Cinta Kedua Suamiku

Cinta Kedua Suamiku
Episode 122


__ADS_3

Rumi POV


Aku membuka ponselku karena nada dering pesan berbunyi. Ada satu pesan masuk dari Mas Han.


Sekar sudah tertangkap


Kemudian masuk lagi satu pesan gambar. Aku lemas, kakiku lentur seperti jeli. Tubuhku terduduk bersandar di kursi kerja.


"Apa yang terjadi, kenapa Sekar seperti itu?" aku bingung. Wanita muda cantik dan percaya diri itu tergeletak di lantai dengan tubuh penuh darah.


"Rum!" suara Yuni memecah lamunanku. Tas yang dibawa dilempar keatas meja tamu lalu membanting tubuhnya ke sofa.


"Rum...Rumi!"


"Ah...apa sih, ga usah teriak gitu juga kali." menganggu sekali teriakannya.


Yuni berjalan mendekati meja kerja ku, "kamu kenapa kayak yang bengong gitu?"


Aku menggeleng, lebih baik Yuni melihat sendiri. Baru akan menyerahkan ponsel, pintu kembali terbuka, "kalian berdua kenapa kok pada diam."


Yuni memutar kepala dan memberi tanda pada Mas Juna, "tanya dia noh, aku masuk dianya kayak ngelamun gitu."


Mas Juna menyentuh tanganku, "kamu sudah menerima pesan dari Nehan?"


Aku memandang Mas Juna dan mengangguk.


"Woi, pesan apa? kenapa kok aku nggak tahu, pesan apa?!" teriak Yuni tidak sabar.


Aku memberikan ponselku dengan aplikasi pengirim pesan yang masih terbuka.


"Astaghfirullah, apa ini?" mata Yuni membulat.


"Ini perempuan itu?" aku mengangguk.


Yuni masih melanjutkan, "kasihan sih, tapi ini yang namanya karma. Salah siapa ngerusak hidup orang lain, sekarang hidupnya jadi rusak sendiri kan."


Aku hanya melirik Yuni, "mas, tolong hubungi Mas Han. Aku ingin tahu apa yang terjadi. Terus sekarang posisi mereka ada dimana?"


Mas Juna mengangguk. Aku meninggalkan meja kerjaku dan pindah ke samping Mas Juna yang duduk di sofa. Aku mendekatkan telingaku agar bisa ikut mendengarkan. Yuni melakukan hal yang sama tapi dari sisi yang lain.


"Halo Han, hmm...hmmm."


Nggak dengar kalau begini. Aku makin mendekatkan pendengaranku, saking dekatnya, kulit kami hampir saling menyapa. Rambut halus sisa dicukur menyentuh lembut kulit wajahku.


Lama-lama aku jadi memandang wajah sahabat mantan suamiku itu diam-diam. Ada magnet yang menarikku dan membuatku betah berlama-lama menatapnya.


"Hmmm...hmmm," aku mendengar keduanya masih saling bicara. Tapi fokusku sudah berubah.


Aku menghidu aroma after shave Mas Juna. Mataku terus menatap wajah laki-laki yang sedang duduk di sampingku. Seperti tahu kalau sedang diperhatikan akhirnya dia membalas melihat mataku. Jelas sekali kalau diriku ada dalam netra coklatnya.


Untuk beberapa saat kami terbawa ke dimensi lain. Aku merasa sekelilingku menjadi senyap. Aku tenggelam dalam ketenangan sikapnya dan aku menyukai perasaan ini.


Sampai akhirnya Yuni berteriak, "Ngomong apa sih, kesini Napa, aku gak bisa dengar tahu Jun."


Aku gugup dan langsung menjauhkan tubuhku. Mas Juna menoyor kepala Yuni karena mengagetkan kami berdua.


"Apaan sih kamu!"


"Kalian berdua yang apaan," sembur Yuni yang membuatku merona.


"Udah dulu Han, ini Yuni lagi cari masalah."

__ADS_1


Baru saja sambungan telepon terputus nada pesan pada ponselku berbunyi.


Kalian sedang bertiga?


Karena malas membalas, aku menutup ponselku. Aku lebih tertarik mendengar cerita tentang Sekar daripada menjawab pesan Mas Han.


"Gimana, Mas Han bilang apa?" tanyaku.


"Aku tadi dengar seperti membunuh lagi gitu," sambungku.


"Aku malah gak dengar apa-apa!" sahut Yuni cemberut.


"Jadi begini...ternyata bekas istrinya Han membunuh orang lagi. Orang itu laki-laki yang jadi perantara antara dia dan Pak Broto."


"Belum jelas sih kenapa laki-laki itu dibunuh, karena Sekar tidak bisa berkomunikasi dengan baik, sebentar nangis sebentar ketawa."


Aku menghela napas. Kenapa jadi seperti ini sih...


Semua kemarahanku menguap seketika. Aku jadi ingat Lita. Seorang anak yang masih kecil harus memiliki ibu yang sakit mentalnya.


"Bisa nggak kita jenguk mereka Mas?" tanyaku.


"Harusnya sih bisa. Sekarang ini Pak Broto juga sudah diamankan sama pihak yang berwajib."


"Aku mau kesana mas."


"Lebih baik kita tunggu berita dari Nehan dulu Rum."


Aku menolak, "aku ingin melihat Sekar sekarang mas."


Mas Juna melihatku ragu, "kamu yakin?!"


"Antarkan aku pulang, Mas."


"Kamu mau ikut juga Yun?" tanya Mas Juna ke Yuni.


"Nggak, aku gak mau jadi pemandu sorak buat kalian. Kalian yang bermain, aku cuman bersorak memberi semangat."


"Ngomong apa sih kamu Yun," sungut Mas Juna.


"Ayo Rum."


Sebelum kami berlalu, aku masih sempat menggoda Yuni lebih dulu, "Bu bos tolong jaga panti ya, kuatir kalau pantinya dibawa sama pemain bola yang kamu sorakin."


"Sialan," aku tertawa menerima lemparan bantal kursi dari sahabatku.


Selama perjalanan pulang, aku tak bisa lagi tertawa. Bayangan Sekar yang meringkuk di lantai dengan tubuh diantara genangan darah sangat mengganggu pikiranku.


Lagi-lagi ponselku berbunyi. Entah sudah berapa kali dering ponsel kuabaikan.


"Dilihat Rum, siapa yang telepon."


"Paling juga Mas Han, mas."


"Diangkat, dari tadi kamu abaikan terus."


Dengan malas aku akhirnya mengangkat telepon yang memang benar dari Mas Han.


"Halo, asslamualaikum."


"Waalaikumsalam, apa mas?"

__ADS_1


"Sedang dimana Rum?"


"Di mobil."


"Jam segini sudah pulang, tumben? pulang sama siapa, Pak Dul kan? langsung pulang ke rumah atau mau mampir ke tempat lain dulu? kalau sudah sampai rumah hubungi aku ya."


"Apa sih mas, cerewet bener."


"Jawab Rum, biar aku tenang. Biar aku bisa fokus menyelesaikan masalah yang ada disini."


"Baik, aku jawab. Aku langsung pulang. Sekarang bukan dengan Pak Dul tapi bareng Mas Juna, setelah itu..."


"Apa, sama si Juna?! Kan sudah ada Pak Dul Rum, kenapa musti sama Juna. Dia itu lelaki single lo Rum. Bahaya kalau kalian pulang bareng."


"Dengar dulu kenapa mas! aku bareng mas Juna karena aku mau ke tempat mu mas, aku ingin melihat Sekar secara langsung."


"Nggak...nggak, nggak perlu Rum. Perjalanan jauh hanya berdua. Mana Yuni? kenapa Yuni nggak ikut?"


"Mas, meski kamu ngelarang, aku akan tetap berangkat. Sekarang terserah kamu, mau memberi tahu posisi Sekar, atau kami berdua akan mencari sendiri, yang pastinya akan memakan waktu dan membuat kita semobil lebih lama."


"Rum, tolong ambilkan air mineral yang ada di sana itu, sekalian bukain ya," ujar Mas Juna tiba-tiba.


"Iya, sebentar mas, mau sekalian di suapi. permen nggak?"


"*Rum...Rum!"


"Apa-apaan kalian berdua, seenaknya saja Juna nyuruh-nyuruh istri orang*."


"Maaf ya mas, lokasinya kamu kirim lewat chat ya, berbagi lokasi juga boleh. Aku tutup dulu teleponnya."


"Rum...Rum!"


Dan aku mematikan telepon lalu menyimpan ponselku ke dalam tas dengan puas. Sekali-sekali membuatmu kelimpungan ternyata rasanya menyenangkan mas.


"Dia masih cemburu sama kamu Rum?" aku hanya mengendikkan bahu.


"Bukan urusanku dia cemburu atau nggak."


"Nehan masih suka cemburu sama kamu, kalau kamu...apa kamu juga masih suka cemburu sama Nehan?"


"Cemburuku sudah habis waktu aku dimadu dan dibohongi terus-menerus mas."


Sekilas aku melirik ada senyum tipis mengembang di bibir Mas Juna. Bukannya aku bodoh atau pura-pura tidak tahu kalau lelaki ini menyukaiku. Tapi aku belum siap untuk membuka hati pada siapapun. Meski tak kupungkiri aku juga sedikit tertarik padanya.


Sampai di rumah, aku hanya istirahat sebentar, mengganti baju lalu bercerita pada ibu dan mbok Nah apa yang terjadi pada Sekar.


"Hati-hati ya Jun, ibu titip-titip Rumi. Siapa yang tahu apa yang akan dilakukan wanita itu kalau melihat wajah anak ibu."


"Jangan khawatir Bu, Juna akan menjaga Rumi dengan baik."


"Sebenarnya ibu lebih tenang kalau Rumi tidak turut campur, tapi Rumi itu susah dibilanginnya."


"Ayo mas," waktu sudah menjelang sore, kami harus segera bergegas.


Mas Juna menggenggam tangan ibu erat, menciumnya sopan sebelum berpamitan.


"Ibu jangan khawatir ya, selama bersama saya, saya janji Rumi akan baik-baik saja."


Meski dengan berat hati, ibu akhirnya mengijinkan aku pergi. Bagaimana aku bisa tak peduli, jika ada andil dariku sampai semua ini terjadi. Aku tak bisa menutup mata atas peristiwa ini. Paling tidak aku ingin melihat wanita itu barang sekali lalu berjanji untuk menjaga anaknya dengan baik.


...*** ...

__ADS_1


__ADS_2