
"Yun, kamu kok gak bilang, kalau Rumi melahirkan!" Juna merangsek masuk tanpa permisi.
"Kalau bicara jangan keras-keras ini bayinya sudah mau tidur jadi kebuka lagi matanya!" seru bapak, matanya tajam menatap mas Juna.
"Eh...maaf pak, bangun lagi ya baby nya," mas Juna mendekati bapak mengulurkan tangan.
"Nggak lihat ini lagi gendong bayi."
"Eh, iya...ya, hehehe," Mas Juna cepat mendekati aku dan Yuni, "kalian keterlaluan masa aku nggak dikabari," sungut Mas Juna.
"Maaf lupa, baru sekali ini nganterin orang melahirkan akunya," ucap Yuni.
"Dan aku baru sekali ini melahirkan, jangankan ingat kamu, ngerasain sakitnya aja rasanya aku hampir mati," aku dan Yuni tertawa kecil bersamaan.
"Jangan ramai, cucuku tidur," bapak meletakkan bayiku dalam boks nya.
Kami bertiga langsung diam, saling lirik.
"Bapak pulang Rum, beberapa hari lagi bapak akan kesini," aku mencium tangan bapak, "kamu jaga kesehatan ya, si Dul juga sudah cukup tidur, jadi aman kalau melakukan perjalanan."
Belum ada beberapa langkah bapak kembali menengok padaku, "kamu sudah punya nama belum untuk si tole."
Aku tersenyum kecut kemudian menggeleng, "terlalu banyak pikiran pak, sampai saya tidak kepikir untuk nyiapin nama buat anak saya."
"Ya sudah, kalau bisa segera diberi nama, kalau kamu bingung nanti bapak beri beberapa ide nama buat si tole, kalau sudah ada nama, bapak dihubungi."
"Inggih pak."
"Sudah, kamu istirahat saja," bapak beralih memandang Mas Juna dan Yuni, "kalian tidak pulang? tidak lelah apa disini terus," bapak bisa ketus juga ternyata.
"Iya pak, ini mau ngobrol sebentar terus pulang bareng," mas Juna menjawab sambil nyengir dan menggaruk kepalanya yang pastinya tidak gatal.
Bapak keluar ruangan sambil terus menggerutu, jangan ramai...jangan ramai. kasihan Rumi nanti tidak bisa tidur, mending kalian pulang dulu biar Rumi bisa istirahat.
Kalau dipikir omongan bapak benar juga sih, meskipun tadi lelahku sempat menghilang, tapi sekarang kantuk menyerang, "kalian pulang gih... mas, anterin Yuni sampai hotel biar mobilnya diambil besok pagi barengan kalian kesini lagi."
"Iya, tenang aja. Ayo Yun, aku antar."
Sepeninggal kedua sahabatku semua jadi tenang, ibu sudah tidur, Mbok Nah masih betah menemaniku. Anakku juga anteng tidur di boks nya. Setelah sendiri, aku pikir aku akan bisa langsung tertidur ternyata aku salah. Aku masih terngiang ucapan bapak, anakku belum aku siapkan nama.
Mau aku beri nama kebarat-baratan kok rasanya nggak cocok, iya kalau anakku mirip bule kalau hitam manis bagaimana. Mau aku beri nama Jawa, bosen, semua keluargaku bernama Jawa.
__ADS_1
Saat sedang bingung memikirkan nama buat anakku, ada pop up pesan muncul, aku lihat dari mas Nehan. Buat apa dia kirim pesan? tidak lama kemudian muncul pop up pesan yang kedua. Perasaanku bilang, ini nggak akan berhenti pada satu atau dua buah pesan. Aku matikan ponsel, aku lempar ke sudut tempat tidur. Aku ingin istirahat. Aku akan mengganti nomor teleponku besok pagi.
Aku terbangun ketika sepertiga malam terakhir bahkan belum berakhir. Suara tangis anakku yang melengking membuatku langsung membuka mata. Mbok Nah dan ibu seperti pingsan, pasti karena kelelahan. Perlahan aku turun dari ranjang, aku timang tole ku dalam dekapan.
Aku membisikkan kata-kata rayuan agar dia menghentikan tangisnya, tentu saja aku keluarkan juga senjataku, aku jejalkan putingku ke mulutnya.
"Aku beri nama apa ya kamu sayang? bunda jadi bingung," aku tersenyum kecil, lucu melihat pipi dan bibirnya yang bergerak aktif, "mimik yang banyak, biar cepet gede, jadi anak Sholeh," aku terus saja bicara sendiri sambil menepuk pelan punggung anakku.
"Bunda inginnya kamu menjadi anak yang seperti air, tenang, menyejukkan tapi juga bisa menghancurkan jika kamu marah," ah, bodohnya aku.
Aku ambil ponselku, ku hidupkan dan kubuka salah satu browser favoritku. Setelah beberapa saat aku kemudian tersenyum. Nama ini bukan dari Bahasa Jawa tapi berbau Jawa banget, Keandra Nisham, air yang menyejukkan. Akhirnya, "hai baby Ken, sehat-sehat selalu ya nak," aku menciumi pipi gembul anakku.
Beberapa kali pop up pesan muncul lagi, tapi sama seperti semalam, semuanya aku abaikan. Aku tidak ingin lagi berhubungan dengan lelaki yang pernah mengisi hidupku itu. Hari ini aku mantap untuk mengganti no telepon, aku akan meminta tolong Yuni untuk membelikan aku kartu perdana baru.
Setelah anakku tertidur, aku tidak lagi meletakkannya dalam boks bayi. Aku tidak mau berpisah dari bayiku, aku letakkan baby Ken di sisiku. Rasanya waktu berlalu lama sekali pagi ini. Aku ingin segera mandi dan membersihkan diri.
Karena tidak tahan akhirnya aku membangunkan mbok Nah, aku tidak mau terjatuh di kamar mandi. Aku harus sehat dan panjang umur karena sekarang ada Ken yang membutuhkan aku.
"Mbok...mbok," tangannya aku goyangkan perlahan, kasihan lihatnya harus tidur sambil duduk. Padahal bisa tidur di sofa karena ibu tidur di bed penunggu pasien.
"Ah...iya Ndoro, ada apa? maaf saya ketiduran," malah minta maaf pula, harusnya aku yang minta maaf mbok.
"Saya yang harusnya minta maaf, membangunkan mbok Nah," jadi tidak tega mau minta tolong, "kalau mau tidur pindah di sofa gih, kan cape tidur sambil duduk begitu."
"Masih pagi, masih setengah empat," jawabku, "tidur saja dulu," nanti sajalah aku mandi.
"Lo...sudah pagi kok disuruh tidur lagi."
Aku tersenyum, "kemarin kan cape nungguin saya lahiran."
"Siapa bilang saya capek, saya tidak capek Ndoro," Mbok Nah menatapku, "sekarang auranya Ndoro Putri berubah."
Aku lagi-lagi tersenyum, pakai bicara tentang aura, "memang si mbok tahu apa itu aura."
"Ya tahu lah, itu pancaran wajahnya, sekarang lebih tenang, kelihatan keibuan, tambah cantik."
"Terimakasih ya mbok, eh yakin ini Mbok nggak mau tidur lagi?"
"Tidak Ndoro Putri, sudah pagi," si mbok melirik baby Ken yang sedang lelap, "tole tidurnya tenang, la wong dikempit sama bundanya, hehehe..."
"Mbok, saya minta tolong boleh?"
__ADS_1
"Lo alah Ndoro, ya boleh la," mbok berdiri, memperbaiki letak roknya, "mau minta tolong apa Ndoro?"
"Tolong siapkan saya air hangat untuk mandi, badan saya gerah mbok, lengket semua, risih saya."
"Siap Ndoro, kalau punya bayi memang mandinya harus lebih pagi pakai air hangat, nanti jangan lupa rambutnya ikut disiram biar kepalanya tidak pusing, jadi nanti kalau tole bangun, air susu bundanya bersih dan segar, Ndoro putri tunggu sebentar ya," mbok Nah berlalu ke kamar mandi.
"Ngerti cara menggunakan peralatan mandinya kan mbok," tanyaku dengan suara sedikit keras
"Ngerti lah Ndoro," iya aku lupa, meskipun Mbok Nah orang kuno tapi peralatan di rumah semuanya sudah modern, jadi pasti tidak masalah.
Mbok Nah kembali mendatangiku, membantuku bangun, berdiri, kemudian menuntunku ke kamar mandi. Aku sudah menyiapkan baju ganti di ujung kasur, "nanti tolong bawakan baju saya ke kamar mandi kalau saya sudah selesai ya mbok."
"Inggih Ndoro."
Aku masuk ke dalam, membuka bajuku keseluruhan. Ada kaca yang dipasang tapi hanya setengah badan. Aku menjauh sedikit agar bisa melihat bentuk perutku, aku tersenyum, perutku masih melar, tapi itu bukan masalah, bagiku itu membahagiakan. Toh nanti bisa kembali ke bentuknya semula.
"Lihat perut bunda sayang, itu bukti kalau kamu pernah berada di dalamnya selama sembilan bulan."
Mandi pertama setelah seharian kemarin sama sekali tidak tersentuh air rasanya menyegarkan, badanku seperti dipijat oleh aliran air yang mengaliri tiap inci tubuhku. Aroma minyak kayu putih yang mungkin diteteskan mbok Nah dalam air mandiku menguar memenuhi kamar mandi.
Tapi meskipun rasanya luar biasa, aku tak ingin berlama-lama berada di kamar mandi, meninggalkan Ken sebentar saja membuatku rindu setengah mati.
"Mbok...bawakan bajunya," seruku ketika aku sudah merasa jauh lebih segar. Mbok Nah menyerahkan baju yang akan aku pakai dari balik pintu tanpa mengatakan apapun.
Aku keluar dengan tubuh segar, rambut basahku kubiarkan tergerai.
"Mbok, apa___" kalimatku terhenti, tubuhku kaku berdiri di depan kamar mandi, mataku nanar memandang sosok yang kulihat berdiri membelakangi aku sambil menggendong anakku.
"Letakkan anakku!!" seruku dengan suara keras, "jangan sentuh bayiku!!"
"Rum..."
"Jangan...sentuh...anakku!!!" mataku nyalang penuh amarah. Dia segera menyerahkan bayiku pada Mbok Nah, aku menarik napas panjang untuk membuang kesal dan amarah.
"Mbok, suruh laki-laki itu keluar!"
Ibu terbangun karena suara kerasku, tapi hanya terduduk tanpa melakukan apa-apa, mungkin juga sama terkejutnya denganku. Aku berjalan mendekati Mbok Nah, mengambil Ken dari gendongan abdi setiaku itu dan kembali berbisik, "suruh laki-laki itu keluar mbok."
Mbok Nah mengangguk, "Ndoro Kakung sebaiknya keluar dulu, beri waktu untuk Ndoro putri menenangkan diri."
"Tapi mbok, Rum...Rum," teriak lelaki itu, sampai akhirnya pintu kamar tertutup.
__ADS_1
...***...