Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 59


__ADS_3

Tubuhku yang sempat melayang ke belakang kembali tegak karena Mas Juna tidak melepaskan genggamannya. Astaghfirullah...hampir saja, aku berpegang erat pada lengan laki-laki yang berdiri di depanku.


Mas Juna merangkul bahuku dan menuntunku berjalan menjauhi lokasi yang ternyata sangat berbahaya.


Mas Han berlari mendekat, mengulurkan tangannya—yang aku lihat, tetapi tidak aku sambut.


"Kita ke ruangan ku, badanmu masih gemetar."


Aku menggerakkan bahu agar Mas Juna melepaskan tangannya. Waktu aku melirik ada kilatan amarah di mata suamiku, aku tahu dia menahan emosi.


"Duduk Rum," Mas Juna mengambilkan aku segelas penuh air dingin, "habiskan."


Aku menghabiskan air itu tanpa mendebat sedikitpun, karena aku tahu aku salah. Beruntung aku dan anakku baik-baik saja.


"Bicaralah kalian, aku keluar dulu," aku mengangguk, melihat Mas Juna keluar ruangan meninggalkan kami berdua.


"Kamu baik-baik saja?" suara Mas Han bergetar.


"Iya," jawabku singkat.


"Sedang apa kamu di lokasi berbahaya seperti ini?" aku tahu dia sedang menahan diri.


"Bekerja."


"Apa uang yang aku kirim tiap bulan kurang?" pertanyaan macam apa itu, dia tahu betul kalau aku tak mungkin melihat apalagi mengecek uang bulanan yang masuk dalam rekening yang dia tinggalkan untukku, harusnya dia paham bagaimana sifatku.


"Kamu tidak pernah melihatnya, iya kan?!" bingo, tapi kali ini aku diam tidak menjawab.


"Kita pulang, aku masih suamimu, kejadian tadi menunjukkan kalau kamu tidak bisa menjaga dirimu dan bayi kita."


Aku berusaha menjawab dengan tenang, "pulang?" sedangkan ibu berkali-kali bicara padamu tentang wanita itu kamu tidak pernah bisa menjawab.


"Iya pulang!" suaranya tegas tak terbantah.


"Aku tidak mau!" kali ini aku akan memberi batas tegas apa yang aku mau, tidak lagi seperti dulu.


"Apa ibu akan menerimaku dengan baik kalau aku kembali pulang?" beri aku jaminan, "apa kamu akan bersedia meninggalkan Sekar?" aku tunggu jawabanmu Mas.


Lihat, kamu diam, bahkan kamu tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana seperti ini.


"Kamu tahu aku tak bisa menjanjikan apa-apa yang berkaitan dengan ibu, kamu sudah menjadi menantunya selama delapan tahun, kamu harusnya paham bagaimana watak ibu."

__ADS_1


Paham? oh, aku paham mas, sangat. Tapi sekarang aku tidak bisa mentolerir lagi, ketika dia meragukan kesetiaan ku dan mempertanyakan ayah bayi yang kukandung.


"Bagaimana dengan wanita itu?" tanyaku.


"Rum," Mas Han berlutut di depanku, aku biarkan dia menyentuh perutku, menyentuh anaknya, "kamu sekarang juga hamil kan Rum, kamu tahu sulitnya orang yang pernah mengandung, Lala pernah mengandung anakku Rum."


"Lala...?" aku menautkan dua alisku, "siapa Lala?", kemudian aku mengingat sesuatu, "oh...jadi sekarang kamu punya panggilan khusus untuknya? Sekar Lalita...Lala." aku tersenyum pedih, bahkan aku selalu kau panggil dengan Rumi, sama seperti orang lain memanggilku.


Tanpa sadar aku tertawa kecil, melihat Mas Han yang tidak mampu menjawab, "sekarang aku tahu dimana posisiku mas."


"Rum, Lala akan sekolah keluar negeri sebentar lagi, sesuai rencana, dia akan pergi. Kamu pulang ya," tangannya berusaha meraih tanganku tapi kutepiskan, "aku ingin melihat anakku yang sekarang sedang tumbuh dalam rahimmu setiap saat Rum."


"Melihat anakku?" aku kembali tersenyum, air mataku menggantung, "ini bukan anakmu mas, ini anakku, ingat, ibumu meragukannya dan kamu pun menginginkan tes DNA untuknya, jangan khawatir dia sekarang tumbuh sehat disini, di lingkungan yang dengan tulus mencintainya."


"Aku akan mengirimkan foto hasil USG nya setiap kali aku periksa ke dokter, kamu tidak perlu jauh-jauh datang kemari. Tentang uang bulanan? aku pasti akan memakainya suatu saat nanti untuk anak ini, karena itu haknya, tapi tidak sekarang, kalau sekarang aku masih mampu mencukupi kebutuhanku. Bahkan lebih dari cukup."


"Sekarang sebaiknya kamu pulang, Lala mu pasti tidak tahu kamu luar kota bukan? jangan buat dia khawatir, paling tidak kalau kamu tidak mau melepaskan perempuan itu, perlakukan dia dengan benar."


Aku berdiri berjalan menuju pintu, mencari Mas Juna yang ternyata berdiri tak jauh dari situ, "aku mau pulang, boleh?" aku masih gemetar karena tadi hampir jatuh, Mas Juna mengangguk.


Aku berjalan di depan sedangkan Mas Juna berjalan mengikutiku. Aku tak lagi menengok ke belakang dimana suamiku berdiri. Kalau dia memang menginginkan aku kembali, dia akan menjatuhkan pilihannya padaku.


"Aku tak akan menyerah Rum, kamu pasti akan pulang, aku akan membawamu pulang!!" teriakan Mas Han masih terdengar jelas ketika Mas Juna melajukan mobilnya menjauhi lokasi pekerjaan.


"Sudah jangan nangis," Mas Juna mengulurkan sapu tangan berwarna putih ke hadapanku. Aku jadi ingat Pak Dul yang sering memberikan sapu tangannya untukku. Bagaimana kabar dua abdiku itu, ah...mbok Nah, Pak Dul, aku rindu kalian.


"Nanti sampai rumah, kamu istirahat saja dulu, tenangkan hati, jangan memikirkan apapun, biar anak yang kamu kandung bisa lahir cukup usia, ingat apa kata dokter, kalau kamu stress anak itu bisa lahir prematur."


"Iya, shrot..." aku menghirup ingus yang hampir menetes, kemudian aku serahkan sapu tangan itu kembali ke pemiliknya.


"Kamu simpan dulu saja."


"Kenapa jijik ya, sudah kena ingus aku soalnya," godaku, jadi pengen ketawa lihat ekspresi Mas Juna.


"Nggak...siapa yang jijik, aku kan cuman bilang simpan saja dulu," berusaha menghindar, "kalau nggak percaya, mana-mana aku yang bawa," Mas Juna mengambil sapu tangan dari tanganku dan menggenggamnya.


Melihat itu, aku melotot, jadi nggak enak sendiri, "Eh...jangan, biar aku yang bawa, itu kotor, aku tadi cuman bercanda tahu mas. Nanti aku kembalikan kalau sudah dicuci, aku janji," tanganku berusaha mengambil sapu tangan itu—yang malah dimasukkan dalam saku sama yang punya.


"Jangan disimpan di sakunya itu kotor, jorok," teriakku.


Mobil sedikit oleng karena aku mengganggu konsentrasi Mas Juna, "Rum," suara Mas Juna sedikit keras, "kamu mau kita nggak sampai di rumah ibu?"

__ADS_1


"Ih...amit-amit, kamu ngomong apa sih?!" aku cemberut, bercandanya keterlaluan soalnya.


"Kalau begitu kamu diam, kamu mengganggu konsentrasi aku nyetir tahu."


Aku segera diam, menghadap depan, "iya, maaf."


Sampai di rumah ternyata kehebohan masih belum berakhir. Entah bagaimana mobil Mas Han sudah terparkir di depan pagar. Aku jadi khawatir kalau Mas Han menceritakan yang tidak-tidak pada ibu.


Benar saja, baru saja aku membuka pintu mobil, ibu berteriak dan berlari dari dalam rumah.


"Rum..., kamu tidak apa-apa?!" teriak ibu, bahkan ibu hampir saja terjengkang karena terselip kakinya sendiri.


"Ibu, hati-hati," teriakku.


Ibu memegangi sekujur tubuhku, seperti biasanya memeriksaku dengan teliti, "kamu tidak apa-apa kan?" tanya ibu khawatir.


"Rumi tidak apa-apa, tadi hampir saja ibu yang kenapa-kenapa," sungutku.


"Tadi Han bilang kamu hampir terjatuh di tempatmu kerja," teriak ibu lagi, kami melangkah menuju rumah. Ibu melirik Mas Juna tajam.


"Ibu, bukan salah Mas Juna, sudah deh nggak usah diperpanjang. Mas Han yang melebih-lebihkan," jawabku berusaha menenangkan.


"Ya sudah, kamu istirahat dulu, syukurlah kamu baik-baik saja."


Aku melewati ruang tamu. Ada Mas Han duduk di kursi sedangkan Mas Juna rupanya tahu diri, dia berhenti di teras sambil berpamitan, "Bu saya mau balik ke proyek dulu."


"Sebentar," teriak ibu, kemudian berbisik padaku, "kamu tidur dulu ya, ibu mau beri tahu Juna tentang rencana kita sore nanti, kamu tidak apa-apa kan, kalau nanti sore kita jalan-jalan?"


Aku mengangguk, "nggak apa-apa."


Sebelum aku benar-benar merebahkan diri, aku mengintip ibu yang membisikkan sesuatu pada Mas Juna. Ada-ada saja si ibu.


"Han, sekarang kamu boleh pulang. Kamu lihat kan Rumi baik-baik saja."


Dalam diam aku mencuri dengar pembicaraan ibu dan Mas Han.


"Tapi, Bu..."


"Han, dengar, keputusan ibu masih tetap sama, dan ibu yakin Rumi juga begitu, jadi sekarang lebih baik kamu pulang!"


Beberapa saat kemudian, aku tak lagi mendengar suara. Tapi aku mengintip dari jendela ketika suara mobil Mas Han terdengar.

__ADS_1


Jarak kita makin jauh mas. Bahkan mungkin jika di satu waktu kau duduk di sisiku, jarak itu tetap akan terasa.


...***...


__ADS_2