya alasan lagi untuk mempertahankan rumah tangga ini mas," air mataku mengucur deras.
"Bukan begitu maksudku Rum."
"Pergi mas...pergi!!!"
Sedetik kemudian semua gelap. Ini seperti Dejavu...aku mengalami hal yang sama seperti waktu itu. Maafkan bunda sayang...maafkan bunda.
__ADS_1
...***...