
Aku masih berdiri dibalik kaca jendela ruang tamu yang tertutup kelambu. Mengintip keluar melihat Mas Han yang basah kuyup diguyur air hujan. Melihatnya seperti itu membuat nuraniku terusik.
Mbok Nah duduk di kursi tamu menemaniku, "mbok, tolong bawa anak saya ke kamar."
"Baik, Ndoro," Ken menggeliat sebentar ketika aku memindahkan gendongan.
"Anak bunda sama mbok nah dulu ya."
"Ibu dimana mbok?"
"Di meja makan, duduk sambil melamun Ndoro putri."
Pasti ibu juga merasakan hal yang sama denganku. Bagaimanapun kami sudah menjadi keluarga sejak delapan tahun yang lalu. Orang lain saja akan aku beri tempat untuk berteduh, apalagi ini Mas Han, laki-laki yang mengisi hidupku selama ini.
Aku menarik napas, butuh kematapan hati untuk melakukan sesuatu buat orang yang pernah menyakiti. Aku ambil payung yang ada di sudut ruangan, aku keluar rumah menembus derasnya hujan sambil membawa payung untuk Mas Han.
Tepat dihadapannya aku berhenti. Payung aku angkat hingga menutupi kepala kami berdua. Jarak kami begitu dekat, hampir tidak ada tempat yang cukup agar kami bisa leluasa untuk berteduh.
Dia meletakkan tangannya tepat dimana tanganku menggenggam payung. Matanya lekat memandangku, pandangan mata kami terkunci.
Bibirnya membiru, kalau saja tadi aku mengambil waktu lebih lama untuk berpikir dia bisa saja mati kedinginan.
"Jangan salah sangka, aku hanya ingin berbuat baik, jadi lepaskan tanganmu mas," karena selisih tinggi badan yang mencolok aku terpaksa mengangkat tanganku tinggi-tinggi.
"Kamu yang lepaskan tanganmu Rum, lebih mudah kalau aku yang membawa payung ini."
Aku menarik tanganku cepat. Mengalihkan pandangan melihat hujan yang semakin deras. Ibu berdiri di depan pintu sambil berteriak.
"Ayo masuk, kalian bisa sakit, nggak usah lebai keburu basah."
Mas Han memeluk bahuku dan menariknya mendekat. Sebagian tubuhku basah. Aku menggeliat untuk melepaskan diri, tapi Mas Han menahan ku kuat-kuat.
"Jangan salah paham, aku tidak ingin ibu dari anakku sakit. Kali ini ikuti saja gerakanku," kami berjalan menembus hujan tanpa melepas rangkulan. Hatiku yang ambigu bergetar tak tahu diri, sialan.
"Ayo, sini," ibu menyerahkan handuk pada Mas Han dan mengambil payung yang ada di genggamannya. Aku menarik tubuhku cepat, mengibaskan pakaianku dari basahnya air hujan.
"Rum kamu masuk, langsung mandi dan ganti baju. Jangan lupa pakai minyak kayu putih biar badannya hangat."
Mulut ibu maju beberapa senti. Aku tidak berani melihat mata ibu yang tajam melirikku. Aku tahu ibu pasti marah dan mengomel nanti.
"Kamu pakai cari perhatian, berdiri di tengah hujan deras!" teriak ibu sambil memukul lengan Mas Han berkali-kali.
__ADS_1
"Aduh Bu, sakit, maaf...jangan pukul lagi."
"Biar!" buk...buk, suara itu terus terdengar, "memangnya kamu anak kecil yang suka hujan-hujan, kalau kamu sampai sakit kita yang repot tahu!" aku masuk ke dalam tapi suara bak buk pukulan ibu masih belum juga berhenti.
Keluar dari kamar mandi aku disambut dengan pemandangan Mas Han yang bertelanjang dada. Aduh, pemandangan ini membuat aku salah tingkah. Apalagi rambut kami sama-sama basah, suasananya jadi sedikit...entahlah.
Karena berusaha bersikap normal dan ingin segera masuk kamar aku berjalan cepat sambil menunduk, sayangnya Mas Han juga melakukan hal yang sama, dia tergesa menuju kamar mandi. Saat itulah tubuh kami bertubrukan.
"Aduh, mas," aku hampir terpeleset.
"Rum," untungnya Mas Han dengan sigap menangkap tubuhku. Posisi tubuhku menggantung dibawah, tangan Mas Han menahan punggungku kemudian menarikku keatas. Tubuh kami menempel sangat dekat, bahkan bibirku hampir menyentuh bibir Mas Han, tanganku berada di dada telanjangnya.
Untuk beberapa saat aku diam. Tangan Mas Han mengelus pipiku, ketika tangan itu hampir menyentuh bibirku, aku tersadar. Aku mendorong dada Mas Han sekuat tenaga, membuat Mas Han terpaksa mundur beberapa langkah.
"Aku harus ke kamar," kemana ibu, biasanya ibu akan berteriak, kalian ini apa-apaan, kali ini suara ibu sama sekali tak terdengar.
Di depan kamar aku menata napasku yang memburu, meredakan jantungku yang berdegup kencang. Hampir saja, aku memukul kepalaku berkali-kali, ingat Rum...ingat, dia sudah menyakitimu begitu rupa.
Setelah napasku teratur baru aku masuk kamar. Ternyata ibu tertidur di sebelah Ken. Dasar ibu!
Badanku masih lemas. Rasanya tulangku berubah menjadi jeli, lentur dan tidak mampu menopang tubuhku. Aku memilih duduk di kursi rias sampai gugupku hilang.
"Nggak apa-apa Bu, memangnya Rumi kenapa?" tanyaku pura-pura heran. Pasti wajahku menceritakan dengan jelas apa yang baru saja terjadi, sungguh sangat memalukan.
"Wajahmu merah," ibu bergegas turun dari tempat tidur dan menyentuh dahiku, "eh, nggak demam kok, aneh kamu Rum."
Ibu menundukkan wajah, memandangku berlama-lama, "tidur sana, jangan-jangan kamu akan sakit karena hujan-hujan."
Aku mengangguk dan langsung naik ke tempat tidur. Memeluk anakku yang tidur lelap, "untung uti nggak curiga ya sayang," aku menghela napas dan berusaha untuk ikut tidur.
Makin malam udara makin dingin, aku terbangun karena Ken rewel minta disusui. Setelah menyusui malah ingin ke kamar mandi. Lega rasanya setelah hajatku tuntas, kemudian aku melihat satu persatu orang yang ada di rumah. Ibu dan Mbok Nah sudah tidur. Kalau Mas Han pasti tidur di kursi panjang di ruang tamu.
Aku melangkah ke tempat Mas Han tidur, maksudku hanya melihat saja. Alhamdulillah ibu sudah menyediakan bantal dan selimut.
Ya sudah, aku kembali masuk dalam kamar, tapi belum juga aku memutar badan aku mendengar Mas Han mengigau, "jangan pergi... ergh...jangan pergi."
Aku mendekat, wajahnya berwarna keunguan karena kulitnya yang agak gelap. Aku sentuh dahi Mas Han. Ya Allah sepanas ini...
Aku bergegas ke belakang, mengambil baskom yang kuisi dengan air dan kain untuk dijadikan kompres. Bukannya tidak ikhlas tapi tetap saja aku melakukannya sambil menggerutu, "seneng banget sih membuat orang lain susah."
Aku masukkan kain dalam baskom, aku tempelkan kain basah ke dahi Mas Han.Tidurnya lelap nggak ya? aku tekan-tekan pipinya tidak bereaksi, aku pukul pelan juga sama. Apa Mas Han nggak sadar ya? ah bodoh amat, bukan urusan aku.
__ADS_1
Mendingan tidur lagi, masih ada waktu satu jam sebelum subuh. Aku beranjak dari dudukku, ketika aku akan melangkah, aku kembali mendengar suara Mas Han, "Rum, jangan pergi," tiba-tiba tanganku digenggam erat.
Aku berusaha melepaskan tanganku tanpa menoleh, karena susah akhirnya melihat orang yang aku pikir sedang mengigau. Tapi ternyata dia tidak tidur, matanya terbuka sayu, memandangku penuh iba, aku bingung harus bagaimana, sedangkan ibu pasti belum bangun.
"Tinggallah disini, paling tidak sampai aku tertidur lagi," suaranya lemah.
Dengan terpaksa aku kembali duduk diujung kursi, meskipun hanya bisa duduk separuh pantatku saja tapi aku tetap tinggal, "tidurlah, jangan berharap lebih mas, aku hanya berusaha berbuat baik sebagai tuan rumah."
"Iya, aku tahu."
Dia kembali memejamkan mata, tubuhnya digeser sampai menempel padaku, tanganku pun tidak dilepaskan. Semoga saja Ken menangis jadi aku punya alasan untuk melepaskan diri, lagi pula dia tidak pernah bisa menolak segala sesuatu yang berhubungan dengan anaknya.
Ayo sayang, kenapa kali ini tidurmu anteng sekali. Ah iya, kamu habis mimik sama bunda ya. Aduh, sepertinya aku tak mungkin bisa melepaskan diri. Sabar Rum...sebentar lagi subuh. Sialnya tak lama kemudian kesadaran ku pun ikut hilang.
"Rum," tubuhku kok bergoyang-goyang ya, apa ada gempa bumi?
"Rum..."
"Ibu," aku membuka mata, "ada gempa___, mas Juna?"
"Kenapa kamu tidur disini?"
Dimana aku tidur? aku melihat kanan kiri. Ya Allah...aku baru sadar kalau aku semalam duduk di kursi dimana Mas Han tidur. Tubuhku jatuh di atas kaki Mas Han. Aku segara duduk, memandang Mas Juna kikuk.
"Jam berapa ini?"
"Jam enam."
"Mana ibu, kenapa tidak membangunkan aku?"
"Ibu ke pasar, mbok Nah di belakang, aku sudah melihat Ken, dia masih tidur. Sudah aku kasih bantal guling di kanan kiri Ken biar nggak jatuh. Tadi aku yang melarang ibu untuk membangunkan kamu."
Mas Juna melirik tanganku, aku ikuti pandangan matanya. Ah, Mas Han, aku berusaha menarik tanganku tapi tetap gagal. Dia tidur beneran apa pura-pura tidur sih, kok tenaganya kuat begini.
"Aku akan pergi, nanti kalau laki-laki itu bangun suruh dia membersihkan dirinya. Kenapa dia jadi jorok seperti itu?!"
Ketika Mas Juna akan pergi aku menarik tangannya, memegangnya erat, aku masih takut kalau ditinggal sendiri dengan lelaki yang beberapa Minggu lalu hampir membunuhku, "jangan pergi, temani aku dulu."
Kami saling pandang. Perlahan Mas Juna membalas genggaman tanganku. Dia berjalan mendekat kemudian berdiri tepat di sisiku, di saat yang sama Mas Han membuka matanya, dia melihat kami saling bergandengan tangan dan aku mengeratkan genggaman tanganku pada Mas Juna.
...***...
__ADS_1