
YunJun Couple
Mentari menghangatkan suasana pagi ini. Samudra lepas di depan tampak berkilat karena pantulan cahaya merah matahari terbit.
Pasir putih terasa sedikit kasar menyentuh kulit. Tapi itu tidak menyurutkan kebahagiaan seorang wanita yang saat ini duduk bersendeku memeluk lututnya dipinggir pantai.
Senyum tak lepas dari bibirnya. Matanya terpejam dengan kepala sedikit terangkat. Angin pagi yang sepoi-sepoi membuat rambutnya menari meliuk lepas di udara.
Seorang lelaki berperawakan gagah duduk disisinya dengan posisi yang sama. Matanya memandang ke laut lepas, tapi sesekali netra hitam itu melirik wanita di sebelahnya dengan senyuman.
"Berapa lama nggak liburan?" tanya Juna.
"Entah, lupa. Alur hidupku terlalu terjal untuk diajak bersantai."
Dia ingat bagaimana dia harus kembali membangun kepercayaan diri pasca perceraian kedua orang tuanya.
Setelah menjadi saksi selama bertahun-tahun pertikaian demi pertikaian dari orang yang melabeli diri mereka dengan sebutan orang tua.
Bagaimana masa SMA adalah masa paling rendah dalam hidupnya. Dunianya hancur, luluh lantak waktu itu karena mama yang dicintainya ketahuan membawa lelaki lain ke sebuah hotel.
Papanya yang memilik watak keras, menyiksa sang mama tanpa ampun sampai harus menjalani operasi karena beberapa luka robek di tubuhnya.
Harta dan kekayaan yang waktu itu menjadi penghibur tak mampu lagi menghilangkan kesedihan dalam hati Yuni. Semuanya terlalu berat bahkan hanya untuk sebuah senyum palsu penghias wajah.
Memasuki masa kuliah, secara emosi dia memang masih labil. Tapi sudah lebih baik dari sebelumnya.
Hingga suatu saat dia mengenal seorang gadis dengan dandanan udik tapi memiliki senyum nan hangat dan menenangkan.
Mata teduh gadis itu membawa Yuni ke dalam dimensi lain dari arti hidup yang selama ini dia kenal.
Rumi mengenalkan padanya Ahwa bahagia itu tidak selalu tentang harta. Hanya dengan melakukan hal yang sederhana bisa menghadirkan tawa lebar. Membuat hidup lebih berwarna bahkan jika langit sedang gelap.
"Perutmu nggak lapar?"
Yuni menggeleng, beberapa hari ini dia selalu merasa kenyang. Mungkin karena saking senang hatinya berlibur dengan lelaki yang diidamkan selama ini.
"Aku nggak pernah lapar selama disini. Disini, bersamamu membuat perutku selalu terasa penuh, hihihi..."
"Tck."
Juna berdiri, mengulurkan tangan pada wanita yang sedang duduk di sebelahnya.
Ragu-ragu Yuni menerima uluran tangan itu.
"Lama...!" Juna menyahut tangan yang menggantung di udara milik Yuni.
Tangan keduanya bertaut. Debar hati kedua insan itu melebihi tingginya deburan ombak yang berlarian ke pantai. Ya...paling tidak itu yang dirasakan Yuni.
"Jangan menggenggam tanganku jika suatu saat kau akan melepasnya," Yuni berusaha menari tangannya yang digenggam erat Juna.
"Aku tidak menjanjikan akan terus menggenggam tanganmu Yun. Tapi untuk saat ini, dengan ini," menggerakkan-gerakkan tangan ditunjukkan ke muka Yuni, "kita bisa saling memberi kekuatan, bukan begitu?!"
Yuni menghentikan langkahnya menahan tangan Juna. Mata keduanya bertemu.
__ADS_1
"Baiklah, aku hanya tidak harus menyiram harapan di hatiku agar tumbuh subur. Iya, kan?!"
Yuni merapatkan genggaman, "tapi...traktir aku nasi Padang pagi ini."
Juna tertawa, "baiklah, kita makan nasi Padang terenak."
Keduanya menuju restoran di hotel tempat mereka menginap.
"Kalau makan nasi Padang kamu sukanya lauk apa?" tanya Juna sambil berjalan.
"Aku suka semua, pastikan kamu pesankan semua jenis lauk yang ada," Yuni nyengir mendengar omongannya sendiri.
"Boleh, asal habis."
Keduanya berjalan bersisihan, merasa nyaman satu sama lain. Belajar saling mengisi sambil bicara tentang hal-hal sederhana yang tak penting.
Hidangan sudah ada di depan mata. Kesukaan yang sama membuat obrolan keduanya makin nyambung. Saling janji untuk bergantian traktir dan makan bareng.
"Setelah ini kita kemana?"
"Ikut saja, ayo!"
Juna menarik tangan Yuni. Diajaknya wanita itu menuju tempat persewaan kendaraan ATV. Beberapa kendaraan berjajar rapi, tinggal pilih saja mau pakai yang mana.
"Kita akan naik ini?" mata Yuni membulat.
"Tunggu di sini."
Juna mendekati pemilik persewaan. Sedikit bernegosiasi dan akhirnya memilih satu ATV untuk dinaiki.
Juna mengulurkan tangan, dengan sekali tarikan Yuni sudah naik di bagian belakang.
"Pegangan yang erat," teriak Juna karena harus bersaing dengan suara mesin dan angin.
"Emm," di belakang Yuni mengangguk.
Yuni melingkarkan tangannya di pinggang Juna.
"Siap?" tanya Juna.
"Dari tadi..."
"Oke, meluncur," Juna mengulurkan tangannya ke depan dan menarik gas motor itu kencang.
"Aaaa...ha...ha...ha," teriakan bahagia Yuni membelah udara.
Perlahan Yuni melepaskan satu tangan dan mengangkatnya ke udara, "aaa...kamu tahu Jun, aku tak pernah merasa seringan dan sebebas ini," teriak Yuni.
Juna membawa ATV itu menuju ke ujung pantai kemudian kembali ke ujung sebelumnya begitu terus untuk beberapa kali.
Makin lama Yuni makin berani. Dia melepaskan pelukan dan mengangkat tangannya ke udara.
"Pergi saja kalian...rasa sakit, kosong, hampa, selamat datang hidup bahagia, ha...ha...ha."
__ADS_1
Angin kencang karena laju ATV membawa kesejukan. Segala duka yang dulu pernah dirasakan seperti hilang dibawa pergi sang bayu bersama dengan lajunya ATV yang dikemudikan Juna.
Teriakan Yuni terus terdengar. Tertawa, mengusir gundah, membawa duka pergi dari jiwa. Rasanya dia sedang dibawa terbang oleh lelaki di depannya.
"Lega?" tanya Juna ketika mereka berhenti dan duduk di bawah pohon pantai yang rindang.
"Heem," mengangguk cepat beberapa kali, "terimakasih," mengembangkan senyum termanis.
"Seberat itukah hidupmu?" tanya Juna tanpa melihat, dia membuang pandangannya ke samudra luas.
"Heh," tertawa kecil, "aku hampir lupa rasanya betapa hancurnya aku waktu itu. Tapi satu hal yang pasti Rumi lah yang membawaku hidup kembali."
"Membuka mataku kalau hidup itu harus lebih banyak bersyukur biar nggak jadi manusia yang kufur."
Mendengar nama Rumi disebut ada sakit di hati Juna yang tiba-tiba hadir.
Yuni melirik lelaki di sampingnya. Menyadari telah melakukan kesalahan.
"Maaf."
"Untuk apa?"
"Karena membawa rasa sakit itu kembali untukmu."
Juna menggeleng, "mau atau tidak aku harus terbiasa mendengar namanya disebut."
"Entah berapa lama aku baru bisa menghilangkan sembilu dari hatiku yang akan mengiris tiap kali nama itu kudengar."
"Tapi aku yakin, dengan satu atau banyak cara, aku akan melewati semuanya."
"Hei," Yuni menepuk pundak Juna.
"Kamu akan baik-baik saja, kamu lelaki tampan yang mapan, siapa yang akan sanggup menolakmu."
"Termasuk kamu?" Juna menatap netra Yuni lurus.
"Hahaha..."
Jadi malu sendiri, seperti sengaja menggali sumur malah dia yang tercebur masuk kedalamnya.
"Sudah ah, udara mulai panas. Aku mau balik ke kamar dulu. Tidur, nanti sore mau jalan-jalan lagi."
Juna mengangguk, "aku akan menyusul sebentar lagi."
Dari belakang Juna memperhatikan sosok yang tengah melenggang menjauh itu. Andai saja bukan Rumi yang dia cintai, pasti mudah mencintai Yuni.
Tunggulah aku. Suatu saat aku akan datang membawa hatiku padamu. Sungguh melelahkan kalau aku harus mengenal orang baru lagi.
Tunggu aku... Aku akan menghapus luka yang sekarang masih menyisakan parut di hatimu.
Tunggu aku...kita akan saling genggam untuk meraih kebahagiaan. Aku akan membahagiakan kamu, seperti sekarang kamu berusaha menghadirkan kebahagiaan untukku dan dirimu sendiri.
Seperti luasnya samudra di depan, aku akan menyediakan ruang yang sama luas di hatiku untukmu. Suatu saat nanti...kala luka ini telah pergi.
__ADS_1
...***...