Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 121


__ADS_3

"Diam!" bisik Permadi.


"Pisau ini akan melukaimu kalau kamu melakukan kebodohan!"


Sekar melirik pisau lipat yang menempel di lehernya.


"Aku akan diam," bisik Sekar.


Terdengar suara pisau dilipat cepat. Sekar menghembuskan napasnya lega.


"Apa ini imbalannya, kamu menginginkan tubuhku?"


"Kalau aku bilang iya, apakah kamu akan memberikannya padaku?" seringai Permadi tampak mengerikan.


Sekar diliputi ketakutan, tubuhnya bergetar, hawa dingin menyelimuti ruangan. Suara-suara malam terdengar jelas di telinga.


"Kalau aku menolak apa kau akan membunuhku?"


Permadi tersenyum mengerikan. Dia mengeluarkan lagi pisau lipat yang tadi sudah berada di dalam saku. Dengan sekali gerakan pisau itu kembali keluar dari lipatannya.


"Menurutmu?"


"Aku akan memberikannya untukmu," Sekar bergerak cepat mengangkat dasternya keatas.


Dalam remang cahaya kamar terlihat tubuhnya yang hanya terbalut pakaian dalam. Daster yang terlepas digenggam erat di depan dada.


Seperti singa lapar Permadi menerkam tubuh Sekar. Tangan wanita itu ditarik ke belakang melampaui tubuhnya. Tangan yang lain membekap erat mulut Sekar.


Permadi menggigit dan memukul tiap inci tubuh Sekar. Sesekali memberikan sayatan kecil di tubuh putih mulus itu. Tangis dan teriakan Sekar yang tertahan membakar gairah lelaki gila itu.


Sekar meronta sejadinya, ingin memberontak tapi tidak bisa. Semakin dia menolak, Permadi menjadi semakin gila. Lelaki legam itu menyakiti tubuh Sekar dengan ganas.


Air mata Sekar mengalir deras dalam kesakitannya. Bayangan Nehan menari di pelupuk matanya. Betapa suaminya itu dulu memperlakukan tubuhnya dengan cinta dan lemah lembut.


Semua kesalahannya muncul satu persatu berputar menjadi sebuah lubang hitam yang menyeretnya dalam kelam.


Suara deru nafas Permadi yang memburu membuat Sekar mual dan muak. Disaat-saat akhir. Sekar menendang perut lelaki itu dengan keras. Bukannya terjengkang, tapi gerakan Permadi semakin cepat dan keras.


Tamparan dan pukulan merajam tiap inci tubuh Sekar. Beberapa kali bahkan kepala Sekar dibenturkan ke kepala ranjang.


Suara geraman panjang Permadi menjadi akhir dari semua kesakitan Sekar.


"Kamu nikmat sekali wanita muda," lagi-lagi seringai itu muncul menjijikkan. Dengan sekali gerakan Permadi turun dari tempat tidur dan memakai celananya tanpa peduli dengan wanita yang tubuhnya hancur.


"Sebenarnya tadi aku tak begitu menginginkanmu. Aku akan berusaha mengerti kalau kau menolakku."


"Hah...tak kusangka ternyata mudah sekali mendapatkan mu, bahkan kamu dengan ikhlas memberikannya padaku."


Tidak ada suara lain yang keluar dari bibir Sekar selain isak tangis tertahan. Tubuhnya melengkung menghadap dinding kamar memeluk lututnya sendiri. Bahunya bergoyang seirama dengan tangis yang keluar.

__ADS_1


"Pergi kau dari sini," bisik wanita muda itu. Perih dia rasakan di sekujur tubuhnya. Untungnya gelapnya kamar melindungi dia dari rasa malu yang hilang.


"Kalau kau tahu tujuanku yang sebenarnya kemari kau tidak akan mengusirku wanita muda."


"Aku tidak peduli apa tujuanmu, lebih baik kamu pergi sekarang!"


"Polisi mencurigai keberadaanmu disini."


Permadi duduk di kursi yang ada di situ. Tangis Sekar makin deras.


"Aaaa..." teriakan keras Sekar memecah malam.


"Jangan berteriak kamu, memang disini jauh dari tetangga, tapi teriakanmu memekakkan telinga ku," gerutu Permadi sambil menggosok telinganya.


"Aku jijik padamu," bisik Sekar lagi.


"Tapi kamu tidak menolakku tadi."


"Harusnya kamu tadi bilang lebih dulu apa maksudmu datang kesini," isak pilu Sekar masih terdengar.


Permadi berjalan mendekati tempat tidur. Sekar melompat menjauh, menyambar dasternya tadi dan menutupkan ke tubuhnya. Matanya nyalang mencari selimut tapi ternyata selimut itu jatuh di bawah.


"Jangan berani kau dekati aku lagi!"


Permadi menyambar selimut yang ada di lantai dan melemparkannya tepat mengenai wajah Sekar.


"Tutupi badanmu dengan selimut itu. Aku tidak mau kamu mati karena dingin."


"Bodoh sekali kamu sampai polisi bisa mengendus jejak ku disini," kalau bukan karena kecerobohan lelaki jelek itu polisi tidak mungkin tahu.


"Bukan aku yang bodoh, tapi kau yang tak punya otak."


"Sering sekali kau memintaku untuk datang ke rumah Pak Broto."


Sekar memakai bajunya. Matanya melirik ke pintu. Otaknya bekerja untuk mencari cara agar dia lolos dari kamar. Lelaki itu harus menerima balasannya, dia harus merasakan sakit yang sama.


"Aku harus ke kamar mandi."


Tanpa curiga Permadi membiarkan Sekar untuk pergi, "pergilah."


Bergegas Sekar menuju dapur. Dia mengambil pisau besar yang tergelak di bawah meja. Baru kemudian dia masuk ke kamar mandi.


Sekar membasuh tubuhnya yang perih dimana-mana. Apalagi di bagian alat vitalnya, rasanya sudah robek saja bagian itu. Kalau di rumah dia akan bisa melihat jelas luka-luka di tubuhnya. Tapi di rumah ini penerangannya sangat sederhana, lagi pula tidak ada kaca di kamar mandi.


Setelah merasa cukup bersih Sekar meninggalkan kamar mandi. Permadi masih dengan posisi duduknya di tempat yang sama. Perlahan Sekar mendekati laki-laki itu. Mata lelaki itu terpejam, hembusan napasnya tenang.


"Tidurlah untuk selamanya."


Sekar mengangkat tangannya dan mengarahkan pisau yang dibawa tepat ke arah leher Permadi. Dengan sekali ayun pisau itu menancap di tempat yang tepat. Darah menyembur dari situ.

__ADS_1


Wajah, pakaian, dan hampir seluruh bagian tubuh Sekar basah oleh darah. Untuk beberapa detik Permadi berusaha bangun dan meraih Sekar. Tapi tak lama tubuh hitam besar itu ambruk di bawah kaki Sekar.


Sekar melorot lemas di lantai. Dia menangis sejadinya. Apa yang sudah terjadi di hidupnya sekarang.


"Ahhhh...huhuhu..." tangisannya bagaikan lolongan serigala yang kesakitan.


Entah jam berapa sekarang. Udara masih dingin dan suasana masih gelap. Sekar tidak tahu berapa lama dia menangis. Tapi kakinya tak mampu lagi berdiri. Luka bekas perkosaan menghancurkan tubuhnya.


Dia pasrah, tidak ada keinginan untuk melarikan diri. Bagaimana mungkin dia bisa pergi dari tempat ini. Tidak ada apa-apa atau siapa-siapa disini.


Sekar membaringkan diri di lantai dingin yang penuh genangan darah. Di matanya muncul bayangan Nehan yang sedang tersenyum, Bu Ajeng yang mengulurkan tangannya, gadis kecil yang berlari tertawa sambil memanggilnya mama.


Matanya lelah, tubuhnya lelah. Sekar memejamkan mata, dunia mimpi menyambutnya. Wanita itu tertidur sambil tersenyum.


"Aaaaa...tolong!" teriakan keras dari seorang wanita membuatnya terjaga. Tapi dia enggan untuk bangun.


Di luar terdengar deru mobil dan beberapa langkah berat berderap mendekati rumah.


"Tolong pak, wanita gila itu mati begitu juga dengan kakak saya, pak...bagaimana ini?!"


"Darah tergenang dimana-mana pak!"


Nehan menerobos masuk. Dia melihat Sekar meringkuk di lantai. Tubuhnya penuh lebam dan sayatan pisau kecil.


"Lala," Nehan menyentuh tubuh penuh luka itu.


Mata Sekar terbuka, "hihihi...kamu menjemputku?"


Sekar membuka mata dan tertawa kecil. Dia mengulurkan tangannya, "kenalkan, aku Sekar Lalita, seorang mahasiswa."


"La..." hati Nehan hancur melihat pemandangan di depannya.


"Apakah aku mengenalmu?" tanya Sekar bingung.


Nehan menggenggam tangan Sekar, "tidak, aku hanya ikut rombongan orang-orang itu."


Nehan tersenyum, lebih baik Sekar melupakannya, tidak mengingatnya. Melupakan dan membuang kenangan bersamanya. Karena semua luka ini berasal darinya.


"Aku sudah menikah, apa kau mengenal suamiku?" Sekar lagi-lagi tertawa kemudian menangis.


"Dasar wanita sialan," adik Permadi berusaha memukul Sekar, tapi aparat yang ada disitu lebih sigap.


"Maaf, anda tidak boleh mendekati korban." polisi mencegah adik Permadi mendekati Sekar.


"Biarkan petugas yang membantu, tuan Nehan. Silahkan tuan menunggu di luar."


"Tapi pak, saya mengenal wanita penuh luka itu."


"Silahkan tunggu diluar tuan. Biar anggota kami yang membantu."

__ADS_1


Nehan keluar dengan hati hancur. Sekarang penyesalan itu makin besar. Dia merasa menghancurkan hidup semua orang. Matanya tak lepas dari Sekar yang terus menangis dan tertawa dengan kondisi mengenaskan. Aku harus bagaimana sekarang Rum...


...***...


__ADS_2